Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ada Berkah dari Turunnya Suku Bunga

Turunnya suku bunga menjadi energi tambahan bagi industri multifinance ke depan. Implikasinya paling tidak ke cost of fund dan bunga pembiayaan yang bisa lebih murah. Tetap ada peluang untuk tumbuh lebih kuat. Tantangan ada di sisi daya beli masyarakat.

Oleh Alfi Salima Puteri
Agusman,  Kepala Eksekutif Pengawas  Lembaga Pembiayaan, Perusahaan  Modal Ventura, Lembaga  Keuangan Mikro, dan Lembaga  Jasa Keuangan Lainnya merangkap  Anggota Dewan Komisioner OJK. Foto : Istimewa

Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK. Foto : Istimewa

KENAIKAN suku bunga global dan domestik serta pelemahan daya beli konsumen memberi tekanan bagi perusahaan pembiayaan (multifinance). Suku bunga tinggi menjadi salah satu kendala utama yang meningkatkan biaya pendanaan, dan memaksa perusahaan untuk menaikkan suku bunga kredit kepada konsumen. Dampaknya, daya beli masyarakat menurun, terutama dalam pembiayaan kendaraan bermotor dan barang konsumsi lainnya.

Namun, era suku bunga tinggi kini mulai mereda. Bank sentral telah menurunkan suku bunga acuannya. Ke depan, pembiayaan industri multifinance diharapkan bisa lebih bergairah. Hanya, di sisi demand, ada tantangan terkait dengan daya beli masyarakat.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total piutang pembiayaan multifinance masih tumbuh 10,53% secara tahunan menjadi Rp494,1 triliun per Juli 2024. Profil risiko perusahaan pembiayaan di sektor ini pun terjaga dengan rasio non performing financing (NPF) gross 2,75%.

“Tren pertumbuhan pembiayaan yang masih terjaga ini memberikan sinyal bahwa industri multifinance memiliki kemampuan dalam memitigasi risiko pe nurunan daya beli masyarakat,” kata Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno, menyoroti tantangan di sektor otomotif yang makin terasa dengan menurunnya penjualan mobil. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melaporkan total penjualan mobil dari pabrik an ke dealer atau di tingkat wholesales men capai 74.160 unit pada Juli 2024. Angka itu turun tipis 0,62% se cara bulanan dari realisasi penjualan wholesales kendaraan roda empat yang men capai 74.623 unit pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, penjualan mobil di tingkat wholesales me rosot 7,88% dari Juli 2023 yang mencapai 80.416 unit.

Menurut Suwandi, mayoritas konsumen bergantung pada pem biayaan untuk membeli kendaraan. Namun, dengan suku bunga pinjaman yang lebih tinggi, banyak yang me nunda atau membatalkan rencana pembelian. Penurunan ini mengan cam kelangsungan industri otomotif, yang selama ini menjadi pilar utama bisnis multifinance. Di tengah kondisi ini, perusahaan multifinance mencoba beradaptasi dengan mendiversifikasi portofolio mereka.

5%-10% Perkiraan pertumbuhan pembiayaan industri multifinance di 2025 versi Infobank.

Suwandi menekankan bahwa perusahaan tak bisa lagi hanya ber gantung pada pembiayaan otomotif. “Porsi otomotif yang dulu selalu di atas 60%, sekarang mulai turun di bawah 60%. Ini bukan berarti sektor otomotif melemah, melainkan adanya diversifikasi ke pembiayaan modal kerja dan produk lain,” ujarnya.

“Turunnya suku bunga akan sangat membantu memperkuat daya beli konsumen, yang pada gilirannya akan mendongkrak pertumbuhan pembiayaan. Pinjaman kami, yang sebagian besar berasal dari bank, bisa turun. Dengan penurunan cost of fund ini, harga yang nantinya ditawarkan ke masyarakat bisa lebih murah lagi,” Suwandi Wiratno, Ketua Umum APPI.

Pembiayaan modal kerja juga menjadi alternatif yang menarik bagi perusahaan. Dengan menyediakan pinjaman untuk showroom dan dealer, multifinance memperluas cakupan bisnisnya. Selain itu, model bisnis baru seperti buy now pay later (BNPL) makin populer dan membuka peluang baru. “Industri multifinance semakin bertransformasi dengan masuknya platform digital yang menawarkan layanan seperti BNPL,” tambah Suwandi.

Transformasi ini menunjukkan bahwa perusahaan multifinance harus terus berinovasi dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi dan preferensi konsumen. Regulasi yang memaksa perusahaan untuk memperluas portofolio ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi peluang bagi multifinance untuk memperkuat posisinya di pasar.

Clipan Finance Indonesia (CFI), yang fokus pada pembiayaan mobil baru dan bekas, turut menghadapi tantangan berat dari penurunan penjualan mobil. Direktur Utama Clipan Finance, Harjanto Tjitohardjojo, mengakui bahwa penurunan ini memengaruhi bisnis mereka. “Penurunan penjualan mobil sangat memenga ruhi kami, mengingat sebagian besar portofolio pembiaya an kami masih didominasi oleh otomotif. Sekitar 90% portofolio Clipan Finance masih berada di sektor ini,” ujarnya.

Namun, perusahaan tak tinggal diam. Harjanto menjelaskan bahwa Clipan telah memperbesar portofolio refinancing atau gadai BPKB untuk memenuhi kebutuhan keuangan konsumen di sektor lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan pernikahan. “Kami terus berusaha meningkatkan portofolio pembiayaan refinancing atau gadai BPKB agar konsumen dapat memanfaatkan kendara an mereka untuk berbagai kebutuhan finansial,” jelasnya.

Clipan Finance juga memperluas jangkauan refinancing melalui kerja sama dengan agen digital dan konvensional. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat basis data pelanggan dan menciptakan peluang pertumbuhan di tengah tekanan bisnis. Harjanto optimistis peluang diversifikasi dalam bisnis pembiayaan masih sangat besar, meski ada tantangan.

Salah satu tantangan yang dihadapi Clipan Finance adalah penggadaian kendaraan tanpa izin oleh konsumen yang gagal membayar cicilan. Harjanto menjelaskan bahwa praktik ini marak, dengan melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bertindak sebagai perantara, memegang unit kendaraan, dan menuntut biaya tebusan yang tinggi. “Ini menjadi tantangan besar bagi kami. Kami berharap, ada regulasi lebih ketat yang bisa mengatasi masalah ini,” tutur Harjanto.

“Penurunan penjualan mobil sangat memengaruhi kami, mengingat sebagian besar portofolio pembiayaan kami masih didominasi oleh otomotif. Sekitar 90% portofolio Clipan Finance masih berada di sektor ini, ”Harjanto Tjitohardjojo" Direktur Utama Clipan Finance.

Melihat beragam tantangan tersebut, harapan utama industri multifinance di 2025 adalah penurunan suku bunga dan penguatan daya beli masyarakat. Suwandi mencatat, kendati tren suku bunga saat ini tinggi, ada peluang untuk penurunan dalam beberapa tahun ke depan, terutama jika inflasi dapat dikendalikan. “Turun nya suku bunga itu akan sangat membantu memperkuat daya beli konsumen, yang pada gilirannya akan men dongkrak pertumbuhan pembiayaan,” jelas Suwandi

Agusman juga optimistis industri multifinance mampu bertahan, walau ada tantangan suku bunga dan transisi pemerintahan. Dengan diversifikasi portofolio dan adaptasi model bisnis, pertumbuhan pembiayaan dapat terus berlanjut. “Kita sudah melihat sinyalsinyal positif dari kemampuan industri multifinance dalam menjaga pertumbuhan, meski ada tekanan eksternal,” ujarnya.

Secara keseluruhan, industri multifinance Indonesia pada 2025 akan bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi di tengah tekanan ekonomi global dan domestik. Penurunan suku bunga dan penguatan daya beli menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan di masa depan. Penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan The Fed beberapa waktu lalu, diproyeksikan tidak akan langsung berdampak signifikan pada industri multifinance di Indonesia.

Menurut Suwandi, pelaku industri pembiayaan me merlukan waktu untuk bisa merasakan dampak penurun an suku bunga karena pihak bank harus melalui berbagai tahapan, termasuk pasar uang. Tujuan penurunan suku bunga adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama melalui peningkatan investasi dan produksi. Namun, dampaknya pada sektor pembiayaan baru akan terasa setelah penyesuaian dari pihak perbankan selesai. “Pinjaman kami, yang sebagian besar berasal dari bank, bisa turun. Dengan penurunan cost of fund ini, harga yang nantinya ditawarkan ke masyarakat bisa lebih murah lagi,” tukas Suwandi.

Sementara, mempertimbangkan berbagai kondisi ekonomi yang ada, Biro Riset Infobank (birI) memper kirakan pertumbuhan pembiayaan industri multifinance di 2025 berada di rentang 5% hingga 10%. Secara umum, proyeksi itu relatif akan sama dengan tahun ini.

 

 

Namun, era suku bunga tinggi kini mulai mereda. Bank sentral telah menurunkan suku bunga acuannya. Ke depan, pembiayaan industri multifinance diharapkan bisa lebih bergairah. Hanya, di sisi demand, ada tantangan terkait dengan daya beli masyarakat.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2024

Rp 65.000

BELI