Belum ada produk di keranjang belanja kamu

MENJINAKKAN DOLAR AS

Oleh Anton Hendranata
Infobank

Infobank

DI hampir setiap gejolak ekonomi global, dunia selalu kembali berlari ke tempat yang sama: dolar Amerika Serikat (AS). Ketika ketidakpastian meningkat, investor global mencari aset yang dianggap paling aman. Dolar AS kembali menguat dan dampaknya segera menjalar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

            Saat dolar menguat, harga barang impor naik, biaya energi membengkak, cicilan utang luar negeri menjadi lebih mahal, dan tekanan terhadap rupiah ikut meningkat. Dampaknya kemudian masuk ke kehidupan sehari-hari: harga pangan, tarif transportasi, biaya produksi usaha, hingga bunga pinjaman. Karena itu, persoalan nilai tukar bukan sekadar urusan pasar keuangan. Nilai tukar pada akhirnya ikut menentukan daya beli masyarakat dan ketahanan ekonomi nasional.

            Pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana memperkuat rupiah sesaat, melainkan bagaimana Indonesia dapat “menjinakkan” dominasi dolar AS dalam jangka panjang. Atau, setidaknya membuat ekonomi nasional lebih tahan menghadapi periode penguatan dolar AS.

            Menjinakkan dolar tentu bukan berarti melawan AS atau menghilangkan penggunaan dolar sepenuhnya. Dolar masih akan tetap menjadi mata uang internasional paling dominan dalam perdagangan, investasi, dan cadangan devisa dunia.

            Yang perlu dibangun adalah ekonomi yang tak mudah goyah ketika dolar menguat. Untuk mencapai itu, Indonesia memerlukan fondasi eksternal yang kuat agar tekanan global tidak langsung berubah menjadi tekanan terhadap rupiah dan perekonomian domestik.

            Salah satu fondasi terpenting adalah devisa. Makin kuat pasokan devisa domestik, makin besar kemampuan negara menjaga stabilitas nilai tukar ketika tekanan global meningkat.

            Sumber devisa terbesar biasanya berasal dari surplus transaksi berjalan (current account surplus). Secara sederhana, current account mencerminkan apakah devisa yang masuk lebih besar dibandingkan dengan devisa yang keluar.

            Negara yang mampu menjaga surplus transaksi berjalan umumnya memiliki bantalan eksternal yang lebih kuat karena aliran devisanya relatif stabil. Dalam konteks ini, Tailan menjadi salah satu contoh sukses di Asia Tenggara.

            Dalam banyak periode, Tailan mampu menjaga current account surplus relatif besar, terutama ditopang sektor pariwisata dan manufaktur. Ketika wisatawan asing datang atau produk manufakturnya laku di pasar global, devisa masuk secara konsisten. Akibatnya, baht Tailan relatif lebih stabil dibandingkan dengan banyak mata uang negara berkembang lainnya.

            Indonesia sebenarnya memiliki modal ekonomi yang besar: sumber daya alam melimpah, pasar domestik luas, bonus demografi, dan posisi strategis dalam perdagangan dunia. Namun, tantangannya juga tidak kecil.

            Kebutuhan impor Indonesia masih cukup besar, terutama energi, bahan baku industri, dan barang modal. Karena itu, ketika harga minyak dunia meningkat bersamaan dengan penguatan dolar AS, tekanan terhadap rupiah biasanya ikut meningkat.

            Tekanan tersebut tidak hanya memengaruhi pasar keuangan, tetapi juga cepat merembet ke sektor perbankan.

            Bagi perbankan, stabilitas rupiah bukan sekadar persoalan kurs. Stabilitas rupiah berkaitan langsung dengan kualitas aset, likuiditas, biaya dana, hingga kemampuan nasabah menjalankan kewajibannya.

            Dari sisi aset, penguatan dolar AS meningkatkan risiko kredit, terutama bagi debitur yang memiliki kewajiban dalam valuta asing tetapi pendapatannya tetap dalam rupiah. Ketika rupiah melemah cukup dalam, beban pembayaran utang meningkat, margin usaha tertekan, cash flow melemah, dan kemampuan membayar cicilan ikut terdampak.

            Risiko tersebut biasanya lebih terasa pada sektor dengan ketergantungan impor tinggi, seperti industri berbasis bahan baku impor, energi, logistik, dan manufaktur tertentu. Jika berlangsung berkepanjangan, tekanan nilai tukar dapat ikut memengaruhi kualitas kredit perbankan.

            Sementara itu, dari sisi liabilitas atau pendanaan, gejolak dolar juga dapat memengaruhi stabilitas likuiditas domestik. Ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung memindahkan sebagian dana ke aset safe haven.

            Kondisi tersebut dapat meningkatkan volatilitas pasar keuangan dan mendorong kenaikan biaya pendanaan. Kondisi tersebut biasanya juga membuat dunia usaha lebih berhatihati. Permintaan kredit melambat karena sebagian pelaku usaha menunda ekspansi. Sebagian pelaku pasar juga cenderung meningkatkan preferensi terhadap aset berbasis dolar AS ketika ketidakpastian meningkat.

            Di sinilah pentingnya stabilitas. Perbankan pada dasarnya bertumpu pada kepercayaan, sementara kepercayaan sulit tumbuh di tengah volatilitas nilai tukar yang tinggi. Karena itu, perbankan juga dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi terhadap dominasi dolar AS.

            Perbankan tidak hanya menjaga stabilitas sistem keuangan, tetapi juga menentukan arah pembiayaan ekonomi. Pembiayaan yang lebih terarah kepada sektor penghasil devisa, seperti hilirisasi industri, manufaktur berorientasi ekspor, pariwisata, dan sektor jasa bernilai tambah tinggi, akan membantu memperkuat ketahanan eksternal Indonesia dalam jangka panjang.

            Peran lain yang tak kalah penting adalah memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan pembiayaan regional. Makin luas penggunaan mata uang lokal, ketergantungan transaksi harian terhadap dolar AS dapat berkurang secara bertahap.

            Namun, upaya tersebut perlu diimbangi dengan penguatan manajemen risiko valuta asing. Penyaluran kredit valuta asing perlu tetap dilakukan secara prudent, terutama kepada debitur yang memiliki natural hedge atau sumber pendapatan valas yang memadai.

            Pendalaman pasar keuangan domestik juga perlu terus diperkuat agar sumber pembiayaan jangka panjang dalam rupiah makin dalam dan beragam. Makin kuat pasar keuangan domestik, makin besar kemampuan ekonomi menyerap gejolak global tanpa tekanan berlebihan terhadap nilai tukar.

            Pada akhirnya, menjaga stabilitas rupiah memang tidak dapat hanya mengandalkan satu kebijakan semata. Dibutuhkan kombinasi stabilitas makro, penguatan sektor riil, dan pendalaman sektor keuangan secara konsisten.

            Dalam jangka pendek, fokus utama Indonesia tetap menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar. Bank Indonesia (BI) menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi secara hati-hati. Sedangkan, pemerintah menjaga disiplin fiskal agar APBN tetap sehat dan kredibel di mata pasar.

            Selain itu, komunikasi kebijakan yang jelas dan konsisten menjadi makin penting. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, pasar biasanya lebih sensitif terhadap ketidakjelasan arah kebijakan.

            Indonesia juga terus memperkuat penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan regional melalui skema Local Currency Settlement (LCS). Makin luas penggunaan mata uang lokal, kebutuhan terhadap dolar AS dalam transaksi harian juga akan ikut berkurang.

            Namun, langkah jangka pendek saja tidak cukup. Dalam jangka menengah, Indonesia perlu terus memperkuat struktur ekonominya dan meningkatkan kemampuan menghasilkan devisa secara lebih berkelanjutan.

Negara yang kuat bukanlah negara yang berhasil menghilangkan pengaruh dolar AS, melainkan negara yang ekonominya tetap mampu berdiri tenang ketika dolar bergejolak.

            Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada ekspor komoditas mentah. Ketika harga batu bara, nikel, atau CPO naik, devisa memang meningkat. Namun, ketika harga komoditas turun, tekanan kembali muncul.

            Oleh sebab itu, hilirisasi menjadi penting. Makin tinggi nilai tambah produk ekspor, makin besar potensi devisa yang diperoleh. Indonesia juga memiliki peluang besar memperkuat sektor jasa berorientasi ekspor, seperti pariwisata, ekonomi digital, pendidikan internasional, dan layanan kesehatan.

            Tailan berhasil memanfaatkan pariwisata sebagai salah satu mesin devisa utama. India berkembang melalui ekspor jasa teknologi informasi. Filipina memperoleh devisa besar dari tenaga kerja luar negeri. Indonesia sebenarnya juga memiliki peluang besar di berbagai sektor tersebut jika dikelola secara konsisten dan berkelanjutan.

            Namun, jika ditarik lebih jauh, persoalannya bukan semata-mata tentang dolar. Persoalan utamanya adalah produktivitas nasional. Negara yang mata uangnya kuat biasanya ditopang produktivitas tinggi, industri kompetitif, kualitas SDM yang baik, teknologi yang berkembang, dan kepastian hukum yang kuat.

            Dengan demikian, menjinakkan dolar pada akhirnya bukan hanya urusan BI. Ini berkaitan dengan kualitas SDM, efisiensi logistik, ketahanan energi dan pangan, kualitas birokrasi, iklim investasi, hingga kemampuan inovasi nasional.

            Jika produktivitas nasional meningkat, ekspor tumbuh, investasi berkualitas masuk, dan lapangan kerja produktif bertambah, maka kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia juga akan meningkat secara alami. Pada titik itu, rupiah akan menjadi lebih stabil karena fundamental ekonominya memang makin kuat.

            Jadi, menjinakkan dolar pada akhirnya bukan sekadar persoalan kurs atau cadangan devisa. Ini adalah soal seberapa kuat ekonomi nasional dibangun agar tidak mudah goyah setiap kali dunia mengalami gejolak.

            Negara yang kuat bukanlah negara yang berhasil menghilangkan pengaruh dolar AS, melainkan negara yang ekonominya tetap mampu berdiri tenang ketika dolar bergejolak.

            Mata uang yang stabil pada akhirnya lahir dari ekonomi yang dipercaya. Karena itu, tantangan Indonesia ke depan bukan sekadar menjaga rupiah ketika tekanan datang, melainkan membangun fondasi ekonomi yang makin kuat dari waktu ke waktu. Dengan fondasi seperti itu, rupiah tidak hanya mampu bertahan menghadapi gejolak global, tetapi juga makin nyaman berada di rumahnya sendiri.

            Saat dolar menguat, harga barang impor naik, biaya energi membengkak, cicilan utang luar negeri menjadi lebih mahal, dan tekanan terhadap rupiah ikut meningkat. Dampaknya kemudian masuk ke kehidupan sehari-hari: harga pangan, tarif transportasi, biaya produksi usaha, hingga bunga pinjaman. Karena itu, persoalan nilai tukar bukan sekadar urusan pasar keuangan. Nilai tukar pada akhirnya ikut menentukan daya beli masyarakat dan ketahanan ekonomi nasional.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juli 2026

Rp 65.000

BELI