Sumber : Istimewa
Ekspansi Setelah Bersih-Bersih & Optimalisasi Pasar Taiwan di Indonesia
Anda mulai memimpin Bank CTCB Indonesia di 2019. Ketika itu, apa yang Anda lihat dari bank ini?
Lalu, sebagai leader, apa visi Anda untuk bank ini? Saya masuk Bank CTBC Indonesia di Maret 2019. Saat itu, saya lihat portofolio bank seperti apa, dan saya langsung perbaiki kualitas asetnya karena kami perlu membangun bank yang lebih sustainable ke depan. Dari 2019 hingga 2023, istilahnya saya bersih-bersih bank, memperbaiki kredit-kredit bermasalah dengan CKPN memadai. Jadi, CKPN harus mencukupi, apalagi kami harus masuk ke segmen-segmen yang middle sampai large corporate.
Dari 2019 itu, baik loan growth, aset growth, hingga deposit growth kami selalu ada double digit. Dan, di 2023 sampai 2024, baru kelihatan hasilnya cukup signifikan. Di 2023, kami punya profit yang kenaikannya 300% secara year on year (yoy). Tahun ini, kami juga targetkan kenaikan profit di sekitar 20%-25%. Kualitas aset atau NPL juga turun sampai 2,14%, dan saya targetkan Juli 2024 ini NPL di bawah 2%. Lalu, rasio beban kami, saya rasa, kenaikannya cukup normal dan terjaga. Tapi, kami punya revenue yang naiknya lebih banyak.
Kembali lagi, saya memang punya misi ingin membuat bank ini sustainable. Saya tidak ingin, sebagai CEO, profitnya hanya bagus dalam satu tahun, tetapi ke depannya tanda tanya. Lebih baik diperbaiki, mulai dari infrastrukturnya, credit portfolio-nya, hingga kualitas banknya. Jadi, beres-beres sehingga bank ini siap dan ke depannya jalannya bisa lebih sustainable.
Buat kami, yang penting bisa kontinu untuk terus meningkatkan DPK dan penyaluran kredit. Ini secara organic growth. Tetapi, kalau kami ada unorganic growth, mengakuisisi misalnya, kami juga tidak menutup kemungkinan untuk demikian. Kalau ada kesempatan, kami terbuka, pemegang saham juga terbuka, jika memang ada target yang mungkin sinerginya baik.
Jadi, setelah bersih-bersih, sekarang waktunya Bank CTBC Indonesia melakukan ekspansi?
Harusnya begitu. Ya, boleh dikatakan dari segi kualitas aset kami sudah baik. Dan, yang namanya bersih-bersih juga kami harus jaga terus. Setelah bersih-bersih, kami jaga bank ini dan berlanjut ekspansi.
Terkait dengan ekspansi, seperti apa rencana perluasan jaringan Bank CTBC Indonesia? Kami akan melakukan ekspansi cabang di kota-kota besar yang ada di Indonesia. Sekarang ini, kami hanya ada cabang di tiga kota besar di Indonesia: Jakarta, Bandung, Surabaya. Rencana dalam tiga sampai lima tahun ke depan, kami mau buka di Semarang, Medan, dan Makassar.
Lalu, digitalisasi juga menjadi penopang bisnis bank saat ini. Seperti apa pengembangan perbankan digital di Bank CTBC Indonesia?
Di CTBC Indonesia, kami terus tingkatkan digital capability. Terutama, nomor satu, core banking kami harus bisa terus upgrade. Kalau core banking sudah upgrade, pasti dari segi capability ke digital services lain juga bisa ditingkatkan. Di 2024 ini, kami sudah lakukan itu. Setelahnya, kami perbarui mobile banking. Untuk mobile banking, kami itu ada dua: satu untuk di ritel dan satu untuk di institutional banking. Baru-baru ini, kami juga luncurkan aplikasi loan application untuk KTA, di mana ada pre-approval dalam waktu 60 detik.
Segmen apa yang menjadi fokus Bank CTBC Indonesia? Dan, bagaimana rencana pengembangan bisnis ke depan?
Bisnis CTBC lebih dari 90% di institutional banking, termasuk large corporate dan commercial banking. Uniknya, Bank CTBC ini satu-satunya Taiwanese based bank yang ada di Indonesia. Jadi, kami juga bisa menggarap investor-investor yang datang dari Taiwan. Investor-investor dari Taiwan ini cukup banyak juga di Indonesia. Di sisi lain, Taiwan negara nomor satu di dunia untuk pembuatan sepatu. Pabrik-pabrik sepatu besar mayoritas pemegang sahamnya dari Taiwan, dan sekarang (investor) sudah banyak masuk ke Indonesia. Jadi, investor-investor dari Taiwan ini harapannya bisa kami garap secara maksimal.
Kami juga ada rencana, pertama menggarap segmen small medium enterprise (SME). Kedua, consumer banking, yakni individual personal loan dalam bentuk kredit tanpa agunan (KTA). Karena, CTBC di Taiwan merupakan champion KTA, sehingga bisnis itu ingin kami terapkan di sini juga. Dan, pertumbuhan KTA di Bank CTBC Indonesia dalam lima sampai enam tahun terakhir cukup signifikan.
Bagaimana tren fee based income Bank CTBC Indonesia ke depan?
Fee based income kami yang paling besar adalah loan fee. Jadi, loan fee yang kami dapatkan dari pemberian kredit. Kedua, fee income dari transaction banking. Ketiga, consumer banking, walaupun jumlahnya masih belum sebesar wealth management. Suku bunga di Indonesia tinggi. Jadi, kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, yang mana mungkin suku bunganya masih rendah, persentase dari fee income ke total income mungkin bisa lebih tinggi. Tapi, kalau di Indonesia ini karena suku bunganya tinggi, jadi fee income itu kelihatannya rendah. Saya harapkan fee income di Bank CTBC Indonesia bisa kami tingkatkan lagi.
Terkait Di tengah isu ketidakpastian ekonomi dan suku bunga tinggi, bagaimana dampaknya untuk Bank CTBC Indonesia?
Dampaknya pasti ada - yang namanya ekonomi dunia akan mengalami transisi. Bisa saja terjadi small recession, that's possible. Kalau misalnya ada recession, pasti dari segi growth juga mungkin tidak sebesar apa yang kami harapkan.
Tahun ini tetap optimistis mencapai target?
Saya selalu optimistis, walaupun kalau saya lihat kami punya market share di Indonesia masih kecil. Akan tetapi, masih ada kesempatan bagi kami untuk bisa memperbesar market share. Jadi kami tetap optimistis. Kami harus terus maju - saya tahu memang mungkin ekonomi dunia ini akan slow down. Ya pasti ada dampaknya buat kita. Tapi kalau dilihat dari market share kita ini masih kecil. Jadi masih bisa tumbuh.
Untuk mencapai target yang sudah dibuat, Anda perlu tim yang supportive. Seperti apa tipe leadership yang Anda terapkan untuk memimpin bank ini?
Leadership with my heart, memimpin dengan hati nurani. Jadi, meskipun sebagai leader harus menerapkan sikap kedisiplinan untuk mencapai tujuan, tetapi saya juga harus lead with the heart. Memimpin yang sejalan dengan hati nurani saya. Balance-nya ini memang harus dijaga dan diperhatikan. Tidak boleh istilahnya, memecut karyawan terus. Bagi saya, memimpin dengan disiplin dan strict, tetapi saya juga harus punya hati nurani dalam memimpin tim. AUS
Anda mulai memimpin Bank CTCB Indonesia di 2019. Ketika itu, apa yang Anda lihat dari bank ini?