Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Albertus Wiroyo Karsono

Di Balik Kilau “Berlian” dari Tempaan Tekanan, Ketekunan, dan Perjalanan yang Menguatkan

Perjalanan karier leader satu ini tidak dibangun dari rencana panjang. Ia justru tumbuh dari keputusan-keputusan sederhana, tantangan di lapangan, dan tekanan yang datang silih berganti. Seperti berlian yang menjadi bernilai setelah ditempa tekanan, pengalamanpengalaman itu membentuk sosoknya sebagai pemimpin.

Oleh AYU UTAMI SARASWATI
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

ALBERTUS Wiroyo Karsono, Presiden Direktur Sun Life Financial Indonesia (Sun Life Indonesia) yang juga Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), mungkin sudah lama akrab dengan urusan masa depan. Lebih dari tiga dekade bekerja di industri asuransi membuatnya seharihari bicara tentang perlindungan, risiko, dan bagaimana seseorang menyiapkan kehidupan yang belum terjadi.

Menariknya, ketika berbicara tentang perjalanan hidupnya sendiri, Albert, panggilan akrabnya, justru tak pernah benar-benar menyusun peta karier yang panjang. Ia tidak menetapkan sejak awal harus menjadi apa atau berada di posisi mana pada usia tertentu.

Tidak ada target, misalnya, sejak lulus kuliah ingin menjadi direktur utama. Tidak ada pula peta karier yang disiapkan sejak muda. Apalagi bayangan bahwa ia akan menghabiskan lebih dari 30 tahun di industri asuransi jiwa. Albert memilih menjalani apa yang ada di depan mata dan mengerjakannya sebaik mungkin ketika kesempatan datang.

“Just do your best, pasti Tuhan akan berikan jalan terbaik,” katanya kepada tim Infobank ketika ditemui di kantornya, bulan lalu.

Mungkin memang begitu cara Albert sampai ke tempatnya sekarang. Jalannya tidak lurus, bahkan sejak awal. Ia lahir di Pematang Siantar, menghabiskan masa sekolah hingga SMA di Padang, lalu ke Bandung untuk berkuliah di Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB).

Setelah lulus dari ITB sebagai insinyur sipil dan menjadi salah satu lulusan terbaik, Albert mengawali karier di perusahaan manufaktur. Di saat bersamaan, temantemannya lebih dulu terjun ke industri keuangan dan menjadi bankir. Ketika teman-temannya mulai mengenakan dasi dan masuk ke bank-bank yang sedang tumbuh pesat pada era 1990-an, Albert berada di jalur yang berbeda.

Lima tahun kemudian, barulah ia tertarik untuk masuk ke dunia keuangan. “Saya pengin kerja di dunia keuangan saja supaya bisa kerja dengan pakaian yang rapi, keren,” ujarnya.

Albert pun mencari jalan masuk ke industri keuangan. Asuransi jiwa kemudian dipilihnya karena peminatnya saat itu belum banyak. “Pada saat itu, kalau saya masuk perbankan, kayaknya saya ketinggalan dengan teman-teman saya yang sudah masuk lima tahun sebelumnya. Saya justru melihat kalau jarang peminat ini berarti saingannya lebih dikit,” kenang pria yang pernah menjabat sebagai Presiden Direktur AXA Mandiri Financial Services, Presiden Direktur Mandiri AXA General Insurance, dan Presiden Direktur AXA Financial Indonesia ini.

Kendati begitu, pilihannya itu tak lepas dari berbagai tantangan. Di awal karier, Albert harus menjadi agen selama enam bulan. Ia diberi tugas membuat daftar 100 nama orang yang dikenalnya: teman, kerabat, atau kenalan.

Orang-orang yang tercantum di daftar nama itu harus ia hubungi satu per satu. Pada masa itu, Albert mesti belajar bagaimana membuka percakapan tentang produk proteksi kepada orang yang dikenalnya sendiri.

Tak mudah memang. Bahkan, Albert sempat merasa dirinya salah masuk industri. Tapi, pengalaman enam bulan itu justru menjadi bekal penting ketika ia mulai memimpin. Ia tahu bagaimana rasanya berada di lapangan, mengejar target, menghadapi penolakan, sekaligus menjelaskan produk yang sebenarnya dibutuhkan tapi tidak selalu dianggap penting.

Perjalanan kariernya setelah itu juga tak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika nasabah menyampaikan keluhan, pemegang saham menuntut kinerja yang lebih baik, dan ia harus mengelola kepentingan berbagai pihak, mulai dari karyawan, mitra, hingga regulator.

Namun, bagi Albert, tantangan ataupun tekanan justru menjadi bagian dari proses yang membentuk dirinya dan membuatnya makin kuat. “Tekanan juga membuat kita lebih kuat. Karena, seperti berlian itu hasilnya begitu bernilai tinggi karena tekanan yang luar biasa selama ratusan tahun,” ujarnya. Tekanan dalam perjalanan karier juga membuat seseorang kian rendah hati. Ia menyadari bahwa seorang pemimpin tidaklah sempurna sehingga perlu terus memperbaiki kemampuan dan tetap membutuhkan orang lain.

Mungkin itu pula yang menjelaskan gaya kepemimpinannya hari ini. Albert menyebut dirinya sebagai leader yang kolaboratif. Ia tidak ingin menjadi orang yang mengambil keputusan sendiri, kecuali dalam situasi mendesak.

Baginya, keputusan yang baik seharusnya lahir dari pembicaraan bersama. Ide terbaik tidak selalu datang dari pemimpin. Karena itu, ia berusaha menciptakan ruang yang aman bagi tim untuk berbicara, bahkan berdebat. “Walaupun ide itu dari atasan, tidak harus itu benar,” ujarnya.

Menurut Albert, keberhasilan seorang pemimpin juga tidak berhenti pada capaian perusahaan. Ada tanggung jawab untuk membuat orang lain ikut naik bersama. “Kita berhasil kalau orangorang yang bekerja sama kita itu upgrade their life, their skill, their capability, dan juga their career,” tukasnya.

Di balik sosok yang sehari-hari sibuk memimpin perusahaan dan asosiasi, Albert punya cara yang cukup sederhana untuk menikmati hidup. Ia mengaku sangat suka kulineran. Ia gemar bepergian dan mencari makanan khas di berbagai kota, dari restoran hingga warung sederhana di pinggir jalan.

Sop kaki kambing menjadi salah satu makanan favoritnya sejak masih kuliah di ITB. Ketika itu, dengan uang yang masih terbatas, ia paling-paling hanya bisa menyantapnya sebulan sekali. Hingga kini, makanan itu masih masuk daftar kuliner yang dicarinya.

Hobi kulineran itu diimbanginya dengan kebiasaan olahraga jalan kaki hampir setiap pagi. Albert kerap berjalan kaki sejak pukul 06.00 pagi di sekitar rumahnya. Durasi jalannya 20 hingga 30 menit, sesekali dilanjutkan dengan latihan strength dan core sederhana.

Ada satu hal dari hobi kulineran Albert yang ia bawa ke pekerjaannya di industri asuransi jiwa saat ini. Ia memperhatikan bagaimana sebuah tempat makan bisa mempertahankan rasa yang sama selama bertahuntahun, walaupun sudah berganti generasi. Baginya, konsistensi semacam itu tak datang begitu saja. Ada kerja keras, ketekunan, disiplin, dan komitmen untuk terus memberikan yang terbaik kepada pelanggan. “Untuk menghasilkan satu kuliner yang baik, konsisten rasanya, perlu usaha dan ketekunan,” ujarnya.

Perjalanan Albert hingga ke titik ini memang tak pernah digambar dengan garis yang lurus. Dari Pematang Siantar ke Padang, ke Bandung, kemudian masuk ke industri manufaktur, mencoba mencari jalan ke dunia keuangan, hingga akhirnya menghabiskan lebih dari tiga dekade di industri asuransi.

Tidak banyak yang direncanakannya sejak awal. Ia hanya menjalani satu persinggahan ke persinggahan berikutnya, dan memberikan yang terbaik di setiap tempat yang didatanginya. Barangkali, begitulah cara Albert menjalani masa depan. Bukan dengan mengetahui persis ke mana akan pergi, melainkan dengan memastikan setiap langkah yang dijalaninya tak sia-sia.

Strategi Menjaga Pertumbuhan Berkualitas

Sebagai Ketua AAJI sekaligus pelaku industri asuransi jiwa, bagaimana Anda melihat perkembangan asuransi jiwa Indonesia saat ini? Di mana Anda melihat peluang pertumbuhan terbesar asuransi jiwa ke depan dan apa tantangan yang justru perlu diwaspadai?

Menurut saya, industri asuransi jiwa Indonesia sedang berada di fase yang sangat penting. Kebutuhan proteksi semakin besar, terutama ketika kita bicara tentang ketahanan ekonomi keluarga saat menghadapi risiko seperti sakit, cacat tetap, kehilangan pencari nafkah, atau meninggal dunia.

Namun, pekerjaan rumah kita juga masih besar: literasi, penetrasi, kepercayaan publik, dan kemampuan menjelaskan asuransi dengan lebih sederhana. Dari perspektif masyarakat, peluang terbesar industri adalah membantu keluarga mengambil keputusan proteksi dengan lebih percaya diri. Bukan karena takut, tetapi karena memahami manfaatnya bagi kesehatan, pendidikan anak, penghasilan keluarga, dan masa depan.

Teknologi dan kanal digital akan mempercepat akses, tetapi yang paling penting bagi nasabah tetap sama: informasi yang jernih, proses yang mudah, manfaat yang relevan, layanan yang responsif, dan perusahaan yang dapat dipercaya ketika dibutuhkan.

Melihat perkembangan itu, bagaimana posisi Sun Life Indonesia? Segmen atau lini bisnis apa yang saat ini menjadi mesin pertumbuhan utama perusahaan?

Sun Life Indonesia berada dalam posisi yang makin kuat. Fokus kami bukan hanya tumbuh lebih besar, tapi tumbuh dengan kualitas yang baik, berkelanjutan, dan tetap berpihak pada perlindungan nasabah.

Hal ini sejalan dengan misi Sun Life untuk membantu nasabah dan keluarga Indonesia mencapai kemapanan finansial dan hidup yang lebih sehat. Mesin pertumbuhan kami bertumpu pada multi-distribution: bancassurance, agency, dan bisnis syariah.

Bagi nasabah, yang terpenting bukan kanal mana yang mereka gunakan, tapi apakah mereka bisa mendapatkan solusi yang mudah dipahami, sesuai kebutuhan, dan didampingi dengan baik. Bancassurance membantu memperluas akses, agency memberikan nasihat personal, syariah menjawab kebutuhan proteksi yang lebih beragam, dan digital membuat proses lebih sederhana, cepat, serta nyaman.

Salah satu catatan menarik adalah perubahan kinerja Sun Life Indonesia dari sisi laba, yang sebelumnya masih rugi Rp44,82 miliar berbalik menjadi laba Rp69,89 miliar pada 2025. Apa yang sebenarnya terjadi di balik turnaround itu?

Capaian itu adalah hasil dari beberapa hal yang berjalan bersama. Pertama, kami makin disiplin dalam mengelola pertumbuhan. Tidak hanya mengejar volume, tapi juga kualitas portofolio, persistensi, profitabilitas, dan manajemen risiko.

Kedua, Sun Life Indonesia memperkuat eksekusi operasional. Efisiensi bagi kami bukan sekadar mengurangi biaya, tapi juga memastikan proses menjadi lebih baik bagi nasabah, lebih cepat, lebih sederhana, dan lebih konsisten.

Selain itu, kami mulai melihat manfaat dari skala bisnis yang makin baik. Ketika basis bisnis, jaringan distribusi, dan kapasitas operasional tumbuh dengan lebih seimbang, biaya tetap dapat terserap lebih efisien. Artinya, pertumbuhan pendapatan tidak selalu harus diikuti kenaikan biaya dalam proporsi yang sama. Ini membantu memperbaiki profitabilitas secara lebih sehat. Bukan hanya dari sisi efisiensi biaya, tetapi juga dari produktivitas dan kualitas pertumbuhan.

Sejauh mana momentum pertumbuhan dan kualitas bisnis Sun Life Indonesia memasuki semester kedua 2026?

Memasuki semester kedua 2026, kami melihat momentum yang positif. Sun Life Indonesia memulai paruh kedua tahun ini dari posisi yang lebih kuat, dengan pertumbuhan bisnis yang berada di atas rencana dan kualitas bisnis yang terus membaik. Yang membuat kami optimistis adalah momentum ini terjadi di tengah pasar yang masih menantang.

Untuk menjaga momentum pertumbuhan, apa target utama Sun Life Indonesia hingga akhir 2026? Selain target finansial seperti premi, aset, dan laba, indikator apa yang Anda gunakan untuk mengukur keberhasilan Sun Life dalam satu tahun ke depan?

Target kami bukan sekadar tumbuh lebih besar, tapi tumbuh dengan kualitas yang lebih baik dan berkelanjutan. Ukuran keberhasilan bagi kami bukan hanya premi, aset, laba, dan profitabilitas, tapi juga apakah nasabah merasa lebih mudah memahami proteksi, lebih percaya pada proses, dan lebih terlindungi dalam jangka panjang.

Kami akan terus memperkuat bancassurance, agency, dan Sun Life Syariah serta mempercepat digital dan AI. Tetapi, orientasinya tetap sama: membuat pengalaman nasabah lebih sederhana, layanan lebih responsif, dan solusi proteksi lebih relevan dengan kebutuhan hidup mereka. AUS

Menariknya, ketika berbicara tentang perjalanan hidupnya sendiri, Albert, panggilan akrabnya, justru tak pernah benar-benar menyusun peta karier yang panjang. Ia tidak menetapkan sejak awal harus menjadi apa atau berada di posisi mana pada usia tertentu.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2026

Rp 65.000

BELI