Tahun depan ada sejumlah sektor usaha yang diprediksi akan menjadi sangat potensial untuk penyaluran kredit. Sektor-sektor itu menunjukkan prospek pertumbuhan yang kuat berdasarkan tren ekonomi, perkembangan teknologi, dan prioritas pemerintah dalam pembangunan.
Sumber : Istimewa
Penyaluran kredit bank-bank tak lagi di jalur lambat. Di semester pertama tahun ini, kucuran kredit bank-bank lebih deras dibandingkan dengan semester pertama 2023. Dari Januari hingga Juni 2024, kredit perbankan selalu tumbuh di atas 10% tiap bulannya (secara tahunan), bahkan sempat melewati 13% di April 2024. Capaian itu lebih baik ketimbang periode Januari hingga Juni 2023. Saat itu, pertumbuhan kredit perbankan paling top 10% dan cenderung melemah di triwulan kedua dibandingkan dengan triwulan pertama 2023.
Kinerja kredit yang menguat di semester pertama 2024 diikuti dengan kualitas kredit yang makin terjaga. Hal itu tecermin dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang bergerak melandai sejak awal tahun, sekaligus lebih baik daripada pergerakan NPL di sepanjang semester pertama 2023.
Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birI), di posisi Juni 2024, kredit perbankan tercatat tumbuh 12,56% year on year (yoy) atau menjadi Rp7.567,76 triliun. Dibandingkan dengan akhir 2023, pertumbuhan kredit di Juni 2024 itu lebih kuat. Pada akhir 2023, pertumbuhan kredit tercatat 10,61% yoy atau menjadi Rp7.186,94 triliun. Lalu, dibandingkan dengan Juni 2023, pertumbuhan kredit di 2024 juga lebih kuat. Di Juni 2023, secara tahunan kredit perbankan tumbuh 7,80% atau menjadi Rp6.723,22 triliun.
Adapun NPL Juni 2024 berada di level 2,26%. Posisi NPL itu lebih baik dibandingkan dengan Juni 2023 yang tercatat 2,44%. Sepanjang Januari hingga Juni 2024, NPL perbankan berada di rentang 2,25% hingga 2,35%. Kondisi itu lebih baik ketimbang periode Januari hingga Juni 2023 yang berada di kisaran 2,44% hingga 2,59%.
Sementara, di Agustus 2024, Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa kredit perbankan tumbuh 11,40% yoy. Pertumbuhan ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan posisi Juni 2024. Meski begitu, capaian pertumbuhan kredit yang tetap double digit itu terbilang baik.
Menurut Perry Warjiyo, Gubernur BI, ada empat hal yang menopang pertumbuhan kredit hingga Agustus 2024. “Perkembangan ini ditopang oleh sisi penawaran, sejalan dengan minat penyaluran kredit yang terjaga, pendanaan yang memadai, realokasi alat likuid ke kredit oleh perbankan, dan dukungan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial Bank Indonesia,” katanya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, medio September lalu.
Sementara, Biro Riset Infobank mencatat, penyaluran kredit sampai dengan Juni 2024 paling banyak mengalir ke sektor atau lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, yakni sebesar Rp1.190,29 triliun atau berkontribusi 15,92% terhadap total kredit. Setelahnya, menyusul lapangan usaha industri pengolahan serta pertanian, perburuan, dan kehutanan dengan nilai kredit masing-masing Rp1.165,66 triliun dan Rp514,16 triliun, masing masing menggenggam market share 15,59% dan 6,88% terhadap total kredit. Secara historis, ketiga lapangan usaha itu memang menjadi penopang utama dalam penyaluran kredit perbankan
Lebih jauh, dilihat dari sisi pertumbuhan, lapangan usaha pertambangan dan penggalian masih mencatatkan pertumbuhan tertinggi dibandingkan dengan lapangan usaha lainnya, sama seperti di akhir 2023. Di Juni 2024, kredit ke sektor pertambangan dan penggalian meningkat 28,94% yoy atau menjadi Rp326,44 triliun. Dengan kredit yang makin besar, pangsa kredit pertambangan dan penggalian terhadap total kredit pun meningkat, dari 4,10% di akhir 2023 menjadi 4,37% di Juni 2024.
Pertumbuhan kredit tertinggi berikutnya terjadi di lapangan usaha perantara keuangan, yakni sebesar 28,54% yoy atau menjadi Rp429,80 triliun. Di akhir 2023, pertumbuhan kredit di lapangan usaha ini juga menjadi yang tertinggi kedua, setelah pertambangan dan penggalian.
Di lain sisi, bulan lalu, BI menurunkan suku bunga acuan dari 6,25% menjadi 6%. Penurunan suku bunga ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan kredit perbankan. “Penurunan suku bunga acuan berdampak langsung pada sisi pendanaan dan kredit. Biaya funding yang lebih rendah membuat biaya kredit juga akan turun sehingga pada ujungnya permintaan kredit akan meningkat,” kata Rodi Judo Dahono, Direktur Bisnis Bank Banten, kepada Infobank, bulan lalu.
Menurut pandangan Biro Riset Infobank, sejumlah sektor, seperti perdagangan besar dan eceran, industri pengolahan, serta pertanian, perburuan, dan kehutanan, masih akan menjadi target utama bank-bank dalam menyalurkan kredit. Hal itu antara lain tak lepas dari besarnya ketiga sektor itu sehingga memunculkan permintaan kredit yang juga relatif besar.
Meski begitu, ada sejumlah sektor lain yang terbilang punya potensi menjanjikan, seperti sektor energi terbarukan, sektor teknologi informasi dan komunikasi, sektor properti dan real estate, serta sektor transportasi dan logistik.
Di sektor energi terbarukan, peluang muncul karena meningkatnya kesadaran global terhadap perubahan iklim. Alhasil, energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan biomassa menjadi sektor yang penting. Lalu, di sektor teknologi informasi dan komunikasi, peluang muncul berkat transformasi digital di Indonesia yang makin cepat.
Sementara, penurunan suku bunga diyakini akan membuat sektor properti lebih bergairah. Belum lagi, ada sejumlah insentif pajak dari pemerintah untuk pembelian properti yang juga akan mendorong pertumbuhan sektor ini.
Adapun potensi yang dimiliki sektor transportasi dan logistik tak lepas dari perkembangan transaksi belanja online yang membutuhkan jaringan logistik yang efisien. Karena itu, investasi di bidang transportasi dan logistik menjadi penting untuk mendukung rantai pasok.
“Industri-industri yang kami lihat menarik, misalnya adalah data center, jaringan fiber, untuk support data yang semakin berat. Lalu, kita lihat ada health care, tambang seperti nikel, yang berhubungan dengan baterai, sektor perbankan, dan konsumer. Real estate juga akan menjadi sangat menarik karena suku bunga turun. Nah, itu adalah potential growth-nya yang bisa membantu Indonesia untuk bisa growth lebih baik lagi,” jelas Gioshia Ralie, Senior Country Officer JP Morgan Indonesia, kepada Steven Widjaja dari Infobank, bulan lalu.
Kinerja kredit yang menguat di semester pertama 2024 diikuti dengan kualitas kredit yang makin terjaga. Hal itu tecermin dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang bergerak melandai sejak awal tahun, sekaligus lebih baik daripada pergerakan NPL di sepanjang semester pertama 2023.