Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Jalan Masih Panjang, Kinerja Belum Seragam

Rapor industri asuransi semester pertama 2026 memperlihatkan kinerja yang belum seragam: ada pertumbuhan, tapi ada pula tekanan. Pelaku industri harus terus beradaptasi demi menjaga kualitas dan keberlanjutan bisnis.

Oleh Alfi Salima Puteri
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

MEMASUKI paruh kedua 2026, kinerja industri asuransi masih menunjukkan daya tahan, meski pertumbuhannya belum merata di setiap lini bisnis. Berdasar kan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset industri asuransi per Juni 2026 mencapai Rp1.184,72 triliun, tumbuh 1,86% secara tahunan (year on year/ yoy). Dari sisi bisnis, akumulasi pendapatan premi asuransi komersial mencapai Rp170,98 triliun atau tumbuh 2,84%.

Pertumbuhan itu terutama dito pang industri asuransi jiwa. Hingga Juni 2026, premi asuransi jiwa tum buh 8,40% menjadi Rp94,83 triliun. Sementara, industri asuransi umum dan reasuransi masih menghadapi tekanan, tecermin dari premi yang terkontraksi 3,33% yoy menjadi Rp76,15 triliun.

Kendati pertumbuhan antarlini berbeda, kondisi permodalan indus tri secara umum masih terjaga kuat. RBC asuransi jiwa tercatat 461,94%, sedangkan asuransi umum dan rea suransi membukukan RBC 318,52%, jauh di atas batas minimum 120%.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Ogi Prastomiyono, mengatakan bahwa kinerja industri masih mencatat pertumbuhan positif hingga pertengahan tahun. “Kinerja asuransi komersial berupa akumulasi pendapatan premi pada periode Juni 2026 mencapai Rp170,98 triliun atau tumbuh 2,84% yoy,” ujar Ogi dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan, Agustus lalu.

Angka itu menjadi gambaran bahwa industri asuransi masih mampu bertumbuh di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Tapi, pertumbuhan yang belum merata menunjukkan bahwa tak semua perusa haan menghadapi situasi yang sama.

Gambaran itu mulai terlihat dari kinerja sejumlah perusahaan asuransi. Di lini asuransi umum, Tugu Insurance menjadi salah satu pemain yang mampu mencatat pertumbuhan sekaligus memperbaiki kualitas hasil jasa asuransi dan profitabilitas. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian dengan penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 117, pendapatan jasa asuransi Tugu Insurance pada semester pertama 2026 mencapai Rp4,45 triliun, tumbuh 16,31% dari Rp3,83 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan itu juga diikuti dengan peningkatan hasil jasa asuransi yang sangat signifikan. Tugu Insurance tercatat membukukan hasil jasa asuransi sebesar Rp602,95 miliar, melonjak 85,56% dari Rp324,94 miliar

pada semester pertama 2025. Perbaikan kualitas kinerja ini tecermin dari laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yang mencapai Rp480,29 miliar atau tumbuh 76,87%.

Menurut Presiden Direktur Tugu Insurance, Adi Pramana, capaian itu menunjukkan bahwa Tugu Insurance tidak hanya mengejar pertumbuhan dari sisi nominal, tapi juga berupaya memastikan pertumbuhan dengan menghasilkan kinerja yang sehat. “Yang terpenting bukan hanya mengejar pertumbuhan secara nominal, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut tetap sehat, profitable, dan berkelanjutan,” ucap Adi kepada Infobank, bulan lalu.

Bagi Tugu Insurance, capaian semester pertama 2026 menjadi pijakan untuk melanjutkan target bisnis hingga akhir tahun. Tapi, perusahaan ini tetap melihat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi pada paruh kedua 2026, mulai dari dinamika industri dan kondisi makroekonomi, volatilitas pasar keuangan, hingga risiko geopolitik.

Perubahan lanskap industri juga tidak terlepas dari penerapan PSAK 117. Standar ini membuat cara mem baca kinerja perusahaan asuransi menjadi lebih komprehensif. Tidak lagi sematamata melihat besaran premi, perusahaan asuransi juga perlu memper hatikan pendapatan jasa asuransi dan hasil jasa asu ransi untuk mengetahui sebe rapa baik bisnis asuransi yang dijalankan menghasilkan nilai.

Bagi Tugu Insurance, perubahan itu menjadi momentum untuk makin memperhatikan kualitas bisnis dan profitabilitas. Perusahaan ini juga melakukan penyesuaian dan penyajian kembali laporan keuangan periode sebelumnya agar kinerja dapat dibandingkan secara lebih konsisten.

Jika Tugu Insurance memberikan gambaran tentang penguatan kinerja di lini asuransi umum, Sequis Life menunjukkan bagaimana perusahaan asuransi jiwa menjaga fondasi bisnis di tengah perubahan industri.

Hingga semester pertama 2026, Sequis Life mencatatkan kinerja positif yang tetap sejalan dengan target tahunan. President Director & CEO Sequis Life, Ted Margono, mengatakan kinerja tersebut terutama terlihat dari pendapatan jasa asuransi dan hasil jasa asuransi, yang ditopang strategi penjualan yang efektif, optimalisasi operasional, serta penerapan manajemen risiko secara disiplin. “Hingga semester I 2026, Sequis Life mencatatkan kinerja yang positif dan tetap sejalan dengan target tahunan, terutama dari sisi pendapatan jasa asuransi dan hasil jasa asuransi,” tuturnya.

Di tengah dinamika ekonomi global, perubahan suku bunga, dan volatilitas pasar keuangan, Sequis Life tetap mempertahankan pendekatan prudent dalam mengelola bisnis dan investasi. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas pertumbuhan sekaligus mempertahankan fundamental bisnis perusahaan.

Dari sisi distribusi, kanal keagenan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan pendapatan perusahaan sepanjang semester pertama 2026.

Pada saat yang sama, Sequis Life terus memperkuat kontribusi dari kanal bancassurance dan employee benefit business. Diversifikasi kanal distribusi menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga pertumbuhan.

Selain strategi bisnis, penerapan PSAK 117 turut mengubah cara perusahaan membaca dan mengevaluasi kinerja. Bagi Sequis Life, penerapan standar tersebut tidak hanya dipandang sebagai perubahan dalam penyajian laporan keuangan, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas pengelolaan bisnis.

Memasuki semester kedua 2026, Sequis Life akan melanjutkan fokus pada pengembangan produk dan layanan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, penguatan kinerja operasional, serta pengelolaan investasi secara prudent. Memasuki paruh kedua tahun ini, masih ada sejum lah tantangan yang mesti dihadapi industri asuransi. Pertumbuhan ekonomi yang “segitu segitu aja”, pele mahan daya beli, kondisi pasar keuangan, perubahan regulasi, hingga penerapan PSAK 117 akan terus menguji kemampuan industri asuransi dalam menja lan kan bis nis. Tapi, justru di tengah situasi seperti inilah kualitas sebuah perusahaan asuransi terlihat. Bukan hanya dari seberapa cepat ia tumbuh, melainkan dari seberapa kuat ia mampu menjaga pertumbuhan dengan tetap sehat ketika keadaan berubah.

Pertumbuhan itu terutama dito pang industri asuransi jiwa. Hingga Juni 2026, premi asuransi jiwa tum buh 8,40% menjadi Rp94,83 triliun. Sementara, industri asuransi umum dan reasuransi masih menghadapi tekanan, tecermin dari premi yang terkontraksi 3,33% yoy menjadi Rp76,15 triliun.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2026

Rp 65.000

BELI