Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Jaringan Prima

Prima Executive Gathering 2026 Beyond Tomorrow: Securing Progress – Accelerating in Unity

Tuntutan terhadap keamanan dan keandalan sistem pembayaran terus meningkat seiring dengan akselerasi digital, seperti naiknya transaksi ekonomi digital dan berkembangnya Artificial Intelligence. Perlu mempererat kolaborasi, menyelaraskan standar, dan menjaga tata kelola Bersama.

Oleh Steven Widjaja/Darto Wiriosukarto
Sumber : Infobank

Sumber : Infobank

Pengelola Jaringan PRIMA, PT Rintis Sejahtera (RINTIS), berhasil menggelar Prima Executive Gathering (PEG) 2026 di The Mulia, Nusa Dua, Bali, Kamis, 6 Agustus 2026. Mengusung tema “Beyond Tomorrow: Securing Progress – Accelerating in Unity”, forum tahunan ini menjadi ajang memperkuat kolaborasi antarpelaku industri sistem pembayaran nasional dalam menghadapi berbagai tantangan seiring dengan peningkatan signifikan transaksi ekonomi digital.

Diikuti sekitar 250 orang peserta, Prima Executive Gathering 2026 dihadiri oleh regulator, asosiasi, dan pelaku industri sistem pembayaran, baik Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) bank maupun nonbank. Acara tahunan yang eksklusif dan ditunggu-tunggu members Jaringan PRIMA ini menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi di tengah akselerasi digital serta dinamika risiko dan keamanan siber yang semakin kompleks.

Prima Executive Gathering 2026 dibuka secara simbolis oleh jajaran pimpinan regulator, asosiasi dan industri, yaitu Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta, Ketua Umum ASPI Santoso, Direktur Bisnis Bank BPD Bali I Nyoman Sumanaya, dan Presiden Direktur PT Rintis Sejahtera Abraham J. Adriaansz. 

Pada sesi International Best Practices, Prima Executive Gathering 2026 menghadirkan tiga pembicara yang membawakan praktik terbaik global terkait penerapan AI di sektor jasa keuangan. Mereka adalah Kenneth Siow, Senior Vice President INF Tech; P Pembukaan acara “Prima Executive Gathering 2026” News & Trend | Jaringan Prima | Ted Ding, Director of Tencent Cloud Global Technical Support Team; dan Shimin Zhang, Director of AI Solution Architecture at Tencent Cloud. Pemaparan ketiga international speaker tersebut dipandu Darrick Rochili, Chief Innovation Officer DANA Indonesia.

Melalui sesi ini, peserta memperoleh gambaran mengenai transformasi AI di sektor jasa keuangan yang telah memasuki babak baru. AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu individu, tetapi mulai berkembang sebagai rekan kerja digital yang dapat berkolaborasi dengan manusia dan membangun kecerdasan kolektif organisasi.

Pada sesi diskusi siang, para pelaku industri berdiskusi dalam panel bertajuk “Accelerating in Unity: Transforming While Performing in an Uncertain World”. Diskusi menghadirkan enam narasumber, yakni Santoso, Ketua Umum ASPI; Dr. Kaspar Situmorang, Group Head Digital Retail Banking BRI; Arga M. Nugraha, Wakil Direktur Utama BSN; Dodit Wiweko Probojakti, Direktur Teknologi Informasi, Digital, dan Operasi Bank Jatim; Ahmad Mikail Madjid, Direktur Teknologi Permata Bank; serta Fajar Septandri Maharjaya, Executive Director, Country Data Officer UOB Indonesia.

Pada sesi diskusi panel yang dimoderatori oleh Abraham J. Adriaansz, Presiden Direktur Rintis Sejahtera, dibahas percepatan transformasi digital dan inovasi dalam industri pembayaran serta perbankan Indonesia di tengah ketidakpastian. Para panelis menekankan pentingnya manajemen risiko sebagai keunggulan kompetitif, keberhasilan interoperabilitas seperti QRIS, serta kolaborasi industri untuk menghadapi tantangan bersama.

Tantangan tersebut mencakup penipuan siber dan efisiensi operasional di tengah kondisi ekonomi yang menantang, sekaligus memastikan kepatuhan terhadap standar seperti SNAP (Standar Nasional Open API Pembayaran).

Sebagai puncak acara, RINTIS menggelar gala dinner dan malam apresiasi Prima Awards 2026 hasil kerja sama dengan Biro Riset Infobank. Pada sesi Closing Keynote Speech menghadirkan Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan Republik Indonesia periode 2011–2014. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada 30 mitra terbaik Jaringan PRIMA.

Kolaborasi Jadi Kunci Hadapi Risiko Siber

Dalam sambutan pembuka, Abraham J. Adriaansz menjelaskan tema “Beyond Tomorrow: Securing Progress – Accelerating in Unity” merefleksikan pentingnya industri sistem pembayaran untuk terus bergerak maju di tengah ketidakpastian dan perubahan teknologi yang berlangsung semakin cepat.

Menurutnya, kemajuan industri tidak hanya membutuhkan peningkatan kinerja, tetapi juga ketahanan yang dibangun melalui kolaborasi antarpemangku kepentingan.

“Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat dan lanskap risiko yang terus berubah, industri sistem pembayaran tidak dapat hanya berfokus pada peningkatan kinerja, tetapi juga perlu membangun ketahanan untuk menghadapi tantangan di masa depan,” ujar Abraham.

Abraham mengatakan ancaman siber yang semakin kompleks, termasuk serangan DDoS dan penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI), menuntut seluruh pihak untuk terus beradaptasi dan memperkuat kesiapan bersama. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci untuk memastikan inovasi dapat terus berjalan secara aman, andal, dan berkelanjutan. 

Transaksi Digital Diproyeksi Melonjak 4 Kali Lipat

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta saat memberikan Opening Keynote Speech menegaskan, sistem pembayaran nasional akan memasuki fase baru seiring lonjakan transaksi digital yang diperkirakan meningkat hingga empat kali lipat pada 2030. Hal itu didorong oleh dominasi penduduk usia produktif, semakin derasnya inovasi digital, serta meningkatnya konektivitas lintas sektor.

Ia menyebut Indonesia kini memiliki sekitar 290 juta penduduk, dengan sekitar 70 persen berada pada usia produktif. Generasi muda, khususnya Generasi Z dan Alpha, akan menjadi motor utama ekonomi digital nasional.

Berdasarkan materi presentasi Filianingsih, transaksi ekonomi digital diperkirakan naik dari sekitar 37 miliar transaksi pada 2024 menjadi 147,3 miliar transaksi pada 2030. Sementara transaksi off-us diproyeksikan mencapai 48,6 miliar transaksi, transaksi QRIS off-us sekitar 30,7 miliar transaksi, dan transfer kredit melalui BI-FAST maupun RJA sekitar 17,9 miliar transaksi.

Namun, pertumbuhan tersebut juga diiringi tantangan baru berupa meningkatnya risiko siber, rendahnya literasi digital, peningkatan fraud, isu perlindungan konsumen, hingga maraknya transaksi ilegal. Karena itu, BI menilai pembangunan infrastruktur pembayaran yang tangguh dan terintegrasi menjadi kebutuhan mendesak.

Untuk mengantisipasi pertumbuhan tersebut, BI menyiapkan penguatan infrastruktur, konsolidasi industri, pengembangan inovasi, hingga perluasan konektivitas pembayaran lintas negara. Menurutnya, di tengah ketidakpastian ekonomi global, digitalisasi justru menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Kita meyakini akselerasi inovasi digital mampu memperkuat produktivitas ekonomi sebagai necessary condition bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Filianingsih.

Ia mengatakan, produktivitas tersebut tercipta melalui transaksi yang semakin cepat, biaya yang lebih murah, serta perputaran uang (velocity of money) yang lebih efisien.

Filianingsih menjelaskan, arah pengembangan sistem pembayaran ke depan dituangkan dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030, sebagai kelanjutan dari BSPI 2025. Blueprint terbaru itu disusun untuk memastikan sistem pembayaran nasional mampu mengikuti pesatnya digitalisasi ekonomi sekaligus tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

Industri Perbankan Paling Siap Menerima AI

Pada sesi International Best Practices, Kenneth Siow, Senior Vice President INF Tech, memaparkan topik “From AI Adoption to AI Transformation: Building the Intelligent Payment Ecosystem”. Menurut dia, transformasi kecerdasan buatan di industri perbankan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki model AI terbesar, melainkan oleh siapa yang mampu membangun platform AI yang paling terbuka, terpercaya, dan terintegrasi.

Kenneth memuji kemajuan transformasi digital Indonesia, khususnya keberhasilan membangun ekosistem pembayaran berbasis QR yang dinilainya sebagai salah satu yang paling inklusif di dunia. Menurut dia, dengan kondisi geografis yang tersebar di ribuan pulau, capaian tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjadi salah satu pemimpin transformasi AI di kawasan.

Ia kemudian mengajak para pelaku industri melihat AI sebagai gelombang teknologi kelima setelah internet, arsitektur x86, mobile, dan cloud. Namun berbeda dari era sebelumnya, keberhasilan AI tidak lagi ditentukan oleh kualitas model semata. “Masa depan Enterprise AI tidak akan dimenangkan oleh perusahaan yang memiliki model terbesar, tetapi oleh mereka yang membangun arsitektur AI yang paling terbuka, terpercaya, dan interoperabel,” ujar Kenneth.

Kenneth memaparkan bahwa hampir seluruh organisasi dunia sebenarnya sudah menggunakan AI. Mengutip berbagai studi global, ia menyebut 88% organisasi telah memakai AI pada sedikitnya satu fungsi bisnis, sementara 72% sudah menggunakan generative AI, melonjak dari hanya sekitar 33% dua tahun sebelumnya.

Kenneth menilai perkembangan AI kini memasuki fase baru, yakni agentic AI, ketika AI tidak lagi sekadar menjawab pertanyaan, tetapi mampu menjalankan pekerjaan secara mandiri. Ia mencontohkan berbagai inovasi terbaru, mulai dari Google AP2 (Agent Payments Protocol), kontribusi Google dan Mastercard dalam standardisasi pembayaran agen AI melalui FIDO Alliance, Visa Intelligent Commerce, hingga Mastercard Agent Pay for Machines yang memungkinkan transaksi dilakukan antarsistem tanpa campur tangan manusia. Menurutnya, perkembangan tersebut akan mengubah cara industri perbankan menjalankan proses bisnis, khususnya pembayaran digital.

Governance Menjadi Fondasi

Sesi berikutnya menghadirkan Ted Ding, Director of Tencent Cloud Global Technical Support Team, dan Shimin Zhang, Director of AI Solution Architecture at Tencent Cloud, dengan topik “Tencent Case Study: Proven and Potential AI-enabled Use Cases”.

Ted Ding mengatakan, transformasi kecerdasan buatan di industri jasa keuangan tidak seharusnya dimulai dari memilih model AI paling canggih. Sebaliknya, fondasi berupa tata kelola (governance), kualitas data, keamanan, hingga modernisasi infrastruktur menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi AI dalam jangka panjang.

Mengusung pengalaman Tencent membangun ekosistem AI di internal perusahaan hingga mendukung transformasi lembaga keuangan di berbagai negara, Ted menegaskan bahwa banyak organisasi masih keliru dengan langsung berfokus pada penggunaan large language model (LLM), padahal persoalan mendasar justru berada pada kualitas data dan kesiapan sistem. “Jika Anda tidak memiliki kualitas data yang baik dan aplikasi yang telah terdigitalisasi, maka model AI sebesar apa pun tidak akan memberikan hasil optimal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Tencent sendiri telah menjalani perjalanan transformasi AI sejak 2018. Perusahaan itu membentuk organisasi riset AI khusus, merekrut talenta terbaik, hingga mendorong seluruh unit bisnis mengintegrasikan AI ke dalam proses kerja.

Data yang dipaparkan Tencent menunjukkan perusahaan tersebut kini memiliki lebih dari 75.000 insinyur TI, dengan 100% engineer telah menggunakan AI coding tools dalam aktivitas pengembangan perangkat lunak. AI juga diterapkan pada proses coding, code review, quality assurance, layanan pelanggan, pemasaran, SDM, hingga fungsi legal dan keuangan.

Ted mengatakan keberhasilan tersebut bukan semata karena penggunaan model AI terbaru, melainkan adanya perubahan budaya organisasi yang menjadikan AI sebagai bagian dari proses bisnis sehari-hari.

Menurut Ted, sebelum berbicara mengenai AI generatif, setiap institusi keuangan harus terlebih dahulu membangun fondasi keamanan dan tata kelola. Tencent membagi fondasi tersebut ke dalam tiga aspek utama, yakni keamanan data (data security), keamanan model AI (model security), serta compliance dan governance.

Pada aspek keamanan data, Tencent menerapkan perlindungan privasi data pelatihan, enkripsi data, pengelolaan siklus hidup data, serta anonimisasi informasi sensitif. Sementara pada keamanan model, perusahaan menerapkan perlindungan bobot model (model weights), pertahanan terhadap serangan adversarial, perlindungan dari prompt injection, hingga penyaringan konten keluaran AI.

Di sisi tata kelola, Tencent menekankan pentingnya audit keterjelasan keputusan AI (explainability), pencatatan log operasional, pengaturan hak akses secara rinci, serta kepatuhan terhadap regulasi. “Leader harus menganggap governance sebagai langkah pertama ketika membangun AI,” ucap Ted.

Transformasi AI Perbankan dari “Super Individual” Menuju “Super Team”

Director of AI Solution Architecture Tencent Cloud, Shimin Zhang dalam paparannya menjelaskan, transformasi kecerdasan buatan di sektor jasa keuangan telah memasuki babak baru. Jika sebelumnya AI hanya dimanfaatkan sebagai alat bantu individu, kini teknologi tersebut berkembang menjadi rekan kerja digital yang mampu berkolaborasi dengan manusia dan membangun kecerdasan kolektif organisasi.

Menurut Zhang, perjalanan AI selama tiga tahun terakhir berkembang melalui tiga fase. Fase pertama adalah AI sebagai tool atau alat bantu percakapan. Fase kedua adalah AI yang mampu menjalankan alur kerja (workflow) secara otomatis. Fase ketiga, yang kini mulai diterapkan banyak perusahaan, adalah AI yang bekerja berdampingan dengan manusia dalam satu ruang kolaborasi untuk menyelesaikan pekerjaan bersama.

“Individu sudah merasakan manfaat AI, tetapi organisasi sering kali belum. Tantangan terbesar sekarang adalah bagaimana mengubah produktivitas individu menjadi produktivitas organisasi,” ujar Zhang.

Ia menilai tahun 2026 menjadi titik penting perkembangan AI. Selain biaya model bahasa besar (large language model/LLM) yang menurutnya telah turun lebih dari 80%, kemampuan agen AI juga semakin matang sehingga dapat dipercaya menjalankan pekerjaan di lingkungan perusahaan.

Lebih lanjut, Zhang memperkenalkan tiga kapabilitas utama yang menurut Tencent Cloud menjadi fondasi penerapan AI di industri keuangan, yakni Expert, Assistant, dan Team.

Kapabilitas pertama adalah Expert, yakni agen AI yang mengintegrasikan keahlian spesifik suatu bidang, metode kerja, serta basis pengetahuan sehingga dapat digunakan siapa saja di dalam organisasi. Dengan pendekatan tersebut, keahlian profesional tidak lagi hanya dimiliki individu tertentu, melainkan dapat didistribusikan kepada seluruh pegawai melalui AI.

Kapabilitas kedua adalah Assistant, yakni asisten AI yang selalu aktif di cloud dan tidak lagi bergantung pada perangkat tertentu. Berbeda dengan chatbot konvensional, asisten AI ini memiliki memori yang terus berkembang, mampu mengerjakan tugas jangka panjang, serta dapat diaktifkan secara individu maupun sebagai tim yang terdiri dari berbagai agen dengan spesialisasi berbeda.

Sebagai contoh, sebelum rapat dengan nasabah, pengguna cukup mengaktifkan tim asisten AI. Selanjutnya, berbagai agen akan bekerja secara paralel menyusun materi presentasi, mengolah data, hingga menyiapkan dokumen sehingga hasil akhirnya siap digunakan.

Kapabilitas ketiga yang menjadi fokus Tencent Cloud adalah Team. Zhang menilai banyak organisasi telah memiliki individu-individu berkinerja tinggi, tetapi belum mampu membentuk tim yang benar-benar efektif karena tidak adanya ruang kolaborasi bersama, konteks pekerjaan yang sering hilang ketika berpindah orang, serta proses serah terima pekerjaan (handover) yang memakan waktu. (SW/DW)

Diikuti sekitar 250 orang peserta, Prima Executive Gathering 2026 dihadiri oleh regulator, asosiasi, dan pelaku industri sistem pembayaran, baik Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) bank maupun nonbank. Acara tahunan yang eksklusif dan ditunggu-tunggu members Jaringan PRIMA ini menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi di tengah akselerasi digital serta dinamika risiko dan keamanan siber yang semakin kompleks.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2026

Rp 65.000

BELI