Yanti Mardiana Intan, Vice President Division Head of Bancassurance Avrist Assurance, berkarier di industri asuransi sejak 1995 dan telah melanglang buana ke sejumlah perusahaan asuransi. Wanita ramah yang memiliki background pendidikan komputerisasi akuntansi dari Universitas Bina Nusantara ini punya pengalaman unik tersendiri ketika mengawali karier di industri asuransi.
Sumber : Istimewa
Yanti Mardiana Intan, Vice President Division Head of Bancassurance Avrist Assurance, berkarier di industri asuransi sejak 1995 dan telah melanglang buana ke sejumlah perusahaan asuransi. Wanita ramah yang memiliki background pendidikan komputerisasi akuntansi dari Universitas Bina Nusantara ini punya pengalaman unik tersendiri ketika mengawali karier di industri asuransi.
“Masuk ke industri asuransi sebenarnya secara tak sengaja. Begitu lulus kuliah, ada tawaran lowongan di Sun Life dulu, jadi saya coba melamar dan diterima. Di Sun Life saya hampir 14 tahun. Itu jadi seperti tempat sekolah saya,” ujarnya kepada Infobank, belum lama ini.
Kemudian, Yanti mendapat kesempatan berkarya di bagian bancassurance saat berkarier di AIA Financial, 15 tahun silam. Ini menjadi tantangan pertama baginya dalam mengenal dunia asuransi melalui perbankan.
Menurut pencinta travelling dan anabul ini, keinginannya untuk terus berkarier di industri asuransi tak bisa dipisahkan dari filosofi you only live once (YOLO). Hidup yang hanya sekali itu perlu diisi dengan sesuatu yang positif, seperti niat baik untuk memberikan hal baik kepada mereka yang ditinggal oleh pasangan hidup atau tulang punggung keluarga.
“Jadi, lebih ke arah niat baik untuk memberikan kelanjutan hidup bagi keluarga yang ditinggalkan. Mengingat, kita hidup hanya sekali. Jadi, kita lakukan hidup yang terbaik bagi diri sendiri maupun lingkungan kita,” tegasnya.
Meski memiliki pandangan hidup you only live once, Yanti tak sembarangan dan tergesa-gesa dalam menjalani hidup. Keimanannya pada sesuatu yang bersifat Ilahi membantunya untuk tetap tenang dan enjoy dalam menjalani karier dan hidup secara umum. “Fokus dan lakukan yang terbaik dalam hal apa pun. Dan, sisanya, biar kita serahkan kepada Tuhan bagaimana ending[1]nya. Kalau kita memaksakan suatu hal yang memang bukan jalannya, ending-nya ‘kan juga jadi berantakan,” tutupnya.