Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Menjaga Laba di Tengah Tekanan Biaya Dana

Kenaikan biaya dana membuat perusahaan multifinance harus bekerja lebih keras guna menjaga keuntungan. Di tengah persaingan yang makin ketat, perusahaan tidak bisa sembarangan menaikkan bunga pembiayaan kepada nasabah.

Oleh Alfi Salima Puteri

INDUSTRI multifinance tengah dilema dalam menjaga profitabilitas di tengah biaya dana yang dalam tren mendaki. Ketergantungan pada pinjaman perbankan membuat perusahaan pembiayaan harus berhitung cermat dalam mengelola biaya dana (cost of fund). Di satu sisi, perusahaan perlu menjaga bunga pembiayaan tetap kompetitif untuk mempertahankan permintaan. Di lain sisi, menahan bunga kredit ketika biaya dana meningkat berisiko mempersempit margin keuntungan.

Tekanan itu berlangsung di tengah dinamika suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) dalam beberapa tahun terakhir. Setelah bertahan di level 3,50% sepanjang 2021 hingga sebagian 2022, BI-Rate mulai naik pada Agustus 2022 dan mencapai 6,25% pada 2024. BI-Rate kemudian menurun secara bertahap hingga 4,75% pada 2025. Per 21 Oktober 2026, BI-Rate berada di level 5,75%. Ini menjadi tantangan bagi perusahaan pembiayaan dalam mengelola biaya dana, terutama ketika pinjaman lama jatuh tempo dan harus diperbarui dengan tingkat bunga yang menyesuaikan dengan kondisi pasar.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae, menilai, hubungan pendanaan antara perbankan dan perusahaan pembiayaan membuat dinamika suku bunga menjadi faktor penting bagi keberlangsungan bisnis keduanya. Pasalnya, bank juga menghadapi tekanan biaya dana dari penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), termasuk bunga yang harus dibayarkan kepada deposan.

Kondisi ini membuat perusahaan pembiayaan perlu memperkuat negosiasi dengan perbankan untuk memperoleh skema pendanaan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing perusahaan. “Mereka memang harus melakukan negosiasi bisnis untuk menghadapi situasi ini. Sebab, bank juga bergantung pada dana pihak ketiga (DPK), termasuk tingkat bunga yang harus dibayarkan kepada deposan,” ujar Dian kepada Infobank.

Ditilik dari karakteristiknya, terkait hubungan antara bank dan multifinance, sebagian perusahaan pembiayaan memiliki hubungan bisnis erat dengan bank, bahkan berada dalam satu kelompok usaha. Sebagian yang lain mengandalkan fasilitas pinjaman langsung dari perbankan. Meski berbeda dari sisi struktur pendanaan, keduanya tetap menghadapi tantangan serupa, yakni bagaimana memperoleh dana dengan biaya kompetitif di tengah suku bunga yang belum sepenuhnya melandai.

Di sisi perbankan, penentuan bunga pinjaman tidak bisa dilepaskan dari biaya penghimpunan dana, kondisi likuiditas, dan risiko kredit. Karena itu, perubahan suku bunga acuan tidak serta-merta diikuti penyesuaian bunga kredit dalam waktu singkat. Dian menjelaskan, transmisi kebijakan suku bunga BI ke perbankan membutuhkan waktu. Ketika suku bunga mulai turun, bank masih perlu mempertimbangkan kondisi pendanaan dan ruang keuntungan yang sebelumnya tertekan selama periode bunga tinggi.

Meski demikian, OJK tetap melihat prospek pertumbuhan kredit secara positif selama permintaan konsumsi dan investasi terjaga. Pertumbuhan kredit perbankan sejauh ini belum menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Tapi, bagi industri multifinance, tantangannya bukan semata mata memastikan ketersediaan dana, melainkan juga bagaimana mengelola biaya pendanaan agar pertumbuhan pembiayaan tetap menghasilkan keuntungan.

Yang jelas, dinamika suku bunga mulai dirasakan perusahaan pembiayaan. Direktur Keuangan Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance), Sylvanus Gani Kukuh Mendrofa, mengatakan, kenaikan suku bunga berpengaruh langsung terhadap biaya dana perusahaan. Meski begitu, dampaknya terhadap kinerja keuangan tidak selalu muncul seketika karena bergantung pada struktur dan tenor pendanaan yang dimiliki.

Adira Finance sendiri masih memiliki pinjaman berjangka yang diperoleh ketika tingkat bunga belum setinggi sekarang. Pendanaan itu membuat perusahaan tidak langsung menanggung seluruh dampak kenaikan bunga. Tapi, perlindungan itu hanya bersifat sementara. Ketika pinjaman jatuh tempo dan perusahaan harus melakukan pembiayaan kembali (refinancing), biaya pendanaan baru perlu menyesuaikan dengan kondisi pasar. “Jadi, akan ada margin compression yang terjadi. Dampaknya tidak langsung dirasakan nasabah karena mayoritas pembiayaan leasing menggunakan fixed rate,” jelas Gani.

Skema bunga tetap membuat konsumen yang telah mengambil pembiayaan kendaraan tidak serta-merta mengalami kenaikan cicilan ketika biaya dana perusahaan meningkat. Besaran angsuran yang disepakati sejak awal tetap berlaku sesuai perjanjian pembiayaan. Konsekuensinya, tekanan lebih dahulu ditanggung perusahaan. Ketika biaya pinjaman naik, sementara pendapatan dari pembiayaan yang sudah berjalan tidak bisa langsung disesuaikan, margin keuntungan berpotensi menyempit.

Dari sisi sumber pendanaan, sekitar 45% dukungan pendanaan Adira Finance berasal dari skema pembiayaan bersama (joint financing) dengan Bank Danamon. Selebihnya bersumber dari dana internal berupa ekuitas, penerbitan obligasi, serta pinjaman baru. Struktur itu menunjukkan bahwa dukungan dari bank dalam satu kelompok usaha dapat menjadi salah satu penopang pendanaan, tapi tidak sepenuhnya membebaskan perusahaan dari tekanan biaya dana di pasar.

Strategi pengelolaan pendanaan juga dilakukan CIMB Niaga Finance (CNAF). Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman, mengatakan, perusahaan berupaya menjaga biaya dana melalui optimalisasi struktur pendanaan dan pemilihan sumber dana yang kompetitif. Selain memanfaatkan fasilitas joint financing dengan Bank CIMB Niaga, CNAF mengandalkan pinjaman bilateral dari perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

Keputusan pendanaan tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat bunga, tapi juga tenor dan fleksibilitas pencairan dana. “Dalam menentukan sumber pendanaan, kami mempertimbangkan tidak hanya tingkat suku bunga, tetapi juga tenor, fleksibilitas penarikan, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan arus kas perusahaan,” tuturnya.

Untuk memperluas alternatif pendanaan, CNAF juga mulai memanfaatkan penerbitan obligasi dan sukuk guna membentuk komposisi pendanaan yang lebih seimbang. Namun, diversifikasi sumber dana bukan satu-satunya strategi yang diperlukan. Perusahaan juga perlu menjaga kualitas pembiayaan melalui penyaluran kredit secara selektif, dengan mempertimbangkan profil risiko konsumen, potensi imbal hasil, dan kualitas aset. Digitalisasi proses pembiayaan serta pengendalian biaya operasional turut menjadi bagian dari upaya menjaga profitabilitas.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, menilai kenaikan suku bunga merupakan dinamika yang harus dihadapi industri. Tapi, perusahaan pembiayaan tidak bisa begitu saja meneruskan kenaikan biaya dana kepada konsumen karena persaingan pembiayaan makin ketat. Pilihan untuk menahan bunga pembiayaan pada akhirnya berpotensi mengorbankan sebagian margin keuntungan.

Menurutnya, fokus perusahaan seharusnya tidak hanya tertuju pada mahalnya biaya dana, tapi juga pada kualitas pembiayaan yang disalurkan. “Intinya bukan suku bunga, tapi lebih kepada kualitas aset pembiayaan itu sendiri. Daripada kita booking besar-besaran, tapi nanti ujungnya harus menyelesaikan kredit bermasalah,” tegasnya.

Daya tahan industri multifinance tidak cukup ditopang oleh kemampuan memperoleh pendanaan murah atau mempertahankan volume pembiayaan. Di tengah biaya dana yang masih tinggi, perusahaan perlu memastikan setiap pembiayaan memiliki profil risiko dan imbal hasil yang sepadan. Diversifikasi sumber pendanaan, negosiasi dengan perbankan, serta efisiensi operasional menjadi penting, tapi harus berjalan beriringan dengan pengendalian risiko kredit.

Tekanan itu berlangsung di tengah dinamika suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) dalam beberapa tahun terakhir. Setelah bertahan di level 3,50% sepanjang 2021 hingga sebagian 2022, BI-Rate mulai naik pada Agustus 2022 dan mencapai 6,25% pada 2024. BI-Rate kemudian menurun secara bertahap hingga 4,75% pada 2025. Per 21 Oktober 2026, BI-Rate berada di level 5,75%. Ini menjadi tantangan bagi perusahaan pembiayaan dalam mengelola biaya dana, terutama ketika pinjaman lama jatuh tempo dan harus diperbarui dengan tingkat bunga yang menyesuaikan dengan kondisi pasar.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi November 2026

Rp 65.000

BELI