Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Financial & Banking Outlook 2027

Kredit Bisa Ngebut, tapi Harus Makin Selektif

Kredit perbankan memasuki fase baru saat dunia usaha mulai kembali ekspansif. Ruang tumbuh terbuka, tapi game-nya kini ada pada ketepatan memilih sektor dan debitur. Asal kasih kredit, bank bisa kejeblos sendiri.

Oleh Ari Nugroho
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

KREDIT perbankan tengah memasuki fase cuaca cerah. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, penyaluran kredit pada Agustus 2026 tumbuh 13,65% secara tahunan, meningkat dari 13,58% pada Juli dan 12,67% per Juni.

Akselerasi ini menandakan intermediasi perbankan makin kuat memasuki semester kedua 2026. Yang menarik bukan hanya pertumbuhan kredit yang kembali menembus dua digit, tapi juga perubahan sumber pertumbuhannya. Kredit investasi kini menjadi mesin utama dengan pertumbuhan 25,11% year on year (yoy) pada Agustus 2026, jauh di atas kredit modal kerja yang tumbuh 11,45% dan kredit konsumsi yang naik 5,07%. Pergeseran ini mengindikasikan kredit mulai lebih banyak mengalir ke ekspansi kapasitas, proyek, dan aktivitas produktif. Akselerasi itu terutama ditopang segmen korporasi. Di lain sisi, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 10,94% yoy sehingga bank masih memiliki ruang untuk memperbesar intermediasi, meski laju kredit yang lebih tinggi daripada DPK mulai memberi tekanan terhadap struktur pendanaan. Kondisi ini membuat strategi lending bank tak cukup hanya mengejar volume, tapi juga harus memperhitungkan sumber dana dan risiko.

Di level sektoral, pergerakan kredit terlihat jauh lebih beragam. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Juni 2026 mencatat kredit bank umum kepada pihak ketiga bukan bank mencapai Rp9.187,98 triliun, tumbuh 12,49% yoy dari Rp8.167,46 triliun. Tapi, tak semua lapangan usaha menikmati akselerasi yang sama.

 Industri pengolahan masih menjadi ladang kredit terbesar. Penyaluran kredit ke sektor ini mencapai Rp1.435,49 triliun atau 15,62% dari total kredit, tumbuh 16,11% dari Rp1.236,31 triliun pada Juni 2025. Di bawahnya ada perdagangan besar dan eceran serta reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor dengan kredit Rp1.292,26 triliun atau 14,06% dari total kredit, meski pertumbuhannya hanya 5,41%.

Tapi, kalau ukurannya adalah kecepatan pertumbuhan, konstruksi menjadi game changer. Kredit konstruksi melonjak 46,73% dari Rp397,55 triliun menjadi Rp583,34 triliun dalam setahun, ada tambahan nominal sekitar Rp185,79 triliun. Angka itu jauh melampaui pertumbuhan kredit nasional yang sebesar 12,49%.

Pengadaan listrik, gas, uap/air panas, dan udara dingin juga mencatat ekspansi agresif. Kredit sektor ini tumbuh 33,64% menjadi Rp281,09 triliun dari Rp210,33 triliun. Sementara, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 15,65% dan real estat 14,13%, memperlihatkan bahwa mesin kredit tidak lagi hanya bertumpu pada perdagangan dan manufaktur.

Dari sisi market share, konsentrasi kredit masih berada pada sektor-sektor besar. Industri pengolahan memegang pangsa 15,62%; perdagangan 14,06%; aktivitas keuangan dan asuransi 6,77%; pertanian, kehutanan, dan perikanan 6,37%; serta konstruksi 6,35%. Sebaliknya, informasi dan komunikasi hanya 2,65%, sedangkan real estat dan pengadaan listrik masing-masing 3,06%.

Peta itu menunjukkan satu hal penting, bahwa pangsa kecil tidak otomatis berarti prospek kecil. Sektor informasi dan komunikasi memang baru menyerap 2,65% kredit, tapi pertumbuhannya mencapai 15,65%. Artinya, masih terdapat room for growth pada sektor-sektor dengan penetrasi kredit rendah tapi aktivitas ekonominya berkembang cepat.

Sektor konstruksi bahkan memberikan kombinasi yang lebih menarik. Kreditnya tumbuh paling tinggi dengan kualitas aset yang membaik. Non performing loan (NPL)-nya turun dari 2,65% menjadi 2,00%. Bagi bank, kombinasi pertumbuhan tinggi dan penurunan NPL seperti ini menjadi sinyal yang patut dicermati, meski risiko siklus proyek dan arus kas debitur tetap harus dihitung.

Industri pengolahan juga mempunyai credit story yang kuat. Selain menjadi penerima kredit terbesar, yakni sebesar Rp1.435,49 triliun, sektor ini tumbuh 16,11% atau di atas pertumbuhan kredit nasional. NPL-nya bahkan turun dari 2,81% menjadi 2,10% sehingga ekspansi kredit berjalan bersamaan dengan perbaikan kualitas aset.

Peluang lain datang dari sektor informasi dan komunikasi. Dengan kredit Rp243,82 triliun, pangsanya tercatat hanya 2,65%, tapi pertumbuhannya mencapai 15,65% dengan NPL turun tajam dari 0,69% menjadi 0,24%. Profil ini menunjukkan ruang penetrasi yang masih terbuka dengan kualitas kredit yang relatif rendah risikonya berdasarkan data NPL.

Sektor energi, utilitas, dan infrastruktur yang memilikiproyek layak, kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekspor produktif juga masih memiliki ruang pembiayaan. Materi sektor menunjukkan bahwa bank relatif lebih longgar pada konstruksi, jasa sosial, industri pengolahan serta listrik, gas, dan air. Sementara, hilirisasi dan belanja modal menjadi faktor pendukung bagi sektor industri.

Properti residensial, pangan, barang konsumsi, ritel, transportasi dan pergudangan, akomodasi dan makan minum, teknologi informasi (TI) dan komunikasi, serta kegiatan berbasis hilirisasi juga masuk dalam kelompok sektor yang masih menarik. Kuncinya bukan sekadar mengejar pertumbuhan, melainkan melihat apakah permintaan pembiayaan benar-benar ditopang aktivitas ekonomi yang nyata.

Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA), Hendra Lembong, menegaskan bahwa ekspansi kredit tetap harus berjalan bersama prinsip kehati-hatian. “BCA dan entitas anak menjaga penyaluran kredit secara prudent ke berbagai sektor sejalan dengan komitmen perusahaan mendukung perekonomian nasional,” ujarnya, dikutip dari Infobanknews.com. Pernyataan itu menggambarkan bahwa akselerasi kredit tidak berarti bank membuka keran pembiayaan tanpa seleksi.

Sementara itu, Bank Negara Indonesia (BNI) juga menempatkan kualitas sektor dan ekosistem sebagai bagian penting dari strategi penyaluran. “Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang makin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat,” kata Putrama Wahju Setyawan, Direktur Utama BNI, dikutip dari Infobanknews.com. Dengan kata lain, sector selection jadi makin penting ketika lingkungan bisnis berubah cepat.

Di lain sisi, sektor perdagangan perlu diperlakukan lebih selektif. Kreditnya memang masih tumbuh 5,41% menjadi Rp1.292,26 triliun, tapi NPL mencapai 3,70%, tertinggi di antara lapangan usaha dalam data dan jauh di atas NPL total perbankan yang tercatat 2,07%. Dengan pangsa 14,06%, masalah kualitas kredit sektor perdagangan berpotensi memberi dampak besar terhadap portofolio perbankan.

Sektor pertanian juga membutuhkan risk filter yang lebih ketat. Kredit sektor ini hanya tumbuh 4,09%, jauh di bawah pertumbuhan kredit nasional 12,49%, dengan NPL naik dari 2,09% menjadi 2,28%. Kombinasi pertumbuhan yang lambat dan kenaikan risiko membuat bank perlu lebih cermat melihat komoditas, siklus harga, kondisi usaha, serta kemampuan cash flow debitur.

Kehati-hatian juga diperlukan pada sektor pertambangan yang sensitif terhadap harga dan perubahan kuota, kredit konsumsi kelompok menengah bawah, serta UMKM yang pemulihannya belum merata. Rasio kredit bermasalah UMKM masih sekitar 4,54%, sementara kredit konsumsi meningkat menjadi 2,45%, terutama karena tekanan pada KPR.

Sejumlah subsektor seperti infrastruktur, rokok, kertas, kayu gelondongan, pulp and paper, serta industri batu bara atau pertambangan yang tidak ramah lingkungan, bisa dikategorikan sebagai kelompok sektor dengan sinyal kuning. Bank perlu perhitungan yang lebih cermat jika ingin menyalurkan kredit ke kelompok sektor tersebut.

Tapi, yang perlu dihindari sesungguhnya bukan semata-mata sektornya. Hal ini disampaikan Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede. “Jadi, yang perlu dihindari bukan sektornya secara keseluruhan, melainkan debitur dengan arus kas lemah dan struktur utang yang tidak tahan terhadap suku bunga tinggi,” ujarnya kepada Infobank, bulan lalu. Pesan ini penting karena kualitas debitur pada akhirnya menjadi penentu asset quality, bahkan di sektor yang secara makro masih terlihat menarik.

Tahun depan, outlook kredit perbankan diperkirakan memasuki fase yang lebih selektif di tengah cuaca kelabu ekonomi. Konstruksi, industri pengolahan, informasi dan komunikasi, utilitas, serta sektor produktif berbasis hilirisasi menunjukkan peluang yang relatif kuat, sementara perdagangan dan pertanian membutuhkan filter risiko lebih ketat. Ujungnya, bank tidak cukup mengejar growth, tapi juga harus memastikan kredit bertumpu pada permintaan nyata, arus kas yang jelas, dan kualitas aset yang terkendali. 

Akselerasi ini menandakan intermediasi perbankan makin kuat memasuki semester kedua 2026. Yang menarik bukan hanya pertumbuhan kredit yang kembali menembus dua digit, tapi juga perubahan sumber pertumbuhannya. Kredit investasi kini menjadi mesin utama dengan pertumbuhan 25,11% year on year (yoy) pada Agustus 2026, jauh di atas kredit modal kerja yang tumbuh 11,45% dan kredit konsumsi yang naik 5,07%. Pergeseran ini mengindikasikan kredit mulai lebih banyak mengalir ke ekspansi kapasitas, proyek, dan aktivitas produktif. Akselerasi itu terutama ditopang segmen korporasi. Di lain sisi, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 10,94% yoy sehingga bank masih memiliki ruang untuk memperbesar intermediasi, meski laju kredit yang lebih tinggi daripada DPK mulai memberi tekanan terhadap struktur pendanaan. Kondisi ini membuat strategi lending bank tak cukup hanya mengejar volume, tapi juga harus memperhitungkan sumber dana dan risiko.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2026

Rp 65.000

BELI