G.C. KOEN YULIANTO, DIREKTUR UTAMA ASURANSI TRI PAKARTA
Apa visi Anda untuk Asuransi Tri Pakarta?
Waktu pertama kali masuk (2021), Asuransi Tri Pakarta produksinya (premi) sekitar Rp800 miliar. Dalam jangka pendek, saya menargetkan 2026 kami harus Rp2 triliun. Kami juga ingin masuk di jajaran 10 besar asuransi umum di Indonesia. Sekarang kami nomor 13.
Untuk mencapai target itu, seperti apa leadership yang Anda terapkan untuk memaksimalkan kinerja tim?
Saya membawa Asuransi Tri Pakarta dengan konsep keterbukaan, mengedepankan kolaborasi dan komunikasi. Dalam praktiknya, saya selaku manajemen juga harus membuka diri untuk mau berdiskusi dengan siapa pun, di level apa pun. Menurut saya, kalau karyawan merasa terakomo[1]dasi menyampaikan keinginan dan ide-idenya bisa tersalurkan akan membuat dia semangat dan nyaman bekerja.
Selanjutnya, kami juga terbiasa membahas ide bersama-sama, mulai dari teknisnya hingga peta risikonya. Sejak awal saya memimpin, misalnya periode 2024 ini, di awal tahun saya sudah bilang ke teman-teman kalau Asuransi Tri Pakarta mau mencapai premi Rp1,7 triliun, labanya Rp115 miliar. Kalau mencapai dua ini dengan RBC 140, kamu (karyawan) akan dapat bonus rata-rata sembilan kali. Jadi, keterbukaan ini yang saya lakukan sehingga semua karyawan tahu Asuransi Tri Pakarta tujuannya ingin ke mana.
Jadi, hubungan antara tujuan perusahaan sama karyawan itu, saya berusaha satukan. Kalau laba mencapai Rp100 miliar ke atas, tujuannya untuk mencapai ekuitas Rp1 triliun. Kalau tidak tercapai, perusahaan akan mundur 10 tahun ke belakang karena tidak bisa jualan. Kalau tidak jualan, kesejahteraan karyawan turun. Jadi, saling mengaitkan.
Kinerja Asuransi Tri Pakarta tumbuh positif pada 2023. Strategi apa saja yang dilakukan?
Asuransi Tri Pakarta punya dua pasar, yaitu captive market dan non captive market. Di sisi captive market, kami merupakan bagian dari Grup BNI sehingga sampai sekarang kami didukung BNI. Secara persentase, di 2023 bisnis kami di sisi captive market mencapai sekitar 58%. Akan tetapi, untuk mendapat bisnis di sisi captive ini pun kami tetap harus berkompetisi dengan rekanan BNI yang lain. Kebetulan, kami juga ada hubungan kedekatan yang baik dengan teman-teman di BNI, serta jaringan cukup luas. Sisanya, atau non captive market sekitar 42% berasal dari bisnis-bisnis langsung, direct atau non-direct.
Strategi kami, yakni terus mengembangkan keduanya, baik captive market maupun non captive market. Di captive market kami lebih fokuskan, mengembangkan produk baru dan menyesuaikan kebutuhan sesuai arah bisnis BNI. Sedangkan, non captive market kami melakukan kerja sama dan meningkatkan sinergi dengan broker, koasuransi, termasuk insurtech, fintech, dan paylater. Kami juga mengembangkan agen-agen perorangannya. Karena, sumber bisnis asuransi itu ada direct yang langsung, ada melalui broker, koasuransi, dan agen. Empat unsur ini yang kami kembangkan dari tahun ke tahun.
Lalu, target tahun ini bagaimana?
Untuk gross premi, target kami ke OJK – dan sudah disetujui – sekitar Rp1,37 triliun. Tetapi, kami sendiri punya istilahnya target “fighting” sekitar Rp1,7 triliun. Kalau labanya ke OJK kami menargetkan sekitar Rp91 miliar, tetapi kami punya harapan bisa mencapai laba sekitar Rp105 miliar. Kami juga terus berupaya memenuhi ketentuan OJK, di mana ekuitas Rp1 triliun di 2028.
Bagaimana pengembangan digitalisasi di Asuransi Tri Pakarta?
Kami punya aplikasi, yakni Tripa Smart. Dari situ, nasabah bisa membeli polis-polis asuransi, seperti asuransi rumah, asuransi kendaraan dan risiko perjalanan. Ini terafiliasi juga dengan agen[1]agen kami. Namun, memang kami belum eksplor terlalu dalam. Kalau perencanaan tahun ini, kami sudah membentuk unit khusus digital, dan akan kami perkuat. Harapannya, 2025, kami sudah bisa jualan secara digital melalui mobile phone dan fokus bisnisnya kepada captive market kami. Jadi, pegawai BNI, nasabah BNI itu menjadi target market utama di 2025. Baru di 2026 nanti kami akan perluas secara umum. Untuk mempercepat digitalisasi, kami juga bekerja sama dengan perusahaan asuransi/broker yang bisnisnya dikelola secara digital penuh. Harapannya, cita-cita kami juga ingin punya anak perusahaan khusus digital pada 2028. AUS
Waktu pertama kali masuk (2021), Asuransi Tri Pakarta produksinya (premi) sekitar Rp800 miliar. Dalam jangka pendek, saya menargetkan 2026 kami harus Rp2 triliun. Kami juga ingin masuk di jajaran 10 besar asuransi umum di Indonesia. Sekarang kami nomor 13.