Ignasius Jonan adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, Dan Menteri ESDM 2016-2019.
Sumber: Istimewa
DUNIA sedang menghadapi ancaman krisis energi akibat perang Israel-Amerika Serikat (AS) melawan Iran yang meletus sejak akhir Februari 2026. Dinamika energi dunia sangat rentan pengaruhnya dalam kehidupan ekonomi dunia. Krisis energi memicu inflasi tinggi, melumpuhkan industri, dan menurunkan daya beli. Dampak berikutnya bisa menimbulkan krisis pangan dan ketidakstabilan sosial.
Tak ada yang tahu kapan akan berakhir, sebesar apa kerusakan yang ditimbulkan, dan seperti apa dampaknya dalam jangka pendek maupun panjang. Oleh karena itu, para pemimpin harus memiliki persiapan yang baik untuk mengurangi dampak krisis. Menurut saya, setidaknya ada lima cara tradisional yang penting untuk diimplementasikan secara realistis.
Satu, perhatikan secara saksama tiga pilar utama yang saling berkaitan erat dalam manajemen bisnis, yaitu cost, cash, dan quality. Kualitas produk yang baik memang membutuhkan cost, tapi kualitas produk buruk akan menghabiskan lebih banyak cost dan mengganggu arus kas (cash) perusahaan.
Dua, jangan mengabaikan pemborosan keuangan kecil yang bisa menyebabkan kegagalan keuangan yang besar dalam jangka panjang. Sebab, seperti pepatah terkenal dari Benjamin Franklin, “A small leak will sink a great ship.” Lubang kecil dapat menenggelamkan kapal besar.
Tiga, lakukan penghematan mulai dari cara-cara yang kecil sebagai jalan menuju kesuksesan. Every little bit counts, so rather than looking for one big way to save a ton of money, save in lots of small ways and set yourself up for success.
Empat, utamakan arus kas berkelanjutan, karena itu jauh lebih penting agar mampu melaksanakan kewajiban dan menjaga kelangsungan hidup. Sebuah perusahaan boleh saja mencetak untung di atas kertas, tapi jika kehabisan uang tunai untuk membayar karyawan atau pemasok, maka itu menuju kebangkrutan. Seperti kata pepatah bisnis, revenue is vanity, profit is sanity, cash is the king. Atau, seperti kata Peter Drucker, guru manajemen, “Entrepreneur believe that profit is what matters most in a new enterprise. But profit is secondary. Cash flow matters most.”
Lima, lakukan perbaikan berkelanjutan (kaizen) untuk mencapai pertumbuhan jangka panjang yang signifikan melalui penyesuaian kecil dan harian secara konsisten. Seperti kata Brian Tracy, motivator asal Kanada, “Practice the philosophy of continuous improvement. Get a little bit better every single day.”
Kelima langkah tersebut bisa menjadi persiapan sebagai kunci penting untuk mengurangi dampak krisis. Krisis energi pada 2026 bukanlah yang pertama. Sejarah mencatat, harga minyak selalu berfluktuasi mengikuti peristiwa peristiwa global. Lompatan harga minyak sudah terjadi mulai dari era Perang Dunia I, krisis minyak 1973, krisis keuangan global 2008, hingga krisis geopolitik 2022.
Tanpa dilanda krisis energi, berbagai perusahaan di dunia juga telah mengalami kegagalan, yang jumlahnya mencapai dua digit dalam beberapa tahun terakhir. Menurut penyedia data pengajuan kebangkrutan terkemuka di AS, Epiq AACER, total pengajuan kebangkrutan korporasi meningkat 11% menjadi 565.759 pada 2025.
Di lain sisi, ada perusahaan yang mampu melewati pelbagai dampak krisis dalam sejarah. Bahkan, ada sejumlah perusahaan legendaris yang mampu bertahan hingga ribuan tahun. Di Jepang ada sejumlah perusahaan tertua yang terus beroperasi hingga kini, seperti Kongo Gumi yang berdiri pada 578 M dan Nishiyama Onsen Keiunkan yang lahir pada 705 M. Di Austria ada St. Peter Stiftskulinarium yang berdiri sejak 803 M; di Jerman ada Staffelter Hof yang berdiri sejak 862 M; di Prancis ada Monnaie de Paris yang berdiri pada 864 M; dan di Inggris ada The Royal Mint yang beroperasi sejak 886 M.
Daya tahan perusahaan perusahaan tersebut menarik untuk disimak. Menurut saya, ada dua kemampuan penting agar perusahaan bisa bertahan lama. Satu, kemampuan beradaptasi. Seperti dikatakan Charles Darwin, filsuf dan penulis buku On the Origin of Species (1859), “It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.”
Dua, kemampuan menghadapi kesulitan dan krisis, baik disebabkan oleh kompetisi, imbas perang, krisis energi, maupun perubahan pasar. Kemampuan menghadapi kesulitan pastinya lahir dari orang yang mau berusaha dan berjuang secara berkelanjutan serta adanya pemimpin yang menaruh hatinya di perusahaan. Seperti kata Thomas Watson, Sr (1874-1956), pendiri IBM, “To be successful, you have to have your heart in your business, and your business in your heart.”
Tak ada yang tahu kapan akan berakhir, sebesar apa kerusakan yang ditimbulkan, dan seperti apa dampaknya dalam jangka pendek maupun panjang. Oleh karena itu, para pemimpin harus memiliki persiapan yang baik untuk mengurangi dampak krisis. Menurut saya, setidaknya ada lima cara tradisional yang penting untuk diimplementasikan secara realistis.