Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Menolak Terlena di Tengah Rimbunnya Sawit

Memimpin BPR di tengah industri sawit membuatnya terus mencari ruang untuk berinovasi dan bertumbuh secara sehat. Baginya, bank yang tak cepat puas akan lebih siap menghadapi perubahan dan memberi manfaat yang berkelanjutan.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

Sawit dan Kalimantan Tengah (Kalteng) adalah dua hal yang tak terpisahkan. Pada 2024, provinsi berjuluk Bumi Tambun Bungai ini merupakan salah satu daerah produsen sawit terbesar di Nusantara. Industri sawit menjadi motor penggerak perekonomian setempat dan mampu mendorong perputaran bisnis dari sektor lain untuk lebih hidup.

Bisa jadi, fakta itulah yang disadari I Ketut Yadnyana, Direktur Utama BPR Lingga Sejahtera, sejak menginjakkan kaki di Kalteng untuk memimpin bank rural ini. Namun, Ketut tidak terlena oleh kenyataan itu. Ia memahami bahwa kekuatan sebuah bank tidak boleh hanya bertumpu pada besarnya potensi ekonomi daerah. Keyakinan itu terbentuk dari perjalanan kariernya selama puluhan tahun di industri perbankan.

Sejatinya, pria kelahiran Kabupaten Badung, Bali, pada 1962 ini tidak memiliki keinginan untuk menjadi bankir. Maklum, ia lahir dengan latar belakang keluarga yang amat sederhana. Saking sederhananya, Ketut mengaku tidak berani bermimpi terlalu jauh.

“Waktu itu cita-cita saya dalam hal pekerjaan sangatlah sederhana. Bukan menjadi bankir, PNS, atau tentara, melainkan menjadi karyawan sebuah bengkel motor,” kenang Ketut kepada Infobank, bulan lalu.

Sejak belia, Ketut sudah harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, sembari menjalani pendidikannya. Di tengah kondisi yang penuh keterbatasan, anak kedua dari enam bersaudara ini tetap menjalani hari-harinya dengan tekun dan penuh semangat. Kerja keras serta keuletannya pun membuahkan hasil.

Tahun 1985 menjadi titik balik dalam perjalanan hidup Ketut. Pada periode itu, ia berhasil meraih gelar diploma dua (D-2) akuntansi dari Universitas Udayana, Bali. Di tahun yang sama, ia juga mulai menapaki dunia perbankan dengan berkarier di Bank Dagang Bali. Perjalanan kariernya kemudian berlanjut di Bank Century Intervest Corporation (Bank CIC) dan Bank ICB Bumiputera, yang kini bernama MNC Bank.

Kiprah Ketut di Bank ICB Bumiputera membuka pintu baru baginya untuk menjajal sektor perbankan mikro. Pada 2021, di usianya yang menyentuh angka 59 tahun, ia mendapat tawaran dari mantan atasannya untuk memimpin BPR Lingga Sejahtera, yang merupakan bagian dari ekosistem perusahaan Citra Borneo Indah (CBI), perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan sawit. Ketut menerima tawaran itu tanpa keraguan.

“Mantan bos saya menghendaki saya untuk bersedia memimpin salah satu unit bisnis di ekosistem grup, yang kebetulan sektor usahanya adalah perbankan, yakni BPR Lingga Sejahtera atau biasa kami sebut sebagai Bank Lingga. Sehingga, jadilah pada tahun 2021 saya masuk ke industri BPR dengan memimpin Bank Lingga,” terang Ketut.

Di awal masa kepemimpinannya, Ketut menyadari bahwa ia adalah “pendatang baru” yang mesti beradaptasi dengan berbagai hal. Kultur atau budaya di Kalteng sangat berbeda dengan di Pulau Dewata. Selain itu, bisnis BPR yang cenderung mengandalkan perekonomian akar rumput lokal, membuatnya makin unik dibandingkan dengan bank umum yang biasanya lebih universal dalam menerima nasabah.

Ketut tak menampik bahwa ia membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lanskap perbankan rural di Kalteng. Pria yang juga menyandang gelar sarjana (S-1) akuntansi ini pun mengakui, beberapa kalkulasi manajemen ternyata memeleset seiring dengan perubahan situasi di lapangan. Namun, Ketut beserta jajaran manajemen tetap bekerja keras secara maksimal untuk mengeluarkan potensi terbaik perusahaan.

Bagi Ketut, salah satu kekuatan utama Bank Lingga terletak pada ekosistem per usaha an induknya yang solid. BPR yang berpusat di kabupaten Kotawaringin Barat, Kalteng, ini mempunyai nasabah dari berbagai lini bisnis milik grup CBI. Bank Lingga juga mendapat transfer teknologi dari perusaha an induk, yang amat membantu operasionalnya.

Sektor sawit yang terus berkembang di Kalteng menjadi salah satu sumber bisnis yang menjanjikan bagi Bank Lingga. Prospek komoditas ini pun dinilai masih cerah hingga puluhan tahun mendatang, seiring dengan dorongan pemerintah terhadap hilirisasi dan pengembangan industri sawit. Menurut Ketut, peluang itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin melalui strategi bisnis yang terukur.

“Program hilirisasi kelapa sawit yang sedang gencar dilakukan oleh banyak perusahaan plantation, maupun program swasembada energi, seperti program BBM biodiesel B50, adalah tiga di antara sekian banyak peluang yang bisa diidentifikasikan Bank Lingga untuk turut berkontribusi sekaligus menjadikannya bisnis yang sehat dan menguntungkan,” ungkap Ketut.

Bagi sebagian orang, posisi yang kini dijalani Ketut mungkin sudah terasa sangat nyaman. Dukungan dari ekosistem perusahaan induk membuat kebutuh an operasional bank dapat di penuhi dengan baik. Tapi, sejak awal berkarier di dunia perbankan, ia percaya bahwa sebuah bank tidak boleh berhenti berinovasi. Eksplorasi terhadap peluang-peluang baru tetap diperlukan agar perusahaan tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Saat ini, Bank Lingga merupakan salah satu BPR terbesar di Indonesia dengan aset mencapai Rp2,02 triliun per Juni 2026. Dan, ambisi Ketut untuk membawa BPR yang dipimpinnya terus bertumbuh tetap menggebu.

Saat ini, Bank Lingga telah memiliki peta jalan bisnis, 10 tahunan, terhitung dari 2022 hingga 2031. Di penghujung peta jalan tersebut, Ketut berharap, aset Bank Lingga menyentuh Rp5 triliun. Dalam prosesnya, Bank Lingga berencana untuk membuka beberapa kantor baru di luar Kalimantan. Manajemen juga menargetkan initial public offering (IPO) sebagai salah satu langkah memperoleh tambahan modal demi mendukung ekspansi. Tak lupa, digitalisasi core banking juga menjadi perhatian untuk memperkokoh ekosistem perbankan.

Di tengah prospek sawit yang masih menjanjikan, Ketut menyadari bahwa keberhasilan Bank Lingga tidak boleh bergantung pada satu komoditas saja. Karena itu, strategi jangka panjang dicanangkan perusaha an agar tetap bertumbuh ketika siklus industri berubah. Ketut paham, fundamental perusahaan yang kokoh diperlukan guna memaksimalkan potensi komoditas ini, sekaligus menjadi bagian dari ekonomi sirkuler di Kalteng yang kokoh dan berkelanjutan.

“Kami tidak hanya berfokus pada pertumbuhan yang pesat semata. Kami percaya, kesehatan perusahaan, serta manfaat dari keberadaan kami bagi nasabah dan juga masyarakat Kalimantan Tengah secara umum, jauh lebih utama dari sekadar pertumbuhan yang pesat atau sekadar postur yang besar namun ringkih,” ungkap Ketut.

Kisah Ketut di Bank Lingga menjadi pelajaran bagi para bankir bahwa di tengah besarnya potensi yang dimiliki, sebuah bank tetap harus terus memperkuat fondasi, memperluas jangkauan bisnis, dan menyiapkan diri menghadapi perubahan yang tak pernah berhenti. Bank yang mampu bertahan dan melangkah jauh adalah bank yang sanggup menjaga keseimbangan antara ekspansi, kehati-hatian, dan keberlanjutan.

Bisa jadi, fakta itulah yang disadari I Ketut Yadnyana, Direktur Utama BPR Lingga Sejahtera, sejak menginjakkan kaki di Kalteng untuk memimpin bank rural ini. Namun, Ketut tidak terlena oleh kenyataan itu. Ia memahami bahwa kekuatan sebuah bank tidak boleh hanya bertumpu pada besarnya potensi ekonomi daerah. Keyakinan itu terbentuk dari perjalanan kariernya selama puluhan tahun di industri perbankan.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2026

Rp 65.000

BELI