Infobank
TERROR Management Theory (TMT) adalah teori dalam psikologi sosial yang dikembangkan oleh Jeff Greenberg c.s., yang terinspirasi dari buku The Denial of Death (1973) oleh Ernest Becker. Teori ini berangkat dari sikap paradoks manusia: manusia memiliki naluri untuk bertahan hidup, selalu ingin menghindari kematian, tetapi ia juga sangat sadar bahwa suatu saat pasti akan mati.
Kesadaran ini menimbulkan “teror eksistensial” yang sangat serius. Oleh karena itu, manusia mengembangkan mekanisme psikologis untuk mengelola kecemasan itu. Salah satunya, selalu menghindar dari pembicaraan tentang kematian dan memandang kematian sebagai sebuah tragedi yang sangat kejam, merampas semua prestasi hidup yang diperjuangkan puluhan tahun dengan susah payah.
Jika ditelusuri secara mendalam, banyak sekali usaha manusia yang tanpa disadari tujuan akhirnya adalah untuk menghindari sakit dan mati. Misalnya, pembangunan rumah sakit dan pabrik farmasi. Begitu pula pabrik persenjataan, pembangunan tembok pengaman ataupun pengawal (bodyguard), dan sekian sarana lain yang intinya adalah untuk membentengi diri dari bahaya.
Pendeknya, ada dua orientasi dasar hidup manusia, yaitu avoiding the pain and looking for the pleasure. Menghindari rasa sakit dan mengejar kesenangan. Kreasi yang sangat fenomenal adalah membentuk negara. Tujuan utamanya tak lain untuk melindungi warganya dari berbagai macam bahaya dan memfasilitasi agar warganya hidup senang dan aman.
Namun, mengingat ketakutan akan kematian selalu melekat pada kesadaran batinnya, maka, menurut TMT, hiburan tertinggi adalah lari pada agama untuk mendapatkan perlindungan dan jalan keluar. Naluri keinginan manusia untuk hidup abadi dan memperoleh kesenangan hidup ditawarkan oleh agama. Agama memiliki doktrin keabadian jiwa dan kehidupan surgawi yang serba menyenangkan bagi manusia, dengan catatan hanya bagi mereka yang hidupnya diisi dengan kebajikan. Yaitu, beriman kepada Tuhan dan selalu mendatangkan manfaat bagi sesamanya.
Keinginan untuk hidup abadi itu merupakan naluri dan watak dasar jiwa rohani yang memang tidak mengenal kematian dan selalu menahan rindu berkumpul kembali kepada Tuhannya.
Oleh karena itu, agama akan tetap hadir sepanjang sejarah manusia karena menawarkan pintu keabadian hidup yang selalu didambakan manusia untuk mengatasi kecemasan. Tentu saja pendekatan pragmatik-kalkulatif terhadap agama dikritik oleh para teolog dan orang-orang yang beriman dengan sungguh-sungguh.
Berbeda dengan kajian psikologis, para teolog yakin dan memiliki argumen bahwa keabadian jiwa itu nyata dan sebuah kebenaran mutlak, bukan sekadar hiburan dari kecemasan hidup. Bahkan, kematian itu disebut sebagai kepulangan ke rumah primordial, yaitu ke pelukan Tuhan Sang Pencipta dan Pemilik Kehidupan ini.
Keinginan untuk hidup abadi itu merupakan naluri dan watak dasar jiwa rohani yang memang tidak mengenal kematian dan selalu menahan rindu berkumpul kembali kepada Tuhannya. Meskipun berbeda pendekatan, TMT dan teologi memiliki kesamaan. Keduanya mendorong agar seseorang membangun hidup yang bermakna, yang berorientasi spiritual, agar terbebaskan dari kecemasan paradoksal seperti diterangkan di atas.
Kesenangan dan prestasi material keduniaan itu sah dan perlu diraih, tetapi jangan sampai menjadi penjara atau diberhalakan karena akan menyiksa batinnya, mengingat pada akhirnya pasti akan dipaksa lepas oleh kematian.
TMT dan teologi mengajarkan bahwa kesenangan duniawi itu tak ubahnya pakaian atau kendaraan yang menawarkan kenyamanan teknis, tetapi jangan memenjarakan jiwa yang perlu bekal devisa moralspiritual untuk perjalanan hidupnya yang masih panjang di balik kematian tubuhnya. Pesan ini penting diperhatikan oleh para koruptor yang sibuk mengejar kekayaan yang bukan hak miliknya, yang ujungnya hanya akan jadi beban atau bagasi yang memberatkan perjalanan hidupnya, di dunia maupun akhirat.
Kesadaran ini menimbulkan “teror eksistensial” yang sangat serius. Oleh karena itu, manusia mengembangkan mekanisme psikologis untuk mengelola kecemasan itu. Salah satunya, selalu menghindar dari pembicaraan tentang kematian dan memandang kematian sebagai sebuah tragedi yang sangat kejam, merampas semua prestasi hidup yang diperjuangkan puluhan tahun dengan susah payah.
Jika ditelusuri secara mendalam, banyak sekali usaha manusia yang tanpa disadari tujuan akhirnya adalah untuk menghindari sakit dan mati. Misalnya, pembangunan rumah sakit dan pabrik farmasi. Begitu pula pabrik persenjataan, pembangunan tembok pengaman ataupun pengawal (bodyguard), dan sekian sarana lain yang intinya adalah untuk membentengi diri dari bahaya.