Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Financial & Banking Outlook 2027 | Perspektif Ekonom

Ekonomi 2027 di Mata Ekonom: Tetap Melaju Saat Badai Mengintai

Menjaga daya tahan menjadi kunci ekonomi Indonesia memasuki 2027 di tengah ketidakpastian. Bagi perbankan, peluang tumbuh tetap terbuka, tapi kualitas kredit, likuiditas, dan efisiensi jadi penentu pertumbuhan yang sehat.

Oleh Ari Nugroho
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

Tahun 2027 bisa jadi ekonomi Indonesia tetap resilien, tapi menghadapi ruang gerak yang makin kompleks. Konsumsi domestik, investasi, hilirisasi, manufaktur, dan proyek strategis pemerintah masih menjadi penopang utama, sementara perlambatan ekonomi global, geopolitik, harga energi, suku bunga tinggi, dan daya beli menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.

Bagi perbankan, peluang pertumbuhan tetap terbuka seiring kebutuhan pembiayaan ekonomi, tapi persaingan dana, biaya funding, kualitas kredit, dan likuiditas menuntut strategi yang lebih selektif. Karena itu, tahun depan ceritanya bukan sekadar tentang mengejar pertumbuhan, melainkan bagaimana menjaga kualitas, ketahanan, dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi serta perbankan. Berikut pandangan sejumlah ekonom yang ditemui Infobank terkait outlook ekonomi dan perbankan Indonesia 2027:

Ekonomi Indonesia pada 2027 diperkirakan tetap resilien di tengah perlambatan ekonomi global. Pertumbuhan diproyeksikan sekitar 5,1%, lebih rendah daripada target pemerintah sebesar 6%, karena dorongan fiskal yang makin terbatas dan tekanan eksternal yang masih kuat. Meski begitu, investasi sektor publik, hilirisasi, data center, serta masuknya investasi swasta menjadi penopang utama pertumbuhan. Jika eksekusi proyek strategis berjalan lebih cepat daripada perkiraan, pertumbuhan bahkan berpeluang mendekati 6%.

Tantangan terbesar datang dari global, terutama perlambatan ekonomi Tiongkok, ketidakpastian geopolitik, harga energi, serta era suku bunga tinggi yang membatasi ruang pelonggaran moneter. Di dalam negeri, konsumsi rumah tangga masih perlu dijaga, khususnya kelompok me nengah yang pertumbuhannya relatif melambat. Karena ruang fiskal terbatas, pemerintah perlu mengarah kan belanja ke sektor dengan multiplier ekonomi tinggi. Sementara, sektor swasta harus menjadi penggerak utama investasi dan ekspor. Hilirisasi, manufaktur, otomotif, pangan, dan sektor yang mampu menyerap tenaga kerja menjadi area penting untuk menjaga momentum ekonomi.

Dari sisi perbankan, pertumbuhan kredit diperkirakan berada di kisaran 9%-10% pada 2027, melambat dari proyeksi sekitar 13% pada 2026. Pertumbuhan DPK juga diperkirakan lebih moderat di kisaran 8%-10%, sejalan dengan ekonomi yang tumbuh lebih landai dan ekspansi kredit yang mulai kembali ke pola organik. Kredit investasi masih berpeluang menjadi motor melalui proyek publik, data center, hilirisasi, dan skema pembiayaan bersama swasta, sementara kredit konsumsi dan UMKM diharapkan mulai menguat ketika daya beli membaik. Dengan kondisi itu, perbankan akan menghadapi kebutuhan menjaga keseimbangan antara ekspansi aset, likuiditas, dan margin.

Tahun 2027 akan menjadi fase penting bagi perbankan untuk bermain lebih selektif. Era suku bunga tinggi membuat biaya funding menjadi tantangan, sehingga bank tak bisa hanya mengandalkan kenaikan lending rate dan perlu memperkuat CASA, fee based income, kualitas layanan, serta ekosistem nasabah. Likuiditas secara sistem masih dinilai cukup, tapi ekspansi kredit yang agresif dapat membuat sebagian kelompok bank merasa lebih ketat sehingga strategi liability management menjadi krusial. Jika investasi publik berhasil menarik investasi swasta, proyek hilirisasi berjalan lebih cepat, dan konsumsi mulai pulih, ekonomi serta perbankan punya ruang tumbuh lebih tinggi. Sebaliknya, tekanan global dan risiko eksekusi akan menjadi rem utama pada 2027.

Ekonomi 2027 diproyeksikan makin solid. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan naik dari 5,35% pada 2026 menjadi 5,47% pada 2027, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor. Daya beli berpeluang membaik seiring inflasi yang lebih terkendali, stabilitas harga pangan, serta tekanan inflasi impor yang mereda. Program prioritas pembangunan pemerintah juga menjadi katalis penting jika eksekusinya berjalan mulus.

Konsumsi domestik tetap menjadi mesin utama ekonomi, sementara investasi berpotensi menjadi game changer karena bisa memperkuat kapasitas produksi dan menciptakan efek pengganda yang lebih besar. Ekspor berbasis komoditas olahan dan hilirisasi juga punya ruang tumbuh karena memberi nilai tambah lebih tinggi bagi ekonomi. Sektor yang berpeluang menarik antara lain properti residensial, energi, pangan, barang konsumsi, ritel, transportasi, pergudangan, akomodasi, teknologi informasi, dan komunikasi.

Di sektor perbankan, pertumbuhan DPK diproyeksikan melambat dari 12,20% pada 2026 menjadi 9,89% pada 2027, sedangkan kredit diperkirakan tumbuh 9,96% pada 2026 dan 9,77% pada 2027. Dengan kondisi ekonomi yang lebih kondusif, risiko perang dana dan kenaikan cost of funds diperkirakan mereda, sehingga NIM berpeluang kembali melebar. Bank pun memiliki ruang mengejar volume kredit, terutama jika investasi domestik dan arus dana global kembali menguat.

Tapi, outlook 2027 bukan tanpa tantangan. Eskalasi geopolitik, harga minyak di atas US$90 per barel dalam waktu panjang, kenaikan suku bunga global maupun domestik, serta eksekusi program pembangunan yang tersendat bisa menekan investasi, perdagangan, likuiditas, dan kualitas pertumbuhan kredit. Sebaliknya, jika stabilitas global membaik, bunga tidak kembali menanjak, dan program prioritas pemerintah terealisasi efektif, ekonomi dan perbankan punya ruang untuk tumbuh lebih kuat.

Ekonomi Indonesia 2027 diproyeksikan tumbuh sekitar 5,22%, masih bertahan di kisaran 5% tapi belum mencapai target pemerintah sebesar 6%. Konsumsi rumah tangga tetap men jadi jangkar, sementara investasi diperkirakan tumbuh 6,03% dan harus menjadi mesin akselerasi baru. Tantangannya adalah mengurangi ketergantungan pada belanja pemerintah dengan memperkuat investasi swasta, produktivitas tenaga kerja, daya beli, serta kepastian usaha.

Dari sisi sektoral, peluang terbesar datang dari manufaktur bernilai tambah, hilirisasi, ekonomi digital, energi bersih, semikonduktor, pusat data, hingga industri padat karya. Ekspor diproyeksikan tumbuh 7,31%, tapi impor juga diperkirakan naik 9,13%, sehingga kontribusi perdagangan belum otomatis besar. Ruang pertumbuhan terbuka lebar jika investasi swasta, hilirisasi, dan ekspor bergerak lebih cepat. Sementara, risiko tetap datang dari suku bunga global, harga energi, perlambatan ekonomi Tiongkok, tekanan rupiah, dan daya beli domestik.

Perbankan 2027 diperkirakan tetap ekspansif, tapi lebih selektif. Kredit diproyeksikan tumbuh 10,4%, sedangkan DPK sekitar 8,6%=8,8%, membuat rasio kredit terhadap DPK meningkat menjadi sekitar 87,8%. Gap pertumbuhan itu menunjukkan peluang bisnis yang masih besar, sekaligus membuat persaingan dana dan cost of fund menjadi tantangan serius, terutama ketika pertumbuhan deposito lebih cepat daripada tabungan dan tekanan terhadap NIM masih berlanjut.

Dengan kondisi itu, 2027 bukan lagi sekadar soal mengejar volume kredit, melainkan mencari quality growth. Bank punya ruang memperbesar pembiayaan ke industri pengolahan, hilirisasi, infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan kegiatan ekspor produktif, tapi tetap harus menjaga kualitas aset, terutama pada UMKM dan kredit konsumsi. Fondasi perbankan masih kuat dari sisi modal dan likuiditas, sehingga tantangan utamanya lebih mengarah pada profitabilitas, biaya
dana, kualitas debitur, serta kemampuan mengubah likuiditas menjadi kredit produktif.

Tahun 2027 diperkirakan menjadi fase pertumbuhan yang tetap solid, tapi tidak bebas tekanan. Ekonomi Indo nesia secara realistis diproyeksi kan tumbuh sekitar 5,3%, dengan rentang risiko 4,8% hingga sekitar 5,8%-6% jika kondisi domestik dan global lebih mendukung. Pertumbuhan global sendiri diperkirakan berada di kisaran 3%-3,2%, sehingga Indonesia masih punya ruang untuk menjaga momentum melalui konsumsi, investasi, dan aktivitas ekonomi domestik.

Bagi perbankan, 2027 tampaknya bukan waktunya ngegas berlebihan. Pertumbuhan funding atau DPK diperkirakan sekitar 7%-9%, sementara kredit berada di kisaran 9%-11%, lebih moderat dibandingkan dengan pertumbuh a n kredit industri yang sebelumnya diperkira kan sekitar 13%. Artinya, bank perlu lebih selektif membaca kualitas debitur, menjaga likuiditas, dan tidak sekadar mengejar volume kredit, terutama ketika pertumbuhan Himbara yang sangat tinggi dapat membuat angka industri terlihat lebih gemuk dari pertumbuhan organiknya.

Peluang 2027 tetap terbuka lebar dari ekonomi domestik yang menjadi penopang utama pertumbuhan, program pemerintah yang mendorong pembiayaan, serta makin kuatnya konektivitas perdagangan dengan negaranegara Asia. Tapi, tantangannya juga tidak kaleng-kaleng: fragmentasi ekonomi global, perang tarif, konflik geopolitik, harga minyak, tekanan rupiah, inflasi yang membandel, hingga risiko suku bunga higher for longer bisa menahan ekspansi. Perbankan juga harus mewas padai tekanan likuiditas karena dana masyarakat dapat berpindah ke instrumen pemerintah yang menawarkan imbal hasil menarik.

Dengan begitu, 2027 lebih tepat dibaca sebagai tahun growth with caution. Fundamental ekonomi domestik masih memberi ruang bagi perbankan untuk tumbuh, tapi kualitas pertumbuhan akan jauh lebih penting daripada sekadar mengejar angka. Bank yang mampu menjaga funding, memperkuat kualitas kredit, mengelola risiko, dan membaca perubahan ekonomi secara cepat akan punya ruang lebih besar untuk bertahan di tengah turbulensi global.

Bagi perbankan, peluang pertumbuhan tetap terbuka seiring kebutuhan pembiayaan ekonomi, tapi persaingan dana, biaya funding, kualitas kredit, dan likuiditas menuntut strategi yang lebih selektif. Karena itu, tahun depan ceritanya bukan sekadar tentang mengejar pertumbuhan, melainkan bagaimana menjaga kualitas, ketahanan, dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi serta perbankan. Berikut pandangan sejumlah ekonom yang ditemui Infobank terkait outlook ekonomi dan perbankan Indonesia 2027:

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2026

Rp 65.000

BELI