Konflik Geopolitik yang Masih Berlangsung di Sejumlah Kawasan Menjadi Momok Menakutkan Bagi Stabilitas Perekonomian Global. Di Lain Sisi, Kondisi Domestik Juga Sedang Tidak Baik-baik Saja.
Sumber : Istimewa
TAHUN ini, ekonomi global diproyeksikan masih akan dipenuhi tantangan akibat beragam potensi risiko yang bisa menekan laju pertumbuhannya ke depan. Terhambatnya rantai pasok dan mahalnya biaya produksi pangan akibat perang Rusia-Ukraina; meluasnya konflik Israel-Palestina; perlambatan signifikan pada negaranegara ekonomi utama, seperti Tiongkok dan Amerika Serikat (AS); inflasi dan kerentanan sistem keuangan di negara berkembang; serta iklim ekstrem merupakan sejumlah tantangan utama yang menghantui stabilitas ekonomi dunia.
Lebih jauh, menurut sejumlah pihak, ketegangan antara AS dan Tiongkok berpotensi makin parah pasca Pemilu AS mendatang. Sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, AS sendiri tengah menghadapi krisis lapangan kerja setelah melandainya inflasi di sana.
Departemen Tenaga Kerja AS mencatat, angka pengangguran di AS naik menjadi 4,3% pada Juli 2024, dari 4,1% per Juni. Ini adalah bulan keempat angka pengangguran di sana meningkat secara berturutturut, dan menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2021.
Pertumbuhan lapangan kerja di AS pun menurun dari 179.000 lapangan kerja pada Juni ke 114.000 di Juli. Angka ini memeleset dari prediksi sebagian besar ekonom yang menyatakan bahwa akan ada pertambahan 175.000 lapangan kerja pada Juli.
“Then the acceleration of unemployment ini triggers concern on recession. Dan, karena inflasi sudah melandai, and the only issue is now unemployment, sehingga this creates expectation that there is a need to cut the Fed Rate in September," ujar Chief Executive Officer (CEO) Citi Indonesia, Batara Sianturi, beberapa waktu lalu.
Di Tiongkok, krisis di sektor properti dan konsumsi masih menjadi tantangan besar Negeri Tirai Bambu. Setelah keruntuhan perusahaan real estate terbesar Evergrande dan lainnya, seperti Country Garden, Soho, Sino Pride, Unispace, Man Hing Hong, Top Capital, Vivid Invest, dan Vanke, pasar properti di Tiongkok terus menurun.
Untuk membangkitkan kembali pasar properti, Tiongkok berencana menurunkan suku bunga pinjaman hipotek dan rasio uang muka bagi pembeli rumah. Bahkan, pemerintah daerah di sana diizinkan membeli rumah dengan harga yang “wajar”. Ekonomi Tiongkok yang melemah akibat pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), masih terasa
hingga sekarang. Banyak orang menganggur dan menghabiskan tabungannya. Dalam kondisi ini, masyarakat enggan melakukan konsumsi dalam jumlah besar.
Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah pengangguran nasional per Februari 2024 mencapai 7,2 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) 4,82%. TPT Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara (ASEAN).
Lebih jauh, tingginya tingkat PHK dan inflasi pangan nasional membuat jumlah penduduk kelas menengah terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Data LPEM FEB UI menunjukkan, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia tercatat 52 juta di 2023 atau menyusut 8,5 juta dari 60 juta pada 2018.
"Artinya, sejak 2019, sebagian dari kelas menengah ‘turun kelas’ menjadi AMC, dan AMC turun menjadi kelompok rentan,” tutur Chatib Basri, ekonom senior yang juga Menteri Keuangan periode 2013-2014, belum lama ini.
Lebih jauh, menurut sejumlah pihak, ketegangan antara AS dan Tiongkok berpotensi makin parah pasca Pemilu AS mendatang. Sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, AS sendiri tengah menghadapi krisis lapangan kerja setelah melandainya inflasi di sana.