Ada enam perusahaan pelat merah di bawah Kementerian Keuangan. Empat di antaranya meraih predikat “sangat bagus” di rating kali ini. Puncak peringkat ditempati Lembaga Pengelola Investasi.
Sumber : Istimewa
BIG Applause untuk Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA). Dalam rating BUMN kali ini, lembaga yang berada di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ini meraih total skor 90,43% dan berhak menyandang predikat “sangat bagus” berkat kinerja solid sepanjang 2025.
Capaian ini mencerminkan kinerja LPI yang kuat, terutama dari sisi rentabilitas dan efisiensi operasional. Berdasarkan hasil rating, LPI memperoleh nilai sempurna pada sejumlah aspek penilaian, termasuk rasio BO/PO dan rentabilitas. Pada aspek solvabilitas, LPI juga mencatat nilai yang tinggi, menunjukkan kondisi keuangan yang tetap terjaga di tengah ekspansi aktivitas investasi.
Dari sisi kinerja keuangan, perusahaan yang dipimpin Oki Ramadhana sebagai ketua dewan direktur dan chief executive officer (CEO) ini membukukan laba bersih Rp7,45 triliun pada 2025. Angka ini tumbuh 37,30% dari Rp5,42 triliun pada 2024. Pertumbuhan laba ditopang pendapatan usaha yang meningkat 43,01%, dari Rp5,91 triliun menjadi Rp8,45 triliun.
Aset LPI pada akhir 2025 mencapai Rp110,99 triliun, tumbuh 0,16% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Skala pengelolaan investasinya pun terus berkembang.
Assets under management (AUM) LPI tercatat Rp146,2 triliun pada akhir 2025, mencerminkan makin besarnya kapasitas perusahaan ini dalam mengelola portofolio investasi.
LPI juga terus aktif dalam penyaluran investasi di sektor-sektor strategis. Sepanjang 2025, INA bersama para coinvestor menyalurkan investasi sebesar Rp15,7 triliun atau sekitar US$982 juta. Kontribusi investasi INA mencapai Rp10,5 triliun atau sekitar US$654 juta. Penyaluran investasi tersebut mencakup sejumlah sektor strategis, seperti infrastruktur, transportasi dan logistik, energi hijau dan transisi energi, digitalisasi dan infrastruktur digital, layanan kesehatan, serta advanced materials.
Sejak resmi beroperasi pada 2021, LPI telah menyalurkan investasi secara kumulatif sekitar Rp74,5 triliun atau setara US$4,7 miliar bersama para co-investor. Dari total investasi tersebut, yang berasal dari INA mencapai Rp33,3 triliun atau sekitar US$2,1 miliar.
Dengan kinerja keuangan yang menguat dan kapasitas investasi yang terus berkembang, LPI kian menegaskan perannya sebagai pengelola investasi negara sekaligus katalis bagi masuknya modal ke sektor-sektor strategis perekonomian Indonesia.
SARANA Multi Infrastruktur (SMI) tampil membanggakan dengan meraih nilai sempurna di lima aspek penilaian, yaitu aspek pembiayaan banding aset total, pembiayaan banding kewajiban, modal sendiri banding aset total, rasio BO/PO, dan rentabilitas. Berkat capaian itu, perusahaan pelat merah ini berhasil membukukan laba Rp2,90 triliun pada 2025, tumbuh 30,08% dibandingkan dengan 2024 yang tercatat Rp2,23 triliun. Kenaikan laba ini ditopang pembiayaan sebesar Rp87,62 triliun, naik 0,12%.
Deru bisnis yang melaju kencang meningkatkan total pendapatan SMI dari Rp8,04 triliun menjadi Rp8,98 triliun. Perusahaan yang dipimpin Reynaldi Hermansjah sebagai direktur utama ini juga kian solid dengan permodalan yang kuat. Modal sendirinya tercatat tumbuh 5,94% menjadi Rp46,41 triliun. Kinerja perusahaan yang cemerlang menjadi jalan mulus bagi SMI meraih predikat “sangat bagus” dengan total skor 85,16% dalam rating kali ini. AUS
APRESIASI patut diberikan kepada Sarana Multigriya Finansial (SMF) atas konsistensinya dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan di saat sektor properti kini penuh tantangan. Sebagai special mission vehicle yang mendukung sektor perumahan di Indonesia, SMF terus menunjukkan kinerja impresif. Alhasil, perusahaan yang dipimpin Ananta Wiyogo sebagai direktur utama ini berhasil menyandang predikat “sangat bagus” dengan total skor 85,05%.
Tahun lalu, pembiayaan SMF tumbuh 17,50% menjadi Rp49,18 triliun dari Rp41,86 triliun pada 2024. Sementara, labanya tumbuh 4,73% menjadi Rp565,39 miliar. Pertumbuhan pembiayaan dan laba ini turut mendorong raihan aset yang tumbuh 14,92% menjadi Rp66,81 triliun. SMF mendapat nilai sempurna di aspek penilaian pembiayaan berbanding aset total, pembiayaan berbanding kewajiban, modal sendiri berbanding aset total, dan rasio BO/PO. AUS
PENJAMINAN Infrastruktur Indonesia (PII) menunjukkan kinerja yang solid pada 2025. Di rating ini, PII pun meraih predikat “sangat bagus” dengan total skor 84,06%.
Kinerja perusahaan yang dipimpin Andre Permana sebagai direktur bisnis dan plt direktur utama ini ditopang kondisi keuangan yang makin kuat. Total aset pada 2025 mencapai Rp17,72 triliun, meningkat 4,29% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat Rp16,99 triliun. Penguatan juga terlihat dari sisi ekuitas yang tumbuh 4,88% menjadi Rp17,49 triliun.
Dari sisi profitabilitas, PII membukukan laba Rp895,98 miliar pada 2025. Kemampuan perusahaan menjaga likuiditas turut menjadi salah satu kekuatan dalam penilaian, tecermin dari raihan nilai sempurna pada aspek aktiva lancar dibandingkan kewajiban jangka pendek. Kinerja tersebut memperkuat posisi PII sebagai perusahaan penjaminan yang memiliki fundamental keuangan yang sehat dan solid. AUS
Capaian ini mencerminkan kinerja LPI yang kuat, terutama dari sisi rentabilitas dan efisiensi operasional. Berdasarkan hasil rating, LPI memperoleh nilai sempurna pada sejumlah aspek penilaian, termasuk rasio BO/PO dan rentabilitas. Pada aspek solvabilitas, LPI juga mencatat nilai yang tinggi, menunjukkan kondisi keuangan yang tetap terjaga di tengah ekspansi aktivitas investasi.