Belum ada produk di keranjang belanja kamu

OUTLOOK 2027

Ketidakpastian Global Masih Membayangi Prospek Ekonomi 2027

Ketidakpastian masih menghantui perekonomian global. Situasi geopolitik yang belum sepenuhnya pulih serta harga minyak dunia yang masih membara membuat pertumbuhan ekonomi global tahun depan diprediksi masih melambat.

Oleh Steven Widjaja

KONFLIK geopolitik, khususnya di Timur Tengah, serta perang dagang yang belum sepenuhnya usai, membuat langkah perekonomian dunia masih terasa berat. Berkecamuknya Timur Tengah mengerek harga minyak dunia dan memberi tekanan ke banyak negara.

Melalui laporan outlook terbaru nya yang dirilis pertengahan tahun ini, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksikan pertumbuhan eko nomi dunia di 2026 sebesar 3,0%. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan kembali naik ke angka 3,4% di 2027, tapi masih di bawah ratarata 3,5% seperti yang tercatat pada 2024 dan 2025.

Di lain sisi, inflasi global di 2026 diprediksi mencapai 4,7%, naik 0,3 basis points dibandingkan dengan proyeksi April, dan diperkirakan melandai ke angka 3,9% di 2027. Perdagangan global juga diperkirakan melambat ke angka 3,5% di 2026, dari 5% di 2025, dan baru akan naik ke 4,3% di 2027.

Sementara itu, Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan perekonomian global 2026 melambat ke 2,5%, turun dari 2,9% di 2025, dan diperkirakan naik ke 2,8% di 2027. Laju perekonomian tahun ini sekaligus menjadi yang terendah sejak pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Bahkan, jika gangguan pasokan energi dan komoditas terus terjadi lebih parah hingga memperburuk inflasi dan tekanan di sektor keuangan, bukan tak mungkin perekonomian dunia hanya tumbuh 1,3% di 2026.

Bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah Indonesia sendiri telah menargetkan pertumbuhan ekonomi domestik sebesar 6% pada 2027. Target ini bisa jadi tak mudah dicapai di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang. Apalagi, Bank Dunia juga sudah meramalkan pertumbuhan ekonomi negara berkembang dan pasar berkembang akan melambat ke angka 3,6% di 2026, dengan penurunan pendapatan per kapita ke level terendah sejak pandemi, dan baru akan pulih kembali setelah 2028.

Tren suku bunga yang masih tinggi menjadi tantangan berikutnya. Pasalnya, tren tingginya suku bunga serta lambannya kenaikan pendapatan per kapita dibandingkan dengan inflasi, dikhawatirkan tak akan bisa mendorong sektor konsumsi yang selama ini jadi andalan Indonesia dalam mengerek pertumbuhan ekonomi.

“Kita juga tahu bahwa suku bunga itu sekarang trennya naik lagi ke atas. Dan, bagaimana suku bunga yang naik dengan growth itu bisa dijadikan satu supaya bisa memberikan performance yang lebih baik di Indonesia tentunya tidak terlalu mudah,” ujar Gioshia Ralie, CEO and Senior Country Officer J.P. Morgan, beberapa waktu lalu.

Kebijakan pro-stability pun perlu dilakukan pemerintah Indonesia dalam menavigasikan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tren pelemahan saat ini. Kebijakan subsidi energi dan stimulus bagi rumah tangga perlu terus didorong untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Selain itu, tingkat belanja pemerintah harus terus dipertahankan.

Tapi, perlu diingat bahwa defisit APBN juga harus dijaga. Defisit yang melewati ambang batas 3% bakal memicu kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi domestik. Bila kekhawatiran itu muncul dan memicu capital outflow dari pasar modal nasional, maka ujungujungnya bisnis dalam negeri juga yang akan terdampak karena adanya pelemahan pendanaan.

“Apa yang membantu (stabilisasi) rupiah ialah aliran dana investasi yang telah pulih. Maksud saya, aliran dana asing ke pasar utang Indonesia telah kembali. SRBI menarik minat banyak investor asing, share mereka naik secara signifikan,” jelas Senior Economist DBS Group Research, Radhika Rao.

Melalui laporan outlook terbaru nya yang dirilis pertengahan tahun ini, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksikan pertumbuhan eko nomi dunia di 2026 sebesar 3,0%. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan kembali naik ke angka 3,4% di 2027, tapi masih di bawah ratarata 3,5% seperti yang tercatat pada 2024 dan 2025.

Di lain sisi, inflasi global di 2026 diprediksi mencapai 4,7%, naik 0,3 basis points dibandingkan dengan proyeksi April, dan diperkirakan melandai ke angka 3,9% di 2027. Perdagangan global juga diperkirakan melambat ke angka 3,5% di 2026, dari 5% di 2025, dan baru akan naik ke 4,3% di 2027.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2026

Rp 65.000

BELI