Bank DBS Indonesia mengukuhkan diri sebagai yang terbaik di kelasnya. Dari tujuh bank di kelompok KBMI 3 aset di bawah Rp200 triliun, sebanyak enam bank meraih predikat “sangat bagus”, termasuk Bank UOB Indonesia dan Bank Mega yang kini “sangat bagus”.
Sumber: Istimewa
BBank DBS Indonesia
Konsisten Terbaik di Kelasnya
Bank DBS Indonesia mengukuhkan diri sebagai yang terbaik di kelasnya. Dari tujuh bank di kelompok KBMI 3 aset di bawah Rp200 triliun, sebanyak enam bank meraih predikat “sangat bagus”, termasuk Bank UOB Indonesia dan Bank Mega yang kini “sangat bagus”.
Oleh Ari Astriawan
BANK DBS Indonesia lagi lagi mengamankan posisi teratas di kelompok KBMI 3 aset di bawah Rp200 triliun dalam rating bank versi Infobank. Berbekal total skor 91,84%, Bank DBS Indonesia berhasil mempertahankan posisi terbaik di kelasnya dalam beberapa tahun belakangan.
Menjaga konsistensi itu bukanlah pekerjaan mudah. Maka, sudah sepantasnya mereka yang berhasil menjaganya mendapatkan apresiasi lebih. Dari tujuh bank yang menghuni kelompok ini, ada enam bank yang meraih predikat “sangat bagus”. Jumlah peraih predikat prestisius itu bertambah dibandingkan dengan rating tahun sebelumnya, yang hanya empat bank.
Bank DBS Indonesia menjadi kampiun, diikuti oleh Bank UOB Indonesia dan Bank Mega. Rapor kinerja keuangan Bank DBS Indonesia memang biru di 2025. Sejumlah indikator keuangan tumbuh positif. Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birl), bank yang dikomandani Lim Chu Chong sebagai presiden direktur ini mengantongi keuntungan bersih Rp1,72 triliun pada 2025. Pencapaian itu meningkat 15,76% year on year (yoy), dari Rp1,49 triliun di 2024.
Di tengah tekanan margin yang dialami industri perbankan, Bank DBS Indonesia terbilang berhasil mengelola beban, sehingga profitabilitas tetap tumbuh solid. Pertumbuhan laba bersihnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ratarata perbankan nasional yang naik 2,74%.
Pencapaian laba bank ini sendiri disokong fungsi intermediasi yang tetap tumbuh. Kredit dipacu hingga naik 10,24% secara tahunan, dengan realisasi kredit Rp81,28 triliun. Laju pertumbuhan kreditnya juga jauh lebih cepat dibandingkan dengan rerata industri yang sebesar 9,39% secara tahunan.
Sementara, dari sisi likuiditas, dana pihak ketiga (DPK) mengembang 10,43% dari Rp89,19 triliun menjadi Rp98,50 triliun. Pertumbuhan DPK juga disokong dana murah (CASA) yang naik 20,65% menjadi Rp47,96 triliun. Alhasil, komposisi DPK berubah menjadi lebih baik. Pun dengan rasio dana murah yang meningkat dari 44,56% menjadi 48,69%.
Lim Chu Chong dalam keterangan resminya mengatakan, profitabilitas Bank DBS Indonesia didorong momentum bisnis yang stabil dan pendapatan operasional yang lebih kuat. Hal itu antara lain terefleksi dari pendapatan bunga bersih yang meningkat 2,50% atau menjadi Rp6,15 triliun.
Bank beraset Rp138,90 triliun per akhir 2025 ini juga kuat secara fundamental. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) terjaga di 22,22%, jauh di atas threshold. Dengan dukungan modal yang kuat, bank ini mempunyai kemampuan untuk terus melakukan ekspansi bisnis. Tentu saja dengan tetap menerapkan prinsip kehatihatian dan tata kelola yang baik. Laba RP1,72 T s15,76%
“Dalam menjalankan bisnis, Bank DBS Indonesia tak hanya berfokus pada pertumbuhan, tapi juga pada dampak positif untuk masa depan. Kami menjaga keseimbangan antara kinerja ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kelola (ESG) yang terintegrasi dalam setiap keputusan bisnis. Kinerja ini menegaskan posisi Bank DBS Indonesia dalam sustainability financing dengan menyalurkan pendanaan ke sektor usaha yang berkontribusi pada ekonomi hijau dan inklusif di Indonesia,” kata Lim Chu Chong dalam keterangan resmi, Juni 2026.
2. Bank UOB Indonesia
KETIKA bankbank lain kesulitan menjaga kinerja laba, Bank UOB Indonesia justru mampu memacu laba hingga meroket 276,40% secara tahunan atau menjadi Rp1,53 triliun. Beberapa indikator keuangan lainnya juga tumbuh di atas ratarata industri. Kredit tumbuh 11,32% menjadi Rp111,78 triliun. DPK naik 14,03% menjadi Rp133,31 triliun. Total aset meningkat 9,20% menjadi Rp170,49 triliun. Bank yang dipimpin Hendra Gunawan sebagai direktur utama ini pun meraih predikat “sangat bagus”. Total skornya 88,78%. Raihan ini menjadi lompatan besar bagi Bank UOB Indonesia yang pada dua rating sebelumnya berpredikat “bagus” saja. AA
3. Bank Mega
BERBEKAL total skor 87,74%, Bank Mega berhasil meraih predikat “sangat bagus” dalam rating kali ini. Di dua rating sebelumnya, bank yang dipimpin Kostaman Thayib sebagai direktur utama ini menggenggam predikat “bagus” saja. Pada 2025. Indikator keuangan penting Bank Mega kompak tumbuh positif. Laba melonjak 27,89% secara tahunan, atau menjadi Rp3,36 triliun. Raihan laba didukung fungsi intermediasi yang tumbuh positif. Kredit tumbuh 4,00% menjadi Rp67,23 triliun, sedangkan DPK naik 13,59% atau menjadi Rp104,13 triliun. Bank Mega menutup tahun buku 2025 dengan total aset Rp140,83 triliun atau naik 4,38%. AA
4. Bank Jatim
WINARDI Legowo, Direktur Utama Bank Jatim dan jajarannya patut berbangga hati. Sebab kinerja Bank Jatim benarbenar solid di 2025. Tumbuh jauh di atas ratarata industri. Lihat saja kreditnya melonjak 46,65% menjadi Rp110,50 triliun. DPK tumbuh 41,36% menjadi Rp127,25 triliun. Bank Jatim meng an tongi laba Rp1,62 triliun atau meningkat 24,80%. Sedang kan aset mengembang 42,93% menjadi Rp168,85 triliun. Atas kinerja ciamik itu, Bank Jatim pun men dapatkan predikat “sangat bagus”. Total skornya 84,76%. Dalam empat edisi rating terakhir, Bank Jatim selalu menggondol predikat “sangat bagus”. AA
5. Bank HSBC Indonesia
DALAM rating kali ini, Bank HSBC Indonesia mendapat kan total skor 82,23% dan berhak atas predikat “sangat bagus”. Dalam penilaian rating, bank yang dipimpin Stuart Edward Campbell Rogers sebagai presiden direktur, meraih skor maksimal pada aspek permodalan. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat 24,66%, jauh di atas threshold. Modal inti naik 8,02% secara tahunan menjadi Rp20,93 triliun. Kredit, DPK, maupun aset bank ini pun tercatat tumbuh positif. Bank HSBC Indonesia mengantongi laba bersih Rp2,18 triliun pada 2025. Sedangkan total asetnya Rp142,71 triliun atau naik 5,48%. AA
6. Bank Maybank Indonesia
DI tengah dinamika yang dihadapi industri perbankan, Presiden Direktur Bank Maybank Indonesia, Steffano Ridwan dan jajarannya berhasil menjalankan strategi jitu dalam menjaga kinerja. Tidak hanya berhasil memaksimalkan potensi pendapatan operasional, bank ini juga makin efisien. Tidak heran bila bisa memacu kinerja laba hingga tumbuh 42,01% secara tahunan menjadi Rp1,70 triliun di 2025. Pertumbuhannya jauh di atas ratarata industri yang sebesar 2,74%. Atas kinerja itu, bank beraset Rp193,72 triliun per 2025 ini pun mendapatkan predikat “sangat bagus” dengan total skor 81,46%. AA
Konsisten Terbaik di Kelasnya