Konsolidasi diyakini menjadi langkah tepat untuk memperkuat ekosistem dan daya saing logistik nasional. Tapi, langkah strategis pascakonsolidasi tidak kalah penting, untuk mendorong value creation BUMN logistik. Sinergi menjadi keharusan agar BUMN logistik tidak bersaing di pasar yang sama dan bisnisnya bisa tumbuh berkelanjutan.
Sumber: Istimewa
WACANA konsolidasi badan usaha milik negara (BUMN) sektor logistik kembali mengemuka. Kali ini tampaknya bukan sekadar menghidupkan ide lama. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyebut penggabungan belasan perusahaan logistik pelat merah memang masih dalam tahap perencanaan. Namun, Danantara menargetkan konsolidasi BUMN logistik itu rampung tahun ini. PT Pos Indonesia ditunjuk sebagai perusahaan induk.
Bukan tanpa alasan Pos Indonesia ditunjuk sebagai induk BUMN logistik. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan, Pos Indonesia dipertimbangkan sebagai induk karena memiliki jaringan distribusi yang luas. Pos Indonesia mempunyai lebih dari 4.000 jaringan outlet yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Jadi, yang sudah kita lakukan tentu saja logistik tahun ini akan melakukan merger dengan PT Pos akan menjadi anchor daripada perusahaan logistik kita, karena mereka memiliki distribution outlet yang banyak, lebih kurang 4.000 outlet yang dimiliki oleh PT Pos,” ungkap Dony, Februari lalu.
Konsolidasi dilakukan untuk memperkuat kinerja perusahaan logistik pelat merah. Selama ini, puluhan BUMN di sektor logistik dinilai tidak mempunyai model bisnis yang kuat dan berkelanjutan. Kinerja bisnisnya pun mayoritas melempem. Dari 21 entitas yang ada, termasuk BUMN hingga anak cucu usaha di sektor logistik, 20 perusahaan diantaranya merugi. Hal ini disebut lantaran perusahaan-perusahaan ini tidak mempunyai positioning bisnis yang jelas dan spesifik. Baik di segmen first mile, middle mile, maupun last mile.
Di kesempatan berbeda, pengamat ekonomi makro, Piter Abdullah, mengatakan, konsolidasi BUMN sektor logistik menjadi sebuah keharusan jika Indonesia ingin memiliki pemain logistik nasional yang mampu bersaing ditingkat global. Tanpa konsolidasi, perusahaan logistik pelat merah diprediksi akan terus terjebak dalam inefisiensi dan fragmentasi layanan. Selama ini, BUMN logistik berjalan sendiri-sendiri. Banyak terjadi overlap, baik dari sisi layanan maupun segmen pasar hingga wilayah. Beberapa dari perusahaan itu bahkan bersaing memperebutkan ceruk pasar yang sama.
“Tanpa konsolidasi, sulit bagi BUMN logistik kita menjadi pemain global. Mereka masih terpecah, overlap, dan tidak terkoordinasi. Ini tidak efisien dan melemahkan daya saing,” kata Piter.
Terkait penunjukan Pos Indonesia sebagai induk holding, Piter menilai hal itu sangat rasional. Dari sisi aset maupun kesiapan organisasi, Pos Indonesia dinilai paling mumpuni. Pos Indonesia memiliki jaringan distribusi terluas, dengan dukungan lebih dari 4.800 titik layanan. Sebarannya pun paling luas, menjangkau hingga daerah terpencil. Aset ini dinilai tidak dimiliki oleh BUMN logistik lainnya.
Di luar kapasitas jaringan, Pos Indonesia dalam beberapa tahun terakhir juga sudah melakukan transformasi bisnis. Ini merupakan modal bagi Pos Indonesia untuk menjadi anchor konsolidasi BUMN logistik. Penguatan layanan, termasuk ekspansi kargo internasional, disebut sebagai langkah strategis yang mencerminkan perubahan model bisnis secara signifikan.
Di luar itu, konsolidasi BUMN sektor logistik dinilai bisa memperkuat ekosistem ekonomi digital sekaligus mendorong pemerataan ekonomi. Sektor ini akan menjadi tulang punggung distribusi produk UMKM, utamanya mereka yang di luar Jawa. Biaya logistik diharapkan bisa ditekan dengan diintegrasikannya logistik nasional.
Tidak hanya itu, konsolidasi juga akan mendorong inklusivitas ekonomi. Apalagi bila jangkauan Pos Indonesia yang mencakup hingga tingkat kecamatan bisa dioptimalkan, dan ditambah penguatan layanan internasional. Jika berhasil dilakukan, integrasi itu akan mendongkrak sektor UMKM yang selama ini menghadapi kendala terkait logistik.
Namun, konsolidasi BUMN logistik bukan tanpa tantangan. Perencanaan dan eksekusi dinilai menjadi kunci. Selama ini, BUMN logistik tidak membangun sinergi yang solid sehingga kurang optimal dalam mendorong peningkatan daya saing logistik Indonesia. Maka itu, jika konsolidasi ini berhasil diwujudkan diharapkan bisa memaksimalkan value creation lewat sinergi yang efektif.
Namun, jangan sampai konsolidasi hanya terjadi di atas kertas, dan setiap perusahaan tetap menjalankan business as usual. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi Danantara untuk menyiapkan strategi konsolidasi yang berdampak nyata pada peningkatan daya saing sektor logistik nasional.
Langkah-langkah dan inisiatif strategis, termasuk transformasi bisnis pascakonsolidasi, menjadi kunci keberhasilan penguatan BUMN logistik. Setiap perusahaan harus memperkuat spesialisasi masing-masing. Jangan sampai bisnisnya tumpang tindih.
Sektor logistik, terutama transportasi dan pergudangan, di Indonesia diproyeksikan akan tetap tumbuh positif di 2026. Mengacu data Supply Chain Indonesia, sektor ini tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada 2022, sektor ini tumbuh 19,87%, lalu 13,96% pada 2023, dan 8,69% pada 2024. Di lain sisi, PDB Indonesia naik 5,31% di 2022, lalu 5,05% di 2023, dan 5,03% di 2024. Kontribusi sektor ini terhadap PDB juga terus tumbuh. Pada periode 2022-2024, sektor ini berkontribusi berturut-turut sebesar 5,02%, 5,89%, dan 6,13%. Sementara, pada 2025 dan 2026 angkanya diperkirakan 6,36% dan 6,83%. Ini merefleksikan pentingnya sektor ini dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Agar terus tumbuh, efisiensi dan efektivitas logistik dinilai menjadi faktor yang memainkan peran sangat penting bagi daya saing logistik nasional. Di lain sisi, tingginya biaya logistik masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Biaya logistik Indonesia disebut hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan rata-rata negara ASEAN.
Kembali ke Pos Indonesia, yang akan menjadi induk holding BUMN logistik. Dari sisi kinerja, menurut Biro Riset Infobank (birl) masih ada beberapa catatan. Per Juni 2025, pendapatan Pos Indonesia tercatat susut 34,09% year on year (yoy), atau menjadi Rp1,81 triliun. Hal yang sama juga terjadi pada laba usaha, yang mengalami koreksi 24,02%, dari Rp443,33 miliar menjadi Rp336,86 miliar. Alhasil, laba bersih tahun berjalan perusahaan mengalami penurunan 52,60% menjadi Rp117,80 miliar. Meski begitu, dari sisi aset, Pos Indonesia mencatatkan kenaikan 25,32%, atau menjadi Rp18,92 triliun.
Sebagai informasi, berdasarkan halaman resmi BP BUMN, setidaknya ada delapan perusahaan pelat merah yang memiliki anak usaha di bidang logistik. Kedelapan perusahaan itu adalah Kereta Api Indonesia (KAI), Perum DAMRI, Industri Kereta Api (INKA), Varuna Tirta Prakasya, Pos Indonesia, Pelabuhan Indonesia (Pelindo), Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), dan ASDP Indonesia Ferry.
Bukan tanpa alasan Pos Indonesia ditunjuk sebagai induk BUMN logistik. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan, Pos Indonesia dipertimbangkan sebagai induk karena memiliki jaringan distribusi yang luas. Pos Indonesia mempunyai lebih dari 4.000 jaringan outlet yang tersebar di seluruh Indonesia.