Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Menjaga Stabilitas di Level Teratas

Sebanyak 19 bank menghuni KBMI 1 aset Rp25 triliun ke atas. Berkat kesuksesan dalam menjaga kestabilan kinerja di level tertinggi, Bank BPD Bali kembali berdiri di posisi terdepan di antara peers-nya.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

LEBIH dari seperempat abad Bank BPD Bali menjaga level konsistensi kinerja yang prima. Dalam rating bank 2026, I Nyoman Sudharma, Direktur Utama Bank BPD Bali, beserta jajarannya mampu membawa perusahaan daerah ini meraih total skor 93,97% di kelompok KBMI 1 aset Rp25 triliun ke atas. Skor ini menjadi yang tertinggi ketiga dalam rating, dan membuat bank ini sangat layak menyandang predikat “sangat bagus”.

Total skor itu menjadi cerminan kinerja Bank BPD Bali yang sangat baik sepanjang 2025. Pada periode tersebut, Bank BPD Bali mampu mencatat pertumbuhan fungsi intermediasi yang positif. Aset berada di posisi Rp41,38 triliun, meningkat 8,01% secara year on year (yoy) dibandingkan dengan 2024. Sementara, kredit dan DPK masingmasing tumbuh 9,51% dan 5,24% menjadi Rp25,00 triliun dan Rp33,85 triliun.

                Pertumbuhan kredit Bank BPD Bali pun dibarengi dengan NPL gross yang sangat rendah, yakni 0,80%, di bawah ratarata industri bank umum yang mencapai 2,03%. Yang mengagumkan, persentase NPL gross itu dibukukan Bank BPD Bali ketika 51,07% dari portofolionya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selain menunjukkan aksi nyata perusahaan mendorong ekonomi Bali, angka tersebut mencerminkan kemampuan bank dalam menjaga kualitas aset secara terukur.

Sementara itu, portofolio DPK Bank BPD Bali didominasi dana murah (CASA), dengan porsi 69,09% dari total simpanan nasabah. Bersamaan dengan itu, LDR berada di posisi 73,82%, menunjukkan likuiditas bank yang tetap terjaga dengan baik.

Rasio keuangan lainnya pun terjaga dengan baik. Efisiensi Bank BPD Bali tecermin dari persentase biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) sebesar 62,42% dan NIM di posisi 6,33%. Dari sisi permodalan, CAR bank ini berada di level 29,30%, meningkat 185 basis points (bps) dibandingkan dengan posisi 2024.

Adapun return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) Bank BPD Bali masingmasing berada di level 3,58% dan 22,44%, menunjukkan rentabilitas bank yang sangat solid. Faktorfaktor itu berdampak positif terhadap perolehan laba bersih Bank BPD Bali yang tercatat Rp1,10 triliun atau tumbuh 25,39%. Pertumbuhan laba tahun berjalan bank ini juga jauh di atas rerata perbankan umum pada periode yang sama, yang tercatat tumbuh 2,74%.

Capaian itu menegaskan bahwa konsistensi Bank BPD Bali berasal dari hasil pengelolaan bisnis yang disiplin dan terukur. Di tengah dinamika industri perbankan yang kian menantang, kemampuan menjaga pertumbuhan sekaligus kualitas kinerja menjadi modal penting bagi Bank BPD Bali untuk terus bertahan di jajaran teratas dan memperkuat perannya sebagai BPD yang andal.

 

1.       Bank Kalbar

DI urutan kedua ada Bank Kalbar yang menorehkan total skor 92,50% dengan predikat “sangat bagus”. Dipimpin Rokidi selaku direktur utama, Bank Kalbar membukukan pertumbuhan kredit sebesar 7,20% menjadi Rp18,07 triliun. DPKnya juga tercatat tumbuh 3,77% menjadi Rp21,11 triliun pada 2025. Bank Kalbar mendapat nilai sempurna pada aspek permodalan dan efisiensi. Permodalan yang kuat tecermin dari rasio CAR 36,97%. Sementara, efisiensi perusahaan tergambar dari persentase BO/PO sebesar 69,94% dan NIM 6,25%. MAS

2.       Bank Nationalnobu

SUHAIMIN Djohan, Direktur Utama Bank Nationalnobu (Nobu Bank), dan jajaran tim nya berhasil membawa per usahaan memperoleh pre dikat “sangat bagus”. Tahun ini, Nobu Bank mencetak total skor 91,59% dalam rating kali ini. Keberhasilan bank ini ditopang oleh kinerjanya yang moncer di 2025.

Kinerja intermediasi Nobu Bank di 2025 terbilang sangat apik. Kredit dan DPKnya memelesat double digit sebesar 20,07% dan 18,91% ke posisi Rp24,24 triliun dan Rp28,96 triliun. Pertumbuhan kredit itu diiringi dengan persentase NPL gross 0,44%, terbaik di antara peersnya di kelompok ini. MAS

3.       Bank Sumsel Babel

BANK Sumsel Babel yang sejak awal Juni lalu dipimpin Muhamad Suryadi sebagai direktur utama, mantap bertengger di posisi keempat dengan total skor 87,86%. Bank ini memiliki likuiditas yang ample. Hal ini terbukti dari pertumbuhan DPK yang mencapai 9,15% menjadi Rp30,45 triliun, dengan porsi CASA 57,23% dan LDR di posisi 84,32%.

Di periode yang sama, Bank Sumsel Babel juga terus mengoptimalkan efisiensi, tecermin dari rasio BO/PO sebesar 79,56% dengan persentase NIM 6,38%. Alhasil, BPD ini mendapat nilai sempurna di aspek tersebut. MAS

4.       Bank CTBC Indonesia

DI posisi kelima ada Bank CTBC Indonesia, yang dipimpin Iwan Satawidinata selaku presiden direktur. Pada 2025, bank ini tercatat membukukan kredit Rp19,34 triliun atau tumbuh double digit 11,88%. Kualitas kredit Bank CTBC Indonesia pun terjaga dengan optimal, tecermin dari persentase NPL gross 1,90%.

Selain itu, Bank CTBC Indonesia terus memperkuat kapasitas permodalan. Di periode yang sama, CARnya mencapai 27,00%. Kinerja positif bank ini di 2025 diganjar total skor 84,69% dan predikat “sangat bagus” dalam rating ini. MAS

5.       Bank Papua

BANK Papua menutup jajaran enam besar di kelompok ini. Dinakhodai Yuliana D. Yembise selaku direktur utama, Bank Papua membukukan pertumbuhan kinerja intermediasi yang positif. Asetnya naik 6,94% ke posisi Rp34,34 triliun. Sementara, kredit dan DPK masingmasing tumbuh 3,48% dan 6,01% menjadi Rp22,55 triliun dan Rp26,17 triliun.

Dibarengi dengan persentase ROA dan ROE yang masingmasing mencapai 1,81% dan 10,71%, laba bersih Bank Papua tercatat Rp471,57 miliar atau naik 4,17%. Berkat kinerjanya itu, Bank Papua mencetak total skor 84,14% dengan predikat “sangat bagus”, sekaligus menandakan lebih dari lima tahun menjaga konsistensi kinerja menawan. MAS

 

 

Total skor itu menjadi cerminan kinerja Bank BPD Bali yang sangat baik sepanjang 2025. Pada periode tersebut, Bank BPD Bali mampu mencatat pertumbuhan fungsi intermediasi yang positif. Aset berada di posisi Rp41,38 triliun, meningkat 8,01% secara year on year (yoy) dibandingkan dengan 2024. Sementara, kredit dan DPK masingmasing tumbuh 9,51% dan 5,24% menjadi Rp25,00 triliun dan Rp33,85 triliun.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juli 2026

Rp 65.000

BELI