Optimisme pasar terhadap ekspektasi penurunan suku bunga memberikan sinyal adanya potensi penurunan inflasi global. Pemotongan suku bunga secara historis akan mendorong pergerakan IHSG menjadi positif.
Sumber: Istimewa
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini telah menyentuh level tertingginya. Per 19 September 2024, IHSG telah naik 8,7% secara year to date (ytd) ke level 7.905,39.
Kenaikan IHSG sejalan dengan kenaikan indeks bursa global. Dalam hal ini indeks saham Amerika Serikat (AS) telah mencapai level tertingginya. Indeks S&P500 telah naik 18,5% secara ytd, sementara Indeks Dow Jones (DJI) telah naik 10,0% ytd.
Kenaikan harga saham secara global didorong oleh adanya ekspektasi market terhadap tren penurunan suku bunga The Fed. Pada September, The Fed telah menurunkan suku bunga sebesar 50 basis points (bps) menjadi 4,75%-5%. Penurunan tingkat suku bunga ini adalah pertama kali sejak bank sentral AS menaikkan tingkat suku bunga secara agresif dalam dua tahun terakhir.
Berdasarkan konsensus pasar, The Fed diprediksi akan memotong suku bunga 75 bps lagi sampai dengan akhir 2024, menjadi 4%- 4,25%. Optimisme pasar terhadap ekspektasi penurunan suku bunga memberikan sinyal adanya potensi penurunan inflasi global. Penurunan tingkat suku bunga The Fed juga akan mendorong bank sentral di negara lain, termasuk Indonesia, untuk menurunkan tingkat suku bunga.
Per 18 September 2024, Bank Indonesia (BI) telah memangkas tingkat suku bunga sebesar 25 bps menjadi 6% dari sebelumnya di level 6,25%. Pemangkasan tersebut dilakukan secara ahead the curve, sebelum The Fed memotong suku bunganya. Hingga akhir tahun, BI diprediksi akan melanjutkan pemangkasan tingkat suku bunga (BI7DRR) hingga di level 5,5%-5,75%.
Pemotongan tingkat suku bunga BI dinilai sudah tepat. Sebab, Indonesia sudah empat bulan berturut-turut mengalami deflasi secara bulanan. Selain itu, indeks dolar AS atau DXY index menunjuk[1]kan tren pelemahan dalam tiga bulan terakhir. DXY index turun 4,3% ke level 101,05, sehingga ter[1]dapat ruang bagi BI untuk melakukan pemotongan tingkat suku bunga.
Pemotongan suku bunga secara historis akan mendorong pergerakan IHSG menjadi positif. Selain agenda penurunan suku bunga, investor perlu memperhatikan agenda penting lainnya yaitu Pilpres AS 2024. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia, terpilihnya calon presiden AS sangat memengaruhi kondisi ekonomi dan bisnis secara global.
Baik Kamala Harris maupun Donald Trump telah menetapkan kebijakan ekonomi dan fiskal yang berbeda untuk kampanye 2024 mereka. Masing-masing menekankan prioritas yang berbeda untuk kemajuan perekonomian AS.
Usulan kedua kandidat diperkirakan akan meningkatkan inflasi dalam jangka panjang, karena defisit yang lebih tinggi dapat menyebabkan lebih banyak monetisasi utang atau kenaikan pajak di kemudian hari. Namun, rencana Harris lebih mengandalkan perpajakan progresif, sedangkan Trump menekankan pertumbuhan ekonomi melalui pemotongan pajak.
Kendati demikian, BI memprediksi, dinamika politik, yaitu pilpres AS pada November nanti, tidak akan memengaruhi nilai tukar rupiah. Sebab, pasar akan cenderung mencermati penurunan tingkat suku bunga acuan The Fed. Sentimen ini akan membuat banyak pelaku pasar optimistis akan adanya dorongan bagi masuknya arus modal asing ke negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia.
Ekonomi Domestik
Di tengah euforia penurunan tingkat suku bunga The Fed, ekonomi Indonesia masih akan tetap tumbuh stabil. Berdasarkan APBN 2025, pertumbuhan ekonomi ditargetkan 5,2%. Inflasi tetap dijaga di level 2,5% (±1%). Nilai tukar rupiah ditargetkan konservatif di level 16.100 per US$1 dan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun di level 7,1%. Kekhawatiran investor terhadap meningkatnya defisit anggaran akibat agresifnya belanja pemerintah, salah satunya program makan bergizi gratis, dapat mereda. Hal ini dikarenakan defisit anggaran APBN 2025 sebesar 2,53%, lebih rendah dibandingkan dengan defisit anggaran outlook 2024 sebesar 2,7%.
Penurunan defisit anggaran APBN 2025 dibandingkan dengan outlook 2024 didorong oleh meningkatnya target penerimaan negara sebesar 6,9%. Kontribusi terbesar kenaikan penerimaan negara adalah meningkatnya target penerimaan pajak sebesar 12,3%. Hal ini sejalan dengan rencana pemerintah yang akan menaikkan tarif PPN menjadi 12% di 2025.
Inisiatif andalan presiden terpilih Prabowo Subianto dengan memberikan makan bergizi gratis kepada pelajar targetnya tidak hanya untuk menurunkan tingkat risiko stunting, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan IQ level nasional. Saat ini, rata-rata IQ masyarakat Indonesia berada di level 78,49 atau di posisi 129 dari total 197 negara.
Target anggaran awal program ini adalah Rp71 triliun pada 2025, atau 2% dari total anggaran belanja pemerintah untuk tahun 2025 dan 0,3% dari total GDP. Program ini juga diperkirakan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dengan melibatkan UMKM dalam mempersiapkan makanan dan distribusinya.
Anggaran makan bergizi gratis dilakukan secara bertahap sampai dengan 2029. Target anggaran program tersebut pada saat full coverage sebesar Rp340 triliun, atau setara dengan 1,2% GDP. Angka yang relatif besar. Karena itu, diharapkan implementasinya dapat berjalan dengan baik dan penggunaannya dilakukan secara transparan.
Bagi investor obligasi, agresifnya belanja pemerintah berdampak negatif terhadap pasar. Itu karena makin besar budget defisit maka makin besar pula penerbitan surat utang baru pada suatu negara. Hal ini akan menyebabkan meningkatnya supply risk di pasar obligasi pemerintah. Namun, di lain sisi, rendahnya inflasi dan stabilnya pertumbuhan ekonomi dapat menjaga permintaan pasar terhadap obligasi pemerintah Indonesia.
Bagi investor saham, ada beberapa sektor yang diuntungkan dari program makan bergizi gratis ini. Salah satunya adalah sektor konsumer. Meningkatnya anggaran subsidi energi dan bansos (termasuk program makan bergizi gratis) akan berdampak positif terhadap konsumsi masyarakat kelas menengah ke bawah (mass market), sehingga berpotensi meningkatkan disposable income yang akan memberikan sentimen positif terhadap sektor konsumen. Saham ICBP, INDF, dan MYOR dapat dipertimbangkan. Sektor poultry juga berpotensi diuntungkan. Hal ini dikarenakan adanya potensi bertambahnya kebutuhan konsumsi broiler dan telur sebagai sumber protein hewani dari program makan bergizi gratis. Jadi, saham JPFA dan CPIN layak dilirik investor.
Sektor finansial juga berpotensi menjadi sektor yang disukai investor. Big-4 banks (BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI) dapat menjadi pilihan sebagai proxy dengan adanya capital inflow dari perubahan tren suku bunga. Di samping itu, medium-small banks dapat menjadi pilihan. Saham BBTN, BNGA, BDMN, dan NISP dapat menjadi pilihan yang menarik bagi investor.
Secara overall, outlook pasar modal Indonesia ke depan akan lebih positif. Hal ini dikarenakan telah terjadinya era monetary easing yang ditandai dengan dimulainya penurunan tingkat suku bunga. Dengan begitu, ke depan ada kemungkinan akan terjadi fund flow dari negara maju (develop market) menuju negara berkembang, salah satunya Indonesia.
Dengan mempertimbangkan asumsi tersebut, penulis memperkirakan Indeks LQ45 pada akhir 2025 dapat mencapai level 1.125 atau setara dengan kenaikan 15% dari level saat ini, yaitu di level 979 (19 September 2024). Penulis tidak dapat memberikan target IHSG dikarenakan terdapat saham dalam constituents IHSG yang pergerakannya sangat volatile dan saat ini memiliki bobot yang besar dalam perhitungan indeks.
Penulis adalah pengamat pasar modal. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu.
Kenaikan IHSG sejalan dengan kenaikan indeks bursa global. Dalam hal ini indeks saham Amerika Serikat (AS) telah mencapai level tertingginya. Indeks S&P500 telah naik 18,5% secara ytd, sementara Indeks Dow Jones (DJI) telah naik 10,0% ytd.