Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Manuver Bertahan Asia dalam Konflik AS-Israel Versus Iran

Perang AS-Israel dengan Iran berdampak serius terhadap ekonomi dunia. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat harga minyak dunia melambung, menimbulkan kekhawatiran secara global.

Oleh Steven Widjaja
Infobank

Infobank

TINDAKAN Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyerang Iran pada 28 Februari lalu menciptakan efek domino. Iran tak hanya melancarkan serangan balasan lewat rudal dan drone, tapi juga dalam bentuk ekonomi berupa pemblokiran Selat Hormuz.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 juta barel minyak per hari atau 20% dari total pasokan minyak dunia, adalah jalur perdagangan minyak terbesar kedua di dunia setelah Selat Malaka. Sejak perang mulai berkecamuk, harga minyak dunia terus melambung melewati US$100 per barel, 40% lebih tinggi ketimbang sehari sebelum perang, dan melonjak 50% secara bulanan.

Gawatnya, selat yang merupakan jalur distribusi minyak dari Timur Tengah ke pasar global tersebut adalah jalur distribusi minyak utama ke Asia.

Tiongkok misalnya, meskipun punya kedekatan dengan Iran, dibuat waswas atas tindakan Iran tersebut. Negeri Panda ini mengimpor separuh lebih minyaknya dari Timur Tengah dan seperempatnya dari Iran. Akibat konflik ini, Tiongkok terpaksa harus menghentikan kontrak ekspor bahan bakar mereka, termasuk mendesak perusahaan membatalkan pengiriman lama.

Sementara itu, Korea Selatan membatasi harga bahan bakar domestik untuk pertama kalinya dalam 30 tahun terakhir. Negara yang 70% minyak mentahnya berasal dari kawasan Teluk ini sedang mencari sumber energi alternatif di luar Selat Hormuz. Bahkan, Negeri Ginseng siap menanggung beban inflasi dengan mengguyur 100 triliun won atau sekitar Rp1.130 triliun untuk meredam dampak ekonomi.

Lalu, Jepang yang 90% lebih kebutuhan minyak mentahnya bergantung dari Timteng sampai berkorban melepas 80 juta barel cadangan minyaknya ke dunia, yang juga adalah bagian kesepakatan dari Badan Energi Internasional (IEA) untuk melepaskan 400 juta barel minyak cadangan secara bertahap demi meredam gejolak pasar energi.

Sedangkan Vietnam menghapus tarif impor bahan bakar hingga akhir April, Tailan, Filipina, dan Bangladesh menyerukan penghematan energi; menerapkan work from home (WFH) bagi PNS, menghapus dinas ke luar negeri, melarang penimbunan BBM, membatasi penjualan BBM harian, serta menutup universitas dan memajukan libur Idulfitri.

Indonesia di lain pihak sedang mempersiapkan pembangunan kilang baru yang bisa menampung cadangan minyak hingga 90 hari. Selain itu, kerja sama dengan perusahaan minyak AS seperti Chevron dan Exxon Mobil sebagai alternatif pasokan serta penerapan B50 dan akselerasi campuran bio lainnya.

Dalam kondisi seperti ini, kebijakan fiskal memainkan peranan penting dalam meredam inflasi biaya energi. Tak ada jalan lain, Indonesia perlu memfokuskan APBN sebagai absorber di tengah kondisi seperti sekarang. Defisit APBN yang sangat mendekati batas aman 3% menjadi sinyal darurat.

“Jika harga minyak mentah di MOPS mencapai US$120 per barel maka harga Pertalite seharusnya mencapai Rp17.400 per liter. Maka, ada tambahan subsidi yang harus disediakan yang bisa mencapai Rp145 triliun atau minimal Rp78 triliun,” ujar ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, kepada Infobank, belum lama ini.

Opsi menaikkan harga BBM bisa menjadi senjata makan tuan bagi pemerintah. Dengan asumsi kenaikan harga Pertalite 1% saja bisa menaikkan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,12%. Ini berarti, inflasi bisa makin meningkat dan menekan daya beli.

“Kenaikan harga Pertalite menjadi Rp13.000 per liter (saja) akan membuat inflasi di angka 8,4%. Akibatnya, konsumsi rumah tangga bisa turun hingga 0,026%. Kemiskinan pun akan meningkat,” jelas Nailul.

Menetapkan prioritas anggaran menjadi hal utama untuk dilakukan. Di tengah perang yang berkecamuk dan menunggu hasil dari kebijakan global seperti pelepasan 400 juta barel minyak oleh 32 negara anggota IEA, kebijakan domestik yang pro-stabilitas harga harus dikedepankan.

Selat Hormuz, yang menjadi jalur distribusi sekitar 20 juta barel minyak per hari atau 20% dari total pasokan minyak dunia, adalah jalur perdagangan minyak terbesar kedua di dunia setelah Selat Malaka. Sejak perang mulai berkecamuk, harga minyak dunia terus melambung melewati US$100 per barel, 40% lebih tinggi ketimbang sehari sebelum perang, dan melonjak 50% secara bulanan.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi April 2026

Rp 65.000

BELI