Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Jawara Baru yang Makin Efisien

KBMI 2 aset Rp50 triliun ke atas dihuni 10 bank. Sebanyak tiga bank berhak atas predikat “sangat bagus” berkat kinerja apik mereka di 2025. Bank KEB Hana Indonesia memimpin barisan terdepan, diikuti Bank Mandiri Taspen dan Bank Jateng.

Oleh Ari Astriawan
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

1. Bank KEB Hana Indonesia

Jawara Baru yang Makin Efisien

KBMI 2 aset Rp50 triliun ke atas dihuni 10 bank. Sebanyak tiga bank berhak atas predikat “sangat bagus” berkat kinerja apik mereka di 2025. Bank KEB Hana Indonesia memimpin barisan terdepan, diikuti Bank Mandiri Taspen dan Bank Jateng.

Oleh Ari Astriawan

DARI 10 bank di KBMI 2 aset Rp50 triliun ke atas, sembilan bank yang dirating. Satu bank tidak dirating karena laporan keuangannya baru satu periode saja. Posisi teratas di kelompok ini menjadi milik Bank KEB Hana Indonesia (Hana Bank). Bank berdarah Korea ini berhasil menjadi yang terbaik di kelompoknya berkat raihan total skor 90,40%.

Dalam beberapa tahun belakangan, Hana Bank konsisten mendapatkan predikat “sangat bagus”. Capaian itu tak lepas dari keberhasilan bank ini menjaga laju mesin bisnis. Di tengah kondisi ekonomi yang serba tidak pasti, Hana Bank tetap menjaga pertumbuhan. Tidak agresif memang. Tapi, stabil dan berkualitas.

Di 2025, Hana Bank membukukan laba bersih Rp611,00 miliar, naik 17,63% yoy dari Rp519,43 miliar di tahun sebelumnya. Kenaikan laba bank ini jauh melampaui ratarata industri yang hanya tumbuh 2,74%.

Perolehan laba bank yang dinakhodai Yung Ryul Ko sebagai direktur utama ini disokong bisnis yang tumbuh positif, dibarengi dengan operasional yang makin efisien. Biro Riset Infobank (birI) mencatat, Hana Bank menyalurkan kredit sebesar Rp40,14 triliun di 2025, naik 8,14%. Ekspansi kredit dibarengi dengan prinsip kehatihatian yang sangat baik sehingga rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga sangat rendah, di level 0,68% (gross) dan 0,24% (net).

Sementara, DPK tumbuh 8,36% dari Rp26,93 triliun menjadi Rp29,18 triliun. Modal inti Hana Bank juga makin kuat, naik 6,72% menjadi Rp11,56 triliun. Hana Bank mengakhiri 2025 dengan total aset Rp52,57 triliun atau meningkat 4,49%.

Fungsi intermediasi yang tumbuh mendongkrak pendapatan bunga Hana Bank menjadi Rp3,35 triliun atau naik 2,01%. Sedangkan, beban bunga naik 2,38% menjadi Rp1,46 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih yang dikantongi Hana Bank tumbuh 1,72% menjadi Rp1,88 triliun. Adapun total pendapatan operasional bank ini naik 2,27% menjadi Rp3,66 triliun. Sebaliknya, total biaya operasional berhasil ditekan turun 2,28% menjadi Rp2,88 triliun.

Hana Bank juga tampak makin efisien dalam menjalankan operasional bisnisnya, tecermin dari rasio BO/PO yang turun dari 82,25% menjadi 78,59%. Sementara, NIM terjaga di angka 3,96%. Tak heran, meski bisnis tumbuh moderat, laba bank ini tetap meningkat signifikan, melampaui perolehan ratarata industri.

Momentum kinerja positif Hana Bank terus berlanjut. Di kuartal pertama 2026, bank ini berhasil mengantongi laba bersih Rp200,78 miliar, tumbuh 23,84% yoy. Capaian itu terhitung luar biasa, mengingat kondisi ekonomi yang kian menantang. Tahun ini, Hana Bank mengincar laba bersih Rp650,11 miliar.

“Kami melihat masih ada ruang pertumbuhan ke depannya, baik dari sisi penyaluran kredit maupun penghimpunan dana,” ujar Direktur Branch Business Hana Bank, Hendri Setiawan, dalam media gathering, Mei lalu.

2. Bank Mandiri Taspen

KINERJA Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) di 2025 pantas mendapat rapor biru. Sejumlah indikator keuangan pentingnya tumbuh solid. Bank yang sejak awal Desember 2025 dipimpin Panji Irawan sebagai direktur utama ini mencatatkan pertumbuhan kredit 9,23% yoy, dari Rp46,26 triliun menjadi Rp50,53 triliun. Ekspansi kredit bank ini diimbangi dengan kualitas yang terjaga. Rasio kredit bermasalah (NPL) grossnya tercatat hanya 0,63%, jauh di bawah ratarata industri yang berada di level 2,03%.

Pertumbuhan kredit Bank Mantap juga dibarengi dengan likuiditas yang mumpuni. DPKnya naik 12,71% dari Rp48,82 triliun menjadi Rp55,03 triliun. Anak perusahaan Bank Mandiri ini pun mengakhiri 2025 dengan raihan laba bersih Rp1,58 triliun. Sedangkan, total asetnya mengembang 10,25% dari Rp66,23 triliun menjadi Rp73,02 triliun. Pertumbuhan asetnya pun lebih tinggi dibandingkan dengan ratarata perbankan nasional yang tercatat tumbuh 9,51%.

Modal Bank Mantap juga kian tebal. Modal intinya mengalami kenaikan 22,68% menjadi Rp9,16 triliun. Bank ini juga terbukti memiliki tata kelola yang makin baik. Peringkat komposit profil risikonya 2, yang mencerminkan potensi risiko dikelola dengan baik. Operasionalnya pun makin efisien, tecermin dari rasio BO/PO yang hanya 70,85%, di bawah rerata industri yang sebesar 72,96%. Begitu juga NIM yang mencapai 5,42%, di atas ratarata perbankan nasional yang tercatat 4,72%.

Di rating ini, Bank Mantap mendapat total skor 89,81% dan menjadi runner-up di kelompoknya. Bank ini juga berhasil mempertahankan predikat “sangat bagus” selama 10 tahun beruntun. Ini sekaligus mempertegas konsistensi Bank Mantap dalam menjaga momentum kinerja positif di tengah pelbagai dinamika yang dihadapi industri perbankan satu dekade terakhir. AA

3. Bank Jateng

KINERJA laba menjadi salah satu yang paling menonjol dari performa bisnis Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) di 2025. Bank yang mengalami transisi kepemimpinan dari Irianto Harko Saputro ke Bambang Widyatmoko sebagai direktur utama pada Februari 2026 ini mengantongi laba bersih Rp1,42 triliun, tumbuh 11,58% secara tahunan dari Rp1,27 triliun di 2024. Pertumbuhan laba ini di atas ratarata industri yang tercatat 2,74%.

Dari sisi rentabilitas, kinerja Bank Jateng terlihat cukup menonjol dibandingkan dengan peersnya. Ini antara lain tecermin dari rasio ROA dan ROE yang masing masing 1,98% dan 13,91%. Sementara, NIM terjaga di posisi 5,30%.

Dari sisi intermediasi, Bank Jateng mencatatkan pertumbuhan di level konservatif. Kredit tumbuh 0,36% dari Rp63,98 triliun menjadi Rp64,21 triliun. Sedangkan, DPK naik 8,87% dari Rp73,98 triliun menjadi Rp80,54 triliun. Kenaikan DPK ditopang dana murah (CASA) yang memelesat 7,51% menjadi Rp38,76 triliun. Rasio dana murah terhadap total DPK pun menjadi 48,12%. Asetnya juga makin gemuk, tumbuh 6,00% secara tahunan dari Rp94,40 triliun menjadi Rp100,07 triliun.

Berkat kinerja bisnis yang apik itu, dalam rating kali ini Bank Jateng meraih total skor 81,55% dan berhak atas predikat “sangat bagus”. Capaian ini juga lebih baik dibandingkan dengan rating sebelumnya, yang hanya mendapatkan predikat “bagus” saja.

Bambang dan jajarannya berhasil melanjutkan kinerja positif yang dibukukan pada 2025. Di kuartal pertama 2026, Bank Jateng tercatat mengantongi laba Rp328,34 miliar. Kinerja intermediasinya juga tetap tumbuh solid. Bank Jateng masih mempunyai ruang besar untuk terus tumbuh. Bank ini juga terus meningkatkan kapabilitas digital demi memperkuat positioning dan daya saingnya di market. AA

Jawara Baru yang Makin Efisien

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juli 2026

Rp 65.000

BELI