Penulis adalah Honorable Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Artikel ini merupakan pendapat pribadi.
Sumber : Infobank
KEMAJUAN teknologi memang harus dimanfaatkan. Tentu sepanjang relevan dengan kebutuhan, misalnya untuk pemasaran. Pemasaran menggunakan teknologi, seperti artificial intelligence (AI), bukanlah hal baru.
Sudah banyak perusahaan menggunakan AI untuk aktivitas pemasarannya. Apakah semua entitas bisnis harus memanfaatkan AI untuk kegiatan pemasarannya?
Mengutip data dari DigitalAplied (2026), dari jumlah penduduk dunia 2026 yang sekitar 8,2 miliar, ternyata pengguna AI baru sekitar 16,46%. Pertanyaannya kemudian adalah apakah penggunaan AI untuk aktivitas pemasaran masih relevan?
Mengutip jurnal dari Harvard Division of Continuing Education (2025), fungsi AI dalam kegiatan pemasaran meliputi analisis data dan analitik prediktif, personalisasi, pembuatan konten, serta otomatisasi aktivitas kampanye. Secara akumulatif, pemanfaatan AI dalam aktivitas pemasaran akan menghasilkan antara lain rekomendasi produk, variasi penjelasan yang lebih kreatif, dan pemasaran secara otomatis.
Melissa Russel (Harvard University, 2025) menyatakan bahwa kegiatan pemasaran dengan menggunakan AI akan banyak mengurangi waktu untuk tugas-tugas berulang, seperti konten pemasaran melalui email dan medsos. Namun, pemasaran menggunakan AI juga masih disertai kelemahan, yaitu terkait dengan kesadaran, pemahaman, dan ketersediaan talenta yang menangani pemasaran melalui AI.
Secara teknis, pemasaran dengan memanfaatkan AI bukan hal sulit. Misalnya, ChatGPT yang dapat menghasilkan kampanye melalui email yang dipersonalisasi berdasarkan perilaku dan minat konsumen. Saya pernah mencoba menggunakan Copilot Microsoft. Ternyata aplikasi tersebut dapat menyusun rencana pemasaran dan blog serta akses pemasaran ke berbagai medsos.
Mungkin sudah banyak perusahaan yang menggunakan aplikasi untuk membuat konten publikasi. Demikian halnya terkait penggunaan AI untuk pemasaran.
Dengan kemudahan akses mendapatkan informasi, menggunakan AI sebagai alternatif pemasaran relatif tidak sulit. Selain dapat menganalisis data pelanggan, penggunaan AI dapat mempersonalisasi konten yang sesuai dengan pelanggan.
Penggunaan AI juga dapat untuk analisis prediktif – analisis untuk pengambilan keputusan berdasarkan data secara lebih akurat. Contoh Amazon, yang telah menggunakan AI untuk mengotomatiskan rekomendasi produk yang dipersonalisasi. Starbucks menggunakan AI untuk menganalisis riwayat pembelian, waktu, dan penawaran yang sangat personal.
Penggunaan AI memang bukanlah merupakan suatu kebaruan. Tapi, bisa menjadi kebaruan apabila sebelumnya tidak pernah melakukannya. Sebelum ada AI, penggunaan teknologi terkait pemasaran belum banyak dilakukan secara terintegrasi. Pendekatan pemasaran lebih fokus pada memperkenalkan poduk dan/atau jasa yang akan dijual. Ada beberapa hal terkait penggunaan AI dalam pemasaran.
Pertama, kesiapan untuk melakukan pemasaran dengan AI tidak memerlukan upaya ekstra karena data konsumen dan pesaing sudah sejak lama dimiliki. Sering kali pekerjaanpekerjaan terkait pemasaran adalah pekerjaan yang sifatnya berulang. Penggunaan AI tentunya akan lebih banyak mengurangi pekerjaan manual. AI dapat meningkatkan efisiensi. Dampaknya antara lain upaya untuk personalisasi terkait iklan misalnya menjadi lebih mudah dan cepat.
Kedua, selain efisiensi waktu, penggunaan AI dalam aktivitas pemasaran memudahkan dalam melakukan berbagai simulasi, baik format maupun konten, yang lebih variatif. Dengan demikian, akan lebih banyak kreativitas yang bisa diadopsi. Bagaimanapun, keunggulan AI untuk berkreasi harus dimanfaatkan secara optimal, termasuk untuk pemasaran. AI dengan cepat dapat melakukan pengelolaan biaya iklan, efektivitas iklan, dan meningkatkan pengembalian investasi iklan secara keseluruhan.
Saat ini, banyak perusahaan yang memperhitungkan tingkat pengembalian biaya promosi dikaitkan dengan hasilnya. Dengan menggunakan AI, menjadi makin mudah menghitung hasil pemasaran, baik secara finansial maupun nonfinansial.
Ketiga, AI dapat mendesain konten pemasaran yang lebih menarik yang disajikan melalui aplikasi. Selain menu, dapat disajikan fasilitas informasi lainnya, seperti pilihan produk berupa teks, gambar, atau video. Tentunya dituntut kreativitas yang tinggi agar selain lebih menarik juga tetap informatif. Artinya apa yang disampaikan tetap mudah dipahami dan dimengerti. Hasilnya bisa saja tidak secara langsung berupa permintaan. Tapi, setidaknya, dengan konten pemasaran yang menarik akan memberikan nilai tambah tersendiri dan menjadi bagian dari unsur citra perusahaan.
Menggunakan AI untuk pemasaran tentu tetap ada kekurangannya. AI bagaimanapun memiliki keterbatasan dalam merespons dibandingkan dengan manusia. Kelemahan lainnya adalah akurasi jawaban AI sangat tergantung pada data yang dimiliki dan bisa saja jawabannya tidak selalu memuaskan.
Sebagai catatan penutup, walaupun semua dapat dilakukan oleh AI, bukan berarti peran manusia tidak diperlukan lagi. Karena itu, tetap diperlukan kolaborasi antara pemasaran dengan AI dan manusia.
Sudah banyak perusahaan menggunakan AI untuk aktivitas pemasarannya. Apakah semua entitas bisnis harus memanfaatkan AI untuk kegiatan pemasarannya?