Di balik gemerlap kinerja BCA, ada perjalanan panjang seorang bankir yang membangun kepemimpinan dari integritas, kerendahan hati, dan kepercayaan. The Art of Banker: Jahja Setiaatmadja karya Eko B. Supriyanto merekam perjalanan itu sekaligus mengajak pembaca melihat bahwa keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya soal angka, tapi juga tentang manusia dan nilai yang ditinggalkan.
THE Art of Banker: Jahja Setiaatmadja karya Eko B. Supriyanto bukan sekadar buku tentang seorang bankir dan perjalanan panjangnya memimpin Bank Central Asia (BCA). Buku setebal 265 halaman ini diterbitkan Infobank Publishing pada Agustus 2026 dan membawa pembaca melihat sisi lain perbankan, bahwa di balik angka, laba, kredit, tabungan, dan lainnya ada manusia dan kepercayaan. Gagasan itu sudah terasa di awal buku, ketika penulis menempatkan kepercayaan sebagai fondasi utama profesi bankir.
Kekuatan buku ini ada pada cara Eko membedah kepemimpinan Jahja. Ceritanya tak berhenti pada pencapaian bisnis, tapi masuk ke bagaimana Jahja membangun keteladanan, kolaborasi, empati, agility, ketekunan, hingga kebiasaan mengembangkan orang lain. Semua itu membuat sosok Jahja terasa bukan sebagai “big boss” yang berjarak, melainkan pemimpin yang bekerja dari bawah, mendengar, dan memberi contoh.
Menariknya, perjalanan Jahja adalah kisah jatuh-bangun yang tidak dibangun lewat jalan pintas. Ia memulai karier dari pekerjaan sederhana sebagai tukang fotokopi, lalu melewati berbagai fase sebelum akhirnya memimpin BCA selama 14 tahun, dari 2011 hingga 2025. Ada pula keberanian turun tangga, ketika ia meninggalkan posisi direktur di Indomobil dan masuk BCA sebagai wakil kepala divisi. Ini sebuah keputusan yang menunjukkan bahwa karier kadang memang perlu naik pelan-pelan, bukan cuma perkara mengejar kursi tertinggi.
Di sinilah buku ini terasa lebih luas daripada buku kepemimpinan biasa. Jahja digambarkan sebagai pemimpin yang memahami servant leadership: memimpin bukan dengan memperbesar jarak, tapi dengan melayani, mendengarkan, dan membuat orang lain tumbuh. Metafora dirigen orkestra menjadi sangat kuat karena seorang pemimpin tak harus mahir memainkan semua alat musik, tapi mampu membuat setiap pemain menghasilkan harmoni.
Buku ini juga menarik ketika membahas bagaimana Jahja menghadapi perubahan. Digitalisasi, fintech, pandemi, dan perubahan perilaku nasabah tidak dilihatnya sebagai alasan untuk panik, melainkan sebagai gelombang yang harus dibaca dan direspons dengan tenang. Prinsip learning agility terasa relevan di sini: terus belajar, beradaptasi, tapi tetap punya kesabaran untuk membangun sesuatu hingga akarnya kuat.
Bagian tentang kehidupan pribadi membuat sosok Jahja menjadi lebih manusiawi. Buku ini membawa pembaca ke cerita keluarga, keterbatasan ekonomi masa kecil, disiplin, renang dan golf, hingga bagaimana ia menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Pesannya sederhana. Dalam perjalanan hidup, mulai dari bawah, bekerja keras, dan menjaga keluarga bisa menjadi bekal yang sama pentingnya dengan kemampuan membaca angka dan mengambil keputusan.
Buku ini bukan terutama tentang bagaimana menjadi CEO, melainkan bagaimana menjadi manusia yang layak dipercaya. Setelah perjalanan panjangnya di BCA, warisan Jahja yang ditekankan buku ini bukan hanya kinerja bisnis, tapi budaya, keteladanan, integritas, dan orang orang yang tumbuh bersamanya. The Art of Banker: Jahja Setiaatmadja seperti mengingatkan bahwa dalam perjalanan karier dan hidup, yang paling penting bukan seberapa cepat kita sampai, tapi apa yang kita tinggalkan ketika akhirnya berhenti melangkah.
Kekuatan buku ini ada pada cara Eko membedah kepemimpinan Jahja. Ceritanya tak berhenti pada pencapaian bisnis, tapi masuk ke bagaimana Jahja membangun keteladanan, kolaborasi, empati, agility, ketekunan, hingga kebiasaan mengembangkan orang lain. Semua itu membuat sosok Jahja terasa bukan sebagai “big boss” yang berjarak, melainkan pemimpin yang bekerja dari bawah, mendengar, dan memberi contoh.