BSI menempatkan retail banking sebagai salah satu motor utama pertumbuhan. Strateginya diperkuat dengan membangun ekosistem retail yang terintegrasi, digitalisasi layanan, dan pendekatan end-to-end untuk memperluas penetrasi
Bank Syariah Indonesia (BSI), bank syariah terbesar di Tanah Air, punya strategi tersendiri dalam menavigasikan bisnis dan layanannya. Mengandalkan retail banking sebagai salah satu senjata utama, bank ini juga dihadapkan pada tantangan masih rendahnya tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah masyarakat kita.
Lalu, apa jurus BSI dalam mengarungi badai ketidakpastian, khususnya untuk lini bisnis perbankan ritel (retail banking), juga sejumlah tantangan yang mengadang? Berikut wawancara Infobank dengan Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, beberapa waktu lalu. Petikannya:
Bagaimana Anda melihat divisi retail banking dalam mendukung pertumbuhan BSI, khususnya di tengah kondisi ekonomi saat ini?
Jadi, portofolio kita itu sekitar 70% ada di bisnis retail. Sebagian portofolio itu di pembiayaan, dan ada juga di dana pihak ketiga (DPK). Dari DPK, di BSI ini ada Islamic Solution Ecosystem. Ini mencakup sekolah-sekolah Islam, pondok pesantren, ekosistem masjid, hingga travel haji umrah. Lalu, di kelembagaan atau pemerintahan, itu namanya Additional Banking Group.
Sementara, di pembiayaan, itu ada pembiayaan mikro, small kita kembangkan menjadi satu ekosistem, yang kami terjemahkan di sini ada empat ekosistem.
Ada ekosistem government, ekosistem islami, ekosistem SME, dan ekosistem mikro. Tujuannya apa? Karena kita ingin bisa mengawal proses retail banking itu secara end to-end. Misalnya sekolah, bagaimana mulai dari wali siswanya, wali murid, muridnya, kebutuhan dan lainnya, ini end-to-end bisa difasilitasi oleh BSI. Tentu juga berkolaborasi dengan divisi lain, seperti sales and distribution. Satu kesatuan yang solid.
Bagaimana Anda melihat transformasi kinerja retail banking BSI dalam menjawab kebutuhan konsumen yang kian kompleks?
Dunia berkembang lebih cepat dan sangat dinamis ya, di mana sudah ada AI sedemikian canggih. Jadi, satu kata adalah digitalisasi. BSI harus menjawab dan memenuhi kebutuhan nasabah dan masyarakat secara luas, dengan BSI harus masuk ke digitalisasi.
Bagaimana kita juga memberikan pemahaman dan mengubah konsumen, agar mereka juga bisa masuk ke dunia digitalisasi. Yang dilakukan, BSI saat ini sudah ada super app BYOND by BSI, seraya juga mengembangkan cash management system kita.
Di sana kami terus improve, melakukan pengembangan dan perubahan. Misalnya, yang selama ini untuk pembiayaan harus datang ke kantor, ini sekarang bisa melalui BYOND by BSI, aplikasi super app kami. Jadi, biar nasabah menjadi yakin dan percaya diri bahwa mereka juga merasakan BSI hadir menemani keseharian mereka.
Tantangan apa saja yang pernah Anda temui selama memimpin divisi retail banking?
Tantangan pastinya selalu ada. Saya itu masuk di perbankan syariah pada 2001 pada saat perbankan syariah ini baru mulai tumbuh. Tentu tantangannya adalah kita itu meliterasi orang terhadap perbankan syariah ini seperti apa, itu juga tantangan tersendiri.
Jadi, perjalanan panjang masyarakat kita, terutama Indonesia ini ‘kan pahamnya dengan perbankan konvensional. Jadi, kita dua kali kerja istilahnya, sebelum kita dapat nasabah. Kita juga butuh meliterasi, menjelaskan apa dan bagaimana perbankan syariah. Dan, itu sampai hari ini belum selesai juga.
Setelah itu adalah inklusinya juga masih belum terlalu tinggi. Market share juga kita belum tinggi. Tantangan itu kita harus mencari pola bagaimana kita bisa menjelaskan dengan baik apa dan bagaimana perbankan syariah.
Kita harus memahami karakter dulu. Karakter di satu tempat (daerah) itu dari yang saya alami itu berbeda-beda. Jadi, kita mesti cepat juga ya beradaptasi dengan karakter, baik itu karakter di internal kami sendiri maupun di kultur masyarakatnya. Karena, tentu targetnya jalan terus. Gitu ya.
Nilai kepemimpinan apa yang Anda anut untuk menciptakan solusi agar lini retail banking yang Anda pimpin, maupun institusi secara keseluruhan, bisa tumbuh berkelanjutan?
Keputusan itu memang menurut saya harus bisa kita pertanggungjawabkan. Jadi, kalau saya punya prinsip itu balance between growth and sustainability.
Artinya, kita tentu harus tumbuh ya, tapi pertumbuhan baik itu bukan sekadar angka. Bagaimana kualitasnya juga bisa kita pertanggungjawabkan, risikonya terkendali. Jadi, sebelum kita mengambil keputusan, bagi saya itu adalah kita butuh data yang lengkap.
Terus mendengarkan juga. Pertama, arahan dari atasan. Tapi, kita juga mesti mendengarkan aspirasi dari tim seperti apa. Dan, yang terpenting memang harus cepat tapi jangan buru-buru. Bila terlalu lambat mengambil keputusan, tim di bawah akan resah. Karena, kita sebagai leader harus dituntut cepat.
Namun, bahasa saya adalah cepat tapi jangan buru-buru. Jadi, gali dulu, tapi ya butuh percepatan. Memang yang saya kembangkan dari dulu itu budaya kolaborasi, keterbukaan, kemudian juga improvement supaya terus jalan.
Lalu, apa jurus BSI dalam mengarungi badai ketidakpastian, khususnya untuk lini bisnis perbankan ritel (retail banking), juga sejumlah tantangan yang mengadang? Berikut wawancara Infobank dengan Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, beberapa waktu lalu. Petikannya: