Dunia perbankan identik dengan angka, analisis, dan perhitungan risiko. Tapi, bagi bankir wanita satu ini, bergelut di perbankan juga berarti memahami manusia. Empati dan kepedulian terhadap sesama menjadi bagian tak terpisahkan dari cara ia memimpin.
Infobank
PAGI itu, lima tahun silam, terasa lebih tenang dan senyap dari biasanya. Orang-orang terpaksa “dikurung” di dalam rumah demi meredakan penyebaran virus COVID-19. Tapi, Sarti, Direktur Utama BPR BKK Wonogiri, justru memutuskan untuk keluar rumah. Sebagai pemimpin dari salah satu bank rural terbesar di Jawa Tengah, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memastikan para staf perusahaan tetap sehat dan terhindar dari ancaman virus.
“Saat itu, kami fokus memperhatikan kesehatan karyawan. Saya merasa sangat terbebani ketika melihat ada teman-teman yang kena COVID-19. Pada saat itu, saya terus mendorong dan menyemangati mereka, walaupun harus via telepon atau berkunjung ke rumahnya hanya dari luar,” kenang Sarti saat dihubungi Infobank, bulan lalu.
Dukungan (support) yang Sarti berikan kepada rekan-rekannya memang sederhana. Tapi, energi positif dari support itulah yang membuat BPR yang dipimpinnya mampu melaju dengan optimal di tengah bayang-bayang pandemi. Perhatian dan kepedulian yang kuat menandakan bahwa bankir satu ini merupakan sosok pemimpin yang bijak dan humanis di bank rural milik pemerintah daerah (pemda) itu.
Sifat itu juga menjadi salah satu kunci kesuksesannya di industri perbankan mikro. Sejak belia, Sarti memang sudah bermimpi bekerja di bank. Ketertarikannya pada dunia perbankan mulai tumbuh ketika menempuh pendidikan di sekolah menengah ekonomi atas (SMEA). Lulus sekolah, anak bungsu dari delapan bersaudara ini mantap melanjutkan pendidikan di Akademi Uang dan Bank, jurusan keuangan perbankan.
Sebagai anak terakhir di keluarganya, Sarti merasa tidak nyaman jika harus terus meminta bantuan biaya kepada orang tua. Maklum, sang ayah yang saat itu bekerja sebagai perangkat desa sudah makin tua, sementara ibunya sebagai ibu rumah tangga. Kepedulian dan kasih sayang terhadap keluarga membuat Sarti tak segan mengorbankan waktunya untuk bekerja paruh waktu.
Kesempatan untuk membantu kedua orang tuanya akhirnya ia temukan di Badan Kredit Kecamatan (BKK) di wilayah Wonogiri. Selama masa kuliah, Sarti menghabiskan waktunya sebagai karyawan paruh waktu di lembaga keuangan itu. Tapi, siapa sangka, setelah lulus kuliah, alih-alih mencari batu loncatan yang lebih besar, ia justru memilih melanjutkan pengabdiannya di BKK itu.
“Saya itu tipe orang yang setia. Jadi, ketika saya memang sudah berniat mengabdikan diri di sebuah lembaga, ya saya pertaruhkan kemampuan saya semaksimal mungkin di sini. Saya yakin bahwa setiap usaha tidak akan mengkhianati hasil. Jadi, saya tidak pernah kepikiran untuk pindah. Saya merintis semuanya dari nol,” tutur Sarti.
Berawal dari staf pembukuan, karier penyandang gelar sarjana ekonomi dan magister manajemen ini terus meningkat secara konsisten. Pada 1999, ia sudah dipercaya menjabat sebagai supervisor BKK. Bahkan, sebelum lembaga-lembaga BKK dilebur menjadi satu bank rural di tingkat kota/kabupaten, Sarti sempat menjabat sebagai direktur II BKK.
Dari sana mulai terlihat bibit kepemimpinan dari ibu dua anak ini. Terbukti, pada 2011, Sarti dipercaya oleh pemegang saham untuk menjabat sebagai direktur umum perseroda. Setelah sepuluh tahun menduduki posisi itu, kiprahnya di BPR BKK Wonogiri kian matang. Pada 2021, ia akhirnya ditunjuk menjadi direktur utama.
Sarti tidak memungkiri ada rasa khawatir ketika dipercaya memegang kemudi bank rural itu, apalagi di tengah masa-masa berat pandemi COVID-19. Tapi, ia yakin bahwa amanah yang ia terima merupakan bentuk kepercayaan pemegang saham terhadap kinerjanya selama puluhan tahun di sana.
“Saya mengakui, waktu itu memang belum pede menjabat. Tapi, ketika sudah menduduki posisi itu, saya harus berusaha. Saya harus memastikan diri dan harus mampu. Saya harus terus banyak belajar dan memahami semua regulasi yang mengatur perbankan ini. Sehingga, bekerja itu yang penting sesuai jalur, sesuai ketentuan, dan SOP-nya dipenuhi,” terangnya.
Sebagai bankir, Sarti memahami bahwa penyelesaian berbagai persoalan di sektor perbankan tidak bisa semata-mata mengandalkan pendekatan teknis. Dibutuhkan pendekatan personal serta empati agar solusi yang dihasilkan memberikan dampak positif bagi ekosistem bank rural. Dalam prosesnya, Sarti kerap mengajak tim untuk blusukan langsung ke lapangan, menjalin hubungan dengan berbagai kalangan masyarakat.
Pendekatan itu terbukti memberikan hasil positif bagi perusahaan. BPR BKK Wonogiri terus menunjukkan pertumbuhan yang konsisten, bahkan di tengah pandemi. Hingga September 2025, aset bank ini telah mencapai Rp742,29 miliar.
Kini, sudah lebih dari tiga dekade Sarti mendedikasikan kariernya di bank rural itu. Tapi, perjalanan itu kemungkinan akan memasuki babak baru pada 2027 mendatang. Sebab, BPR BKK Wonogiri akan dilebur menjadi BPR BKK Jawa Tengah yang nantinya berganti nama menjadi BPR Satu Jateng.
Proses konsolidasi ini sempat menimbulkan kekhawatiran di kalangan karyawan mengenai masa depan mereka. Tapi, sebagai pemimpin, Sarti berusaha menenangkan para stafnya. Ia terus memberikan motivasi agar mereka tetap bekerja secara maksimal dan menjaga solidaritas tim di tengah proses konsolidasi seluruh BPR BKK.
“Saya terus support teman-teman supaya tidak terlalu galau dengan adanya konsolidasi. Artinya, ketika hasil pekerjaan kita baik, pasti kita akan berada di posisi yang baik. Saya mendorong teman-teman untuk menjadi yang terbaik. Karena, ketika kita bergerak dengan baik, manajemen juga pasti akan memperhatikan,” ungkapnya.
Perjalanan Sarti di BPR BKK Wonogiri mungkin suatu saat akan berakhir. Tapi, pengabdiannya kepada masyarakat tampaknya tidak akan berhenti. Ia membayangkan, ketika kelak pensiun dari dunia perbankan, dirinya akan mengabdi sebagai seorang guru. Selain memberi waktu lebih fleksibel untuk keluarga tercinta, pilihan itu menjadi wujud lain dari kepedulian dan keinginannya untuk terus berbagi kepada masyarakat luas.
Tiga dekade bukan waktu yang singkat untuk mengabdi di satu tempat. Tapi, bagi Sarti, perjalanan panjang itu bukan sekadar soal karier, tapi juga tentang kepercayaan, kesetiaan, dan kepedulian terhadap orang-orang yang tumbuh bersama lembaga yang sama. Nilai-nilai itulah yang membuat kisahnya di BPR BKK Wonogiri lebih dari sekadar perjalanan seorang bankir.
“Saat itu, kami fokus memperhatikan kesehatan karyawan. Saya merasa sangat terbebani ketika melihat ada teman-teman yang kena COVID-19. Pada saat itu, saya terus mendorong dan menyemangati mereka, walaupun harus via telepon atau berkunjung ke rumahnya hanya dari luar,” kenang Sarti saat dihubungi Infobank, bulan lalu.