Ia menjalani dua panggung yang berbeda selama lebih dari tiga dekade. Musik rock dan industri keuangan. Di balik dentuman drum dan kesibukan ruang rapat, tersimpan filosofi hidup tentang ritme, harmoni, dan amanah.
Infobank
MATAHARI mulai merunduk ke barat saat tim Infobank melangsungkan janji temu bersama Fajar Satritama, Direktur KB Bukopin Finance, di Kantor Pusat KB Bukopin Finance, Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026. Pria berkacamata dan berpostur tinggi gagah itu tampak rapi berbalutkan setelan batik-celana panjang hitam. Dengan tampilan formalnya itu, mungkin banyak orang tak tahu bahwa Fajar, panggilan karibnya, juga merupakan seorang musisi profesional.
Fajar adalah drumer di dua band bergenre rock legendaris Tanah Air, yakni Edane dan God Bless. Ia dikenal dengan permainan drumnya yang solid, presisi, dan penuh energi. Pria kelahiran Jakarta, 11 Juli 1970, ini ibarat “penjaga tempo” dalam melahirkan lagu-lagu hits berjudul “Kau Pikir Kaulah Segalanya” (Edane) hingga “Rumah Kita” (God Bless).
Ia sudah aktif bermain musik sejak 1990-an. Kala itu, ia masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan tergabung dalam grup band Cynomadeus, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan musiknya bersama Edane dan God Bless. Uniknya, ketertarikan Fajar pada drum tidak lahir dari cita-cita masa kecil atau sekolah musik. Menurut penuturannya, kisahnya menjadi drumer justru berawal dari sebuah kebetulan.
“Cerita awalnya sebenarnya cukup lucu. Sejak kecil, saya cukup dekat dengan alat musik. Ayah saya saat itu ketua RW, dan kegiatan karang taruna di lingkungan rumah kami cukup aktif. Mereka memiliki seperangkat alat musik yang disimpan di rumah orang tua saya. Anehnya, saat kecil, saya sama sekali tidak tertarik dengan alat musik. Mau itu drum, keyboard, atau bass. Saya lebih senang bermain layangan, bersepeda BMX, dan aktivitas anak-anak lainnya,” kenangnya.
Ketertarikan pada musik baru muncul ketika ia duduk di bangku SMP. Kala itu menyaksikan penampilan kakak kelasnya membawakan lagu “Eye of the Tiger” milik grup band rock Survivor. Momen berkesan itu masih ia ingat jelas sampai hari ini.
“Saya waktu itu masih kelas 1 SMP. Ketika melihat drumer kakak kelas tampil membawakan lagu itu, saya kagum sekali. Dalam hati langsung berpikir, ‘Wah, keren banget. Saya harus bisa main drum’,” katanya.
Sejak itu, keinginan Fajar belajar drum muncul. Bahkan, ketika kenaikan kelas dan orang tuanya bertanya hadiah apa yang diinginkan, ia tak meminta sepeda motor atau barang lain yang lazim diidamkan remaja seusianya. “Saya bilang, ‘belikan drum saja’,” tuturnya.
Akhirnya, anak tunggal keturunan Jogja-Manado itu pun mendapatkan satu set drum pertamanya. Dari situlah semuanya bermula. Tanpa pernah mengenyam pendidikan musik formal, Fajar belajar bermain drum secara otodidak. Di era sebelum internet dan situs video online hadir seperti sekarang, proses belajarnya bertumpu pada lingkungan sekitar, kaset-kaset musik, serta kemauan untuk terus berlatih.
“Saya belajar dari lingkungan sekitar. Kebetulan ada tetangga yang musisi senior dan paman dari teman satu band saya juga sering mengajak kami belajar bersama,” ujarnya.
Meski demikian, proses belajar drum tidak selalu mudah. Fajar sempat berbulan-bulan kesulitan mengkoordinasikan gerakan tangan dan kaki saat memainkan pola-pola ketukan drum tertentu. Sering kali, ia juga harus berlatih menggunakan seikat lidi sebagai pengganti stik drum, sebab rumahnya tak kedap suara. Latihan yang dilakukan secara konsisten itu pun perlahan membuahkan hasil.
“Saya ingat waktu itu sedang memainkan lagu ‘Fight Fire with Fire’ dari Kansas. Tiba-tiba saya merasa, ‘Loh, kok sekarang bisa membagi koordinasinya?’ Setelah melewati fase itu, perkembangan saya terasa jauh lebih cepat,” katanya.
Memasuki masa SMA, Fajar mulai memperluas sumber belajarnya melalui buku-buku tutorial dan mengamati langsung para drumer yang dikaguminya. Latihan demi latihan yang dijalani itu kemudian membawanya lebih dekat ke lingkungan musisi profesional.
Saat kuliah, ia mulai terlibat dalam sejumlah proyek musik yang mempertemukannya dengan banyak musisi Jakarta. Dari lingkungan itulah Fajar kemudian menjadi bagian dari lahirnya Edane, band rock yang kelak membesarkan namanya.
Waktu itu, ia masih berstatus mahasiswa dan membagi waktunya antara kuliah dan musik. Tapi, meski aktivitas bermusiknya makin berkem bang, Fajar belum melihat musik sebagai jalan hidup yang ingin ditempuh.
Persimpangan besar datang setelah Fajar menyelesaikan studinya. Saat Edane tengah bersiap merilis album ketiga, Borneo, ia justru dihadapkan pada pilihan yang tak mudah. Di satu sisi, karier musiknya sedang berkembang. Di lain sisi, ia merasa sayang jika gelar sarjana yang telah diperjuangkannya tidak coba diterapkan dalam dunia kerja profesional.
Kesempatan untuk mengadu peruntungan di dunia kerja profesio nal pun datang melalui Management Development Program (MDP) Bank Danamon. Setelah lolos seleksi, Fajar harus menjalani pelatihan intensif selama hampir satu tahun.
Untuk pertama kalinya, Fajar merasa harus memilih antara dua dunia yang sama-sama dicintainya. Ia kemudian berbicara secara terbuka kepada rekan-rekannya di Edane, termasuk Eet Sjahranie, Ecky Lamoh, Iwan Xaverius, dan Heri Batara. Kepada mereka, ia menyampaikan keinginannya untuk meniti karier di dunia perbankan dan mungkin harus meninggalkan band. Ia tak menyang ka, respons yang diterimanya justru di luar dugaan.
“Mereka bilang, mencari drumer pengganti mungkin tidak terlalu sulit, tapi yang sulit dicari adalah chemistry bermusik. Dalam sebuah band, banyak musisi hebat, mungkin lebih hebat dari saya. Namun, kesamaan rasa, groove, emosi, dan cara bermain itu tidak mudah ditemukan. Saya sendiri merasakannya, dan mereka pun demikian,” tuturnya.
Alih-alih mencari pengganti, Edane memilih menyesuaikan jadwal rekaman dengan kesibukan Fajar. Berkat kompromi itulah, ia tetap menjadi bagian dari Edane. Hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan dan chemistry itu bertahan hingga kini.
Karier bermusiknya tak berhenti di situ. Pada 2012, Yaya Moektio, personel God Bless, menghubungi Fajar, memintanya menjadi additional drummer di band yang divokali Achmad Albar ini. Rupanya, God Bless sudah lama memperhatikan gaya bermain drum Fajar.
Tapi, ia juga mengingatkan bahwa dirinya masih aktif bersama Edane dan tetap bekerja penuh waktu di industri perbankan. “Saya sampaikan waktu saya sangat terbatas. Kalau ada jadwal yang bentrok, saya harus me milih antara pekerjaan kantor, Edane, atau God Bless,” ujar pria yang pernah berkarier di Bank Danamon, Bank OCBC NISP, Bank ICBC Indonesia, dan Bank Ganesha ini.
Biar begitu, keterbatasan waktu tak menjadi penghalang. Fajar pun menjalani debut bersama God Bless di konser Java Jazz 2012 dan terus tampil bersama band itu sampai sekarang.
“Jadi, hingga hari ini, saya tetap menjalani tiga peran sekaligus: bekerja di industri keuangan, bermain bersama Edane dan God Bless. Tentu ada banyak tantangan dalam mengatur waktu, tapi syukurnya semuanya masih bisa berjalan,” tukas pria yang mulai berkarier di industri pembiayaan sebagai Direktur Usaha Pembiayaan Reliance Indonesia pada 2018 ini.
Selama lebih dari tiga dekade, Fajar menjalani dua karier yang berjalan beriringan antara musik dan industri keuangan. Meski berasal dari dunia yang tampak berbeda, ia melihat keduanya memiliki benang merah yang sama. Sebagai drumer, ia terbiasa berperan sebagai penjaga tempo, memastikan seluruh personel dapat bermain dalam ritme dan harmoni yang sama.
“Kalau drumer memang sering disebut sebagai penjaga tempo. Mungkin secara tidak sadar hal itu juga memengaruhi cara saya bekerja, yaitu menjaga ritme. Ada saatnya kita harus bermain lebih powerful, lebih cepat, dan lebih agresif. Namun, ada juga saatnya kita harus menurunkan intensitas dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada,” ujarnya.
Prinsip ini menurut Fajar juga berlaku dalam dunia bisnis. Organisasi perlu memahami kapan harus berakselerasi dan kapan harus mengambil langkah yang lebih terukur. Yang terpenting bukan sekadar banyaknya aktivitas atau pencapaian, melainkan bagaimana seluruh elemen dapat bekerja secara harmonis untuk menghasilkan kualitas yang baik.
Di balik filosofi ritme dan harmoni, Fajar juga memegang prinsip amanah. Baginya, setiap jabatan adalah titipan yang harus dijaga. Makin tinggi posisi yang diemban, makin besar tanggung jawab yang harus dijalankan.
“Pada akhirnya yang penting adalah ketika suatu saat kita diminta mempertanggungjawabkan amanah itu, kita bisa mengatakan bahwa kita sudah menjalankannya dengan upaya terbaik yang kita miliki,” tutup pria yang menjabat sebagai Direktur KB Bukopin Finance sejak 2021 ini.
MENJAGA KESEIMBANGAN PERTUMBUHAN DAN KUALITAS PORTOFOLIO
Tahun ini KB Bukopin Finance menargetkan komposisi pembiayaan yang lebih berimbang antara segmen fleet dan retail. Bagaimana strategi untuk mencapainya?
Kami menargetkan pembiayaan baru Rp1,2 triliun pada 2026. Hingga April, realisasinya cukup baik bahkan berada di atas target. Namun, sejak Mei, kami mulai lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan seiring pelemahan rupiah, kenaikan harga bahan bakar (minyak), serta dinamika di sejumlah sektor usaha yang menjadi fokus pembiayaan kami.
Secara year to date, kinerja masih inline dengan target. Hanya saja, kami memilih untuk tidak terlalu agresif dan lebih mengedepankan kualitas portofolio. Di segmen fleet, kami terus mencermati kondisi usaha para debitur, terutama di sektor transportasi dan pertambangan. Sementara, di segmen retail, realisasinya masih sesuai target meski pertumbuhannya sedikit melambat.
Dari sisi pendanaan, kami juga mewaspadai potensi kenaikan suku bunga yang dapat memengaruhi biaya dana. Karena itu, strategi kami saat ini adalah menjaga pertumbuhan tetap sehat dengan pendekatan yang lebih prudent dan selektif, sambil terus memantau perkembangan ekonomi dan geopolitik global.
Sektor atau lini bisnis apa yang diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan pembiayaan tahun ini?
Kami ingin menciptakan portofolio yang lebih berimbang dengan memperkuat sektor agrikultur di samping transportasi dan logistik yang selama ini menjadi salah satu kontributor utama pembiayaan. Di segmen korporasi, kami melihat potensi pertumbuhan dari pembiayaan perkebunan sawit, alat berat, serta sektor pertambangan. Tapi, untuk sementara, kami tetap berhati hati melihat dinamika industri, khususnya di sektor tambang dan sawit.
Selain itu, kami mulai mengembangkan pembiayaan di sektor medical dan healthcare, serta menjajaki sejumlah ekosistem kreatif melalui skema pembiayaan berbasis ekosistem. Ke depan, agrikultur menjadi salah satu sektor yang kami harapkan dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan pembiayaan perusahaan.
Terkait pelemahan daya beli masyarakat dan industri otomotif, bagaimana dampaknya terhadap bisnis KB Bukopin Finance?
Penurunan daya beli tentu berdampak pada industri pembiayaan, terutama di segmen retail. Namun, sejak awal, kami menerapkan risk acceptance criteria (RAC) yang cukup ketat sehingga lebih selektif dalam memilih konsumen yang akan dibiayai.
Fokus retail kami berada di pembiayaan mobil bekas, dengan prioritas pada konsumen yang memiliki kemampuan pembayaran yang baik, rekam jejak kredit yang sehat, dan kondisi keuangan yang relatif kuat. Karena itu, dampak perlambatan daya beli terhadap kualitas portofolio kami masih cukup terkendali.
Konsekuensinya, pertumbuhan bisnis mungkin tidak seagresif sebagian pemain lain. Namun, kami lebih mengutamakan pembangunan portofolio yang sehat dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut juga tercermin dari kualitas aset yang tetap terjaga, dengan tingkat pembiayaan bermasalah yang relatif rendah. Ke depan, fokus kami tetap sama, yaitu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas portofolio, dan profitabilitas secara berkelanjutan.
Fajar adalah drumer di dua band bergenre rock legendaris Tanah Air, yakni Edane dan God Bless. Ia dikenal dengan permainan drumnya yang solid, presisi, dan penuh energi. Pria kelahiran Jakarta, 11 Juli 1970, ini ibarat “penjaga tempo” dalam melahirkan lagu-lagu hits berjudul “Kau Pikir Kaulah Segalanya” (Edane) hingga “Rumah Kita” (God Bless).