Predikat “sangat bagus” diraih empat bank di KBMI 4. Bank Mandiri, yang tahun lalu mengukir sejarah dengan mencetak laba tertinggi sejak berdiri, kembali jadi yang terdepan di kelas elite ini, sekaligus tampil sebagai pencetak skor tertinggi dalam rating.
Sumber : Istimewa
1. Bank Mandiri
Pada “Rating 105 Bank Versi Infobank 2024”, Bank Mandiri tampil sebagai yang terdepan di kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 atau bank dengan modal inti Rp70 triliun ke atas. Bank yang dipimpin Darmawan Junaidi sebagai direktur utama ini mendapat predikat “sangat bagus” dengan total skor 98,46%. Predikat prestisius itu diraih Bank Mandiri selama lebih dari 15 tahun berturut-turut.
Bank Mandiri unggul atas para rival terdekatnya, yakni Bank Central Asia (BCA), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Pada rating 2023, Bank Mandiri juga menjadi yang nomor satu. Selain menjadi yang terbaik, kini Bank Mandiri juga mencatatkan prestasi lain; total skornya tertinggi dari seluruh bank yang dirating. Artinya, tak hanya terbaik di kelompoknya, Bank Mandiri juga terbaik di antara 105 bank umum yang dirating. Top!
Di 2023, Bank Mandiri mencatatkan dua sejarah baru. Pertama, bank ini menjadi bank pertama di Indonesia yang asetnya tembus Rp2.000 triliun. Tahun lalu, aset Bank Mandiri Rp2.174,22 triliun (konsolidasi). Secara tahunan, aset itu naik 9,12%. Kedua, mencetak laba bersih Rp60,05 triliun, tertinggi sepajang sejarah bank ini berdiri selama 25 tahun.
Berdasarkan data rating, Bank Mandiri memperlihatkan keunggulannya di sisi kualitas aset dengan rentabilitas dan efisiensi yang baik serta biaya dana atau cost of fund (CoF) yang rendah. Dari tujuh aspek penilaian utama, bank ini mendapat skor sempurna di lima aspek, yakni peringkat komposit profil manajemen risiko, peringkat nilai komposit good corporate governance (GCG), permodalan, rentabilitas, dan efisiensi. Sementara, untuk aspek kualitas aset dan likuiditas, skor Bank Mandiri tertinggi di antara peer-nya.
Dalam hal tata kelola, Bank Mandiri memang juara. Peringkat nilai komposit GCG menjadi salah satu keunggulannya. Di 2023, peringkat nilai komposit GCG Bank Mandiri adalah 1 atau terbaik. Ini mencerminkan bahwa bank ini mampu mengimplementasikan prinsip dasar GCG dengan sangat baik. Dalam rating ini, dari 105 bank, hanya 9 bank yang peringkat nilai komposit GCG-nya 1.
Begitu pun dalam peringkat komposit profil manajemen risiko. Nilai Bank Mandiri adalah 1 atau kuat.
Itu mencerminkan kondisi Bank Mandiri yang sangat sehat sehingga dinilai sangat mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya. Dari 105 bank yang dirating, hanya 5 bank yang nilai peringkat komposit profil manajemen risikonya 1. Dan, di KBMI 4, hanya Bank Mandiri yang mendapat nilai terbaik itu.
Secara pertumbuhan, kinerja Bank Mandiri sangat mengesankan. Tahun lalu, bank ini membukukan laba bersih Rp60,05 triliun atau tumbuh 33,59% secara tahunan. Pertumbuhan laba ini tertinggi di kelompoknya, juga di atas industri yang tercatat 20,57%.
Di lain sisi, Bank Mandiri meraup dana pihak ketiga (DPK) Rp1.576,95 triliun atau naik 5,78%. Pertumbuhan ini juga di atas industri. Dari DPK yang dihimpun, dana murah (CASA) Bank Mandiri terbilang tebal dengan rasio 74,30%.
Untuk kredit, Bank Mandiri juga mencetak kinerja yang menawan, naik 16,40% menjadi Rp1.392,58 triliun. Pertumbuhan kredit bank ini tertinggi di kelompoknya, juga di atas industri yang tercatat 10,61%.
Menurut Darmawan, capaian kinerja Bank Mandiri yang apik di 2023 selaras dengan kondisi ekonomi yang secara nasional masih resilien menghadapi volatilitas. “Kinerja keuangan Bank Mandiri sepanjang 2023 menunjuk-kan momentum yang baik dan on track, diikuti penerapan prinsip kehati-hatian yang matang,” katanya.
Ditegaskannya, Bank Mandiri secara konsisten menjaga kinerja keuangan dengan tone konservatif dan in line dengan strategi secara bank wide dengan mengedepankan core competence, yakni sebagai wholesale bank dengan dukungan teknologi dan digital innovation.
“Selain itu, kami juga menciptakan pendekatan secara ekosistem dari relationship dengan nasabah-nasabah korporasi yang menjadi sumber utama pertumbuhan bisnis Bank Mandiri hari ini dan untuk tahun-tahun mendatang,” tukas Darmawan kepada Infobank, Juli lalu.
Kinerja Positif Berlanjut di 2024
Kinerja Bank Mandiri yang tumbuh solid di 2023 berlanjut di 2024. Hingga triwulan pertama 2024, Bank Mandiri berhasil membuktikan ketahanan dan adaptabilitasnya dalam kondisi pasar yang volatil di tengah ketidakpastian ekonomi dan keuangan global. Hal ini tecermin dari kemampuannya dalam menyalurkan kredit konsolidasi sebesar Rp1.435 triliun, tumbuh 19,1% secara tahunan. Capaian itu melampaui pertumbuhan kredit industri yang sebesar 12,4%.
Bank Mandiri, yang sangat kuat dalam tata kelola dan prinsip kehati-hatian, juga berhasil membuat kualitas asetnya lebih baik daripada peer-nya. Rasio non performing loan (NPL) gross bank only Bank Mandiri terus terjaga hingga ke level 1,02%, turun dari 1,7% di Maret 2023.
Bank ini juga sangat prudent dan konservatif dalam menetapkan pencadangan kredit, tecermin dari coverage ratio bank only yang di level 368%. Perbaikan dari sisi kualitas kredit juga tecermin dari biaya kredit atau cost of credit (CoC) yang terjaga di level rendah, yakni 0,99%.
Selaras dengan implementasi strategi bisnis yang konsisten disertai dengan optimalisasi digital channel, Bank Mandiri pun berhasil mencetak laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp12,7 triliun di triwulan pertama 2024, tumbuh 1,13% secara tahunan.
Sementara, sampai dengan Mei 2024, menurut Darmawan, Bank Mandiri berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yang baik pada level 20%-an, di atas pertumbuhan industri perbankan nasional. Tingkat kualitas portofolio kreditnya pun terus membaik, tecermin dari rasio NPL yang berada di kisaran 1%.
Di sisi biaya, secara year to date, cost of fund Bank Mandiri dapat dikelola flattish-slightly down di tengah pasar dengan suku bunga yang masih tinggi dan likuiditas pasar yang mendorong peningkatan penawaran kepada nasabah dengan suku bunga yang tinggi.
“Secara umum, kinerja keuangan Bank Mandiri dapat dikelola sangat baik dengan terus meningkatnya market share Bank Mandiri, baik dari bisnis perkreditan maupun DPK, khususnya dana murah dengan CASA ratio yang sangat baik,” ujar Darmawan.
Inovasi & Strategi Digital
Kinerja ciamik Bank Mandiri juga didorong oleh serangkaian inovasi dan strategi digital. Salah satunya melalui super app Livin’ by Mandiri yang telah mampu mengelola 846 juta transaksi pada triwulan pertama 2024, naik 41,7%, dengan jumlah pengguna mencapai 24,4 juta, memelesat 40%.
Adapun, nilai transaksi Livin’ by Mandiri pada periode itu tembus Rp921 triliun, tumbuh 27,4%. Kehadiran Livin’ by Mandiri telah berkontribusi pada pertumbuhan pendapatan nonbunga, tecermin dari fee based income Livin’ by Mandiri sebesar Rp557 miliar atau naik 25,5%.
Sedangkan, untuk layanan wholesale digital super platform Kopra by Mandiri, secara konsisten telah berhasil menjadi market leader untuk transaksi wholesale digital dengan mengelola Rp4.773 triliun transaksi hingga akhir Maret 2024. Pertumbuhan pengguna Kopra by Mandiri juga meningkat lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir menjadi 200.000 pengguna, di mana 93% dari giro dikontribusi oleh pengguna Kopra by Mandiri.
“Kehadiran Livin’ dan Kopra by Mandiri juga turut menyumbang pertumbuhan DPK, khususnya dana murah yang signifikan. Ini membuktikan bahwa transformasi digital yang dilakukan Bank Mandiri telah berhasil berkontribusi signifikan terhadap kinerja keuangan dengan tren yang terus membaik,” imbuh Darmawan.
Optimalisasi digital tersebut pun berkontribusi pada pertumbuhan DPK konsolidasi Bank Mandiri yang sebesar 13% yoy, menjadi Rp1.572 triliun di akhir Maret 2024.
Lewat digitalisasi dan optimalisasi layanan yang menyeluruh kepada nasabah, rasio dana murah CASA bank only Bank Mandiri telah menyentuh 79,4% per Maret 2024, naik 22 bps secara tahunan. Posisi tersebut merupakan level tertinggi sejak Bank Mandiri didirikan. Luar biasa!
2. Bank Central Asia
Otot-Otot Si Biru Bank Central Asia (BCA) masih mengeras di 2023. Hasilnya, bank yang dipimpin Jahja Setiaatmadja sebagai presiden direktur ini mampu melanjutkan tren kinerja keuangan positif yang selalu dicapainya selama ini.
Di rating kali ini, BCA meraih total skor 95,06%. Bank swasta terbesar di Indonesia ini terlihat kuat di aspek rentabilitas dan efisiensi dengan rasio dana murah (CASA) yang mumpuni atau terbaik di kelasnya. BCA, yang per akhir 2023 beraset Rp1.408,11 triliun (konsolidasi), pun kembali mendapat predikat “sangat bagus”, predikat yang sudah diraihnya selama lebih dari dua dekade.
BCA berhasil menutup 2023 dengan baik sekaligus tumbuh di atas rata-rata industri. Salah satunya berkat dukungan berbagai pihak, termasuk nasabah. Selain itu, BCA menyelenggarakan sejumlah event strategis yang hasilnya berdampak positif terhadap kinerja bank ini. Likuiditas dan dana murah pun menjadi salah satu penopang kinerja ciamik BCA.
“Ditopang likuiditas yang memadai, kami optimistis untuk senantiasa mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran kredit ke berbagai sektor, dan melangkah secara prudent di 2024,” ujar Jahja, beberapa waktu lalu.
3. Bank Negara Indonesia
Bank Negara Indonesia (BNI) menutup 2023 dengan rapor kinerja keuangan yang membiru. Sejumlah pos keuangannya tumbuh mengesankan dan berkualitas. Berkat capaian itu, bank yang dipimpin Royke Tumilaar sebagai direktur utama ini berhak menyandang predikat “sangat bagus” dalam rating bank kali ini, dengan total skor 92,69%.
Berdasarkan data rating, BNI mendapat nilai sempurna di sejumlah aspek penilaian, yakni peringkat nilai komposit good corporate governance (GCG) dan permodalan. Bank ini juga terlihat tangguh di aspek likuiditas dan efisiensi.
Tahun lalu, bank yang baru saja merilis aplikasi super (super apps) bernama Wondr ini membukukan laba bersih Rp21,11 triliun atau mengembang 14,20% secara tahunan. Pertumbuhan laba BNI ini lebih tinggi daripada rata-rata industri yang tercatat 20,57%.
Adapun, dana pihak ketiga (DPK) dan kredit BNI masing-masing tercatat Rp810,73 triliun atau tumbuh 5,39% dan Rp695,08 triliun atau tumbuh 7,57%. Di sisi DPK, BNI memiliki rasio dana murah yang sangat baik, yakni 71,23%. Rasio dana murah BNI ini lebih baik daripada rata-rata industri yang tercatat 63,04%. Sementara, aset BNI di 2023 mencapai Rp1.086,66 triliun atau meningkat 5,52%.
4. Bank Rakyat Indonesia
Bank Rakyat Indonesia (BRI) menunjukkan kinerja yang solid di 2023. Fungsi intermediasi bank yang dipimpin Sunarso sebagai direktur utama ini berjalan sangat baik. Begitu pun di sisi profitabilitas. Label sebagai bank pencetak laba terbesar di Indonesia masih melekat pada bank jagoan micro banking ini.
Pada 2023, BRI meraup laba bersih Rp60,43 triliun. Secara tahunan, laba itu tumbuh 17,54%. Laba yang diraih BRI tercatat sebagai yang terbesar di jajaran 105 bank umum di negeri ini.
Di rating tahun ini, BRI mendapat predikat “sangat bagus” berkat kinerja ciamiknya di tahun lalu. Bank ini memperoleh total skor 90,33%. Dalam catatan Infobank, BRI merupakan salah satu dari sedikit bank yang konsisten berpredikat “sangat bagus” selama lebih dari 20 tahun.
Berdasarkan data rating, BRI mendapat nilai sempurna di aspek peringkat nilai komposit GCG. Untuk aspek lainnya, seperti efisiensi, likuiditas, rentabilitas, permodalan, dan peringkat komposit profil manajemen risiko, nilainya cukup tinggi, mendekati sempurna. Hanya, di sisi kualitas aset, khususnya yang diwakili non performing loan (NPL), BRI tampaknya perlu melakukan perbaikan. Di aspek ini, BRI tertinggal dari para pesaingnya.
Pada “Rating 105 Bank Versi Infobank 2024”, Bank Mandiri tampil sebagai yang terdepan di kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 atau bank dengan modal inti Rp70 triliun ke atas. Bank yang dipimpin Darmawan Junaidi sebagai direktur utama ini mendapat predikat “sangat bagus” dengan total skor 98,46%. Predikat prestisius itu diraih Bank Mandiri selama lebih dari 15 tahun berturut-turut.