Belum ada produk di keranjang belanja kamu

ADOPSI TEKNOLOGI KAWAL LONJAKAN PEMUDIK

Pergerakan jutaan pemudik menuntut kesiapan infrastruktur dan manajemen lalu lintas terintegrasi. Adopsi teknologi menjadi sebuah keharusan bagi operator jalan tol untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus mitigasi risiko demi keselamatan masyarakat.

Oleh Ari Astriawan
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

SETIAP tahun, momen mudik Lebaran selalu menyedot perhatian. Mobilitas selama musim mudik melibatkan pergerakan jutaan kendaraan dan manusia. Di balik itu, ada ekosistem besar yang berdampak langsung pada kelancaran dan keselamatan masyarakat. Paling utama adalah soal infrastruktur, seperti jalan raya termasuk tol, pelabuhan, hingga bandar udara (bandara). Ada pula variabel lain seperti pilihan moda transportasi hingga perilaku masyarakat yang menjadi faktor penting dalam momen mudik.

Pemerintah memperki rakan sebanyak 143,9 juta orang melakukan perjalanan mudik pada Lebaran 2026.

Gelombang pergerakan pemudik menuntut kesiapan infrastruktur, termasuk jalan tol. Jasa Marga, perusahaan pelat merah yang menjadi pemain utama di sektor jalan tol, memikul tanggung jawab besar dalam memastikan kelancaran dan keselamatan pemudik.

Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, mengatakan bahwa melayani jutaan kendaraan adalah tanggung jawab besar. Untuk itu, pendekatan konvensional tak lagi cukup. Butuh terobosan, termasuk adopsi teknologi, yang mencakup kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memenuhi tuntutan tersebut. Itulah yang dilakukan perseroan saat ini.

Dengan pendekatan teknologi, Jasa Marga Tollroad Command Center (JMTC) menjadi pusat pengelola lalu lintas. Berbasis data dan teknologi, keputusan rekayasa lalu lintas seperti contraflow hingga one way tidak lagi bergantung pada pengamatan visual, melainkan analisis data volume kendaraan secara real-time.

“Contoh ketika mau contraflow, kami putuskan apakah satu lajur, dua lajur, sampai ekstremnya malah one way. Jadi, kami melihat dari jumlah atau volume lalu lintas per jamnya, terus diputuskan one way atau lainnya,” kata Rivan kepada Infobank, Maret lalu.

Lalu, untuk membagi distribusi arus kendaraan, strategi yang ditempuh adalah memberikan potongan (diskon) tarif tol di tanggal tertentu. Strategi ini dinilai cukup efektif mengurangi penumpukan arus mudik maupun arus balik di waktu bersamaan.

Fokus manajemen arus mudik tidak hanya pada jalan utama, tapi juga mencakup titik-titik rest area yang sangat krusial bagi pemudik. Rivan menyebut, Jasa Marga menyia pkan 64 rest area dengan pengaturan kapasitas parkir, fasilitas sanitasi, hingga distribusi kendaraan yang baik.

Jasa Marga juga membuka alternatif melalui kerja sama dengan 10 SPBU di luar tol. Pemudik bisa keluar tol untuk beristirahat tanpa dikenakan tarif tam bahan saat kembali masuk. Ini dilakukan untuk menekan kepadatan yang kerap terjadi di rest area.

“Di Lebaran tahun 2026 ini ada 8.000 personel yang siap melayani. Ada yang tugas di patroli, di mobile customer service (MCS), hingga pengaturan di rest area. Dan, ada 500 kendaraan pendu kung, seperti patroli, MCS, derek, termasuk ada layanan BBM motorist,” Pungkas Rivan.

Pemerintah memperki rakan sebanyak 143,9 juta orang melakukan perjalanan mudik pada Lebaran 2026.

Gelombang pergerakan pemudik menuntut kesiapan infrastruktur, termasuk jalan tol. Jasa Marga, perusahaan pelat merah yang menjadi pemain utama di sektor jalan tol, memikul tanggung jawab besar dalam memastikan kelancaran dan keselamatan pemudik.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi April 2026

Rp 65.000

BELI