Industri asuransi umum bakal menghadapi pertaruhan besar di 2027, yakni memburu pertumbuhan di tengah tekanan premi, profitabilitas, modal, dan kualitas risiko. Tapi, peluang pasar masih terbuka seiring dengan ekspansi ekonomi dan kebutuhan perlindungan yang meningkat.
ADA yang ganjil di industri asuransi umum. Risiko makin beragam, tapi bisnis perlindungan belum ikut membesar. Bencana, kerusakan aset, kecelakaan, hingga risiko pembia ya an terus mengintai perekonomian. Jadi, mestinya kebutuhan untuk mengalihkan risiko makin besar. Tapi, faktanya tidak demikian. Industri asuransi umum saat ini malah terlihat seperti sedang berjalan di jalur lambat.
Berdasarkan data Biro Riset Info Bank (birI), pendapatan premi bruto industri asuransi umum hingga Juni 2026 tumbuh minus 2,50% secara tahunan menjadi Rp55,15 triliun. Tekanan di sisi premi kemudian berlanjut ke laba. Laba tercatat merosot 32,27% menjadi Rp5,41 triliun dari Rp7,99 triliun.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Hera wan, melihat sumber premi industri masih sangat berkaitan dengan tiga lini bisnis utama. “Saya nggak berani menetapkan target yang besar. Tapi yang jelas, indikator perolehan premi itu memang ada tiga line of business, yaitu properti, kendaraan bermotor, dan asuransi kredit,” ujar Budi kepada Infobank.
Target pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6% dapat menjadi salah satu sumber permin taan. Peningkatan aktivitas ekonomi berpotensi memperbesar kebutuhan perlin dungan terhadap aset, kendaraan, proyek, dan pembiayaan. Belanja pemerintah pada pendidikan, perlin dungan sosial, subsidi energi, dan ketahanan pangan juga dapat mencip takan aktivitas ekonomi yang membutuhkan perlindungan.
Namun, ada satu persoalan yang tak boleh diabaikan. Pertumbuhan ekonomi belum otomatis menjadi pertumbuhan industri asuransi. Hingga Juni 2026, ekonomi masih tumbuh sekitar 5,6%, tapi premi asu ransi umum justru turun. Ini menunjukkan adanya jarak (protection gap) antara aktivitas ekonomi dan peng gunaan produk asuransi. Jarak itulah yang perlu dipersempit pada 2027.
Sektor kesehatan menjadi salah satu ruang yang dapat digarap. Besar nya belanja kesehatan membuka peluang bagi industri asuransi umum untuk mengambil porsi sekitar 20% 30% dari belanja asuransi Kesehatan yang dibahas pemerintah. Tapi, peluang itu datang bersama per soalan medical inflation. Jika biaya medis terus meningkat tanpa pengen dalian, pertumbuhan premi belum tentu berbanding lurus dengan perbaikan profitabilitas.
Sementara itu, tantangan yang lebih dekat dengan neraca perusa haan asuransi datang dari penerapan new RBC mulai 1 Januari 2027. Berda sarkan simulasi sementara yang di sampaikan Budi, rasio RBC se jumlah perusahaan berpotensi turun signifikan dibandingkan metode yang berlaku saat ini. Dalam sejumlah simu lasi, penurunannya disebut-sebut dapat mencapai rata-rata sekitar 200%.
Maka, memasuki 2027, perusahaan asuransi umum menghadapi dua kebutuhan yang berjalan bersa maan. Bisnis harus diperbesar, tapi modal dan kualitas risiko juga harus dijaga. Mengejar premi tanpa memperhatikan kualitas underwriting dapat menciptakan persoalan baru. Sebalik nya, terlalu berhati-hati juga dapat membuat industri kehilangan ruang bisnis yang sebenarnya masih terbuka. Lebih dari itu, konsolidasi struk tural dan penerapan standar PSAK 117 (IFRS 17) akan memacu trans formasi kuali tas bisnis asuransi umum ke depan.
Berkaca pada kinerja hingga Juni 2026 serta sejumlah peluang dan tantangan yang ada, Infobank memproyeksikan premi bruto industri asuransi umum pada 2027 akan tumbuh di kisaran 3%-6%.
Berdasarkan data Biro Riset Info Bank (birI), pendapatan premi bruto industri asuransi umum hingga Juni 2026 tumbuh minus 2,50% secara tahunan menjadi Rp55,15 triliun. Tekanan di sisi premi kemudian berlanjut ke laba. Laba tercatat merosot 32,27% menjadi Rp5,41 triliun dari Rp7,99 triliun.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Hera wan, melihat sumber premi industri masih sangat berkaitan dengan tiga lini bisnis utama. “Saya nggak berani menetapkan target yang besar. Tapi yang jelas, indikator perolehan premi itu memang ada tiga line of business, yaitu properti, kendaraan bermotor, dan asuransi kredit,” ujar Budi kepada Infobank.