PT Jaminan pembiayaan Askrindo Syariah tengah memasang ‘kuda-kuda’ untuk memperkuat posisinya sebagai pemain terdepan di industri penjaminan.
Kokok Alun Akbar, Direktur Utama Askrindo Syariah
Sederet langkah taktis pun telah disusun manajemen Askrindo Syariah untuk menangkap peluang pembiayaan dan meminimalisir kerugian yang tak diinginkan. Direktur Utama Askrindo Syariah Kokok Alun Akbar menjelaskan, pihaknya kini terus meningkatkan kapasitas penjaminan, baik melalui tambahan modal organik dari optimalisasi laba, maupun tambahan modal dari Pemegang Saham.
Adanya aturan mengenai batasan maksimal penjaminan sebesar 10% dari modal, Perseroan juga berupaya mendapatkan Panel Reasuransi yang optimal.
“Kapasitas Penjaminan ini penting bagi kami dalam rangka mendukung kebutuhan Penjaminan Nasabah-nasabah Ritel-Menengah yang memiliki track record bagus, agar potensi yang bagus dapat kita ambil” ujarnya saat ditemui Infobank di Kantor Askrindo Syariah pada Juli lalu. Termasuk kehadiran dari Perusahaan Reasuransi juga sangat penting dalam rangka mendukung kapasitas penjaminan dan spreading risk di Industri Penjaminan.
Berbekal pengalaman yang panjang dan kinerja yang solid, Askrindo Syariah telah membangun networking yang kuat dan banyak dipercaya oleh perusahaan reasuransi lantaran selalu membawa kualitas jaminan yang baik. Alhasil, Perseroan sudah memiliki Panel Reasuransi sejak 5 tahun lalu dengan value yang semakin bertambah. Selain itu, pihaknya juga menyiasati peningkatan kapasitas penjaminan melalui co-guarantee dengan sesama Perusahaan Penjaminan atau dalam istilah perbankan dikenal sebagai pembiayaan sindikasi.
“Kita sebagai leader-nya, yang otomatis harus mendapatkan trust terlebih dahulu dari Mitra Bisnis. Seperti itu lah kita meningkatkan kapasitas penjaminan kita, baik dari modal, kemampuan reasuransi, dan co-guarantee,” bebernya. Jurus Pamungkas Askrindo Syariah Kembangkan Sayap Bisnis di Tengah Ketatnya Persaingan di Industri Penjaminan pt Jaminan pembiayaan Askrindo Syariah tengah memasang ‘kuda-kuda’ untuk memperkuat posisinya sebagai pemain terdepan di industri penjaminan.
Sejalan dengan hal itu, Askrindo Syariah tetap berkomitmen untuk melebarkan sayap bisnisnya dengan menggandeng sejumlah Bank maupun Lembaga Keuangan Non Bank, termasuk juga dengan Perusahaan Fintech.
Pihaknya juga telah menjamin nasabah dari lembaga keuangan lainnya, yang berada dibawah Kementerian atau BUMN. Ekspansi bisnis berbekal kerja sama yang dilakukan Askrindo Syariah berbuah manis. Alun menjabarkan, sampai dengan Semester I/2024, kinerja keuangan Perusahaan berkembang signifikan secara tahunan dimana Askrindo Syariah tumbuh hampir dua digit di semua aspek.
“Kalau kita lihat di posisi Juni 2024 perkembangan kita cukup bagus, Aset kita tumbuh 14% YoY, Liabilitas 11%, Ekuitas 20%, dan IJK Bruto kita tumbuh 23%. Menariknya, peningkatan kinerja Perusahaan diimbangi dengan kualitas manajemen yang baik, di mana beban klaim dapat ter-manage dengan baik. Disatu sisi, pendapatan perusahaan terkerek 23%, sehingga Hasil Underwriting (HUW) naik 18%, dan laba bersih melonjak hingga 17%,” terangnya.
Bisnis yang tumbuh tak lepas dari keberhasilan Perusahaan dalam menggeber penggunaan mesin-mesin digital. Alun mengungkapkan, Askrindo Syariah telah menggunakan sistem host-to-host dalam proses akseptasi Conditional Automatic Cover (CAC) untuk penjaminan-penjaminan kecil seperti KUR Syariah, Mikro, dan Ultra Mikro (UMi).
Artinya, pihak yang melakukan analisa terhadap nasabah adalah Lembaga Keuangan, dengan masuk secara host-to-host ke Askrindo Syariah dalam proses akseptasi. Lebih lanjut, sistem host-to-host juga dilakukan untuk subrogasi atau hak tagih ke pihak Lembaga Keuangan.
Masih menyangkut digitalisasi, Askrindo Syariah juga telah menyediakan aplikasi Maasya (Mobile Application Askrindo Syariah), khusus bagi nasabah yang membutuhkan penjaminan Surety Bond. Melalui aplikasi Masya, nasabah dapat mengajukan penjaminan hingga senilai Rp200 juta.
Produk Surety Bond yang diterbitkan Askrindo Syariah sama seperti Bank Garansi, hanya saja, pasar belum begitu banyak mengenal produk yang diterbitkan khusus oleh lembaga penjaminan ini.
Nasabah yang membutuhkan surety bond berupa penjaminan uang muka, jaminan pelaksanaan, pemeliharaan maka cukup masuk ke dalam aplikasi. Nantinya, Askrindo Syariah akan melakukan scoring dan analisa, dan hasil keputusan sudah bisa langsung di-download oleh Nasabah.
Di satu sisi, Alun menyebutkan bahwa pasar untuk Surety Bond sebetulnya masih sangat terbuka luas. Tantangannya ialah bagaimana Surety Bond dapat diterima oleh Nasabah/ pemilik proyek (bouwheer).
“Selama ini kan bouwheer lebih mengenal Bank Garansi karena produknya Bank, meskipun sebenarnya Bank Garansi itu kita juga yang jamin. Hanya saja mereka (bouwheer) tahunya produknya bank. Berkat support Kementerian BUMN, Surety Bond sudah dikenalkan ke sejumlah Perusahaan BUMN, TNI, Polri, dan mereka sudah mulai menggunakan,” sambungnya. Berbenah dan Perkuat Manajemen Risiko
Hal terakhir yang tak luput menjadi perhatian Askrindo Syariah ialah menjaga sustainability business growth melalui penguatan manajemen risiko, tata kelola perusahaan, sekaligus meningkatkan kompetensi karyawan.
Alun berujar, langkah pertama yang dilakukan Askrindo Syariah ialah dengan menerapkan budaya sadar risiko yang tidak hanya untuk Divisi Governance, Risk & Compliance (GRC)/ Divisi Operasional, melainkan kepada seluruh karyawan.
“Semuanya sudah harus aware mulai dari Divisi Pemasaran sebagai ujung tombak sudah memikirkan risiko pada saat mencari Nasabah,” imbuhnya.
Selanjutnya, perusahaan secara berkala melakukan tinjauan pada Risk Acceptance Criteria (RAC), fokus sektor, dan business process. Ternyata, ia menemukan masih banyak RAC untuk surety bond dan Kontra Bank Garansi (KBG) yang perlu diperbaiki. Setelah melakukan evaluasi, perusahaan memutuskan untuk tidak mengambil nasabah walk in customer, di mana mereka tidak memiliki rekening bank.
Biasanya, pihak yang teridentifikasi sebagai walk in customer meminta penjaminan KBG, padahal perusahaan tersebut belum menjadi nasabah Bank maupun nasabah Askrindo Syariah.
Sementara, lanjut Alun, penjaminan untuk Kerja Sama Operasi (KSO) yang joint operation dalam pengerjaan proyek semakin diperketat dengan syarat perusahaan yang dijamin harus satu group atau satu kepemilikan. Sebab, beberapa kasus di industri penjaminan mengungkapkan ada banyak kecurangan.
“Apalagi Bank Garansi (BG) itu sifatnya unconditional dan transfer risk dari Bank (100% risk di-absorb oleh Lembaga Penjamin) sehingga bisnis KBG termasuk yang high risk,” urainya.
Alun menambahkan, Askrindo Syariah telah banyak melakukan perubahan pada manajemen risiko setelah menerapkan four eyes principles. Jadi, dalam mengambil sebuah keputusan, dua bidang yang berbeda harus saling diskusi dan sepakat memutuskan. Di satu dari sisi bisnis dan dari sisi risk.
“Kita juga mulai menerapkan scoring system, setiap nasabah ita bikin score-nya sehingga nanti keluar tingkat risiko dari masing-masing nasabah,” pungkas Alun.
Foto : Kegiatan rakernas dalam rangka Konsolidasi bisnis tahun 2024
Dengan sejumlah strategi yang ditempuh, Alun menyatakan optimistis dapat menutup kinerja positif sepanjang 2024 dengan memanfaatkan ceruk pasar pembiayaan syariah yang masih sangat besar di sisi KUR Syariah maupun Nonprogram. Ia optimis dapat meraup target laba hingga Rp200 miliar di akhir 2024.
Adanya aturan mengenai batasan maksimal penjaminan sebesar 10% dari modal, Perseroan juga berupaya mendapatkan Panel Reasuransi yang optimal.