Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Langkah Besar Menuju Pasar Global

Artajasa ingin menguasai pasar yang lebih luas, tak sebatas di dalam negeri, dalam lima tahun ke depan. Untuk mewujudkannya, Artajasa akan bermetamorfosis, dari perusahaan switching menjadi integrated financial solution company.

Oleh Ari Nugroho
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

SEBAGAI salah satu key player dalam industri sistem pembayaran nasional, PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) ingin menjadi perusahaan switching terbaik di negeri ini. Lebih dari itu, Artajasa juga ingin memperluas daya jangkau sampai ke luar negeri, alias menjadi global player, yang langkahnya sudah dimulai dari regional Asia Tenggara.

Di lain sisi, seiring dengan makin berkembangnya teknologi, lanskap industri sistem pembayaran di Indonesia juga mengalami perubahan. Artajasa pun adaptif dengan perubahan itu. Perusahaan yang pada Februari 2025 mendatang akan berusia 25 tahun ini akan lebih ekspansif di bidang electronic transaction. “Artajasa akan terus berkembang, bukan hanya sebagai switching, tapi integrated solution dan financial solution bagi customer,” kata Armand Hermawan, Direktur Utama Artajasa, yang juga Chairman Asian Payment Network (APN), kepada Infobank, bulan lalu.

Apa yang akan dilakukan Artajasa untuk mewujudkan ambisinya, menjadi yang terbaik di industri pembayaran nasional? Dan, apa saja pengembangan yang akan dilakukan pengelola jaringan ATM Bersama ini dalam rangka memuluskan langkahnya bertransformasi, dari perusahaan switching menjadi perusahaan financial solution? Berikut penjelasan Armand Hermawan. Petikannya:

Saat ini, Artajasa merupakan salah satu pemain penting dalam sistem pembayaran nasional. Ke depan, untuk menegaskan posisi itu, apa rencana Artajasa?

Dalam rencana jangka panjang kami, Artajasa harus menjadi perusahaan switching terbaik di Indonesia. Kami harus menjadi leading company of switching. Itu sudah harus dipegang. Di 2027, kami ingin menciptakan best customer experience dan di 2029 kami ingin menjadi global player. Yang paling kecil, kami menjadi regional player dulu. Makanya, peran Asian Payment Network (APN) itu kami buat, agar layanan cross border kami lebih kuat.

Kalau ditanya road map-nya, pertama, kami sinergi dengan industri. Saat ini, kami ada empat bisnis: switching, payment, settlement, dan managed service. Bisnis core sudah pasti switching, tapi payment dan managed service, itu yang selanjutnya kami sinergikan.

Jadi, kami sinergi antarproduk, sinergi dengan industri, dan juga sinergi dengan bank, serta sinergi dengan Bank Indonesia (BI). Jadi, sinergi antarproduk akan semakin masif di 2025, dan di 2026 kolaborasi dengan industri semakin erat. Kemudian, di 2027 sudah semakin matang customer experience[1]nya dan di 2029 siap menjadi regional player in financial solution, bukan hanya switching.

Lanskap pembayaran digital atau elektronik sudah berubah. Sekarang, hampir semua orang menggunakan perangkat mobile. Akan seperti apa wajah electronic payment system di Indonesia ke depan?

Artajasa sebenarnya asalnya ‘kan pembayaran elektronik, tapi kami expand menjadi electronic transaction, bukan hanya payment. Kalau saya lihat, digitalisasi akan meningkat tinggi dengan munculnya gen Z, gen Alpha. Itu sudah pasti. No doubt. Pasti akan membesar. Karena itu, Artajasa akan terus eksis. Bukan hanya sebagai switching, tapi integrated solution dan financial solution bagi customer. Customer butuhnya apa, kami bikin. Jadi, untuk yang digitalisasi, transaksi elektronik, kami akan play a role, expanding role our switching company, menjadi financial solution for customer.

Sebagai perusahaan penyedia infrastruktur teknologi untuk sistem pembayaran, bagaimana Artajasa menciptakan keunggulan?

Artajasa itu sebenarnya penyedia infrastruktur pembayaran (PIP), tapi karena kami punya 97 member ATM Bersama maka kami ada alasan untuk memberikan services yang lebih dari sekadar PIP. Yang kedua, di BSPI (Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia) 2030, BI menetapkan 4I+1RD (lima program utama pengembangan di sektor Industri, Infrastruktur, Inovasi, dan Internasional, serta Rupiah Digital).

Pertama, infrastruktur di mana harus andal dan luas cakupannya. Kedua, inovasi di mana kalau sudah membangun infrastruktur yang akan diminta inovasi layanannya. Ketiga, industri yaitu konsolidasi industri pembayaran nasional dengan mempertimbangkan profil risiko, manajemen risiko dan reformasi regulasi. Keempat, internasional. Nah, kalau internasional, cross border ya, itu memang target kami. Sekarang kami untuk cross border sudah (bekerja sama) dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura. Selanjutnya, kami lagi garap, perluasan cross border ke negara Korea, Jepang, UAE, sama India. Yang lebih bagusnya lagi ke depannya cross border juga dikembangkan ke arah payment atau purchasing. Kami masih mengejar layanan pengiriman uang untuk migran. Ya itu yang kami kejar.

Jadi, banyak peluang. Tapi, kami harus patuh dengan regulasi. Makanya, kami bersinergi dengan regulator. Dan, yang terakhir adalah mengenai rupiah digital.

Artajasa sebenarnya asalnya ‘kan pembayaran elektronik, tapi kami expand menjadi electronic transaction, bukan hanya payment. Kalau saya lihat, digitalisasi akan meningkat tinggi dengan munculnya gen Z, gen Alpha. Itu sudah pasti.

Artajasa memiliki empat pilar bisnis. Bagaimana performa masing-masing?

Jadi, sekarang switching masih memegang 65% (dari total kontribusi), payment sekitar 20%, managed service 15%. Kami ada ATM Plus, EDC, outsource switching, ada program Bersama Loyalty, Bersama Trust, TPCM (Third Party Card Management/pengelolaan kartu kredit). ATM Plus ini ‘kan untuk kepentingan bank juga. Kalau kita lihat dari statistik BI, jumlah ATM semakin berkurang, karena bank memang mengurangi investasi channel untuk ATM. Namun kami juga melihat, nasabah masih butuh akses dana kapanpun dan dimanapun. Tetap ada kebutuhan cash, ditengah transaksi digital yang terus tumbuh dan diminati masyarakat. Maka kita bantu melayani nasabah bank dengan hadirnya ATM Plus di lokasi-lokasi yang strategis. Di 2027-2028 kontribusinya akan hampir sama 50% : 50% antara managed service dan switching. Dan, untuk settlement[1]nya ini apakah akan kami kembangkan dengan sendiri, atau di[1]bundling menjadi satu produk, itu sedang kami kaji.

Untuk bisnis luar negeri, bagaimana perkembangannya?

Pertama untuk (transaksi) cross border itu sudah pasti. Sedangkan, penerusan transfer dana kami akan menggenjot lagi. Alhamdulillah di Agustus meningkat. Ternyata, banyak yang lewat Artajasa. Jadi, kami kerja sama dengan perusahaan penerusan transfer dana di luar negeri. Itu kami aktifkan lagi sekarang.

Perusahaan switching dan manage services lain punya induk dan captive market sendiri yang masih terhubung secara grup, sementara Artajasa bermain di open market dan tidak punya anchor. Bagaimana Artajasa memperkuat posisi di tengah persaingan antarperusahaan switching?

Memang game di switching ini harus trusted. SLA (service level agreement) harus bagus dan secure. Nah, yang bisa dilakukan Artajasa adalah menjaga itu. Kalau pricing ‘kan bisa dibicarakan. Jadi, yang penting adalah harus trusted. Kelebihan lainnya, kami tetap netral (tidak terkait grup lembaga keuangan). Selain itu, juga harus engage.

Mengenai tantangan untuk perusahaan switching di era digitalisasi ini, seperti apa dan bagaimana Anda mengarahkan tim untuk melewati tantangan-tantangan itu?

Menurut saya, customer is the boss and first. Makanya, mengedepankan customer experience dengan seamless program. Apa maunya nasabah harus bisa dipenuhi. Makanya, semua resources yang kami punya, baik di produk, sistem, teknologi, kapasitas, talent[1]nya, struktur organisasinya, harus digital mindset dan disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan.

Di lain sisi, seiring dengan makin berkembangnya teknologi, lanskap industri sistem pembayaran di Indonesia juga mengalami perubahan. Artajasa pun adaptif dengan perubahan itu. Perusahaan yang pada Februari 2025 mendatang akan berusia 25 tahun ini akan lebih ekspansif di bidang electronic transaction. “Artajasa akan terus berkembang, bukan hanya sebagai switching, tapi integrated solution dan financial solution bagi customer,” kata Armand Hermawan, Direktur Utama Artajasa, yang juga Chairman Asian Payment Network (APN), kepada Infobank, bulan lalu.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Oktober 2024

Rp 65.000

BELI