Ignasius Jonan adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, Dan Menteri ESDM 2016-2019.
PARA sahabat muslim kini sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Seperti halnya ibadah puasa di agama-agama lain seperti Nasrani, puasa menjadi sarana transformasi spiritual untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Para sahabat umat Hindu juga tentu mencatat kutipan founding fathers India, Mahatma Gandhi: fasting is the sincerity form of prayer.
Puasa juga mengajarkan manusia mengenai pentingnya pengendalian diri dan keinginan, seperti banyak disebutkan dalam kitab suci bahwa Tuhan menyampaikan pesan agar manusia tidak hidup berlebih lebihan. Ambillah secukupnya rezeki atau kekayaan, sebagai dasar sikap syukur untuk melawan keserakahan dan pentingnya berbagi dengan sesama agar tercipta keadilan sosial.
Meski terdengar sangat seder hana dan sepele, kata “secukupnya” mengandung makna dan dampak yang sangat besar dalam kehidupan. Namun, kata “secukupnya” seperti nya tidak berlaku dalam paradigma ekonomi pembangunan yang justru mengutamakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebagai indikator utama keberhasilan. Ekonomi yang tumbuh cepat perlu didorong oleh industrialisasi, akumulasi modal, dan pemanfaatan sumber daya alam. Konsekuensinya, seperti diakui ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz, kebijakan yang hanya berpihak pada pertumbuhan melahirkan ketimpangan hingga kerusakan lingkungan.
Dalam realitas kehidupan saat ini, t ingginya ketimpangan dan terjadinya bencana alam disebabkan banyak orang yang tidak memiliki prinsip “mengambil sesuatu hanya secukupnya” atau “sesuai kebu tuhan”, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Sifat manusia yang selalu meminta lebih dari kebutuhannya mengingatkan apa yang dikatakan Gandhi bahwa bumi menyediakan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan semua manusia, tapi tidak pernah cukup untuk memenuhi keinginan satu orang yang serakah.
Tingginya eksploitasi sumber daya alam yang meningkatkan risiko krisis iklim telah menyadarkan para pemimpin di dunia. Satu dekade silam, tepatnya pada 2015, ratusan pemimpin dunia menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Iklim PBB di Prancis dan berkomitmen untuk menangani perubahan iklim. Mereka sepakat secara bersamasama berupaya membatasi kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celcius dari era prarevolusi industri, batas yang menurut para ilmuwan perlu dijaga untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim.
Begitu juga para pemimpin bisnis yang mulai mengenal konsep Triple Bottom Line (Profit, People, Planet) untuk menciptakan bisnis berkelan jutan yang menyeimbangkan keuntungan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan. Industri jasa keuangan pun mengusung spirit sustainable finance yang tak hanya berorientasi pada profit jangka pendek, tetapi juga meng integrasikan standar environ mental, social, and governance (ESG) dalam keputusan investasi dan pembiayaan untuk dampak jangka panjang yang positif.
Namun, 10 tahun berlalu, arus keuangan global ternyata melaju jauh lebih cepat dari spirit penye lamatan bumi dengan menciptakan pembangunan keberlanjutan. Dunia menjadi pertempuran antara spirit penyelamatan bumi versus tantangan yang dihadapi dunia usaha yang harus menjaga value of the firm di tengah realitas naiknya biaya modal dan menurunnya permintaan pasar. Suhu bumi sudah sempat menembus 1,5 derajat Celcius pada 2023, dan berbagai peringatan alam muncul, mulai dari kebakaran massal di Los Angeles (Amerika Serikat) hingga banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra, tahun lalu.
Sebagai penutup, spirit sustainable finance tak akan membuahkan hasil jika keserakahan manusia terus terjadi dan kebijakan ekonomi negara negara terus bertumpu pada pertumbuhan tanpa ada upaya mengatasi krisis iklim. Sama seperti apa yang diingatkan Gandhi tentang orang yang melakukan puasa untuk mencapai transformasi spiritual tetapi tidak bisa mengendalikan diri: fasting is futile unless it is accompanied by an incessant longing for self restraint.
Puasa juga mengajarkan manusia mengenai pentingnya pengendalian diri dan keinginan, seperti banyak disebutkan dalam kitab suci bahwa Tuhan menyampaikan pesan agar manusia tidak hidup berlebih lebihan. Ambillah secukupnya rezeki atau kekayaan, sebagai dasar sikap syukur untuk melawan keserakahan dan pentingnya berbagi dengan sesama agar tercipta keadilan sosial.