Penulis adalah pemerhati SDM bank dan saat ini consulting director pada Mercer Indonesia.
KEBETULAN Ketua OJK sekarang ini adalah perempuan. Jadi, secara harfiah dan dalam kenyataan historis, kepada kita ditunjukkan bahwa perempuan itu memang adalah sosok (malaikat) penjaga bank. Perempuan sebagai malaikat penjaga bank tidak hanya relevan secara simbolik, tapi juga secara esensial.
Dalam perjalanan karier yang panjang, saya bersinggungan dengan banyak figur perempuan kuat yang punya karakter tangguh untuk menjaga muruah lembaga yang dipimpinnya. Pada awal karier saya di sebuah bank, saya menyaksikan pergantian kepemimpinan dari seorang legenda bank kepada seorang perempuan yang tegas tapi penuh perhatian terhadap budaya kerja dan layanan yang kuat.
Saya juga pernah bekerja di sebuah bank di Kuala Lumpur dengan melapor kepada seorang pemimpin perempuan C-level yang dikenal sebagai iron lady yang mengawal secara detail transformasi perusahaan. Ketika kembali ke Jakarta, saya lagi-lagi bekerja walau tidak lama dengan atasan langsung seorang perempuan yang tidak segan memberikan teguran bila ada kekeliruan.
Saya pun pernah bekerja di bank multinasional, dan dari enam direct report CEO, tiga di antaranya adalah perempuan. Di luar industri perbankan, saya juga menghabiskan sekitar enam tahun bekerja di sektor nonperbankan. Menariknya, di kedua institusi itu pun atasan langsung saya adalah perempuan.
Jadi, pengalaman saya bekerja dengan pemimpin perempuan bukanlah pengalaman sesekali. Pengalaman cukup panjang untuk memberi saya keyakinan bahwa dalam industri perbankan, para pemimpin perempuan punya kontribusi yang nyata. Salah satu kontribusi terpenting itu adalah penjelmaan mereka sebagai malaikat penjaga bank.
Perempuan ini memimpin selalu dengan sepenuh jiwa. Tidak menganggap pekerjaan sekadar tempat untuk mencari duit. Mereka melihat pekerjaan bahkan sebagai panggilan kehidupan. Menganggap perusahaan tempat bekerja punya mereka sendiri, bahkan kadang menilainya sebagai titipan Ilahi yang harus dijaga dengan sayap-sayap putihnya.
Perempuan-perempuan yang saya temui ini tidak lagi bisa memisahkan antara pekerjaan dan urusan personal. Pekerjaan dianggap tuntutan pribadi. Makanya, mereka bekerja sangat detail, memperhatikan setiap dinamika pekerjaan, benar-benar memonitor progres pekerjaan. Memperhatikan anak buahnya satu per satu. Concern sekali dengan kualitas dan suasana kerja.
Kadang cenderung terlihat seperti micromanage, yang maaf kalaupun ada memang menjadi downside-nya para pemimpin perempuan ini. Karakteristik seperti ini adalah karakter yang bernuansa malaikat yang dengan sayap-sayap indahnya berperan sebagai penjaga bank.
Pertanyaannya, apa bank perlu “malaikat penjaga” ini? Sangat perlu. Apalagi dalam suasana bergejolak yang tak menentu seperti sekarang ini. Banyak perang di mana-mana. Juga konflik geopolitik yang makin memburuk.
Konflik yang membuat tantangan bank makin lama makin kompleks. Risiko siber meningkat. Fraud makin canggih. Kejahatan digital tidak lagi gampang dikenal wajahnya. Di lain sisi, tekanan untuk tumbuh juga sangat besar. Target bisnis tetap harus dikejar, kredit harus disalurkan, inovasi digital harus dipercepat, transformasi harus dilakukan. Belum lagi ancaman NPL yang bisa membengkak bila ekspansi dilakukan terlalu agresif atau terlalu longgar dalam membaca kualitas debitur.
Dalam situasi seperti ini, bank tidak cukup dipimpin oleh orang yang hanya agresif menekan pedal gas untuk tumbuh terus. Bank juga butuh orang yang tahu kapan harus mengerem dan bersikap lebih hati-hati.
Karena itu, sayap-sayap putih malaikat ini diperlukan. Mereka membawa kualitas malaikat yang sangat dibutuhkan bank: lebih teliti, lebih waspada, lebih sabar membaca sinyal lemah, lebih peka pada risiko yang tidak langsung terlihat, lebih mementingkan kualitas, dan lebih disiplin dalam menjaga keseimbangan.
Bank bukan sekadar mesin pertumbuhan. Bank adalah lembaga kepercayaan. Bank hidup bukan hanya dari ekspansi kredit, laba, dan pertumbuhan dana pihak ketiga. Bank yang kuat hidup dari keyakinan publik bahwa lembaga ini dikelola dengan hati-hati. Dan, di tengah situasi perbankan hari ini, fungsi “malaikat penjaga” itu justru makin penting.
Para pemimpin perempuan ini menunjukkan bahwa mereka hadir bukan hanya untuk gagah-gagahan sebagai pemimpin bank, tetapi mereka hadir dengan kualitas malaikat yang dengan sayap indahnya sungguh-sungguh dari lubuk hatinya menjaga agar bank tetap layak dipercaya.
Pengalaman saya bekerja dengan pemimpin perempuan bukanlah pengalaman sesekali. Pengalaman cukup panjang untuk memberi saya keyakinan bahwa dalam industri perbankan, para pemimpin perempuan punya kontribusi yang nyata. Salah satu kontribusi terpenting itu adalah penjelmaan mereka sebagai malaikat penjaga bank.
Dalam perjalanan karier yang panjang, saya bersinggungan dengan banyak figur perempuan kuat yang punya karakter tangguh untuk menjaga muruah lembaga yang dipimpinnya. Pada awal karier saya di sebuah bank, saya menyaksikan pergantian kepemimpinan dari seorang legenda bank kepada seorang perempuan yang tegas tapi penuh perhatian terhadap budaya kerja dan layanan yang kuat.