Di tangan seorang pemimpin yang tegas, cepat, dan terbiasa menaklukkan situasi sulit, misi kebangkitan KB Bank dijalankan dengan ritme pali-pali: cepat berpikir, cepat memutuskan, dan cepat mengeksekusi. Berbekal pengalaman panjang, termasuk dalam hal turnaround, dan keyakinan bahwa perubahan harus dimulai dari visi, integritas, dan eksekusi, Kunardy membawa satu tekad besar, mengubah KB Bank dari fase pemulihan menjadi institusi yang kuat, sehat, dan kembali disegani.
Infobank
PAGI belum benar-benar terang ketika Kunardy Darma Lie, Direktur Utama Bank KB Indonesia (KB Bank), membuka mata. Sebuah pesan singkat sudah meluncur ke timnya. Belum ada rapat resmi, belum ada presentasi, tapi arah kerja hari itu telah ia tetapkan.
“Meskipun tidur juga nggak enak, kepikiran. Tapi, setelah bangun, saya langsung kasih solusi,” ujar Kunardy kepada Infobank di Kantor Pusat KB Bank, Jakarta, Jumat, 16 Februari 2026.
Kunardy dikenal timnya sebagai sosok dengan ritme kerja yang responsif. Kecepatan menjadi ciri khasnya. “Sat-set”, lugas, minim jeda, atau pali-pali dalam istilah Korea. Bagi Kunardy, itu bukan sekadar gaya personal, melainkan kebutuhan dalam fase transformasi.
“Saya itu sering dibilang cepat dalam ambil keputusan. Saya sangat decisive. Jadi, begitu lihat bisnis ini nggak make sense, ya langsung saya putuskan harus begini. Dan, saya tipe orang yang eksekusi. Kalau strateginya muluk-muluk tapi nggak dieksekusi, ya percuma,” kata peraih gelar master of business administration (M.B.A.) dari University of Rochester, New York, Amerika Serikat (AS), ini.
Sejak dipercaya memimpin KB Bank pada 2025, Kunardy memikul mandat besar. Yaitu, membawa bank yang mayoritas sahamnya dimiliki KB Kookmin Bank, bank yang menjadi bagian dari KB Financial Group (KBFG), salah satu lembaga keuangan terbesar di Korea Selatan, ini keluar dari fase pemulihan menuju posisi yang lebih kokoh berkelanjutan.
Seperti diketahui, sejak diakuisisi KB Kookmin Bank pada 2021, bank yang sebelumnya bernama Bank Bukopin ini konsisten mengalami kerugian hingga 2024. Baru pada triwulan pertama 2025, KB Bank berhasil mencetak laba positif, yang berlanjut hingga triwulan ketiga 2025.
Sebagai orang Indonesia pertama yang memimpin bank asal Korea, Kunardy datang dengan reputasi yang telah lebih dulu terbentuk. Ia punya pengalaman berhasil melakukan turnaround.
Reputasi itu menguat saat ia memimpin bisnis wholesale dan korporasi di Bank DBS Indonesia. Ketika itu, segmen komersial dan SME telah mencatatkan kerugian selama delapan tahun berturut-turut dan membebani kinerja unit secara keseluruhan.
Langkahnya tegas dan terukur. Ia membenahi struktur sumber daya manusia (SDM), meningkatkan produktivitas tim hingga tiga kali lipat, menutup lini bisnis yang tak dapat dimonitor dengan baik, serta mempercepat pencadangan kredit bermasalah. Fokusnya diarahkan pada segmen yang memiliki daya saing lebih kuat.
Hasilnya terlihat dalam waktu relatif singkat. Sekitar dua tahun, unit yang sebelumnya merugi berbalik mencetak laba, bahkan mencatatkan kinerja terbaik dan meraih sejumlah penghargaan sebelum ia berpindah tugas. “Saya turn around the business. Dua tahun, take off. Dan, di masa COVID pula,” kenangnya.
Kini, di KB Bank, yang per September 2025 beraset Rp81,54 triliun, kompleksitasnya jauh lebih luas. Jika sebelumnya Kunardy membenahi satu lini besar, kini transformasi dilakukan pada satu bank. Dari hulu ke hilir, mulai dari operasi, teknologi informasi (TI), tata kelola, manajemen risiko, hingga bisnis dan kredit. “Jadi, transformasi dari ujung ke ujung,” katanya.
Kunardy tahu pekerjaan ini tak ringan. Namun, di situlah letak maknanya. Baginya, tantangan bukan untuk dihindari, melainkan untuk ditaklukkan. Dan, ia percaya, selama arahnya jelas dan fondasinya kuat, transformasi bukan sesuatu yang mustahil.
Keyakinan itu lahir dari proses yang sangat panjang. Salah satunya, ketika Kunardy ditempa selama 18 tahun berkarier di Citibank. Di bank global itulah ia dibiasakan dengan standar disiplin tinggi, berpikir mandiri, proaktif, dan responsif. Dalam versinya, responsif berarti hadir dengan solusi, bukan sekadar laporan masalah.
Dari perjalanan itu, Kunardy merumuskan tiga prinsip kepemimpinan. Menurutnya, seorang pemimpin harus punya visi, integritas, dan eksekusi. Visi memberi arah, integritas menjaga konsistensi, dan eksekusi memastikan strategi tidak sekadar wacana.
Sebagai leader, Kunardy memilih gaya kepemimpinan yang terbuka dan minim birokrasi, tapi tetap tegas dalam mengambil keputusan. Ownership menjadi kata kunci yang terus digaungkannya kepada seluruh karyawan KB Bank. Bagi Kunardy, organisasi hanya sekuat mata rantai terlemahnya. Karena itu, yang ia bangun bukan sekadar struktur, melainkan kesadaran kolektif. Rasa memiliki yang tumbuh dari dalam, bukan sekadar kepatuhan pada atasan.
“Mindset. Kalau mindset tim salah, tidak ada ownership, susah. Teamwork itu sangat penting. Kita harus punya tim yang baik, dan melatih tim lain supaya satu nada,” ungkap pria yang pernah menjabat sebagai Chief Country Officer and Managing Director Deutsche Bank Indonesia ini.
Menariknya, di balik figur bankir yang dikenal cepat dan decisive, Kunardy adalah pribadi yang sederhana. Ia tidak bermain golf dan memiliki media sosial. Ia lebih memilih mendengar suara kicau burung peliharaannya di pagi hari, makan bakmi favoritnya di akhir pekan, atau travelling bersama keluarga.
Di ruang-ruang sederhana itulah ia mengisi ulang energinya, menemukan jeda sebelum kembali pada ritme kerja yang menuntut. Dan, barangkali dari keseimbangan itulah lahir ketenangan memandang masa depan.
Dalam lima tahun ke depan, ia membayangkan KB Bank sebagai institusi yang stabil, profitable, dan disegani, sekaligus menjadi tempat kerja yang dibanggakan karyawan. Dan, ketika pagi kembali datang, sebelum cahaya benar-benar memenuhi langit Jakarta, Kunardy sudah memulai lagi dengan satu langkah kecil yang diyakininya akan membawa perubahan besar.
“Saya selalu pegang satu prinsip: do the best in every little thing you do. Mau kerja besar atau kecil, lakukan yang terbaik,” pungkasnya.
Memimpin Transformasi dengan Strategi Lima Pilar
Anda merupakan bankir Indonesia pertama yang dipercaya memimpin KB Bank. Sejak menjabat sekitar lima bulan terakhir, bagaimana Anda melihat kondisi awal bank ini dan tantangan utama yang perlu dibenahi?
Saya menjabat posisi ini sejak September 2025, jadi lebih kurang sudah sekitar empat sampai lima bulan. Secara latar belakang, saya merupakan orang Indonesia pertama, orang lokal pertama, yang dipercaya menakhodai bank asal Korea ini. Jadi, ini merupakan sebuah mandat yang harus saya jalankan sebaik-baiknya.
Ketika pertama masuk, saya melihat ada beberapa hal mendasar yang menjadi tantangan bank ini. Pertama, dari sisi rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang cukup besar, bahkan lebih tinggi dibandingkan industri. Kedua, di sisi governance dan kontrol. Ketiga, human resources atau SDM.
Tiga hal ini saya lihat sebagai persoalan yang sangat serius dan mendasar. Karena itu, mindset di dalam organisasi juga perlu berubah. Jika melihat sejarahnya, bank ini awalnya berasal dari bank umum berbasis koperasi. Seiring berjalannya waktu, terjadi banyak perubahan, baik dari sisi manajemen maupun kepemilikan hingga akhirnya sekarang menjadi bagian dari KB Financial Group dari Korea Selatan, yang merupakan salah satu grup perbankan terbesar di sana. Tantangan ke depan adalah bagaimana mengombinasikan kekuatan dari Korea dengan potensi pasar Indonesia yang besar sehingga kita bisa mencapai hasil yang diharapkan.
Untuk menjawab berbagai tantangan itu, strategi apa yang Anda siapkan dalam memimpin transformasi KB Bank ke depan?
Strategi yang kami jalankan berangkat dari lima pilar utama. Pilar pertama adalah business growth untuk mencapai sustainable profit, dengan fokus pada wholesale banking yang mencakup large corporation, middle segment, commercial, dan SME. Tantangan utama kami adalah tingginya NPL sehingga kami ingin menghentikan lingkaran tersebut dengan memastikan bahwa kredit baru memiliki kualitas yang baik dan diberikan kepada nasabah dengan cash flow yang sehat.
Di lain sisi, kami juga memperkuat bisnis retail, terutama dari sisi produktivitas banker serta membangun ekosistem antara wholesale dan retail. Dalam pilar ini, selain mendorong pertumbuhan bisnis, kami fokus menurunkan NPL melalui peningkatan collection.
Pilar kedua adalah penguatan kredit, governance, control, dan cost management. Kami memastikan kualitas kredit baru tetap terjaga sekaligus melakukan recovery terhadap NPL lama. Dari sisi biaya, kami melakukan efisiensi tanpa mengurangi investasi yang memang diperlukan sehingga setiap pengeluaran benar-benar memiliki manfaat yang jelas.
Pilar ketiga adalah penguatan SDM dan teamwork melalui pelatihan serta perubahan mindset. Kami menekankan nilai CICO, yaitu communicate, integrity, collaboration dan ownership, dengan prinsip quality over quantity dalam membangun tim.
Pilar keempat adalah memperkuat hubungan dengan stakeholders, seperti regulator, nasabah, shareholder, dan karyawan. Pilar kelima adalah penguatan branding melalui berbagai aktivitas bisnis, market outlook, kegiatan CSR, hingga inisiatif seperti Indonesia Day di Seoul dan dukungan terhadap olahraga melalui sponsorship Bali United. Seluruh strategi ini diarahkan untuk mewujudkan visi kami, yaitu menjadi mitra tepercaya bagi para stakeholders, institusi keuangan yang terpandang di Indonesia, sekaligus employer of choice bagi talenta terbaik.
Berarti, saat ini, ekspansi KB Bank belum terlalu agresif?
Secara ekspansi kami mulai bergerak lebih agresif, tetapi dengan pendekatan yang lebih selektif, yakni menyasar nasabah dan segmen yang tepat, terutama di wholesale banking. Salah satu hal yang kini kami tekankan adalah cross selling, yang sebelumnya belum dimaksimalkan.
Dulu bank sering hanya memberikan pinjaman dengan bunga murah tanpa diikuti bisnis lain dari nasabah tersebut. Karena itu, kami membentuk unit transaction banking yang membawahkan layanan cash management, trade, dan custody. Melalui unit ini, kami ingin memperkuat transaksi nasabah, misalnya dengan menjadi escrow agent sehingga dana dari transaksi mereka masuk ke rekening di KB Bank. Dengan begitu, kami juga dapat meningkatkan CASA dan menekan biaya dana.
Bagaimana dengan strategi ekspansi di segmen retail?
Di segmen retail, ekspansi tetap dilakukan secara agresif, tapi dengan pendekatan yang lebih hati-hati, mengingat bisnis retail banking sangat bergantung pada efisiensi biaya. Jika struktur biaya tidak efisien, maka sulit bersaing sehingga produktivitas cabang, kelayakan produk, serta tingkat profitabilitas harus terus dievaluasi, terutama untuk produk dengan NPL tinggi.
Meski demikian, KB Bank memiliki portofolio layanan yang cukup lengkap, mulai dari EDC, payroll, payroll loan, mortgage, hingga mini-ATM. Produk-produk ini juga dapat disinergikan dengan bisnis wholesale, misalnya melalui layanan payroll bagi karyawan perusahaan nasabah hingga pembiayaan konsumtif dan KPR. Tantangannya kini adalah bagaimana memasarkan dan mengoptimalkan seluruh produk tersebut secara lebih agresif.
Apa target utama yang ingin dicapai KB Bank melalui strategi itu?
Tahun ini kami ingin fokus pada beberapa hal. Pertama, pertumbuhan aset dan kredit yang berkualitas. Kedua, meningkatkan fee based income. Fee based income ini bisa datang dari berbagai transaksi. Misalnya, ketika perputaran dana nasabah terjadi di bank kita, maka ada biaya transfer atau biaya layanan tertentu. Karena itu, strategi kami adalah tetap berkembang secara agresif, tetapi dengan pendekatan yang terukur dan berkelanjutan.
Menurut Anda, bagaimana target dan gambaran KB Bank dalam lima tahun ke depan?
Dalam lima tahun ke depan, saya berharap visi yang sudah kami tetapkan dapat tercapai. Visi tersebut adalah menjadikan KB Bank sebagai mitra tepercaya bagi seluruh stakeholders atau pemangku kepentingan, baik itu nasabah, karyawan, shareholder, maupun regulator.
“Meskipun tidur juga nggak enak, kepikiran. Tapi, setelah bangun, saya langsung kasih solusi,” ujar Kunardy kepada Infobank di Kantor Pusat KB Bank, Jakarta, Jumat, 16 Februari 2026.