Perekonomian global diyakini akan sedikit menguat tahun depan. Namun, pelemahan masih akan terjadi di Tiongkok. Ekonomi Indonesia cenderung tetap ditopang belanja domestik.
Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, Foto : Istimewa
DANA Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan melambat tapi stabil di 2024 dan 2025. Melalui laporan World Economic Outlook (WEO) edisi Juli 2024, IMF memprediksi produk domestik bruto (PDB) riil global sebesar 3,2% pada 2024 dan 3,3% pada 2025, angka yang sama dengan pertumbuhan PDB global di 2023. Prediksi 2024 itu direvisi naik 0,1 poin persentase dari perkiraan WEO sebelumnya yang dirilis Januari lalu.
Senada dengan Bank Dunia. Laporan Global Economy Prospects Bank Dunia edisi Juni 2024 mengungkapkan bahwa pertumbuhan global tetap stabil di angka 2,6% pada 2024, sekalipun terjadi ketegangan geopolitik dan suku bunga yang tinggi. Prediksi itu naik 0,2 poin persentase dari proyeksi Januari 2024.
Untuk 2025-2026, Bank Dunia menaikkan sedikit proyeksi ekonomi global ke angka 2,7% akibat minimnya ekspansi perdagangan dan inflasi. Bagaimanapun, kinerja ekonomi dunia tak bisa dilepaskan dari tantangan inflasi di Amerika Serikat (AS), pelemahan permintaan di Tiongkok dan Eropa, serta dampak konflik di Ukraina dan Gaza.
“Ekonomi global terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa dengan pertumbuhan yang stabil dan inflasi yang menurun, tapi banyak tantangan masih ada di depan mata,” ucap Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, beberapa waktu lalu.
Pierre menambahkan, potensi eskalasi konflik di Timur Tengah pascaserangan roket dan drone Iran ke Israel mempunyai dampak yang kuat dalam membatasi pertumbuhan ekonomi global. Eskalasi konflik itu berpotensi meningkatkan harga minyak dan inflasi, yang kemudian bisa memicu bank-bank sentral untuk melakukan pengetatan kebijakan moneter.
Skenario terburuk dari eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian global, yakni kenaikan harga minyak hingga 15% dan biaya pengiriman, akan meningkatkan inflasi global sekitar 0,7 poin persentase.
Terkait dengan inflasi, Bank Dunia memperkirakan inflasi global akan melambat menjadi 3,5% tahun ini, sebelum menurun lebih lanjut ke 2,9% pada 2025 dan 2,8% di 2026. Perkiraan penurunan inflasi itu konsisten dengan target inflasi rata-rata negara di dunia.
Pertumbuhan Ekonomi AS dan Eropa
IMF meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS menjadi 2,6% di 2024 dari 2,1% pada prediksi Januari 2024. Peningkatan proyeksi itu didorong oleh kenaikan lapangan kerja dan belanja konsumen yang lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan.
IMF juga menyatakan bahwa efek dari pengetatan kebijakan moneter dan fiskal berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam menjadi 1,9% di tahun depan. Prediksi pertumbuhan ekonomi AS pada 2025 itu juga meningkat dari proyeksi Januari lalu yang sebesar 1,7%.
Bank sentral AS, The Fed, sendiri telah memangkas suku bunga acuannya untuk pertama kali sejak awal pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) pada Rabu, 18 September lalu, sebesar 0,5% atau 50 basis points (bps) sebagai upaya mencegah perlambatan di pasar tenaga kerja. Keputusan tersebut membuat suku bunga acuan The Fed berada di kisaran 4,75%-5%. Sebagaimana dikutip CNBC International, komite juga mengisyaratkan kemungkinan adanya pemangkasan 50 bps lagi hingga akhir tahun, mendekati ekspektasi pasar.
Itu setara dengan kisaran target suku bunga acuan sebesar 4,25%-4,5%. Masih ada dua pertemuan The Fed yang tersisa tahun ini, yang dijadwalkan pada 6-7 November dan 17-18 Desember mendatang. Tak hanya itu, dot plot juga mengisyaratkan akan ada pemangkasan 1% penuh lagi pada akhir 2025 dan 0,5% pada 2026.
“Komite telah memperoleh keyakinan lebih besar bahwa inflasi bergerak menuju target 2%, dan menilai risiko terhadap tujuan pekerjaan dan inflasi cukup seimbang,” demikian pernyataan resmi The Fed, usai pertemuan.
Sementara itu, untuk zona Eropa, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi zona ini sebesar 0,9% pada 2024 dan 1,5% di 2025. IMF memasang proyeksi pertumbuhan yang optimistis dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi zona Eropa di 2023 yang tercatat 0,5%.
Krisis Ekonomi Tiongkok
Untuk Tiongkok, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu ini akan menurun ke angka 4,6% pada 2024 dari 5,2% di 2023. Dan, pada 2025, diperkirakan terjadi penurunan lebih dalam ke level 4,1%. IMF memperingatkan, kurangnya paket restrukturisasi yang menyeluruh untuk sektor properti nasional bisa memperpanjang penurunan permintaan domestik serta memperparah prospek ekonomi Tiongkok.
Kondisi tersebut turut berimbas pada indeks acuan saham-saham di Tiongkok yang hampir mendekati level terendah sejak Januari 2019. Turun hampir 7% tahun ini, Indeks CSI 300 mengalami penurunan tahunan keempat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sementara, indeks saham Tiongkok milik MSCI Inc. sedang menuju ke kinerja buruk terpanjang sejak pergantian abad ini.
Penurunan daya beli masyarakat dan ketegangan geopolitik jelang Pemilu AS membuat dorongan jual di pasar saham Tiongkok makin meningkat. Pemerintahan Xi Jinping sendiri menanggung risiko yang tak sedikit dari kemerosotan kinerja saham domestiknya. Kemerosotan pasar saham kian mengikis kepercayaan konsumen dan dunia usaha sehingga memicu feedback loop deflasi terhadap perekonomian. Itulah salah satu alasan mengapa dana yang didukung negara sebesar miliaran dolar untuk mencoba menopang harga saham, tidak membuahkan hasil.
Meski para investor telah mendesak pihak berwenang untuk mengeluarkan stimulus ekonomi yang lebih kuat, Beijing sejauh ini tidak menunjukkan minat terhadap tindakan yang lebih besar untuk membantu menghidupkan kembali perekonomian dan pasar sahamnya. “Makin lama pemerintah menolak untuk memberikan stimulus permintaan yang besar, makin lama kerusakan kepercayaan konsumen akan berlanjut, dan makin sulit untuk menyelesaikannya,” ujar Kepala Strategi Pasar di Lazard Asset Management, Ron Temple, dikutip Bloomberg, belum lama ini.
Target Ekonomi RI 5,2%
Di tengah proyeksi stagnasi perekonomian global, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mematok target pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,2%, sedikit lebih tinggi dari outlook tahun ini yang tercatat 5,1%.
Dalam pidato Penyampaian RUU APBN 2025 dan Nota Keuangan pada Sidang Paripurna DPR RI, medio Agustus lalu, Presiden Jokowi menuturkan, mengingat kondisi perekonomian global yang diperkirakan relatif stagnan, pertumbuhan ekonomi tahun depan masih akan bertumpu pada permintaan domestik.
Beberapa strategi akan ditempuh, antara lain dengan menjaga ketat daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi, penciptaan lapangan kerja, serta penyaluran bantuan sosial dan subsidi.
Di lain sisi, Senior Country Officer JP Morgan Indonesia, Gioshia Ralie, memandang stabilitas ekonomi sebagai prinsip utama yang perlu dijaga segenap stakeholders ekonomi di Indonesia. Apalagi, dengan adanya proyeksi keberlanjutan penurunan suku bunga, perekonomian nasional diharapkan bisa lebih baik di tahun depan.
Gioshia juga menekankan pentingnya reformasi birokrasi untuk mempermudah proses bisnis di Indonesia atau pro-growth reform agar makin banyak investasi dan manufaktur berkembang di Indonesia. “Kenapa sejak 2022 atau post COVID-19 sampai sekarang kok kita banyak mendengar India menjadi satu fokus setelah Tiongkok. Jadi, reform on doing business itu berhubungan dengan reform di regulasi untuk mempermudah,” katanya, bulan lalu
Menurutnya, jika pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dapat meningkatkan tax ratio, hal itu bakal menambah modal dari sisi pajak untuk dipakai pemerintah Indonesia spending ke sektor-sektor potensial.
Senada dengan Bank Dunia. Laporan Global Economy Prospects Bank Dunia edisi Juni 2024 mengungkapkan bahwa pertumbuhan global tetap stabil di angka 2,6% pada 2024, sekalipun terjadi ketegangan geopolitik dan suku bunga yang tinggi. Prediksi itu naik 0,2 poin persentase dari proyeksi Januari 2024.