Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Akuarium

Oleh Dosen Pascasarjana UI, Budayawan
MUDJI SUTRISNO SJ. Foto : Istimewa

MUDJI SUTRISNO SJ. Foto : Istimewa

ADA dua alasan ketika seorang teman saya mulai menghiasi rumahnya dengan akuarium. Yang pertama adalah alasan fungsional, yaitu untuk memperindah rumah, agar sepulang dari kerja dan terkena polusi udara Jakarta bisa segar kembali setelah memandang ikan hias dan air akuarium. Yang kedua, timbul dari keingintahuan psikologisnya. Apakah betul batin bisa ditenangkan dari hiruk pikuk kota yang membuat “stres” dengan memandangi ikan ikan di akuarium berenang? Seperti banyak akuarium sengaja dipasang di tempat-tempat biro konsultasi psikologi di luar negeri.

Akuarium besar pun sudah berada di rumah teman saya itu. Dengan riang, teman saya itu mulai menghayati ide-ide kreatifnya. Langsung saja akuarium dibersihkan lalu diisi dengan air ledeng PAM sampai dua pertiga penuh. Setelah itu, ikan-ikan koki yang cantik, yang baru dibawa dari sumbernya, langsung dimasukkan dan diceburkan ke dalam akuarium. Melesat riang ikan-ikan itu masuk ke air.

Nah, kurang apa, pikirnya, ikan memang hidup di air. Bila disediakan air di akuarium, pasti otomatis mereka akan hidup di situ.

Akan tetapi, apa yang terjadi? Pagi-pagi, dia lihat semua ikan cantik itu mati. Mengapa? Bukankah sudah disediakan tempat, air, dan makanan? Teman saya menggelengkan kepala. Bingung. Heran. Ia merasa bersalah lantaran kematian ikan-ikan bagus dan indah itu.

Sesudah peristiwa itu, ia lalu membaca buku tentang akuarium dan bertanya kepada yang sudah berpengalaman dalam hal merawat ikan. Di situlah ia baru sadar dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Itulah yang dikisahkannya kepada saya hari-hari ini. Ternyata, ikan ikan itu sama hak hidupnya dengan manusia. Mereka butuh lingkungan hidup yang disiapkan, yang beroksigen, agar tidak mati lemas. Dari contoh itu, asumsi bahwa dengan sembarang air, ikan pasti hidup ternyata tidak benar. Mengapa?

Air PAM mengandung banyak kaporit dan kurang oksigen. Karena itu, harus disaring dahulu dan diberi oksigen dengan sistem selang kincir bergelembung udara untuk memberi zat asam buat air yang dipakai untuk hidup ikan. Tidak hanya itu, ikan ikan juga butuh makanan serta udara segar dari lingkungan tumbuhan air yang menapasi mereka agar bisa tetap hidup. Di sinilah ikan-ikan butuh tata lingkungan (habitat) untuk bisa hidup sehat.

Kami mencermati hal itu, lalu berwacana: bukan main misteri kehidupan ikan-ikan itu. Paralel dan sejajar, analog dengan manusia yang tidak bisa dilemparkan begitu saja di permukiman atau bangunan rumah tanpa persiapan hati, tanpa hati dan oksigen lingkungan, entah bernama masyarakat, entah keluarga atau komunitas.

Saya lalu teringat mengapa para pengungsi pecahan-pecahan Eropa Timur, pengungsi lapar, dan eksodus-eksodus perang saudara Afrika, walau sudah dicukupi makanan dan minuman kebutuhan fisik, toh masih mendambakan sebuah home dan sanctuary (rumah dan tempat bernaung untuk ketenangan serta ketenteraman batinnya). Demikian pula rasa aman diterima lingkungan orang orang tercinta ataupun rasa tidak terancam karena diterima sebagai manusia dalam pelukan perhatian dan hormat-menghormati. Mereka tidak cukup hanya mendapatkan barak, rumah susun, atau dibuatkan perumahan fisik. Mereka pun butuh home sweet home untuk tidak mati lemas sebagai manusia seperti ikan-ikan di atas.

Bila peradaban dihayati sebagai proses pemekaran perkembangan setiap orang menjadi pribadi pribadi manusia yang berharkat, percaya diri, dan bukan orang orang gerombolan, di situ tata ekologi bernama masyarakat sebenarnya tetaplah “hanya” merupakan kendaraan untuk kesejahteraan penghuni penghuninya. Selain itu, proses dari orang massal tanpa identitas makin masuk ke tahap berani menjadi otonom, dirinya sendiri, lantaran harkatnya diakui dan dijaga oleh tata ekologi yang bernama rule of law, yang ditaati oleh semua dan menjadi wasit bagi konflik kepentingan.

Jadi, akuarium itu sama fungsinya sebagai rumah yang mesti dirawat, diganti air keruhnya, menjadi home yang sweet home buat ikan-ikan hias.

 

Akuarium besar pun sudah berada di rumah teman saya itu. Dengan riang, teman saya itu mulai menghayati ide-ide kreatifnya. Langsung saja akuarium dibersihkan lalu diisi dengan air ledeng PAM sampai dua pertiga penuh. Setelah itu, ikan-ikan koki yang cantik, yang baru dibawa dari sumbernya, langsung dimasukkan dan diceburkan ke dalam akuarium. Melesat riang ikan-ikan itu masuk ke air.

Nah, kurang apa, pikirnya, ikan memang hidup di air. Bila disediakan air di akuarium, pasti otomatis mereka akan hidup di situ.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2024

Rp 65.000

BELI