Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Komaruddin Hidayat

Ketakutan yang Laten

Penulis adalah Komisaris Independen BSI

Oleh komisaris independen BSI
Sumber : Istimewa

Sumber : Istimewa

TANPA disadari, terdapat dua orientasi hidup yang menonjol dari aktivitas seseorang. Yaitu, avoiding the pain (menghindari apa pun yang mendatangkan rasa sakit) dan looking for the pleasure (mencari dan mengejar kesenangan).

Avoiding the pain, contohnya sejak kecil, orang tua selalu mengajarkan dan menjaga agar kita terhindar dari sakit. Orang tua selalu menjaga dan melindungi kita agar terhindar dari berbagai musibah yang menyakitkan. Ketika sakit, orang tua berusaha mencari obat atau membawa anaknya ke dokter. Kini, setelah menjadi orang tua, giliran kita yang selalu menjaga anak-anak agar terhindar dari sakit.

Adapun, looking for the pleasure format kegiatan serta objeknya sangat beragam. Hidup menjadi dinamis dan bergairah karena ada dorongan laten untuk mendapatkan kesenangan (pleasure) yang biasanya dikaitkan dengan kenikmatan fisikal. Orang rela bekerja dengan susah payah untuk mengumpulkan uang guna membeli kesenangan.

Dua orientasi dasar itu telah menimbulkan ketakutan dan kegelisahan laten dalam diri manusia. Pertama, takut akan bayangan hari tua yang telah mengadang yang disertai dengan berbagai macam penyakit. Kedua, takut kehilangan kesenangan hidup yang telah diperjuangkan dan dinikmati bertahun-tahun.

Momen puncak kehilangan adalah ketika kematian merenggut kenikmatan dan kemegahan dunia yang telah dibangunnya seumur hidup. Kematian merampas dan mengakhiri berbagai prestasi dan kejayaan hidup yang diperjuangkan dan dipertahankan bertahun-tahun. Sederet pengalaman kehilangan telah meninggalkan luka dalam hati. Sejak dari kehilangan keluarga terdekat, jabatan, masa remaja, kesehatan, dan sekian banyak peristiwa kehilangan lainnya. Makin tinggi jabatan seseorang, ketika mesti berakhir serasa mengalami kejatuhan dari tempat yang tinggi. Hatinya perih dan berontak.

Kata psikolog Sigmund Freud, terjadi konflik permanen dalam bawah sadar manusia, konflik antara kesadaran bahwa dirinya akan mati (mortal), di lain sisi ada keinginan agar hidup ini abadi (immortal). Konflik yang menyimpan luka ini lalu ditekan ke dalam bawah sadar untuk dilupakan, lalu dikompensasikan dengan menciptakan rangkaian momen momen yang menyenangkan agar hidup menjadi lebih ceria.

Dalam ajaran agama-agama monoteisme, kejayaan dan keabadian hidup yang sejati itu akan dijumpai setelah kematian, tapi mesti dijemput atau ditukar dengan prestasi amal kemanusiaan selama hidup di dunia.

Imajinasi untuk meraih self-glory ini menjadi pemicu seseorang untuk berusaha seoptimal mungkin agar meraih kejayaan dan kesenangan dunia, sebelum pesta kehidupan ini berakhir. Berbagai cara dilakukan agar namanya hidup abadi, dikenang oleh sejarah. Entah melalui keturunannya, karya-karya tulisnya, ikon patung menyerupai dirinya, nama jalan, atau karya-karya monumental lainnya.

Pergumulan Moral

Konflik permanen dalam bawah sadar itu diwakili oleh pikiran kritis dan logis yang bisa membedakan antara salah dan benar secara objektif serta perasaan emosional yang subjektif yang hanya mengenal senang dan tidak senang (like and dislike). Pikiran kritis menyuplai dan menimbang informasi mengenai hal-hal yang benar dan salah, tapi yang membuat keputusan dan menggerakkan tindakan seseorang adalah emosi atau perasaannya.

Emosi – atau id dalam istilah Freud – selalu mencari kesenangan (looking for the pleasure). Dia bagaikan anak kecil yang hanya mengejar kesenangan, tapi tidak tahu batasan moral serta kepantasan sosial. Jika tidak dituruti, akan marah dan menangis.

Yang bahaya adalah jika seseorang belum atau tidak matang jiwanya, tapi menduduki jabatan strategis dalam sebuah pemerintahan. Berbagai keputusan dan tindakan yang diambil cenderung berdasarkan pilihan subjektivisme emosionalnya untuk meraih kepuasan diri sehingga tatanan hidup berbangsa dan bernegara menjadi rusak karena basis rasionalitasnya lemah.

Dalam ajaran agama-agama monoteisme, kejayaan dan keabadian hidup yang sejati itu akan dijumpai setelah kematian, tapi mesti dijemput atau ditukar dengan prestasi amal kemanusiaan selama hidup di dunia. Meminjam istilah fisika kuantum, kita hidup memiliki parallel universe. Berbagai amal kebajikan yang kita lakukan now and here juga terjadi di alam lain dalam waktu yang bersamaan tapi beda dimensi. Dalam bahasa agama, amal kebaikan seseorang dimanifestasikan dalam konteks sosial, dan orang yang berbuat baik atau jahat pada akhirnya akan kembali pada dirinya.

 

Avoiding the pain, contohnya sejak kecil, orang tua selalu mengajarkan dan menjaga agar kita terhindar dari sakit. Orang tua selalu menjaga dan melindungi kita agar terhindar dari berbagai musibah yang menyakitkan. Ketika sakit, orang tua berusaha mencari obat atau membawa anaknya ke dokter. Kini, setelah menjadi orang tua, giliran kita yang selalu menjaga anak-anak agar terhindar dari sakit.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi September 2024

Rp 65.000

BELI