Rating ini dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif berbahan baku laporan keuangan 2022-2023. Pendekatannya menggunakan rasio keuangan penting dan pertumbuhan usaha. Sebanyak 417 BPR mendapat predikat “sangat bagus”.
Sumber : Istimewa
Untuk memotret kinerja BPR pada 2022-2023, Biro Riset Infobank (birI) menerbitkan rating berjudul “Rating 417 BPR Versi Infobank 2024”. Rating ini dibuat berdasarkan kinerja keuangan bank-bank rural di 2023. Metode yang digunakan Biro Riset Infobank pada rating BPR ini ialah metode kuantitatif berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di website Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jangka waktu pengunduhan laporan keuangan BPR dari OJK ialah Maret sampai dengan awal Juli 2024.
Tiap BPR diunduh hanya satu kali, yaitu pada saat pertama kali muncul di website OJK. Seperti biasanya, masih banyak rasio yang belum lengkap di laporan keuangan. Untuk melengkapinya, Biro Riset Infobank pun melakukan konfirmasi ke BPR-BPR yang bersangkutan hingga datanya lengkap.
Pendekatan yang digunakan Biro Riset Infobank untuk rating BPR ini ialah rasio keuangan penting dan pertumbuhan usaha. BPR dikelompokkan menjadi enam kelompok berdasarkan aset: BPR beraset Rp25 miliar sampai dengan di bawah Rp50 miliar (kelompok 6), BPR beraset Rp50 miliar sampai dengan di bawah Rp100 miliar (kelompok 5), BPR beraset Rp100 miliar sampai dengan di bawah Rp250 miliar (kelompok 4), BPR beraset Rp250 miliar sampai dengan di bawah Rp500 miliar (kelompok 3), BPR beraset Rp500 miliar sampai dengan di bawah Rp1 triliun (kelompok 2), dan BPR beraset Rp1 triliun ke atas (kelompok 1).
Bahan baku rating BPR terbaik versi Infobank kali ini ialah laporan keuangan BPR tahun buku 2022 dan 2023. BPR yang hanya mengeluarkan laporan keuangan selain per Desember 2023 tak diikutsertakan dalam rating, meski asetnya triliunan rupiah.
Karena menggunakan laporan keuangan per Desember 2022-2023, rating ini boleh disebut hanya sebuah potret. Bisa saja kondisi pada 2023 tidak sama dengan kondisi sekarang. Namun, karena menggunakan metode dan pendekatan yang sama, hasilnya pun hanya sebuah potret pada saat laporan keuangan dibuat. Berikut ini kriteria penilaiannya.
PERMODALAN; menyangkut rasio kecukupan modal atau disebut capital adequacy ratio (CAR) dan pertumbuhan modal. Rasio tersebut untuk melihat seberapa jauh kekuatan permodalan dan komitmen BPR dalam meningkatkan modalnya. Rasio terbaik CAR mengacu pada ketentuan regulator. BPR yang memiliki CAR 12,00% hingga 14,00% akan diberi nilai 81 poin. CAR di atas 20,00% akan diberi penambahan maksimal 100 poin. Rasio CAR ini diberi bobot 15,00%.
Sisa bobot 5,00% dari unsur permodalan menggunakan pendekatan pertumbuhan modal inti. Rasio terbaik dari pertumbuhan modal inti ini menggunakan pendekatan rata-rata industri BPR yang tergantung pada jumlah asetnya dan mengacu pada pertumbuhan industri. BPR kelompok 1 standar terbaiknya 5,50% ke atas, BPR kelompok 2 standar terbaiknya 5,50%, BPR kelompok 3 standar terbaiknya 2,00%, BPR kelompok 4 standar terbaiknya 4,50%, BPR kelompok 5 standar terbaiknya
3,00%, dan standar terbaik BPR kelompok 6 adalah 2,00%. Pertumbuhan di atas standar terbaik diberi nilai 100 poin. Kalau di bawah nilai rata-rata, penilaian dilakukan secara proporsional.
KUALITAS ASET. Penilaian kualitas aset dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan: rasio non performing loan (NPL) dan pertumbuhan kredit. Standar terbaik NPL ialah di bawah 5,00%. Bobot rasio NPL sebesar 15,00%. Untuk NPL, karena NPL industri di atas 5%, rating ini memberi toleransi penilaian NPL hingga 6,5%. BPR yang NPL-nya di atas 5% tapi masih di bawah 6,5% tetap akan mendapat nilai sesuai dengan rumus yang ditentukan. Tapi, untuk BPR yang NPL-nya di atas 6,5%, akan dieliminasi. Selain NPL yang dinilai, dalam kelompok kualitas aset dilihat peningkatan jumlah kredit yang disalurkan dalam kurun waktu satu tahun. Kredit yang dimaksud adalah kredit setelah dikurangi penyisihan. Sama halnya dengan modal, untuk pertumbuhan kredit, BPR juga dibagi dalam enam kategori. Standar terbaiknya mengikuti pertumbuhan kredit rata-rata per kelompok, mengacu pada pertumbuhan industri. Kelompok 1 standar terbaiknya 8,50%, kelompok 2 standar terbaiknya 6,75%, kelompok 3 standar terbaiknya 8,50%, kelompok 4 standar terbaiknya 8,50%, kelompok 5 standar terbaiknya 8,50%, dan kelompok 6 standar terbaiknya 5,75%. Pertumbuhan kredit bobotnya 5,00%.
RENTABILITAS; meliputi tiga unsur, yaitu rasio laba dibandingkan dengan modal atau return on equity (ROE), rasio laba dibandingkan dengan aset atau return on assets (ROA), dan pertumbuhan laba. Sejauh mana modal dan aset yang dikelola bisa menghasilkan laba dalam kurun waktu satu periode. Rasio ROA menggunakan standar terbaik 1,50%, dan yang di atas 1,50% akan mendapat tambahan 100 poin. Karena industri di bawah 1,50% maka rating ini memberi toleransi ROA 1,25%, BPR dengan nilai ROA. antara 78% dan 100%. Angka itu diambil dari kebijakan regulator. Bahkan, BPR dengan LDR di atas 100% tapi tidak memiliki CAR 14% ke atas dinilai jelek. Posisi LDR diberi bobot 15,00%. Peningkatan DPK bagi BPR juga menjadi kriteria penilaian. Bobot pertumbuhan DPK sebesar 5,00% masing-masing tergantung pada ukuran BPR. BPR kelompok 1 standar terbaik pertumbuhannya 8,00%, kelompok 2 standar terbaiknya 8,00%, kelompok 3 standar terbaiknya 8,00%, kelompok 4 standar terbaiknya 8,00%, kelompok 5 standar terbaiknya 8,00%, dan kelompok 6 standar terbaiknya 6,00%.
LIKUIDITAS. Rasio likuiditas menggunakan pendekatan yang sederhana, yaitu berpatokan pada loan to deposit ratio (LDR). Jika sebuah BPR memiliki LDR terlalu tinggi, BPR tersebut dinilai terlalu ekspansif dan perlu sedikit hati-hati. LDR terbaik menggunakan pendekatan KRITERIA PENILAIAN BPR TERBAIK TAHUN 2024 NO. KRITERIA BOBOT 1 PERMODALAN A. CAPITAL ADEQUACY RATIO (CAR) 15,00% B. PERTUMBUHAN MODAL INTI 5,00% - BPR BERASET RP1 TRILIUN KE ATAS - BPR BERASET RP500 MILIAR S.D.
EFISIENSI. Kategori ini menggunakan dua rasio, yaitu rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) dan rasio net interest margin (NIM). Rasio ini dikelompokkan berdasarkan aset supaya adil. Rasio BO/ PO BPR kelompok 1 sebesar 84,00%, kelompok 2 sebesar 83,00%, kelompok 3 sebesar 87,00%, kelompok 4 sebesar 85,00%, kelompok 5 sebesar 89,00%, dan kelompok 6 sebesar 89,00%. BPR besar ataupun BPR kecil harus efisien dengan standar terbaik sama atau di bawah kelompok masing-masing. Jika ada BPR yang memiliki rasio BO/PO di atas 92%, BPR terse but dianggap tak efisien. Sebaliknya, makin kecil rasio BO/PO, berarti BPR tersebut makin efisien. Sejurus dengan itu, ada NIM sebagai indikator efisiensi. Angka NIM terbaik BPR di 2023 ialah 7,00% (rata-rata). Makin besar NIM, makin baik. Sebaliknya, makin kecil NIM, makin buruk. Rasio BO/PO dan NIM diberi bobot masing-masing 10,00%. Setelah menilai masing-masing kriteria dengan jumlah poin 20%, nilai tersebut akan diberi notasi dengan lima range, yaitu A1, A2, A3, A4, dan A5. Pemberian notasi ini untuk menunjukkan titik lemah dari rasio tersebut. Makin besar angkanya, makin lemah pula rasionya. Rasio dengan angka terendah diberi notasi D5. Akhirnya, kelima rasio yang menjadi kriteria penting itu dijumlah dan akan menjadi dasar utama untuk menen tukan apakah sebuah BPR dapat disebut “sangat bagus” atau belum. Contohnya, BPR ABC dengan skor sempurna 100% mendapat predikat “sangat bagus” karena standar terbaik di atas 81%. Kalau ada BPR yang nilainya sama, pendekatan yang dilakukan ialah rasio modal dan seterusnya menyangkut NPL. Jika posisi NPL 6,5% ke atas dan/atau posisi CAR di bawah 8%, walaupun BPR tersebut berpredikat “sangat bagus”, akan tereliminasi.
Tiap BPR diunduh hanya satu kali, yaitu pada saat pertama kali muncul di website OJK. Seperti biasanya, masih banyak rasio yang belum lengkap di laporan keuangan. Untuk melengkapinya, Biro Riset Infobank pun melakukan konfirmasi ke BPR-BPR yang bersangkutan hingga datanya lengkap.