BPRS Harta Insan Karimah (HIK) telah berhasil melewati masa-masa berat yang dijalani industri keuangan dalam beberapa tahun terakhir dengan mencetak kinerja yang memuaskan.
Kerja keras berbalut semangat kuat membawa BPRS HIK meraih kinerja keuangan yang sangat baik. Maka, pada tahun 2024 ini perseroan dinyatakan berhak mendapatkan apresiasi di ajang Infobank Syaria Awards 2024 dengan predikat "Sangat Bagus" untuk BPRS dengan aset Rp250 miliar keatas.
Perlahan tapi pasti, penghargaan dari Infobank tersebut semakin memperkuat posisinya sebagai bank syariah terdepan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana visi utamanya yakni menjadi bank syariah unggul dan terpercaya, utamanya bagi pelaku UMKM.
Di paruh pertama tahun ini, BPRS HIK membukukan capaian positif, hampir di seluruh aspek keangannya. Direktur Utama BPRS HIK Alfi Wijaya mengatakan, total aset bank tercatat meningkat menjadi Rp680,1 miliar, atau tumbuh 9,39% secara tahunan (year on year/yoy).
Kenaikan aset didongkrak oleh pertumbuhan di sisi dana pihak ketiga (DPK) yang saat ini telah menyentuh R607,8 miliar. Jika dirinci, total dana murah produk tabungan mencapai Rp117,3 miliar, atau naik 3,89% yoy miliar dibanding posisi Juni 2023. Kemudian, dana deposito tercatat sebesar Rp490,5 miliar, atau meningkat 12,04% yoy dibandingkan posisi Juni 2023.
"Kami akan terus memperkuat struktur sumber pendanaan bank, baik melalui penghimpunan DPK (Dana Pihak Ketiga). Penguatan struktur sumber pendanaan difokuskan pada penghimpunan DPK, yakni tabungan dan deposito," ujarnya kepada Infobank di akhir Agustus ini.
Salah satu cara yang dilakukan dengan mengoptimalkan variasi produk tabungan sebagai solusi keuangan yang ditawarkan kepada nasabah serta menawarkan keunggulan return yield (EQR) bagi hasil deposito yang kompetitif.
Perlu diketahui, EQR produk deposito yang ditawarkan BPRS HIK memiliki imbal hasil yang kompetitif di kisaran 5,91% hingga 8,44% atas realisasi pendapatan Juli 2024, dan hal ini sesuai ketentuan skema bagi hasil dalam perbankan syariah, sehingga tetap dijamin LPS.
"Demikian juga dengan memper-kuat pelayanan prima yang dihadirkan guna membangun kedekatan dengan nasabah serta mengembangkan pola pasar DPK berbasis komunitas. Kami juga menghadirkan variasi produk tabungan yang menawarkan solusi keuangan sesuai kebutuhan nasabah," ungkapnya.
Di segi intermediasi, pada tahun ini BPRS HIK berupaya menggenjot penetrasi pembiayaan untuk membantu pelaku usaha agar berkembang dan 'naik kelas'. Pembiayaan yang telah dikucurkan di semester 1/2024 menca-pai Rp528,05 miliar, atau tumbuh 6,52% yoy. la bahkan optimistis untuk meningkatkan pembiayaan hingga Rp613,2 miliar, atau naik 14,2% yoy di tahun 2024.
"Untuk penyaluran pembiayaan, kendati beberapa perusahaan dan pengusaha masih terlihat wait and see, dengan susunan kabinet dan hasil pilkada, namun bank masih memiliki optimisme untuk adanya pertumbuhan double digit pada tahun 2024," katanya.
Sebagian besar pembiayaan masih fokus untuk membiayai kegiatan bisnis pelaku usaha kecil dan menengah.
Tercatat, pembiayaan untuk segmen komersial UMKM memiliki porsi terbesar, di mana mencapai Rp528,05 miliar atau sebesar 76,6% dari seluruh portofolio, disusul segmen retail yang mencapai Rp123,7 miliar atau sebesar 23,4%.
Alfi menyebutkan, upaya yang dilakukan untuk mengakselerasi pertumbuhan pembiayaan sekaligus meningkatkan penerapan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan pada prinsip syariah, dituangkan dalam "Panca Strategi Pembiayaan"
Pertama, diversifikasi pengembangan produk retail, untuk melengkapi eksisting produk pembiayaan komersial antara produk pembiayaan perencanaan haji, produk pembiayaan kepemilikan rumah, pembiayaan kepemilikan emas dan produk pembiayaan kolektif pegawai.
"Lalu Kedua, penguatan manajemen risiko untuk pembiayaan komersial, dengan cara pengkinian terhadap SOP khususnya aspek analisis dan monitoring pembiayaan, peningkatan kapasitas SDM, dan penerapan reward and punishment secara tegas sekaligus motivatif," jelas Alfi
Ketiga, inovasi pengembangan produk pembiayaan produktif untuk segmen UMKM dan segmen ultra mikro berbasis kelompok, dengan penyusunan SOP yang kompre-hensif. Terutama penguatan mitigasi risiko implementasi skema berbasis kelompok, serta pengembangan system aplikasi teknologi informasi yang menunjang proses monitoring pembiayaan yang bersifat masif dengan jumlah nasabah yang banyak.
Keempat, Inovasi pengembangan produk yang memiliki kekhasan aspek syariah (Pembiayaan Mudharabah Mugayyadah dan CWLD), antara lain pembiayaan mudharabah muqayyadah (pembiayaan investasi terikat) dan CWLD (Cash Wakaf Linked Deposit) yang mencoba mengintegrasikan pengembangan sisi aset dan penghimpunan dana yang khas aspek syariahnya dan berbeda dengan bank konvensional.
Kelima, penguatan tata kelola dan kepatuhan pada prinsip syariah, melalui pengawasan aktif Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam pengembangan produk baru dan oH evaluasi atas implementasi produk, pengawasan aktif Dewan Komisaris dalam penentuan kebijakan dan evaluasi penerapan manajemen risiko.
"Kami juga membentuk struktur organisasi baru yakni Financing Risk Reviewer untuk memperkuat analisis sekali-gus mitigasi risiko, serta penajaman implementasi pembiayaan segmen retail dan segmen komersial," terangnya.
Bidik 4 Sektor Potensial
Sejurus siasat tengah disiapkan oleh BPRS HIK untuk menyasar sektor-sektor potensial. Alfi menuturkan, perseroan tengah membidik segmen ultra mikro berbasis kelompok dengan pola Grameen Model. Pola ini memiliki ciri pembiayaan dengan plafon yang relatif kecil dengan sistem tanggung renteng berbasis kelompok (rembug) dengan benchmark pola Grameen.
"Nah, kemudian kami juga akan masuk ke sektor usaha berbasis ekosistem properti. Di situ kerja sama pembiayaan dengan developer yang akan dikembangkan dengan produk KPR Syariah dan pembiayaan kepada mitra developer," sambungnya.
Selanjutnya, penetrasi pasar ke sektor usaha berbasis ekosistem sekolah yang merupakan salah segmen unggulan HIK yang telah dilayani dengan produk tabungan. Disekolah-sekolah itu akan dilakukan cross selling dengan penawaran produk pembiayaan retail antara lain pembiayaan Perencanaan haji, kolektif pegawai, pemilikan emas, KPR Syariah, pembiayaan sergur.
"Yang nggak kalah menarik, kami juga akan menggeluti sektor usaha yang memiliki skema kekhasan syariah dan keterkaitan secara langsung dari pemilik dana atau shahibul maal di sisi penghimpunan dana maupun segmen usaha tertentu di sisi pembiayaan atau penerima manfaatnya dengan rencana pengembangan skema Pembiayaan Mudharabah Mugayyadah dan CWLD (Cash Wakaf Linked Deposit)," bebernya.
Alfi menuturkan juga bahwa sebagai wujud dari tekad menebar manfaat, BPRS HIK mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari OJK sebagai BPRS dengan Kontribusi kepada Usaha Mikro Kecil dan Masyarakat tahun 2024, serta mendapatkan penghargaan dalam menjalankan fungsi sosial yang diberikan oleh BAZNAS dalam ajang UPZ Award Kategori UPZ Pelaporan Terbaik tahun 2023. Dalam ajang BPR Syariah Award yang diselenggarakan Kompartemen BPRS ASBISINDO, BPRS HIK juga mendapat penghargaan dalam Katagori Teknologi Informasi pada tahun 2022, 2023 dan 2024.
Di segi kepatuhan atas regulasi, Alfi menyatakan bahwa dengan terbitnya UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) memberikan peluang sekaligus tantangan bagi BPRS HIK dalam implementasi di lapangan.
"Proses komunikasi yang intensif dengan PSP (Pemegang Saham Pengendali) dan OJK serta pemangku kepentingan lainnya merupakan kunci utama untuk merespon berbagai dinamika terkait perubahan regulasi sehingga implementasi atas regulasi baru tersebut bisa berjalan dengan baik dan tersinkronisasi dengan upaya dan langkah strategis perusahaan," tutupnya. RAL
Perlahan tapi pasti, penghargaan dari Infobank tersebut semakin memperkuat posisinya sebagai bank syariah terdepan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sebagaimana visi utamanya yakni menjadi bank syariah unggul dan terpercaya, utamanya bagi pelaku UMKM.