Dunia masih menghadapi situasi sulit. Ada sejumlah tantangan besar yang sedang dihadapi dunia, mulai dari ancaman inflasi pangan, suku bunga tinggi, volatilitas nilai tukar, ketegangan geopolitik, hingga dampak buruk perubahan iklim
IGNASIUS JONAN adalah bankir senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016 - 2019
Dunia masih menghadapi situasi sulit. Ada sejumlah tantangan besar yang sedang dihadapi dunia, mulai dari ancaman inflasi pangan, suku bunga tinggi, volatilitas nilai tukar, ketegangan geopolitik, hingga dampak buruk perubahan iklim. Bagi pelaku bisnis, sederet tantangan tersebut bisa memengaruhi penjualan karena permintaan yang lemah, biaya bahan baku yang mahal, risiko operasional bisnis yang meningkat, hingga risiko gagal bayar.
Tentu peran kepemimpinan sangat menentukan. Ada yang bisa diantisipasi dan diselesaikan dengan baik, terutama yang disebabkan oleh faktor internal. Namun, ada masalah yang timbul karena faktor eksternal yang di luar kendali manajemen, seperti dinamika ekonomi makro dan debitur atau customer yang tidak mampu melaksanakan kewajibannya. Meskipun dengan analisis dan budaya risk management yang baik bisa mencegah atau meminimalisasi timbulnya masalah tersebut, tapi ketika masalah tersebut benar-benar hadir nyata maka itu harus diselesaikan. Seperti beberapa tahun terakhir, di mana dunia bisnis banyak diwarnai kasus gagal bayar, restrukturisasi utang, rightsizing organisasi, bahkan fraud dan moral hazard yang semua harus ditangani dengan baik.
Jadi, kapasitas kepemimpinan selalu menentukan dalam penyelesaian masalah di organisasi. Salah satu kapasitas seorang pemimpin dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah adalah kemampuannya dalam bernegosiasi. Ketika memimpin perbaikan Bahana Pembinaan Usaha Indonesia pada 2001 sampai dengan 2006 yang kesulitan membayar utang, saya pun banyak bernegosiasi dengan para kreditur. Ketika memimpin perbaikan kinerja pelayanan dan fundamental keuangan Kereta Api Indonesia (KAI) pada 2009 hingga 2014, saya juga harus bernegosiasi dengan banyak stakeholders, mulai dari karyawan, pejabat publik, hingga pedagang asongan. Demikian juga ketika saya memimpin Kementerian Perhubungan yang dilanjutkan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga 2019.
Negosiasi sebagai perundingan atau diskusi strategis sangat dibutuhkan seorang pemimpin untuk menyelesaikan masalah karena perbedaan kepentingan dua pihak sampai tercapai kesepakatan yang bisa diterima oleh kedua pihak. Menurut saya, ada beberapa hal yang harus dipegang dalam melakukan negosiasi.
Satu, memiliki informasi sebagai aset fundamental dalam negosiasi kemudian adanya kemampuan berkomunikasi agar informasi tersebut berpindah ke pihak lain. Di sini, seorang negosiator harus memperhatikan pihak lain guna menunjukkan rasa hormat sehingga bisa mendapatkan informasi penting yang berguna dalam pengambilan keputusan.
Dua, memahami pikiran pihak lain dan mengetahui apa yang sebenarnya mereka inginkan kemudian siapkan alternatif terbaik untuk kesepakatan yang dinegosiasikan, termasuk adanya opsi mundur jika kesepakatan yang dinegosiasikan tidak dapat dicapai. Dalam negosiasi ada istilah best alternative to a negotiated agreements (BATNA), yaitu perimbangan kekuatan antarpihak yang bernegosiasi. Jika negosiator memiliki BATNA yang kuat, dia memiliki kekuatan yang lebih besar untuk memengaruhi hasil perundingan.
Tiga, memiliki rasa percaya diri. Sebab, dalam perundingan sangat mudah terjadi konflik atau benturan dan dari benturan dua gagasan tersebut bisa menghasilkan gagasan ketiga yang bisa disepakati oleh dua belah pihak. "Leadership is about influence others, rather than demanding and coercing”. Dan kemampuan seorang pemimpin dalam memengaruhi harus didasari untuk membuat orang lain menjadi lebih baik". Karena itu, pemimpin harus memiliki rasa percaya diri dalam bernegosiasi dan jangan ada rasa takut, seperti dikatakan Presiden ke-35 Amerika Serikat, John F. Kennedy, “let us never negotiate out of fear. But let us never fear to negotiated”.
Empat, seorang pemimpin yang melakukan negosiasi harus memiliki motivasi, seperti dikatakan Seth Sinclair, “separate people from the problem”. Dan, bagaimana memenangkan negosiasi tanpa merusak hubungan adalah keterampilan akhir seorang negosiator. “The wisdom of a negotiator”. Seperti halnya dalam kepemimpinan. “Leadership is about influence others, rather than demanding and coercing”. Dan kemampuan seorang pemimpin dalam memengaruhi harus didasari untuk membuat orang lain menjadi lebih baik. Seperti kata motivator asal Amerika Serikat, Ernie Davis, “good leaders always make others better”.
Tentu peran kepemimpinan sangat menentukan. Ada yang bisa diantisipasi dan diselesaikan dengan baik, terutama yang disebabkan oleh faktor internal. Namun, ada masalah yang timbul karena faktor eksternal yang di luar kendali manajemen, seperti dinamika ekonomi makro dan debitur atau customer yang tidak mampu melaksanakan kewajibannya. Meskipun dengan analisis dan budaya risk management yang baik bisa mencegah atau meminimalisasi timbulnya masalah tersebut, tapi ketika masalah tersebut benar-benar hadir nyata maka itu harus diselesaikan. Seperti beberapa tahun terakhir, di mana dunia bisnis banyak diwarnai kasus gagal bayar, restrukturisasi utang, rightsizing organisasi, bahkan fraud dan moral hazard yang semua harus ditangani dengan baik.