Sebanyak 14 perusahaan pembiayaan kelompok aset Rp10 triliun ke atas turut merasakan tekanan yang dialami industri multifinance. Jumlah peraih predikat “sangat bagus” di kelompok ini berkurang, dari 12 perusahaan di rating tahun sebelumnya menjadi sembilan perusahaan. BFI Finance masih bertahan di takhta tertinggi, dibayangi FIF dan Astra Sedaya Finance.
Sumber: Istimewa
POSISI teratas kelompok perusahaan pembiayaan kakap, dengan aset Rp10 triliun ke atas, kembali menjadi milik BFI Finance dalam rating kali ini. BFI Finance meraih total skor tertinggi, yakni 97,17%, di kelompok yang dihuni 14 multifinance ini. Pencapaian itu sekaligus menegaskan BFI Finance sebagai satu dari dua perusahaan yang konsisten berpredikat “sangat bagus” selama 20 tahun berturut-turut.
Menurut data Biro Riset Infobank (birl), meski tidak agresif, sejumlah indikator pertumbuhan BFI Finance mengalami kenaikan di atas rata-rata industri pembiayaan nasional pada 2025. Misalnya saja dari sisi pembiayaan yang tumbuh 1,76% year on year (yoy), dari Rp22,10 triliun menjadi Rp22,49 triliun. Pertumbuhannya di atas rerata industri yang hanya naik 0,61% hingga akhir 2025. Demikian pula dari sisi laba yang mengalami kenaikan 1,07%, dari Rp1,56 triliun menjadi Rp1,58 triliun. Sedangkan, laba industri secara keseluruhan tercatat minus 18,07%.
Kenaikan laba BFI Finance ditopang pendapatan operasional yang meningkat dari Rp6,28 triliun menjadi Rp6,70 triliun. Angka itu tumbuh 6,75% secara tahunan. Di lain sisi, beban operasional mengalami kenaikan 6,52%, dari Rp4,17 triliun menjadi Rp4,45 triliun. Total aset BFI Finance tercatat mengalami pertumbuhan tipis 1,40% secara tahunan, dari Rp25,12 triliun menjadi Rp25,47 triliun. Dibandingkan dengan pertumbuhan aset industri yang minus 0,01%, pencapaian BFI Finance tentu jauh lebih baik.
Selain dari aspek pertumbuhan, BFI Finance tercatat mampu menjaga operasionalnya tetap efisien di tengah upaya ekspansi bisnis. Rasio BO/PO BFI Finance di akhir 2025 tercatat di posisi 66,31%. Angka ini juga jauh di bawah rata-rata industri pembiayaan yang tercatat di posisi 82,86%.
Sisi rentabilitas perusahaan ini juga mendapatkan nilai maksimal. Kemampuan perusahaan ini dalam menghasilkan laba memang terbilang oke. Hal itu terefleksi dari rasio return on asset (ROA) sebesar 7,80% dan return on equity (ROE) sebesar 15,18%. Bandingkan dengan rata-rata industri pembiayaan, dengan ROA dan ROE masing-masing sebesar 4,17% dan 10,71%.
Terlepas dari pencapaian tahun lalu, di kuartal satu 2026 BFI Finance terus menjaga momentum pertumbuhan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Per Maret 2026, BFI Finance mencatatkan piutang pembiayaan dikelola (managed receivables) sebesar Rp26,8 triliun, atau meningkat 5,5% secara tahunan. Sementara, pembiayaan baru (new booking) tercatat Rp5,5 triliun. Penyaluran new booking yang relatif stabil di tengah tantangan dan dinamika yang dihadapi industri jasa keuangan merefleksikan resiliensi bisnis BFI Finance. Ini juga tidak lepas dari konsistensi perseroan dalam menerapkan prinsip selektivitas dan disiplin risiko.
“Dengan pengalaman BFI Finance yang telah teruji, kami optimistis dapat terus menjaga postur risiko yang sehat. Pendekatan selektif dan disiplin menjadi kunci dalam mengantisipasi volatilitas pasar serta menjaga fondasi keberlanjutan bisnis kami,” cetus Presiden Direktur BFI Finance, Sutadi.
RAIHAN total skor 95,28% membawa Federal International Finance (FIF) mengamankan predikat “sangat bagus” se kaligus posisi runner-up di kelompok papan atas. Per usahaan yang dikomandani Indra Gunawan sebagai pre siden direktur ini menyalurkan pembiayaan Rp49,50 triliun sepanjang 2025, meningkat 13,58% secara tahunan.
Sementara, laba bersihnya naik 4,92% menjadi Rp4,63 triliun, sekaligus yang terbesar di industri multifinance. Total asetnya mengembang 13,56% menjadi Rp51,88 triliun. FIF juga tercatat berhasil menjaga efisiensi operasional. Tecermin dari rasio BO/PO yang sangat rendah, yakni 55,95%. AA
PERUSAHAAN di bawah naungan Astra Financial, yakni Astra Sedaya Finance, melengkapi top 3 multifinance kelas kakap. Perusahaan yang dipimpin Hendry Christian Wong sebagai presiden direktur ini mengantongi laba Rp1,97 triliun pada 2025. Raihan laba disokong pembiayaan yang naik 4,00% menjadi Rp39,85 triliun. Total asetnya tercatat Rp42,27 triliun.
Dalam rating kali ini, Astra Sedaya Finance meraih predikat “sangat bagus” dengan total skor 94,94%. Selain dari aspek pertumbuhan yang meraih nilai maksimal, multifinance ini meraih skor sempurna dari aspek rasio BO/PO maupun rentabilitas.
ADIRA Dinamika Multi Finance (Adira Finance) menyalurkan pem biayaan sebesar Rp35,14 triliun, atau naik 3,89% pada 2025. Aset multi finance yang dinakhodai Dewa Made Susila sebagai direktur utama ini tercatat naik tipis 0,41% menjadi 38,53 triliun. Sejumlah indikator keuangan penting perusahaan ini tercatat berapor biru.
Meski mengalami tekanan seperti perusahaan-perusahaan lain, Adira Finance mampu menjaga laju mesin bisnisnya. Dalam “Rating 127 Multifinance Versi Infobank 2026”, Adira Finance kembali meraih pre dikat “sangat bagus” berkat total skor 94,39%.
ASPEK efisiensi dan rentabilitas tampaknya menjadi salah satu keunggulan BCA Finance yang menonjol. Rasio BO/PO anak usaha Bank Central Asia (BCA) ini tercatat 53,85%, salah satu yang terendah di industri. Pun demikian dengan ROA dan ROE yang masing-masing 19,66% dan 23,17%. Jauh melampaui ROA dan ROE rata-rata industri yang masing masing sebesar 4,17% dan 10,71%.
Di rating kali ini, perusahaan yang dipimpin Petrus Santoso Karim sebagai presiden direktur ini mendapatkan total skor 89,25%, dan bertahan di jajaran lima besar kelompok multifinance kakap.
LABA bersih Bussan Auto Finance (BAF) melonjak 36,14% atau menjadi Rp413,47 miliar pada 2025. Pencapaian itu ditopang pendapatan operasional yang naik menjadi Rp4,76 triliun. Di lain sisi, beban operasional berhasil ditekan menjadi Rp4,25 triliun. Operasional yang makin efisien membuat perusahaan ini bisa menjaga kinerja laba, meski pembiayaan hanya tumbuh tipis 1,75% menjadi Rp12,78 triliun.
Dari kinerja yang positif itu, multi finance yang dipimpin Koji Kato seba gai direktur utama ini meraih total skor 88,36% di rating multifinance versi infobank kali ini.
Menurut data Biro Riset Infobank (birl), meski tidak agresif, sejumlah indikator pertumbuhan BFI Finance mengalami kenaikan di atas rata-rata industri pembiayaan nasional pada 2025. Misalnya saja dari sisi pembiayaan yang tumbuh 1,76% year on year (yoy), dari Rp22,10 triliun menjadi Rp22,49 triliun. Pertumbuhannya di atas rerata industri yang hanya naik 0,61% hingga akhir 2025. Demikian pula dari sisi laba yang mengalami kenaikan 1,07%, dari Rp1,56 triliun menjadi Rp1,58 triliun. Sedangkan, laba industri secara keseluruhan tercatat minus 18,07%.