Sebanyak 18 bank dari 31 bank yang mengisi kelompok bank KBMI 1 aset Rp10 triliun hingga di bawah Rp25 triliun berhasil meraih predikat “sangat bagus”. Bank Mega Syariah tampil paling cemerlang. Setelahnya ada Bank BCA Syariah dan Bank Ganesha
Sumber: Istimewa
KINERJA impresif yang ditorehkan Bank Mega Syariah di 2025 mengantarkannya menjadi bank dengan peringkat tertinggi pada kelompok KBMI 1, kategori aset Rp10 triliun hingga di bawah Rp25 triliun. Bank syariah milik CT Corp ini memperoleh total skor 93,77% dan berhak menyandang predikat “sangat bagus”.
Pencapaian itu tidak lepas dari kemampuan Bank Mega Syariah menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat. Di tengah dinamika industri perbankan yang masih menghadapi berbagai tantangan, bank yang dipimpin Yuwono Waluyo sebagai direktur utama ini mampu menunjukkan penguatan kinerja di hampir seluruh indikator utama penilaian, mulai dari permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, hingga efisiensi operasional.
Dalam rating, Bank Mega Syariah mendapat nilai terbaik di aspek penilaian permodalan, yang diwakili oleh rasio CAR dan pertumbuhan modal inti. Selain itu, bank ini mendapat nilai sempurna untuk komponen pertumbuhan pembiayaan untuk aspek kualitas aset, pertumbuhan laba untuk aspek rentabilitas, rasio LDR dan pertumbuhan DPK untuk aspek likuiditas, serta rasio BO/ PO untuk aspek efisiensi.
Dari sisi bisnis, fungsi intermediasi Bank Mega Syariah berjalan cukup agresif tapi tetap terukur. Tahun lalu, penyaluran pembiayaan meningkat 20,41% menjadi Rp9,35 triliun. Pertumbuhan itu menjadi salah satu motor penggerak kenaikan laba bersih bank ini yang mencapai Rp310,84 miliar atau tumbuh 22,77% secara tahunan.
Menariknya, ekspansi pembiayaan yang kuat tidak diikuti oleh peningkatan risiko yang signifikan. Kualitas aset tetap terjaga dengan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) 1,11%, lebih rendah dibandingkan dengan ratarata industri perbankan nasional yang berada di level 2,03%. Kondisi ini menunjukkan efektivitas manajemen risiko dan kehatihatian bank dalam menyalurkan pembiayaan.
Di saat yang sama, bank ini juga memperkuat fondasi permodalannya. Modal inti tercatat naik 7,60% menjadi Rp2,80 triliun. Penguatan modal itu berdampak pada rasio kecukupan modal (CAR) yang naik menjadi 28,68%, mencerminkan kapasitas bank yang makin kuat untuk mendukung pertumbuhan bisnis sekaligus menyerap potensi risiko di masa depan.
Hasil itu menjadi alasan kuat mengapa Bank Mega Syariah mampu berada di posisi teratas dalam kelompoknya. Dari 31 bank di kelompok itu, hanya 18 bank yang berhasil meraih predikat “sangat bagus”. Bank Mega Syariah tidak hanya masuk dalam kelompok itu, tapi juga menjadi yang terbaik berkat kombinasi pertumbuhan yang tinggi, kualitas aset yang sehat, serta struktur permodalan yang kuat.
Di luar kuatnya fundamental keuangan, Bank Mega Syariah juga didukung lini bisnis yang makin beragam. Bank ini tidak hanya mengandalkan pertumbuhan pembiayaan, tapi juga memperkuat penghimpunan dana melalui berbagai produk simpanan syariah, termasuk tabungan dan deposito yang didukung platform digital.
Melalui aplikasi M-Syariah, nasabah dapat mengakses berbagai layanan secara end-to-end, mulai dari pembukaan rekening, deposito digital, transfer BI-Fast, transaksi QRIS, hingga layanan terkait ibadah dan filantropi. Inovasi produk dan digitalisasi yang terus dikembangkan menjadi salah satu faktor yang memperkuat daya saing bank ini.
1. Bank BCA Syariah
SELAMA 15 tahun berturut turut, Bank BCA Syariah mampu mempertahankan predikat “sangat bagus” dan pada rating kali ini mengantongi skor 93,59%. Kinerjanya tumbuh solid dengan penyaluran pembiayaan Rp13,19 triliun pada 2025 atau meningkat 23,08% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Di bawah kepemimpinan Yuli Melati Suryaningrum sebagai presiden direktur, laba bersih bank ini naik 15,36% menjadi Rp211,96 miliar. Sementara itu, modal inti menguat 7,25% menjadi Rp3,29 triliun. ASP
2. Bank Ganesha
BANK Ganesha meraih total skor 92,04% dan predikat “sangat bagus”. Pertumbuhan DPK sebesar 12,77% secara tahunan menjadi Rp7,50 triliun serta kredit yang meningkat 15,87% menjadi Rp5,82 triliun di 2025 menjadi salah satu faktor pendorong kenaikan laba. Bank yang dipimpin Setiawan Kumala sebagai direktur utama ini mencatatkan laba Rp227,09 miliar pada 2025, tumbuh 12,58% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam rating, bank ini mendapat nilai sempurna di aspek permodalan. ASP
3. Bank Pembangunan Kalteng
BANK Pembangunan Kalteng kembali tampil sebagai salah satu bank dengan performa terbaik. Bank yang dipimpin Maslipansyah sebagai direktur utama ini sukses menjaga predikat “sangat bagus” selama 20 tahun tanpa jeda. Pada 2025, kredit bank ini tumbuh 9,42% secara tahunan menjadi Rp11,72 triliun, sementara laba meningkat 14,76% menjadi Rp368,59 miliar. Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) berhasil ditekan dari 2,69% pada 2024 menjadi 2,52% pada 2025. ASP
4. Bank Digital BCA
BANK Digital BCA mendapat total skor 90,29% dalam rating ini dengan predikat “sangat bagus”. Sepanjang 2025, bank yang dipimpin Lanny Budiati sebagai direktur utama menunjukkan akselerasi bisnis yang kuat. Kredit melonjak 31,43% secara tahunan menjadi Rp8,57 triliun, sedangkan DPK tumbuh 21,94% menjadi Rp14,30 triliun. Pertumbuhan itu berdampak signifikan terhadap profitabilitas, tecermin dari laba yang memelesat 97,69% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. ASP
5. Bank Jambi
KONSISTENSI menjadi kekuatan utama Bank Jambi. Bank yang dipimpin Khairul Suhairi sebagai direktur utama ini mempertahankan predikat “sangat bagus” selama 25 tahun berturut turut dengan perolehan total skor 89,92%. Pada 2025, DPK meningkat 12,60% secara tahunan menjadi Rp10,79 triliun dan kredit yang disalur kan mencapai Rp10,13 triliun atau tumbuh 4,01%. Bank Jambi menutup 2025 dengan laba Rp330,30 miliar, tumbuh 4,66%. Dalam rating, Bank Jambi mendapat nilai sem purna di aspek permodalan dan efisiensi. Hal ini didukung oleh pertumbuhan modal inti sebesar 9,99% menjadi Rp3,03 triliun. Di sisi efisiensi, rasio BO/PO membaik menjadi 69,40%. ASP
Pencapaian itu tidak lepas dari kemampuan Bank Mega Syariah menjaga pertumbuhan bisnis secara sehat. Di tengah dinamika industri perbankan yang masih menghadapi berbagai tantangan, bank yang dipimpin Yuwono Waluyo sebagai direktur utama ini mampu menunjukkan penguatan kinerja di hampir seluruh indikator utama penilaian, mulai dari permodalan, kualitas aset, rentabilitas, likuiditas, hingga efisiensi operasional.