Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Buy Now Pay Later Kian Menggoda

Dari sekadar fasilitas cicilan, BNPL kini menjelma menjadi bagian dari keseharian masyarakat, dengan jumlah penyaluran yang memelesat. Seberapa jauh BNPL mampu menjadi mesin pertumbuhan multifinance, tanpa mengorbankan kualitas pembiayaan?

Oleh Alfi Salima Puteri
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

PEMBIAYAAN buy now pay later (BNPL) makin menunjukkan taringnya. Hingga Juni 2026, pembiayaan BNPL yang disalurkan perusahaan pembiayaan (multifinance) mencapai Rp13,40 triliun. Nilainya melonjak 57,02% secara tahunan, sekaligus menjadi salah satu pertumbuhan paling agresif di tengah industri pembiayaan yang secara umum tumbuh lebih moderat.

Bila ditarik lagi ke belakang, lajunya terlihat makin jelas. Pada Desember 2024, pembiayaan BNPL tercatat Rp6,82 triliun. Setahun kemudian, nilainya menembus Rp11,94 triliun atau tumbuh 75,05%. Memasuki 2026, pertumbuhannya memang mulai melandai, tapi nilai pembiayaan terus menanjak. Dari Rp12,18 triliun per Januari, nilai pembiayaan BNPL naik menjadi Rp12,59 triliun pada Februari, Rp12,81 triliun pada Maret, Rp12,93 triliun pada April, Rp13,18 triliun pada Mei, hingga mencapai Rp13,40 triliun pada Juni.

Kenaikan itu membuat BNPL makin sulit dipandang sebagai sekadar produk pelengkap. Bagi perusahaan pembiayaan, BNPL berpotensi menjadi mesin pertumbuh an baru karena menyasar kebutuhan konsumsi yang dekat dengan keseharian masyarakat, mulai dari transaksi bernilai kecil hingga pembelian dengan skema cicilan.

Namun, pertumbuhan yang kencang juga membawa konsekuensi. Kualitas pembiayaan mesti jadi perhatian, terutama ketika ekspansi terjadi dalam waktu singkat. Data menunjukkan bahwa non performing financing (NPF) gross BNPL pada Juni 2026 tercatat 3,09%. Angka ini memang membaik dibandingkan dengan Mei yang mencapai 3,44%, tapi masih menunjukkan bahwa risiko gagal bayar tetap perlu diantisipasi.

Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menilai pertumbuhan itu perlu diikuti dengan disiplin dalam mengelola risiko.

“Untuk menjaga kualitas pembiayaan, perusahaan pembiayaan perlu terus memperkuat penerapan manajemen risiko dan prinsip kehatihatian, antara lain melalui penguatan penilaian kemampuan bayar debitur serta pemantauan kualitas portofolio secara berkelanjut an,” ujarnya dalam jawaban tertulis, bulan lalu.

Pertumbuhan pembiayaan BNPL yang makin agresif turut membuka ruang ekspansi bagi para pemain pembiayaan digital. Kredivo menjadi salah satu perusahaan yang melihat momentum itu sebagai peluang untuk memperluas penggunaan BNPL. Hal ini seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap akses kredit yang praktis dan fleksibel.

Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, mengatakan bahwa pertumbuhan bisnis Kredivo terus menunjukkan tren positif hingga pertengahan 2026. Perkembangan itu berjalan seiring dengan makin luasnya adopsi layanan keuangan digital di masyarakat, termasuk untuk memenuhi kebutuhan konsumsi seharihari. “Dalam empat tahun terakhir, Kredivo mencatatkan tingkat pertumbuhan penyaluran sebesar 2 digit yoy, dan kini telah melayani lebih dari 13 juta pengguna,” ungkap Indina kepada Infobank.

Pertumbuhan itu tidak hanya tecermin dari bertambahnya jumlah pengguna, tapi juga dari tingginya intensitas penggunaan layanan. Rata-rata pengguna Kredivo tercatat melakukan transaksi lebih dari empat kali dalam sebulan. Dari sisi ekosistem, Kredivo juga terus memperluas jangkauan layanan. Saat ini, Kredivo telah terintegrasi dengan lebih dari 10.000 merchant online maupun offline di berbagai wilayah Indonesia.

Perkembangan BNPL ke depan tak hanya ditentukan oleh pertumbuhan jumlah pengguna, tapi juga makin luasnya kebutuhan yang dapat dilayani. Jika awalnya BNPL lebih dikenal sebagai fasilitas cicilan untuk pembelian barang bernilai relatif besar, kini penggunaannya mulai bergeser menjadi alternatif pembayaran untuk transaksi seharihari. Perubahan ini menunjukkan bahwa BNPL berpotensi berkembang dari sekadar produk pembiayaan konsumtif menjadi metode pembayaran yang makin terintegrasi dengan aktivitas masyarakat.

Peluang itu kian terbuka seiring dengan meluasnya jangkauan merchant, termasuk di kotakota tier 2 dan tier 3 serta wilayah di luar pusat ekonomi utama. Di kawasan itu, pilihan pembayaran digital maupun akses terhadap fasilitas kredit formal masih relatif terbatas. BNPL pun dapat menjadi salah satu alternatif pembayaran nontunai sekaligus akses pembiayaan formal, dengan profil pengguna yang makin beragam dan tak lagi terbatas pada konsumen muda yang terbiasa dengan layanan digital.

Namun, ruang pertumbuhan yang besar tetap membawa tantangan dari sisi kualitas pembiayaan. Pertumbuhan penyalurannya perlu diimbangi dengan kemampuan perusahaan memastikan kredit diberikan sesuai kemampuan bayar konsumen. Sejumlah pemain pun mulai memperkuat prinsip responsible lending melalui credit assessment, pemantauan portofolio, hingga proses collection. Pemanfaatan teknologi berbasis artificial intelligence (AI) dan data turut digunakan untuk membantu menilai profil risiko serta menyesuaikan penyaluran dengan kemampuan bayar pengguna.

Dengan penggunaan yang kian beragam, jangkauan yang makin luas, dan kebutuhan masyarakat terhadap akses kredit yang cepat dan fleksibel, BNPL memiliki modal kuat untuk menjadi mesin pertumbuhan baru multifinance. Tapi, lajunya tidak cukup hanya diukur dari seberapa besar penyaluran bertambah. Kemampuan industri menjaga keseimbangan antara ekspansi, kemampuan bayar konsumen, dan kualitas pembiayaan akan menentukan apakah BNPL benarbenar dapat menjadi sumber pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan bagi multifinance.

 

 

Bila ditarik lagi ke belakang, lajunya terlihat makin jelas. Pada Desember 2024, pembiayaan BNPL tercatat Rp6,82 triliun. Setahun kemudian, nilainya menembus Rp11,94 triliun atau tumbuh 75,05%. Memasuki 2026, pertumbuhannya memang mulai melandai, tapi nilai pembiayaan terus menanjak. Dari Rp12,18 triliun per Januari, nilai pembiayaan BNPL naik menjadi Rp12,59 triliun pada Februari, Rp12,81 triliun pada Maret, Rp12,93 triliun pada April, Rp13,18 triliun pada Mei, hingga mencapai Rp13,40 triliun pada Juni.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2026

Rp 65.000

BELI