Jika disebut Indonesia, terdapat tiga komponen utama, yaitu negara, rakyat, dan pemerintahan. Sebagai sebuah negara, Indonesia memiliki wilayah yang jelas, terdiri atas ribuan pulau dan lautan luas dengan berbagai sumber alamnya yang sangat kaya.
Sumber : Istimewa
Jika disebut Indonesia, terdapat tiga komponen utama, yaitu negara, rakyat, dan pemerintahan. Sebagai sebuah negara, Indonesia memiliki wilayah yang jelas, terdiri atas ribuan pulau dan lautan luas dengan berbagai sumber alamnya yang sangat kaya.
Adapun rakyat, sesungguhnya keberadaannya lebih dahulu sebelum negara. Negara adalah anak kandung rakyat, karena rakyatlah yang berjuang mengusir penjajah dalam upaya mendirikan sebuah negara merdeka yang memiliki kedaulatan sendiri. Rakyat Indonesia ini sangat unik dan mengagumkan. Terdiri atas ratusan etnik, bahasa, tradisi, agama, dan kepercayaan, tapi semuanya bersatu dan berhimpun ke dalam sebuah bangsa bernama Indonesia.
Bayangkan, negara-negara di kawasan Timur Tengah yang mayoritas warganya beragama sama, berbahasa sama, tinggal di satu daratan yang sama, tapi terbagi ke dalam belasan negara kecil dan suasananya ribut terus. Sementara, rakyat Indonesia yang sedemikian besar jumlahnya dan sangat majemuk dari segi etnik dan bahasa, hidup bersatu dalam suasana rukun. Sekali-sekali memang terjadi keributan, tapi tidak sampai menimbulkan perpecahan serius sebagai sebuah bangsa.
Yang sering menimbulkan masalah dan mengundang kritik serta protes dari warganya adalah aspek pemerintahannya. Hal ini mudah dimengerti, mengingat yang namanya pemerintahan bersifat sangat dinamis dan fluktuatif. Orang-orangnya silih berganti dari generasi ke generasi. Juga, perubahan dominasi partai politik yang mengendalikan pemerintahan.
Gaya pemerintahan dan problem serta tantangan yang dihadapi pun berbeda. Karena itu, jika dalam fase perjuangan kemerdekaan yang menonjol adalah peran rakyat dan para pemimpin masyarakat, setelah merdeka kendali kekuasaan beralih ke tangan pemerintah sebagai pejabat negara.
Kelebihan sekaligus godaan dari pemerintah adalah kewenangannya menghimpun, mengatur, serta membelanjakan aset bangsa dan negara. Siapa pun orangnya yang semula bisa jadi bekerja sebagai tukang ojek, pedagang, aktivis sosial, atau profesi lainnya yang pengaruh sosialnya terbatas, setelah menduduki jabatan pemerintahan secara legal, maka tangannya menggenggam otoritas untuk memerintah dan membelanjakan anggaran negara demi kepentingan rakyat.
Sejak era kemerdekaan, kita mencatat bahwa otoritas yang dimiliki seorang presiden, gubernur, atau bupati potensial digunakan secara otoriter. Makanya, tidak mengherankan jika di berbagai negara benih dan pohon demokrasi justru mati di tangan pemimpin yang awalnya dipilih secara demokratis. Artinya, pemilu dan pilkada yang berlangsung demokratis tidak menjamin melahirkan sosok pemimpin demokrat sejati.
Bangsa dan negara pascakolonial perlu waktu panjang untuk membangun pemerintahan yang rasional dan stabil sebagaimana yang dicita-citakan rakyatnya. Belum lama berselang, saya jalan-jalan ke Uzbekistan, yang pernah berada di bawah kekuasaan Uni Soviet selama 1924-1991. Selain tengah membangun pemerintahan pascadominasi Uni Soviet, Uzbekistan sedang mencari dan membangun identitas bangsa dan negaranya dengan menggali akar tunggang sejarah dan budayanya ke masa lalu yang kuat dengan tradisi keislaman.
Faktor bahasa, tradisi, dan agama menjadi pengikat dan identitas bagi negara-negara Asia Tengah yang ketika lepas dari Uni Soviet tidak jelas dan tegas batas[1]batas demarkasi wilayahnya. Makanya, banyak wilayah perbatasan yang menimbulkan konflik. Saat ini, pengaruh Rusia juga masih membayangi negara-negara bekas kekuasaannya. Jadi, membangun pemerintahan dan budaya yang ideal pascakolonial ternyata butuh proses panjang. Terlebih bagi Indonesia yang rakyatnya besar dan sangat majemuk.
Indonesia sudah tiga kali melakukan eksperimentasi model pemerintahan yang ditandai dengan sebutan Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi. Ketiganya memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi generasi penerus. Masing-masing orde punya prestasi dan kekurangan.
Ketiga orde itu ternyata di pengujung eksperimentasinya gagal mewariskan pemerintahan yang bersih dari korupsi. Jika Anda tak kebal dari korupsi, sebaiknya jangan berebut jadi pejabat pemerintah. Kasihan negara dan rakyat.
Adapun rakyat, sesungguhnya keberadaannya lebih dahulu sebelum negara. Negara adalah anak kandung rakyat, karena rakyatlah yang berjuang mengusir penjajah dalam upaya mendirikan sebuah negara merdeka yang memiliki kedaulatan sendiri. Rakyat Indonesia ini sangat unik dan mengagumkan. Terdiri atas ratusan etnik, bahasa, tradisi, agama, dan kepercayaan, tapi semuanya bersatu dan berhimpun ke dalam sebuah bangsa bernama Indonesia.
Bayangkan, negara-negara di kawasan Timur Tengah yang mayoritas warganya beragama sama, berbahasa sama, tinggal di satu daratan yang sama, tapi terbagi ke dalam belasan negara kecil dan suasananya ribut terus. Sementara, rakyat Indonesia yang sedemikian besar jumlahnya dan sangat majemuk dari segi etnik dan bahasa, hidup bersatu dalam suasana rukun. Sekali-sekali memang terjadi keributan, tapi tidak sampai menimbulkan perpecahan serius sebagai sebuah bangsa.