Belum ada produk di keranjang belanja kamu

OUTLOOK 2027

Harus Lebih Selektif Cuaca Lagi Mendung

Industri multifinance bakal memasuki 2027 dengan peluang pertumbuhan yang tetap terbuka. Tapi, ekspansi tak lagi cukup hanya mengandalkan volume pembiayaan. Langkah maju mesti dibarengi kualitas debitur dan sumber pertumbuhan yang lebih beragam.

Oleh Alfi Salima Puteri

INDUSTRI multifinance masih memiliki ruang untuk tumbuh pada 2027. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan tetap berada di atas 5% menjadi salah satu penopang permintaan pembiayaan. Tapi, ruang ekspansi itu datang bersama sejumlah tantangan, mulai dari belum kuatnya daya beli masyarakat, suku bunga yang tinggi, biaya dana yang lebih mahal, hingga kebutuhan perusahaan mencari sumber pertumbuhan baru. Karena itu, arah industri ke depan bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar pembiayaan yang disalurkan, melainkan juga kemampuan menjaga kualitas portofolionya.

Hingga Mei 2026, Biro Riset Infobank (birI) mencatat, kinerja industri multifinance masih tumbuh meski dengan laju yang moderat. Total aset industri pembiayaan mencapai Rp600,37 triliun, meningkat 2,18% secara tahunan. Piutang pembiayaan tumbuh 1,71% menjadi Rp513,19 triliun. Sementara, laba tahun berjalan Rp10,48 triliun atau mengembang 13,25%.

Kinerja itu menunjukkan industri ini masih memiliki ruang untuk berkembang, meski pertumbuhannya tidak setinggi sebelumnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun masih melihat prospek multifinance cukup terbuka. Kepala Direktorat Pengawasan Lembaga Pembiayaan OJK, Moch. Riezky Purnomo, menilai pertumbuhan ekonomi di atas 5% dapat menjaga permintaan pembiayaan, terutama apabila kondisi suku bunga tetap terjaga.

“Kami melihat potensi pertumbuhan perusahaan pembiayaan ke depan masih cukup bagus. Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5% dan kondisi suku bunga yang terjaga, kami berharap penyaluran pembiayaan bisa tumbuh lebih baik dan melampaui target,” ujar Riezky dalam seminar OJK Institute, bulan lalu.

Harapan itu tidak hanya bertumpu pada pembiayaan konsumtif. Industri juga mulai melihat sumber pertumbuhan baru dari sektor produktif dan perubahan kebutuhan masyarakat. Kendaraan listrik, misalnya, mulai mengambil porsi dalam pembiayaan otomotif seiring makin beragamnya model dan rentang harga. Perkembangan ini membuka peluang diversifikasi bagi perusahaan pembiayaan sekaligus berpotensi mengubah struktur pasar otomotif.

Di luar otomotif, kebutuhan pembiayaan masyarakat dan dunia usaha juga masih besar. Pembiayaan investasi, modal kerja, hingga pembiayaan untuk UMKM dan sektor produktif lainnya dapat menjadi ruang ekspansi baru. Bagi multifinance, diversifikasi ini penting agar pertumbuhan tidak terlalu bergantung pada satu jenis pembiayaan.

Tapi, peluang itu datang dengan tantangan yang tak ringan. Struktur pendanaan industri masih banyak bergantung pada perbankan melalui pinjaman, joint financing, dan channeling. Perubahan suku bunga dan kondisi likuiditas perbankan akan memengaruhi biaya dana perusahaan pembiayaan dan ruang mereka untuk melakukan ekspansi.

Kualitas pembiayaan juga menjadi perhatian. Porsi pembiayaan multiguna yang masih besar membuat industri cukup sensitif terhadap perubahan daya beli masyarakat. Ketika kemampuan masyarakat membayar cicilan melemah, risiko kredit dapat ikut meningkat. Karena itu, perusahaan pembiayaan perlu memperkuat proses seleksi debitur dan pemantauan pembiayaan, bukan sekadar mengejar pertumbuhan penyaluran.

Pandangan itu sejalan dengan perhatian Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI). Ketua Umum APPI, Suwandi Wiratno, menekankan bahwa pertumbuhan industri perlu tetap dibarengi kualitas pembiayaan. “Kami harus terus menjaga bagaimana pertumbuhannya tetap positif dan sehat,” ucapnya.

Salah satu ruang yang masih dapat dikembangkan adalah pembiayaan produktif. Menurut APPI, pembiayaan investasi dan modal kerja kini berada di kisaran 40%-45% dari total pembiayaan, sementara pembiayaan multiguna sekitar 55%. Pembiayaan kepada UMKM, alat berat, dan mesin industri menjadi bagian dari upaya memperluas sumber pertumbuhan itu.

Perubahan komposisi ini penting bagi industri. Multifinance tidak hanya memiliki pasar dari kebutuhan konsumtif, tapi juga dapat mengikuti kebutuhan dunia usaha yang membutuhkan modal untuk membeli peralatan, mesin, maupun membiayai aktivitas usaha. Bagi industri, makin beragam sumber pembiayaan berarti makin luas pula ruang untuk menjaga pertumbuhan ketika permintaan di satu segmen melambat.

Meski begitu, otomotif tetap menjadi salah satu pasar utama multifinance. Tantangannya, perusahaan-perusahaan pembiayaan harus makin selektif dalam memilih debitur. Seleksi yang lebih ketat memang dapat membatasi jumlah pengajuan yang disetujui, tapi pada saat yang sama dibutuhkan untuk menjaga kualitas portofolio dan menekan risiko pembiayaan bermasalah.

Persoalan lain berada di sisi ekosistem pembiayaan kendaraan. APPI menyoroti transaksi kendaraan yang hanya disertai STNK atau dikenal sebagai kendaraan “STNK only”. Praktik itu menjadi perhatian karena kendaraan yang masih berkaitan dengan pembiayaan dapat berpindah tangan dan kemudian menyulitkan proses penagihan maupun penyelesaian pembiayaan bermasalah.

Bagi masyarakat, persoalan itu juga perlu menjadi perhatian sebelum membeli kendaraan bekas. Harga yang lebih murah tidak selalu berarti transaksi lebih aman. Status kepemilikan dan kelengkapan dokumen kendaraan perlu diperiksa agar konsumen tidak menghadapi persoalan di kemudian hari.

Di lain sisi, hubungan perusahaan pembiayaan dengan debitur juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas industri. Ketika debitur mulai mengalami kesulitan membayar, komunikasi dengan perusahaan pembiayaan menjadi langkah awal yang penting. Restrukturisasi atau penjadwalan kembali dapat menjadi pilihan untuk mencegah persoalan berkembang menjadi pembiayaan bermasalah.

Tantangan lainnya datang dari transformasi digital. Perusahaan pembiayaan dituntut makin cepat menggunakan teknologi dalam proses bisnis dan pelaporan. Tapi, makin besar ketergantungan pada sistem digital juga meningkatkan kebutuhan terhadap keamanan siber serta kualitas dan konsistensi data.

Pada saat yang sama, penguatan regulasi OJK hingga 2028 akan membuat perusahaan pembiayaan harus terus memperkuat fondasi bisnis. Penguatan permodalan, tata kelola, manajemen risiko, transformasi digital, pembiayaan berkelanjutan, hingga perlindungan konsumen akan menjadi bagian dari perjalanan industri ke depan.

Dengan berbagai peluang dan tantangan itu, pertumbuhan industri multifinance pada 2027 diperkirakan tidak akan semata-mata ditentukan oleh kemampuan mengejar volume penyaluran. Cuaca di industri ini bisa dibilang masih akan agak mendung. Maka dari itu, perlu penguatan perhatian pada sisi kualitas debitur, biaya pendanaan, diversifikasi pembiayaan, serta kemampuan membaca perubahan kebutuhan konsumen supaya industri tetap tumbuh dan sehat.

Infobank memproyeksikan pembiayaan industri multifinance pada 2027 tumbuh di kisaran 5%-7%. Hal itu bila melihat prospek ekonomi dan permintaan pembiayaan yang masih positif. Tapi, pertumbuhan itu perlu ditopang kualitas pembiayaan yang terjaga. Dengan begitu, ekspansi multifinance di tahun depan bukan sekadar memperbesar angka penyaluran, tapi juga membangun pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Hingga Mei 2026, Biro Riset Infobank (birI) mencatat, kinerja industri multifinance masih tumbuh meski dengan laju yang moderat. Total aset industri pembiayaan mencapai Rp600,37 triliun, meningkat 2,18% secara tahunan. Piutang pembiayaan tumbuh 1,71% menjadi Rp513,19 triliun. Sementara, laba tahun berjalan Rp10,48 triliun atau mengembang 13,25%.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2026

Rp 65.000

BELI