Praktik predatory pricing belum hilang dari industri asuransi. Kerasnya pertarungan memperebutkan nasabah membuat sejumlah perusahaan asuransi mengeluarkan jurus tarif murah, yang efek pahitnya justru mengorbankan keuntungan.
Sumber: Istimewa
PRAKTIK predatory pricing alias perang tarif masih jadi tantangan di industri asuransi Indonesia. Di tengah kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih dan daya beli masyarakat yang masih menghadapi tekanan, persaingan memperebutkan nasabah dan bisnis baru mendorong sebagian perusahaan asuransi menawarkan premi dengan tarif yang lebih murah. Akibatnya, kompetisi tak lagi semata-mata bertumpu pada kualitas layanan, kapasitas penjaminan risiko, ataupun kekuatan permodalan, melainkan pada siapa yang mampu memberikan harga paling rendah.
Predatory pricing sendiri bisa diartikan sebagai strategi menawarkan premi yang sangat murah – bahkan di bawah tingkat yang seharusnya secara aktuaria – dengan tujuan merebut nasabah dan menyingkirkan pesaing dari pasar. Dengan strategi ini, ada kalanya perusahaan asuransi sengaja mengorbankan keuntungan.