Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Formula Menentukan Predikat BPR Infobank memotret kinerja BPR 2024-2025 dengan menerbitkan rating BPR 2026.

Penilaian rating dilakukan dengan mengukur aspek permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, dan efisiensi guna memetakan daya tahan serta daya saing BPR di industrinya.

Oleh Ari Nugroho
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

BIRO Riset Infobank (birI) kembali merilis pemeringkatan BPR melalui “Rating 421 BPR Versi Infobank 2026”. Rating ini disusun untuk memotret kinerja industri BPR sepanjang periode 2024-2025 dengan menggunakan data keuangan sebagai bahan utama. Penilaian dilakukan berdasarkan capaian dan kondisi keuangan BPR pada tahun buku 2024 dan 2025 guna memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai daya tahan dan performa masing masing BPR.

Metode yang digunakan Biro Riset Infobank pada rating BPR ini adalah metode kuantitatif berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di website Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jangka waktu pengunduhan laporan keuangan BPR dari OJK ialah Maret sampai dengan awal Juni 2026.

Setiap BPR diunduh hanya satu kali, yaitu pada saat pertama kali muncul di website OJK. Seperti biasa, masih banyak rasio yang belum lengkap di laporan keuangan. Untuk melengkapinya, Biro Riset Infobank pun melakukan konfirmasi ke BPR-BPR yang bersangkutan hingga datanya lengkap.

Pendekatan yang digunakan Biro Riset Infobank untuk rating BPR ini ialah rasio keuangan penting dan pertumbuhan usaha. BPR dikelompokkan menjadi enam kelompok berdasarkan aset: BPR beraset Rp25 miliar sampai dengan di bawah Rp50 miliar (kelompok 6), BPR beraset Rp50 miliar sampai dengan di bawah Rp100 miliar (kelompok 5), BPR beraset Rp100 miliar sampai dengan di bawah Rp250 miliar (kelompok 4), BPR beraset Rp250 miliar sampai dengan di bawah Rp500 miliar (kelompok 3), BPR beraset Rp500 miliar sampai dengan di bawah Rp1 triliun (kelompok 2), dan BPR beraset Rp1 triliun ke atas (kelompok 1).

Bahan baku rating BPR terbaik versi Infobank kali ini ialah laporan keuangan BPR tahun buku 2024 dan 2025. BPR yang hanya mengeluarkan laporan keuangan selain per Desember 2025 tak diikutsertakan dalam rating, meski asetnya triliunan rupiah.

Karena menggunakan laporan keuangan per Desember 2024-2025, rating ini boleh disebut hanya sebuah potret. Bisa saja kondisi pada 2025 tidak sama dengan kondisi sekarang. Tapi, karena menggunakan metode dan pendekatan yang sama, hasilnya pun hanya sebuah potret pada saat laporan keuangan dibuat. Berikut ini kriteria penilaiannya. 

PERMODALAN; menyangkut rasio kecukupan modal atau disebut capital adequacy ratio (CAR) dan pertumbuhan modal. Rasio tersebut untuk melihat seberapa jauh kekuatan permodalan dan komitmen BPR dalam meningkatkan modalnya. Rasio terbaik CAR mengacu pada ketentuan regulator. BPR yang memiliki CAR 12,00% hingga 16,00% akan diberi nilai 81 poin. CAR di atas 20,00% akan diberi penambahan maksimal 100 poin. Rasio CAR ini diberi bobot 15,00%. 

Sisa bobot 5,00% dari unsur permodalan menggunakan pendekatan pertumbuhan modal inti. Rasio terbaik dari pertumbuhan modal inti ini menggunakan pendekatan rata-rata industri BPR yang tergantung pada jumlah asetnya dan mengacu pada pertumbuhan industri. BPR kelompok 1 standar terbaiknya 2,50% ke atas, BPR kelompok 2 standar terbaiknya 5,00%, BPR kelompok 3 standar terbaiknya 5,50%, BPR kelompok 4 standar terbaiknya 4,50%, BPR kelompok 5 standar terbaiknya 5,50%, dan standar terbaik BPR kelompok 6 adalah 4,50%. Pertumbuhan di atas standar terbaik diberi nilai 100 poin. Kalau di bawah nilai rata-rata, penilaian dilakukan secara proporsional.

KUALITAS ASET. Penilaian kualitas aset dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan: rasio non performing loan (NPL) dan pertumbuhan kredit. Standar terbaik NPL ialah di bawah 5,00%. Bobot rasio NPL sebesar 15,00%. Untuk NPL, karena NPL industri di atas 5%, rating ini memberi toleransi penilaian NPL hingga 7,5%. BPR yang NPL-nya di atas 5% tapi masih di bawah 7,5% tetap akan mendapat nilai sesuai dengan rumus yang ditentukan. Tapi, untuk BPR yang NPL-nya di atas 7,5%, akan dieliminasi. Selain NPL yang dinilai, dalam kelompok kualitas aset dilihat pula peningkatan jumlah kredit yang disalurkan dalam kurun waktu satu tahun. Kredit yang dimaksud adalah kredit setelah dikurangi penyisihan. 

Sama halnya dengan modal, untuk pertumbuhan kredit, BPR juga dibagi dalam enam kelompok. Standar terbaiknya mengikuti pertumbuhan kredit rata-rata perkelompok, mengacu pada pertumbuhan industri. Kelompok 1 standar terbaiknya 4,00%, kelompok 2 standar terbaiknya 5,00%, kelompok 3 standar terbaiknya 5,00%, kelompok 4 standar terbaiknya 5,00%, kelompok 5 standar terbaiknya 5,00%, dan kelompok 6 standar terbaiknya 5,00%. Pertumbuhan kredit bobotnya 5,00%.

RENTABILITAS; meliputi tiga unsur, yaitu rasio laba dibandingkan dengan modal atau return on equity (ROE), rasio laba dibandingkan dengan aset atau return on asset (ROA), dan pertumbuhan laba. Sejauh mana modal dan aset yang dikelola bisa menghasilkan laba dalam kurun waktu satu periode. Rasio ROA menggunakan standar terbaik 1,50%, dan yang di atas 1,70% akan mendapat tambahan 100 poin. Sedangkan, rasio ROE menggunakan standar terbaik 4,80% atau rata-rata suku bunga deposito satu tahun di 2025. ROA dan ROE bobotnya masing-masing 7,50%.

Untuk pertumbuhan laba tahun berjalan, penilaiannya menggunakan pendekatan yang berbeda pada tiap-tiap kelompok. Pertumbuhan laba ini juga menggunakan rata-rata industri di kelompoknya dengan bobot 5,00%. Jadi, BPR yang labanya di bawah rata-rata industri akan mendapatkan penilaian yang makin rendah. 

LIKUIDITAS. Rasio likuiditas menggunakan pendekatan yang sederhana, yaitu berpatokan pada loan to deposit ratio (LDR). Jika sebuah BPR memiliki LDR terlalu tinggi, BPR tersebut dinilai terlalu ekspansif dan perlu sedikit hati-hati. LDR terbaik menggunakan pendekatan antara 78% dan 100%. Angka itu diambil dari kebijakan regulator. Bahkan, BPR dengan LDR di atas 100% tapi tidak memiliki CAR 14% ke atas dinilai jelek. Posisi LDR diberi bobot 15,00%.

Peningkatan dana pihak ketiga (DPK) bagi BPR juga menjadi kriteria penilaian. Bobot pertumbuhan DPK sebesar 5,00% masing-masing tergantung pada ukuran BPR. BPR kelompok 1 standar terbaik pertumbuhannya 4,50%, kelompok 2 standar terbaiknya 5,00%, kelompok 3 standar terbaiknya 5,00%, kelompok 4 standar terbaiknya 5,00%, kelompok 5 standar terbaiknya 5,00%, dan kelompok 6 standar terbaiknya 5,00%. 

EFISIENSI. Kategori ini menggunakan dua rasio, yaitu rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) dan rasio net interest margin (NIM). Rasio ini dikelompokkan berdasarkan aset supaya adil. Rasio BO/PO BPR kelompok 1 sebesar 85,00%, kelompok 2 sebesar 83,00%, kelompok 3 sebesar 82,00%, kelompok 4 sebesar 85,00%, kelompok 5 sebesar 89,00%, dan kelompok 6 sebesar 91,00%. BPR besar ataupun BPR kecil harus efisien dengan standar terbaik sama atau dibawah kelompok masing masing. Jika ada BPR yang memiliki rasio BO/PO di atas 92%, BPR tersebut dianggap tak efisien. Sebaliknya, makin kecil rasio BO/ PO, berarti BPR tersebut makin efisien.

Sejurus dengan itu, ada NIM sebagai indikator efisiensi. Angka NIM terbaik BPR di 2025 ialah 8,00% (rata-rata). Makin besar NIM, makin baik. Sebalik nya, makin kecil NIM, makin buruk. Rasio BO/PO dan NIM diberi bobot masing-masing 10,00%.

Setelah menilai masing-masing kriteria dengan jumlah poin 20%, nilai tersebut akan diberi notasi dengan lima range, yaitu A1, A2, A3, A4, dan A5. Pemberian notasi ini untuk menunjukkan titik lemah dari rasio tersebut. Makin besar angkanya, makin lemah pula rasionya. Rasio dengan angka terendah diberi notasi D5.

Akhirnya, kelima rasio yang menjadi kriteria penting itu dijumlah dan akan menjadi dasar utama untuk menentukan apakah sebuah BPR dapat disebut “sangat bagus” atau belum. Contohnya, BPR XYZ dengan skor sempurna 100% mendapat predikat “sangat bagus” karena standar terbaik di atas 81%. Kalau ada BPR yang nilai nya sama, pendekatan yang dilakukan ialah rasio modal dan seterusnya menyangkut NPL. Jika posisi NPL 7,5% ke atas dan/atau posisi CAR di bawah 8%, walaupun BPR tersebut berpredikat “sangat bagus”, akan tereliminasi.

Baca selengkapnya di Majalah Infobankstore Edisi Juni 2026

 

Rating 421 BPR versi Infobank 2026 - BPR Beraset RP1 triliun ke atas

1.       BPR DP Taspen

DARI total 27 BPR di kelompok aset Rp1 triliun ke atas, 15 BPR meraih predikat “sangat bagus” dalam “Rating 421 BPR Versi Infobank 2026”. Jumlahnya meningkat dari rating tahun sebelumnya, yang hanya 13 BPR.

BPR DP Taspen menjadi yang terbaik di kelas kakap ini. Raihan total skor 97,48% membuat BPR asal Kota Bekasi ini berhak menempati peringkat teratas.

Kinerja BPR yang dinakhodai Iwan Soeroto sebagai direktur utama ini memang mentereng di 2025. Dari sisi intermediasi, BPR ini mencatatkan pertumbuhan kredit 40,52% year on year (yoy), dari Rp674,63 miliar menjadi Rp948,02 miliar. Kenaikannya jauh di atas rata-rata industri yang tumbuh 5,52%.

Ekspansi kredit juga dilakukan dengan sangat prudent. Di saat NPL industri BPR menjadi sorotan, bank ini mampu menjaga NPL sangat rendah, yakni 0,69% (gross). Bandingkan dengan NPL industri BPR yang di level 11,75%. Sementara, dana pihak ketiga (DPK) melonjak 30,17%, atau menjadi Rp669,84 miliar. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan industri BPR yang naik 5,37%.

BPR DP Taspen menutup 2025 dengan raihan laba bersih Rp34,10 miliar, atau tumbuh 32,14% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan laba industri yang tercatat 24,06%. Total asetnya pun makin gemuk, yakni melonjak 47,48% dari Rp784,98 miliar menjadi Rp1,16 triliun. BPR DP Taspen pun naik kelas ke kelompok aset Rp1 triliun ke atas dalam rating kali ini. AA

2.       BPR Utomo Manunggal Sejahtera Lampung

BPR Utomo Manunggal Sejahtera Lampung (Utomo Bank) berhasil mempertahankan posisi kedua di kelas kakap. Berkat total skor 96,96%, Utomo Bank mempertahankan predikat “sangat bagus”. BPR yang dikomandani Rudy Hasanudin sebagai direktur utama ini tercatat meraih skor sempurna di tiga aspek penilaian, yakni permodalan, rentabilitas, dan likuiditas. Sejumlah indikator keuangan penting rapornya biru. Kredit tumbuh 17,61%, sedangkan DPK naik 5,13%. BPR beraset Rp2,43 triliun per akhir 2025 ini mengantongi laba Rp64,49 miliar, naik 23,69%. AA

3.       BPR BKK Purwodadi Perseroda

DENGAN total skor 94,77%, BPR BKK Purwodadi Perseroda berpredikat “sangat bagus”. Direktur Utama BPR BKK Purwodadi, Anita Fitriani Yusuf dan jajarannya berhasil menjaga momentum pertumbuhan positif. Bank ini tercatat unggul pada empat aspek penilaian, yakni permodalan, rentabilitas, likuiditas, dan efisiensi. Keempat aspek itu, nilainya sempurna. Bank beraset Rp1,47 triliun per akhir 2025 atau naik 8,08% secara tahunan ini antara lain menonjol dalam aspek efisiensi. Lihat saja NIM-nya yang mencapai 11,84%, salah satu yang terbaik di kelompoknya. AA

4.       BPR Dana Nusantara

BPR Dana Nusantara (Bank Danus) mengakhiri 2025 dengan laba bersih Rp45,35 miliar atau melonjak 29,93%. Pencapaian itu ditopang fungsi intermediasi berjalan solid. Kredit meningkat 21,46% menjadi Rp2,49 triliun. DPK naik 24,33% menjadi Rp2,58 triliun. Sementara itu, aset mengembang 31,22% menjadi Rp3,44 triliun. Atas kinerja apik itu, bank yang dipimpin Winoto Sumitro sebagai presiden direktur ini diganjar predikat “sangat bagus”, dengan total skor 94,54%. Dalam beberapa tahun terakhir, bank ini selalu mengamankan predikat “sangat bagus”. AA

5.       BPR Eka Bumi Artha

TOTAL skor 93,10% mengantarkan BPR Eka Bumi Artha (Bank Eka) meraih predikat “sangat bagus”. Bank yang dipimpin Eko Budiyono sebagai direktur utama ini konsisten berkinerja cemerlang dalam beberapa tahun terakhir. Kinerja BPR ini tumbuh solid di 2025. Kredit naik 9,60% menjadi Rp10,00 triliun. Ekspansi kredit dilakukan dengan kehati-hatian untuk menjaga kualitas aset. Tecermin dari NPL yang terjaga di 0,73%, jauh di bawah rata-rata industri 11,75%. Bank ini menutup 2025 dengan aset Rp11,83 triliun dan tetap menjadi BPR beraset terbesar di Tanah Air. AA

6.       BPR Bank Jombang Perseroda

PERTUMBUHAN laba BPR Bank Jombang Perseroda (Bank Jombang) mencapai 71,21% secara tahunan, menjadi Rp19,55 miliar pada 2025. Pencapaian itu jauh di atas rata-rata industri yang tercatat 24,06%. Pertumbuhan laba BPR milik Pemda Kabupaten Jombang ini antara lain disokong fungsi intermediasi yang tumbuh solid. Bank Jombang pun mendapatkan predikat “sangat bagus” dengan total skor 92,59%. Bank yang dipimpin Afandi Nugroho sebagai direktur utama ini konsisten mencatatkan pertumbuhan positif dalam beberapa tahun terakhir. AA

 

RATING 421 BPR VERSI INFOBANK 2026 - BPR BERASET RP500 MILIAR SAMPAI DENGAN DI BAWAH RP1 TRILIUN

1.       BPR Tata Asia

KELOMPOK BPR beraset Rp500 miliar sampai dengan di bawah Rp1 triliun dihuni 58 bank rural. Dari jumlah itu, 32 di antaranya berhasil memperoleh predikat “sangat bagus”. BPR Tata Asia menduduki peringkat teratas di antara bank rural lainnya di kelompok ini.

TB Frandy Priya, Direktur Utama BPR Tata Asia, beserta jajarannya sukses membawa bank ini menutup 2025 dengan capaian yang sangat positif, sekaligus memantapkan posisinya sebagai yang teratas di kelompok ini. BPR asal Kota Bandung ini mencetak skor sempurna di tiga aspek penilaian, yakni permodalan, likuiditas, dan rentabilitas.

BPR Tata Asia memiliki permodalan yang kuat. CAR-nya tercatat 26,60% dengan modal inti Rp93,82 miliar atau tumbuh 90,27% secara tahunan (yoy), tertinggi di kelompok ini. Dari sisi likuiditas, BPR Tata Asia mem bukukan DPK sebesar Rp407,85 miliar atau tumbuh 39,23%. LDR-nya juga sehat, berada di angka 81,16%.

Dari sisi rentabilitas, rasio ROA dan ROE BPR Tata Asia masing-masing tercatat 3,47% dan 18,57%. Ditopang pertumbuhan kredit sebesar 96,98% menjadi Rp442,19 miliar, BPR ini membukukan laba bersih Rp14,51 miliar. Angka pertumbuhannya menyentuh 1.119,15%, sangat jauh di atas rerata industri yang hanya 24,06%. BPR Tata Asia pun berhasil mendapat predikat “sangat bagus” pada rating ini dengan total skor 99,05%. MAS

2.       BPR Nusumma Jatim

MENEMPATI posisi kedua, BPR Nusumma Jatim asal Kabupaten Jombang meraih predikat “sangat bagus” dengan total skor 98,48%. Bank rural ini juga berhasil menampilkan kinerja intermediasi yang menawan. Kredit dan DPK masing-masing tumbuh 51,97% dan 56,65% menjadi Rp542,90 miliar dan Rp407,66 miliar. BPR Nusumma Jatim juga mampu menjaga efisiensi dengan baik, tecermin dari NIM di posisi 13,16% dan rasio BO/PO sebesar 63,98%. Alhasil, laba bersihnya tumbuh 173,65% menjadi Rp46,47 miliar. MAS

3.       BPR Bank Djoko Tingkir Perseroda

ANGKAT topi untuk Titon Darmasto, Direktur Utama BPR Bank Djoko Tingkir Perseroda, beserta jajarannya karena mampu membawa bank ini bertengger di posisi ketiga di kelompok ini. BPR asal Kabupaten Sragen ini menyabet predikat “sangat bagus” dengan total skor 98,15%. Efisiensi BPR Bank Djoko Tingkir Perseroda juga terjaga dengan baik, tecermin dari rasio NIM 10,15% dan BO/PO 75,51%. Selain itu, BPR ini mampu mencatat rentabilitas yang solid. ROA dan ROE-nya masing-masing tercatat 3,39% dan 32,63% dengan pertumbuhan laba bersih 26,03% menjadi Rp11,99 miliar. MAS

4.       BPR Azaz Andifa

BPR Azaz Andifa asal Kabupaten Banjar menempati posisi keempat dengan total skor 97,52% dengan predikat “sangat bagus”. Kualitas aset bank rural ini merupakan salah satu yang terbaik di kelompok ini. Kredit tumbuh 5,88% menjadi Rp539,68 miliar. Yang mengagumkan, rasio NPL gross BPR ini amat rendah, yakni hanya 0,05%. Likuiditas BPR Azaz Andifa juga terlihat kuat. DPK-nya tumbuh 15,68% ke posisi Rp580,99 miliar dengan rasio LDR 93,24%. MAS

5.       BPR BKK Blora Perseroda

DENGAN total skor 97,52%, BPR BKK Blora mantap menduduki peringkat kelima dan menyabet predikat “sangat bagus”. Kinerja BPR asal Kabupaten Blora ini tercatat positif pada 2025, salah satunya tecermin dari pertumbuhan fungsi intermediasi yang berjalan baik. Kredit dan DPK BPR ini tumbuh double digit sebesar 28,87% dan 11,00% menjadi Rp405,23 miliar dan Rp437,01 miliar. Pertumbuhan itu dibarengi pula dengan rasio ROA dan ROE masing-masing di posisi 4,54% dan 39,36%, dengan laba bersih tumbuh 22,53% menjadi Rp16,51 miliar. MAS

6.       BPR Dana Raya

 

MENUTUP jajaran enam besar, ada BPR Dana Raya yang dipimpin Hanny Mamoto selaku direktur utama. BPR asal Kota Manado ini memiliki permodalan yang solid, terlihat dari CAR sebesar 25,04% dengan modal inti Rp108,14 miliar atau tumbuh 14,24%. Kualitas aset BPR Dana Raya juga terjaga dengan baik. Selain pertumbuhan kredit yang mencapai 48,75% menjadi Rp625,71 miliar, NPL gross BPR ini terjaga di level 0,89%. Dalam rating kali ini, BPR Dana Raya mencetak total skor 97,43% dengan predikat “sangat bagus”. MAS

 

RATING 421 BPR VERSI INFOBANK 2026 - BPR BERASET RP250 MILIAR SAMPAI DENGAN DI BAWAH RP500 MILIAR

1.       BPR Mitratama Arthabuana

KOKOH DI PUNCAK

DENGAN total skor 99,23% dan predikat “sangat bagus”, BPR Mitratama Arthabuana mengokohkan diri sebagai jawara di kelompok BPR dengan aset Rp250 miliar sampai dengan di bawah Rp500 miliar. Bank rural asal Kabupaten Banjar ini mengungguli 98 BPR lain di kelompok yang sama – sebanyak 48 di antaranya juga memperoleh predikat bergengsi itu.

Dipimpin Anton Purwanto selaku direktur utama, kinerja intermediasi BPR Mitratama Arthabuana apik sepanjang 2025. Kredit dan DPK berada di posisi Rp330,86 miliar dan Rp325,98 miliar, tumbuh masing-masing 38,19% dan 48,79% secara year on year (yoy). Angka ini jauh di atas pertumbuhan industri, masing masing 5,52% dan 5,37%.

Pertumbuhan kredit berjalan beriringan dengan NPL gross sebesar 2,54%, mencerminkan kemampuan BPR ini dalam mengelola aset secara sehat. Di lain sisi, pertumbuhan DPK dibarengi dengan rasio LDR 103,21%, menunjukkan bahwa likuiditas bank ini solid. Tak hanya itu, BPR Mitratama Arthabuana juga efisien dalam mengelola keuangan, terbaca dari BO/PO sebesar 63,73% dan NIM 10,85%.

Permodalan BPR ini pun terlihat kuat, dengan rasio CAR sebesar 49,86%. Sementara, dari sisi rentabilitas, ROA maupun ROE terjaga dengan baik di posisi 5,43% dan 48,42%. Dengan kinerja seluruh aspek keuangan yang apik itu, BPR Mitratama Arthabuana mampu mencatat pertumbuhan laba bersih 58,25% dari Rp10,39 miliar menjadi Rp16,44 miliar. MAS

2.       BPR Citra Dana Mandiri

POSISI kedua pada kelompok ini ditempati BPR Citra Dana Mandiri. Dipimpin Irawan Edyson sebagai direktur utama, BPR asal Kota Bandar Lampung ini meraih total skor 99,20% dengan predikat “sangat bagus”. Efisiensi dan rentabilitas BPR Citra Dana Mandiri menjadi salah satu yang terbaik di kelompok ini. Dari aspek efisiensi, bank ini mencatat NIM sebesar 12,56% serta BO/PO 56,94%. Rentabilitas BPR ini juga solid, terlihat dari ROA dan ROE masing-masing 8,11% dan 281,48%. Semen tara, laba bersih melejit 35,10% ke posisi Rp27,02 miliar. MAS

3.       BPR Artatama Sejahtera

DIPIMPIN Murni Pandiangan selaku direktur utama, BPR Artatama Sejahtera kembali berhasil menggondol predikat “sangat bagus”. Kali ini, bank rural yang berbasis di Jakarta Selatan ini mengumpulkan total skor 99,10%. BPR Artatama Sejahtera memiliki permodalan yang kokoh. Cerminannya adalah pertumbuhan modal inti 61,61% menjadi Rp22,84 miliar serta CAR sebesar 21,29%. Kinerja intermediasinya juga sangat membanggakan. Kredit dan DPK melonjak triple digit sebesar 119,00% dan 141,73% ke angka Rp149,00 miliar dan Rp193,77 miliar. MAS

4.       BPR Surya Artha Utama Perseroda

BPR Surya Artha Utama Perseroda menduduki peringkat keempat. Renny Wulandari, Direktur Utama BPR Surya Artha Utama Perseroda dan jajarannya mampu membawa bank asal Kota Surabaya ini berkinerja membanggakan dengan total skor 98,90% dan predikat “sangat bagus”. Pa da 2025, BPR ini mampu menjaga likuiditas yang ample. DPK tumbuh 40,15% menjadi Rp143,48 miliar, dengan LDR terjaga di 157,09%. Rentabilitas BPR Surya Artha Utama juga bagus. ROA dan ROE masing-masing sebesar 2,66% dan 16,43%, dan pertumbuhan laba bersih 34,62% menjadi Rp6,61 miliar. MAS

5.       BPR Bank Sumedang (Perumda)

DARI waktu ke waktu, BPR Bank Sumedang konsisten menjaga kinerja di level tertinggi. Kali ini, Yanti Krisyana Dewi, Direktur Utama BPR Bank Sumedang dan jajarannya mampu mencatat total skor 98,87% dengan predikat “sangat bagus”. Bank rural dari Kabupaten Sumedang ini mampu mengontrol efisiensi dengan baik, terlihat dari rasio BO/PO dan NIM yang terjaga di level 69,67% dan 11,12%. ROA dan ROE yang masing-masing di angka 6,57% dan 30,46% berdampak terhadap pening katan laba bersih perusahaan sebesar 87,99% menjadi Rp19,68 miliar. MAS

6.       BPR Christa Jaya Perdana

KINERJA BPR Christa Jaya Perdana asal Kota Kupang sepanjang 2025 positif. Dari sisi fungsi intermediasi, kredit dan DPK masing-masing tumbuh di atas rata-rata industri, yakni 13,33% dan 5,57% ke angka Rp238,91 miliar dan Rp200,74 miliar. Dampaknya, laba bersih naik 42,02% menjadi Rp7,74 miliar. Penguatan permodalan terus dilakukan BPR ini. Hal itu terlihat dari CAR yang berada di posisi 42,34% dan modal inti yang meningkat 8,59% menjadi Rp51,77 miliar. BPR Christa Jaya Perdana mendapat total skor 98,68% dengan predikat “sangat bagus”. MAS

 

RATING 421 BPR VERSI INFOBANK 2026 - BPR BERASET RP100 MILIAR SAMPAI DENGAN DI BAWAH RP250 MILIAR

1.       BPR Hasamitra Jawa Barat

KUAT DI RENTABILITAS, LIKUIDITAS, DAN EFISIENSI

TERDAPAT 241 BPR yang mengisi kelompok BPR beraset Rp100 miliar sampai dengan di bawah Rp250 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak 113 BPR di antaranya meraih predikat “sangat bagus” dalam rating BPR tahun ini. BPR Hasamitra Jawa Barat menjadi BPR nomor wahid di kelompok ini dengan total skor nyaris sempurna, 99,54%.

Prestasi membanggakan BPR asal Kota Depok, Jawa Barat, ini meru pakan buah dari kinerja cemerlang di 2025. Berdasarkan data rating, BPR Hasamitra Jawa Barat mendapat nilai sempurna pada tiga dari lima aspek penilaian, yakni rentabilitas, likuiditas, dan efisiensi.

Indikator kinerja keuangan BPR yang dipimpin Ketut Sugiata sebagai direktur utama ini tumbuh positif dan berkualitas oke. Biro Riset Infobank (birI) mencatat, BPR ini membukukan laba bersih Rp8,45 miliar pada 2025 atau melonjak 59,29%, dari Rp5,30 miliar pada 2024. Positifnya kinerja laba ditopang fungsi intermediasi yang berjalan optimal. Kredit dan DPK masing masing tumbuh 37,93% menjadi Rp186,91 miliar dan 11,27% menjadi Rp140,92 miliar. Angka pertumbuhan laba, kredit, maupun DPK BPR ini jauh di atas rata-rata industri BPR nasional.

Di sisi kualitas aset, BPR yang per akhir 2025 beraset Rp233,06 miliar atau tumbuh 30,66% ini terjaga dengan baik. BPR ini mampu menekan NPL nett dari 0,44% menjadi 0,05%. BPR ini juga kian efisien. BO/PO turun dari 75,48% menjadi 67,25%. Sementara, ROA dan ROE masing 5,33% dan 31,06%. AUS

2.       BPR Bobato Lestari

BPR Bobato Lestari menjadi salah satu BPR berpre dikat “sangat bagus” di kelompok ini dengan total skor 99,46%. BPR yang berkantor pusat di Kota Ternate, Maluku Utara, ini tampil mengesankan berkat lonjakan profitabilitas dan efisiensi yang kuat. Laba BPR ini meroket 101,47% menjadi Rp20,66 miliar pada 2025. Pertum buhan laba ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih serta pengelolaan biaya yang kian efisien. Tecermin dari BO/PO yang turun signifikan dari 61,06% menjadi 45,71%, bahkan merupakan yang terendah di kelompoknya. AUS

3.       BPR Agra Dhana

BPR Agra Dhana asal Kota Batam berhasil menunjukkan kemampuan menjaga kualitas aset di tengah pertumbuhan bisnis yang cukup agresif. Tahun lalu, rasio NPL BPR ini terjaga di level 0,07%. Capaian itu membuat kualitas kredit BPR ini tercatat sebagai salah satu yang terbaik di kelompoknya. Pada saat yang sama, ekspansi bisnis tetap berjalan positif. Penyaluran kredit tumbuh 32,69% menjadi Rp149,84 miliar, dan DPK meningkat 35,88% menjadi Rp155,62 miliar. Pertumbuhan itu mendorong aset BPR ini naik 36,01% menjadi Rp180,37 miliar. BPR Agra Dhana meraih total skor 99,40%. AUS

4.       BPR Artha Sarana Abadi

BPR Artha Sarana Abadi, dengan aset tumbuh 160,00% pada 2025 menjadi Rp214,98 miliar, mengisi peringkat keempat dengan total skor 99,33%. BPR asal Bekasi ini mencatat pertumbuhan bisnis yang sangat agresif tahun lalu. Laba bersihnya melonjak 200,27% menjadi Rp3,50 miliar per akhir 2025, dari Rp1,17 miliar tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi salah satu yang tertinggi, dan jauh di atas rata-rata industri BPR nasional. Pertumbuhan laba ditopang ekspansi kredit yang meningkat 117,10% menjadi Rp126,09 miliar. AUS

5.       BPR Polatama Kusuma

PREDIKAT “sangat bagus” diraih BPR Polatama Kusuma dengan total skor 99,26%. BPR ini unggul di aspek penilaian permodalan, rentabilitas, likuiditas, dan efisiensi. Di 2025, BPR asal Madiun, Jawa Timur, ini mampu meningkatkan profitabilitas secara signifikan. Penyaluran kredit naik 21,88% menjadi Rp103,63 miliar pada 2025. Ekspansi kredit ini menopang laba tumbuh 66,74% menjadi Rp5,08 miliar. Efisiensi yang makin baik terlihat dari nilai BO/PO yang lebih rendah dari industri. Hal ini berdampak positif terhadap ROE di posisi 34,60%. AUS

6.       BPR Gema Pesisir

BPR Gema Pesisir menunjukkan kinerja yang solid di 2025 dan meraih predikat “sangat bagus” dengan total skor 99,21%. BPR asal Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, ini menonjol berkat kemampuannya menjaga profitabilitas sejalan dengan kualitas aset dan likuiditas yang tetap sehat. Salah satu kekuatan utama BPR ini terlihat dari peningkatan NIM dari 9,12% pada 2024 menjadi 12,18%. Sementara, NPL-nya turun dari 1,66% menjadi 0,50%. Likuiditasnya tetap terjaga dengan baik, tecermin dari LDR sebesar 85,65%. BPR ini meraup laba Rp2,11 miliar, tumbuh 20,59%. AUS

 

RATING 421 BPR VERSI INFOBANK 2026 - BPR BERASET RP50 MILIAR SAMPAI DENGAN DI BAWAH RP100 MILIAR

1.       BPR Pelangi

Cetak Skor Sempurna

BPR Pelangi menjadi yang terbaik di kelompok BPR beraset Rp50 miliar hingga di bawah Rp100 miliar. Dari 301 BPR yang menghuni kelompok ini, 108 BPR berhasil meraih predikat “sangat bagus”, termasuk BPR Pelangi asal Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. BPR Pelangi kokoh di puncak dengan total skor sempurna, 100%.

Capaian itu bukanlah didapat secara instan. Di 2025, BPR Pelangi menunjukkan performa yang nyaris tanpa cela di berbagai indikator utama penilaian. Fungsi intermediasi berjalan efektif dengan pertumbuhan kredit sebesar 12,70% menjadi Rp40,80 miliar. Yang menarik, ekspansi kredit tidak mengorbankan kualitas aset. NPL gross BPR ini tercatat 3,78%, jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata industri yang 11,75%.

Kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan mitigasi risiko menjadi salah satu kekuatan utama BPR Pelangi. Di saat banyak BPR menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas portofolio kredit, BPR ini justru mampu mempertahankan tingkat kesehatan kredit yang sangat baik. Hal ini menunjukkan disiplin manajemen risiko sekaligus kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat.

Dari sisi pendanaan dan permodalan juga menunjukkan peningkatan. DPK tercatat tumbuh 7,76% menjadi Rp31,34 miliar. Sementara, modal inti meningkat 11,51% menjadi Rp15,75 miliar. BPR Pelangi mengantongi laba bersih Rp8,39 miliar atau naik 24,04%. ASP

2.       BPR Arta Pundi Mekar

BPR Arta Pundi Mekar membuktikan bahwa konsistensi adalah kunci untuk tetap unggul. Bank asal Kota Bekasi ini berhasil membukukan total skor 99,64% dan masuk jajaran elite BPR terbaik di kelompoknya. Fungsi intermediasi BPR ini berjalan mulus di 2025. Kredit tumbuh 8,91% menjadi Rp62,09 miliar dan DPK naik 8,11% menjadi Rp42,36 miliar. BPR ini meraup laba bersih Rp2,05 miliar, melonjak 69,54%. Di lain sisi, modal inti yang bertambah 18,27% ke angka Rp13,27 miliar menjadi bantalan kuat untuk menopang pertumbuhan ke depan. ASP

3.       BPR Bahteramas Kolaka Perseroda

NAMA BPR Bahteramas Kolaka Perseroda kian diperhitungkan setelah mencetak skor 99,58% dan menembus jajaran tiga terbaik di kelompok ini. Di 2025, BPR yang berbasis di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, ini tampil agresif tapi tetap terukur. Kreditnya memelesat 17,53% secara tahunan menjadi Rp46,49 miliar, sementara DPK tumbuh 18,15% menjadi Rp32,39 miliar dan laba bersih meningkat 32,01% menjadi Rp4,65 miliar. Performa yang merata di hampir seluruh indikator menjadikan BPR ini sebagai salah satu bintang baru di industri BPR nasional. ASP

4.       BPR Karya Parhuta

BPR Karya Parhuta menduduki peringkat keempat dengan total skor 99,42% dengan predikat “sangat bagus”. Di bawah kepemimpinan Muhammad Ras Muis sebagai direktur umum, kinerja BPR ini mengagumkan sepanjang 2025. Kreditnya tumbuh 31,80% menjadi Rp38,35 miliar, diikuti lonjakan DPK sebesar 34,56% menjadi Rp19,40 miliar. Imbasnya, laba meningkat signifikan, yakni 52,25% menjadi Rp1,38 miliar. Capaian ini menjadi bukti bahwa semangat membangun ekonomi daerah dapat berjalan beriringan dengan kinerja bisnis yang solid. ASP

5.       BPR Bandung Kidul

DI posisi kelima, BPR Bandung Kidul yang berbasis di Kabupaten Bandung, meraih total skor 99,37%. Sepanjang 2025, aset BPR ini meningkat 24,13% menjadi Rp70,43 miliar, menunjukkan akselerasi bisnis yang kuat. Sementara, kredit tumbuh 7,81% menjadi Rp48,83 miliar. Dari sisi pendanaan, DPK meningkat 10,85% menjadi Rp45,41 miliar, menandakan tingkat kepercayaan nasabah yang terus terjaga. Semua capaian itu menunjukkan kemampuan manajemen dalam membaca peluang pasar sekaligus menjaga momentum pertumbuhan secara berkelanjutan. ASP

6.       BPR Sumberdhana Anda

MELENGKAPI enam besar terbaik di kelompok ini, ada BPR Sumberdhana Anda yang kinerjanya pada 2025 menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas. Kredit BPR asal Tulungagung, Jawa Timur, ini tumbuh 7,52% secara tahunan menjadi Rp57,17 miliar. Sementara, DPK-nya tumbuh 4,88% menjadi Rp65,98 miliar. Alhasil, labanya melonjak 43,69% menjadi Rp6,69 miliar. Total asetnya pun naik dua digit 10,07% menjadi Rp88,39 miliar. Kinerja itu mencerminkan kemampuan manajemen dalam menjaga ritme pertumbuhan secara konsisten. ASP

 

RATING 421 BPR VERSI INFOBANK 2026 - BPR BERASET RP25 MILIAR SAMPAI DENGAN DI BAWAH RP50 MILIAR

1.       BPR Bukit Tanjung

Kampiun Berkat Kinerja Menawan

BPR Bukit Tanjung menjadi juara di kelompok BPR beraset Rp25 miliar hingga di bawah Rp50 miliar. Di kelompok yang dihuni 326 BPR tersebut, kinerja BPR asal Kabupaten Badung, Bali, ini sangat impresif. Dalam rating BPR 2026, BPR Bukit Tanjung meraih predikat “sangat bagus” dengan total skor nyaris sempurna, yakni 99,92%.

Capaian itu menjadi yang tertinggi di antara 105 BPR yang memperoleh predikat “sangat bagus” pada kelompok aset yang sama. Raihan nilai yang hampir sempurna itu adalah berkat kinerja yang sangat solid sepanjang tahun buku 2025.

Di bawah kepemimpinan Direktur Utama I Kadek Swandana Aristyawan, BPR Bukit Tanjung mencetak nilai maksimal di hampir seluruh aspek penilaian. Di sebelas indikator yang menjadi dasar rating, mulai dari permodalan, kualitas aset, profitabilitas, likuiditas, hingga efisiensi, BPR ini menunjukkan performa yang sangat kuat dan konsisten.

Fungsi intermediasi bank ini juga berjalan sangat baik. Penyaluran kredit tumbuh 73,83% secara tahunan menjadi Rp21,03 miliar, jauh melampaui rata-rata industri BPR yang tercatat 5,52%. Yang menarik, ekspansi kredit itu diiringi kualitas aset yang sangat terjaga, tecermin dari NPL yang hanya 0,01%.

Pada 2025, BPR Bukit Tanjung membukukan laba Rp721,76 juta, melonjak 471,60% dari tahun sebelumnya Rp126 juta. Pertumbuhan ini jauh melampaui rata-rata pertumbuhan laba industri yang hanya 24,06%. SW

2.       BPR Bantoru Perintis

BPR Bantoru Perintis mencatatkan nilai sempurna di hampir semua aspek penilaian. Terdapat empat aspek penilaian dengan nilai sempurna yang diraih BPR dari Kota Depok ini, yakni permodalan, rentabilitas, likuiditas, dan efisiensi. BPR yang pada 2025 memiliki total aset Rp33 miliar ini berhasil menyalurkan kredit sebesar Rp24,19 miliar atau tumbuh 16,41% secara tahunan, dengan NPL hanya 0,41%. Sementara, DPK Rp12,32 miliar atau tumbuh 14,85%. BPR yang dinakhodai Lynda Uliasi Pardede ini meraup laba bersih Rp2,18 miliar, tumbuh 32,36% di 2025. SW

3.       BPR Anugerahdharma Yuwana Bondowoso

BPR Anugerahdharma Yuwana Bondowoso beraset Rp42,76 miliar di 2025 atau tumbuh 11,38%. Labanya Rp2,19 miliar atau ter bang 41,77%. Naiknya laba ditopang DPK yang tumbuh 7,75% menjadi Rp32,02 miliar dan kredit yang naik 10,61% menjadi Rp26,17 miliar. ROA-nya naik dari 5,97% di 2024 menjadi 6,30%. Sementara, ROE meningkat dari 23,19% ke 32,65%. CAR BPR yang dipimpin Wenty Susilowati sebagai direktur utama ini tercatat 44,59% dengan BO/PO di level 65,47%. BPR Anugerah dharma Yuwana Bondowoso mendapatkan nilai sempurna di sejumlah aspek penilaian. SW

4.       BPR Nusantara Bona Pasogit 34

 BPR Nusantara Bona Pasogit 34 berkinerja apik selama 2025. BPR ini membukukan total aset Rp49,32 miliar atau tumbuh 21,51% secara tahunan. Pertumbuhan total aset itu didorong pertumbuhan DPK sebesar 25,94% ke Rp38,29 miliar. BPR yang menyalurkan kredit Rp30,24 miliar di 2025 ini mencetak laba Rp1,25 miliar atau naik 64,07%. BO/PO bank rural ini terjaga di level 84,98%, turun dari 87,01% di 2024. Berkat kinerja keuangan yang apik itu, BPR asal Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara, ini berhak menyandang predikat “sangat bagus” dengan total skor 99,36%. SW

5.       BPR Artha Jaya Mandiri

BPR Artha Jaya Mandiri berkinerja ciamik sepanjang 2025. Laba bersih Rp1,61 miliar atau tumbuh 132,15% secara tahunan di 2025. Perolehan laba ditopang pertumbuhan kredit dan DPK masing-masing 20,00% dan 13,65% men jadi Rp25,16 miliar dan Rp19,94 miliar. Permodalan BPR asal Kota Tasikmalaya ini pun sangat solid dengan CAR di level 32,57%. BPR yang dipimpin Andy Pamungkas selaku direktur utama ini meraih total skor 99,28% dengan nilai sempurna di empat aspek penilaian, yakni permodalan, rentabilitas, likuiditas, dan efisiensi. SW

6.       BPR Pundi Dana Mandiri

TAHUN 2025 menjadi tahun turn around bagi BPR Pundi Dana Mandiri. BPR ini mengantongi laba Rp848,58 juta atau mengembang 4.874,23% dari rugi Rp18 juta di 2024. Asetnya tercatat naik 36,76% menjadi Rp38,27 miliar di 2025. Sedangkan, modalnya tumbuh 12,16% ke Rp7,65 miliar. ROA dan ROE-nya pun masing-masing naik ke 2,69% dan 10,22% dari sebelumnya -0,08% dan -0,21%. Dengan capaian cemerlang itu, BPR asal Kota Jambi, Provinsi Jambi, ini berhak menyandang predikat “sangat bagus” dengan total skor 99,25%. Sebelumnya berpredikat “cukup bagus”. SW

Metode yang digunakan Biro Riset Infobank pada rating BPR ini adalah metode kuantitatif berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di website Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jangka waktu pengunduhan laporan keuangan BPR dari OJK ialah Maret sampai dengan awal Juni 2026.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juli 2026

Rp 65.000

BELI